
No title available
🪼
Three Goblin Art

Janaina Medeiros
I'd rather be in outer space 🛸
Mike Driver
Jules of Nature
KIROKAZE
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Origami Around
Cosmic Funnies
Game of Thrones Daily
$LAYYYTER

Discoholic 🪩

⁂
occasionally subtle

Kiana Khansmith
Claire Keane
Alisa U Zemlji Chuda
wallacepolsom

seen from Netherlands
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Austria
seen from United States
seen from Italy

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
@toothandme
The journey to better mental health isn’t immediate! It takes time and effort before you start even realizing how much progress you’ve made. Don’t give up! ☀️
If you’re looking for a last-minute holiday gift, check out my book Loading Penguin Hugs!
Kangen. 😓 Hmm..kedenger 'se-norak' itu, tapi beneran kangen😭
Dan aku cuma mau dia. Dengan segala kurang dan lebihnya😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Aku, membenci orang yang terlalu banyak bicara,
Aku, membenci orang yang terlalu mudah berkata iya,
Aku, membenci orang yang terlalu larut dalam rasa,
Aku, membenci orang yang jarang sekali menyapa Tuhannya,
Aku, membenci orang yang banyak mengeluh sedikit bekerja,
Aku, membenci orang yang menghabiskan waktu dengan sia-sia,
Aku, membenci Aku
“Maaf sudah menjadi sosok yang merepotkan. Aku sendiri kadang bingung kenapa aku seperti ini. Kadang aku sedih tanpa hal yang pasti, kadang aku begitu ingin sendiri, kadang aku begitu ingin ditemani. Kuharap kau tak seperti yang lain, pergi setelah mencoba bersamaku beberapa hari.”
—
Lagi mau sendiri..hari ini terlalu 'nganu'.
yang harus selesai
gini loh, dek. habis menikah itu, masalah tuh tambah banyaaak, bukan jadi berkurang. kamu harus mikirin keuangan keluarga, kesehatan keluarga, pendidikan anak-anak, aktualisasi masing-masing anggota keluarga. itu dalam lingkup besarnya. dalam lingkup kecilnya? mikirin hari ini mau makan apa, jemuran sudah kering belum, pintu sudah dikunci belum. banyak yang diurus.
jadi, kalau memang niat menikah, ya kamu harus selesai dulu, dek, sama hal-hal dasar yang jadi pasaknya rumah tangga. kepercayaan, percaya nggak sama calon pasangan? kejujuran, bisa nggak kamu jujur sama diri sendiri dan sama calon pasangan? komitmen, kesetiaan, mau menerima, hal-hal seperti itulah.
kalau kamu dan calon pasanganmu sudah selesai sama hal-hal dasar itu, artinya kalian sudah siap untuk mempersiapkan diri untuk menikah. belum benar-benar siap menikah loh. kenapa? karena habis itu yang harus diobrolin masih banyak.
gimana kalian mengatur keuangan keluarga. mau tinggal di mana dengan cara apa, ngontrak kah nyicil rumah kah. gimana caranya bertukar sepatu biar sama-sama baik sebagai menantu. besok kalau punya anak gimana mendidiknya. apa bentuk melayani dan taat menurut masing-masing. rencana jangka panjang masing-masing dan gimana kalau itu harus dilebur. bahkan, bisa sampai seputar mau punya ART apa enggak. suka ngosek kamar mandi enggak. mau punya anak berapa (ini kendali Allah memang tapi bisa juga direncanakan).
juga, yang mungkin tabu diomongin di depan, seperti gimana kalau sampai terjadi masalah dan amit-amit harus berpisah. apa arti kekerasan dalam rumah tangga menurut masing-masing. dan lain-lain.
wajar sih, kalau saat mau menikah, kamu diselimuti kekhawatiran. akan langgeng nggak ya, dia akan setia nggak ya, akan bahagia nggak ya. itu memang tugasnya setan supaya yang mau menikah ragu-ragu dan nggak jadi menikah.
tapi, dek. ada banyak banget yang lebih penting dan utama untuk dipikirkan dan direncanakan daripada itu, apalagi daripada masa lalunya atau kekhawatiran tentang kesetiaan dia di masa depan.
intinya ya dek, setiap orang pasti punya masa lalu sehingga kamu nggak usah mikirin masa lalu calon pasanganmu. nggak usah, nyusahin. sekaligus, kamu jangan berharap deh bahwa kamu bisa mengubah seseorang. kalau sayang ya pasti dia menjadi dirinya yang terbaik. lagian, nggak enak menjalani hubungan yang penuh dengan tuntutan.
dah, selesaikan dulu yang dasar-dasar. kalau sudah siap untuk mempersiapkan diri untuk menikah, persiapkan diri (dan calon pasangan) untuk menikah. baru deh menikah.
prinsipnya kan, nanti gimana bukan gimana nanti. semangat persiapannya!
Makjleb!!!.. harus selesai dulu, harus diomomgin dulu, harus dipikirin dulu. Jadi gimana bang? Nanti gimana? Hahaha ngeri euy
“Aku tau aku keras kepala. Kadang aku marah di masalah-masalah kecil. Kadang aku mengeluh di hal-hal yang biasa. Ada hari di mana aku bahagia sekali, tapi ada juga hari di mana aku bosan dengan diriku sendiri.Jadi jika kau bosan, aku tidak menyalahkanmu. Tapi jika aku boleh meminta, tolong jangan menyerah.”
—
Kalo boleh aja...
“Meski aku tidak mau, tapi mau tidak mau aku harus mau melepaskan ini semua demi kebaikan kita berdua. Aku tak mau menjadi kerikil kecil dalam langkah-langkah bahagiamu, dan aku tidak mau kau menjadi tembok tinggi dalam aku menemukan bahagiaku.”
—
Singkatnya sih gini ☺
oh hai mblr...
haiiiii.. udah lama ga nyampah di sini, kangen euy. haaaaa. gini-gini, mohon maaf sebelumnya, akhir-akhir ini waktu banyak kebuanng entah kemana. Produktivitas? jangan ditanya, ga sanggup aku jawabnya. Otak juga udah lama ga kepake, buat mikirin hal-hal yang menurut aku intelek pun udah jarang bener. hahaha (pret!!yang kayak gimana bener sih?)
Karena hal-hal di atas itu tadi, si Alisa ini jadi males baca, males mikir, sukanya nanya terus, jadi pemales tingkat dewa kan dia. Mau belajar apa aja cuma lewat youtube, yang ga pake usaha, ga perlu baca, cukup denger aja. hahaha Jadilah hari ini dia disemprot; "makanya baca!" oooh..oke.
okelah, untuk kembali ke arah yang lebih baik, dia akan mulai hapus candy crush, kurangin waktu buat liat instagram, dan kurangin waktu juga buat chatting. Mulai luangin waktu buat baca buku, baca tumblr juga berfaedah menurutnya (karena orang di tumblr lebih intelek menurutnya dibanding orang-orang di medsos lain. haha). Ga mau peduli sama gosip, ga peduli sama politik, ga peduli sama yang menye-menye, ga perduli sama sindiran-sindiran mantan (ups..😅) mau ningkatin kualitas diri aja ah (Yakin? Situ oke?)
Hmmm...
Ga silau dengan harta karena aku hidup dari keluarga yang sederhana. Ga sebegitunya juga dengan tampang karena aku sadar diri ini buruk rupa.
Akan pilih orang yang bisa buat aku nyaman karena Aldi pun selalu kasih penekanan di sana. "Yang nyaman buat kau, jangan pikirin aku, ayah, ataupun ibuk, kau yang jalanin".
Masalah yakin atau ga nya buat langkah ke tahapan selanjutnya otak sama hati yang kerjasama mikir bareng.
Adeeek. Kangeeeeen.
Lagi PMS. Geje bener lah ini.
Kangen adek. Kangen ibuk. Kangen ayah.
Tiga orang yang selalu dengerin seluruh keluh kesah aku, ga pake rahasia, ga pake malu. Tapi akhir-akhir ini aku mulai banyak rahasia, mulai banyak bohongnya ke mereka ☹
Tiga orang yang selalu kasih semangat kalo aku lagi mulai rendah diri, mulai ngerasa ga pede, mulai ngerasa ga bersyukur dengan diri ini. Tiga orang yang selalu yakinin aku kalo aku ini ga sejelek pikirian aku, "bagus kok!", "cantik kok!", dan blablabla lain yang mereka ucapin demi ningkatin percaya diri si aku ini.
Akhir-akhir ini, tiap pulang ke rumah, bukannya sibuk ngedusel atau ngobrol bareng mereka, tapi malah sibuk tidur, main hp, atau nonton seharian di kamar. Sekalinya lagi jauh, sekalinya lagi di Prabu, pikirannya malah mau pulang, entah apa sebenernya tujuan dia pulang ke rumah itu. Ga berfaedah. Ga paham dia waktu kumpul bareng ibuk, adek, & ayah itu ga bakalan segampang ini lagi nantinya. 😑😏
Aaah. Semoga si neng ini cepet sadar. Cepet pinter memanfaatkan waktu, ga buang waktu percuma lagi. Aamiin. Minggu depan harus dempet terus bareng mereka bertiga ini😍😍😍😗😙
Khawatirmu Tentang Masa Depan
@edgarhamas
Jujur saja, sebenarnya apa hal yang lebih membuatmu khawatir dibanding ketakutanmu pada masa depan?
Itulah yang membuat manusia yang kamu lihat —dan barangkali kita sendiri— belajar mati-matian demi ijazah, katanya agar di ‘hari depan’ diterima di universitas ternama. Sibuk kuliah dan ingin cepat lulus, demi 'masa depan’ yang cerah di perusahaan besar. Kerja lembur bagai kuda dengan misi menciptakan 'masa depan’ karir yang gemilang.
Kekhawatiran kita akan masa depan itu seperti kita berlari mengejar bayang-bayang kita sendiri. Tak pernah berakhir, dan selalu membuat hati gelisah. Menghidupkan hari ini demi esok hari. Sebuah cara hidup paling menyiksa yang pernah ada. Dibayang-bayangi esok akan jadi apa dan akan makan apa. Cara pandang seperti itulah yang melahirkan hamba dunia.
Untungnya, kita punya iman. Dengan iman, kita seperti punya obor yang menuntun kita menyusuri hari-hari ke depan yang gelap temaram. Iman membuat kita tahu bahwa selalu ada jalan bagi mereka yang yakin bahwa segala sesuatu —rizki, cinta dan pencapaian hidup— ada di tangan Allah. Maka mereka tenang, namun tak juga berpaku tangan. Mereka tenteram, tapi justru berkarya makin melesat!
Perkara rezeki dan karunia di esok hari, Allah bilang padamu dengan terang, “Kamilah yang membagi-bagi penghidupan mereka dalam kehidupan dunia” (Az Zukhruf 32) Semua sudah ada jatahnya, sudah ada pembagian seadil-adilnya.
Allah tak pinta kita untuk sibuk menghabiskan waktu demi karir. Justru Allah ingin karir kita hidup untuk menyelamatkan waktu kita yang sempit ini; menghidupkannya menjadi ibadah yang bernilai berat di timbangan akhirat.
Bahkan sejatinya, kerja kita, belajar kita, kegiatan kita, koneksi yang kita bangun, relasi yang kita kumpulkan; hakikatnya bukan untuk mencari penghidupan, tapi untuk bersyukur pada Allah. Unik kan? Kerja bukan demi rezeki, tapi sebagai tanda syukur.
Tapi memang begitulah aslinya. Dan itulah yang Allah ajarkan pada Nabi Daud dan keluarganya, “Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba’ 13)
Dan kamu pasti tahu, keluarga Nabi Daud justru menjadi keluarga paling kaya sepanjang sejarah manusia. Ia menjadi raja dan anaknya menjadi raja. Bukan sembarang raja.
Yang kamu khawatirkan tentang masa depanmu, sudah Allah cover.
Bersyukurlah dengan menjalani hidup yang bermanfaat bagi dakwah dan umat, itulah cara kita mencover waktu menjadi bulir-bulir pahala yang berat di timbangan amal.
Ibuuuuuuk. Kangeeeeen
😭😭😢😢😢
2 minggu belakangan ini berasa aneh. Terutama 1 minggu terakhir, ada yang beda euy. Ada yang berubah.. 'pola'nya beda. I don't know why. Tapi ga berani nanya euy, ga berani tau.
Our 10 Years Challenge
Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Sepuluh tahun cukup untuk melunasi cicilan KPR dan tabungan haji.
Sepuluh tahun berlalu, dan kita telah banyak berubah. Selamat, kamu makin cantik, ganteng, dan siap bereproduksi! Tapi apa yang sebenarnya kamu lihat dari sepuluh tahunmu.
Perkara fisik, kamu ‘diamkan’ saja, tubuhmu tetap akan tumbuh. Masa pubertasmu tetap akan datang tanpa perlu diundang. Tapi perkara hati dan pikiran, ia akan lusuh dan berkarat jika kamu diamkan.
Mari barang sebentar kita selami hati dan pikiran. Apa yang dibungkus oleh raga nan sempurna ini? Seonggok sampah atau sebongkah berlian?
Sepuluh tahun ini, berapa persen waktu untuk mengaji, berapa persen untuk nonton TV? Berapa banyak buku yang dikhatamkan, berapa episode drama yang ditamatkan?
Sepuluh tahun ini, adakah perbedaan signifikan dari surat-surat pendek dalam shalat-shalatmu? Ataukah masih itu-itu saja?
Sepuluh tahun ini, sedewasa, sebijak, secerdas apa kamu telah menjadi? Masih sering bermasalah dengan temanmu? Masih sering mengeluh atas kesulitanmu? Masih sering julid dengan hidup orang?
Sepuluh tahun ini, sebanyak apa kamu mendekat pada-Nya? Atau selama ini kamu sudah melangkah, tapi ternyata malah semakin jauh?
Astaghfirullah.
— Taufik Aulia