Privilege itu nyata
Cantik itu privilege
Kaya itu privilage
Jabatan itu privilage
Ketenaran itu privilege
Today's Document

#extradirty
No title available
Cosimo Galluzzi

@theartofmadeline
d e v o n
Game of Thrones Daily
NASA
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr

pixel skylines

PR's Tumblrdome
KIROKAZE

No title available

Jar Jar Binks Fan Club

roma★
Fieri Frames

Love Begins
Monterey Bay Aquarium
macklin celebrini has autism
Fai_Ryy

seen from Brazil
seen from Pakistan

seen from Türkiye
seen from Canada
seen from Brazil

seen from Mexico
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Switzerland
seen from Italy

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States
@triskahwahyuni
Privilege itu nyata
Cantik itu privilege
Kaya itu privilage
Jabatan itu privilage
Ketenaran itu privilege
Capek banget kerja di lingkungan toxic
Tentang Esai Motivasi untuk Beasiswa
Minggu lalu saya memberanikan diri membuka sesi open consultation buat teman-teman follower saya di Instagram yang sedang mempertimbangkan atau dalam proses persiapan untuk lanjut kuliah, baik untuk S-2 maupun S-3.
Dari sana, saya terpikir untuk menuliskan gambaran umum terkait apa saja yang saya sampaikan selama sesi konsultasi. Untuk tulisan ini, saya akan membahas tentang mengapa dan bagaimana seseorang dipilih menjadi awardee atau penerima beasiswa.
Pertama, cari tahu objektif dan gol dari pemberian beasiswa oleh pemilik dana.
Contoh mudahnya adalah beasiswa LPDP. Investasi pemerintah lewat dana abadi yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memiliki tujuan menyiapkan pemimpin masa depan lewat pembiayaan kuliah yang berfokus pada peningkatan kualitas SDM lintas bidang/sektor yang nantinya mendukung akselerasi pembangunan negara.
Mari kita lihat beberapa kata kunci yang mengindikasikan tipikal atau profil yang dicari oleh LPDP.
1. Pemimpin masa depan
Orang sudah punya pengalaman atau kelihatan bibit kepemimpinannya akan mendapatkan nilai plus.
2. Mendukung akselerasi pembangunan negara
Orang yang punya visi dan niat baik untuk membantu pembangunan, khususnya di sektor keahlian atau yang diminatinya. Yang dicari adalah orang yang punya visi untuk berkontribusi untuk bangsa dan negara, bukan individu yang hanya berfokus untuk kesuksesan dan pencapaian pribadi. Orang-orang yang punya pengalaman berkegiatan sosial dan memberi dampak ke masyarakat akan mendapatkan nilai plus.
3. Lintar sektor
LPDP memprioritaskan bidang-bidang keahlian yang mencakup pada teknik dan rekayasa, sains, pertanian, hukum, ekonomi, kesehatan, keagamaan dan sosiokultural. Sebenarnya fokusnya tidak fokus-fokus amat. Ayo, bidang keahlian apa yang sama sekali tidak termasuk dalam kategori-kategori tersebut di atas xD
Dari kata lintas sektor (across the fields) setidaknya saya pikir ada dua hal yang bisa jadi pegangan, yaitu orang yang dicari adalah orang yang sudah tahu bidang apa yang ia ingin tekuni; dan bidang keahlian punya kuota masing-masing--sehingga kompetisimu hanya dengan orang-orang sebidangmu.
Setelah mempertimbangkan tiga kata kunci di atas, setidaknya pendaftar bisa menyesuaikan nada (tone) esainya, terutama dalam memilih jurusan/kampus yang sesuai minat, menyortir pengalaman dan pengamatan yang relevan, dan menyusun alur cerita. Lebih banyak pengalaman kerja dan berorganisasi tentunya "material" cerita akan lebih banyak dan kamu akan lebih leluasa dalam membuat alur yang sesuai.
Kedua, tulislah esai motivasi yang straight-forward and well-packaged.
Esai yang ngalor-ngidul akan membingungkan tim penilai. Esai yang melompat-lompat atau terlalu banyak cabangnya juga berpotensi mengaburkan pesan utama yang ingin disampaikan. Jika kamu punya 5-7 why's untuk dituliskan, coba pilih 3 saja yang bisa dibungkus dan terjalin ke dalam satu visi besar.
Biasanya saya akan menyarankan gambaran alur esai motivasi sebagai berikut:
A) Mulai dari memunculkan masalah riil ke permukaan berdasarkan pengamatan dan pengalaman
"Masalah" ini bisa berupa ketidakidealan kondisi (struktural, operasional, manajerial, dll.) saat ini, kesiapan/persiapan dalam melihat tren global, atau pengalaman pribadi yang bisa ditarik menjadi satu hal urgen untuk diselesaikan. Semakin "riil" dan relateable dalam menggambarkan masalah ini, maka semakin terlihat urgensinya. Semakin personal, biasanya, pembaca juga akan semakin mudah untuk tersentuh.
B) Lanjutkan dengan memberi solusi yang memungkinkan (feasible solutions)
Solusi ini bisa berupa satu solusi yang langsung mengena atau satu dari beberapa faktor yang berkaitan untuk mewujudkan suatu perubahan sistemik.
C) Beri tahu bagaimana visi pribadi sejalan dengan "solusi" di atas
Di sini, pendaftar diharapkan memiliki visi yang besar dan impactful, seperti dengan menjadi menteri, menjadi ahli, dan membuat perusahaan atau inisiatif sosial terkait.
D) Tuliskan alur dan langkah-langkah mewujudkan visi itu
Penjabaran hendaknya meyakinkan dengan didukung step by step yang dapat dinalar. Misalnya,
"Melanjutkan kuliah S-2 di School of Photovoltaic and Renewable Energy Engineering, UNSW akan menyiapkan saya secara teoritis untuk nantinya mengembangkan keahlian di bidang sel surya non-silikon yang terjangkau dan relatif minimum initial capital expenditure dalam pendirian industrinya di dalam negeri. Selanjutnya, saya ingin mendalami halide perovskite (salah satu material fotovoltaik generasi baru yang menjanjikan) dengan mengambil studi doktoral di Oxford University yang juga merupakan satu dari beberapa grup riset pionir untuk material ini."
Untuk menuliskan storyline yang baik diperlukan riset informasi terkait dan visualisasi mimpi yang relatif konkret dan (sedikit) ambisius. Riset di sini akan memberikan konteks dalam mimpi-mimpi dan milestone yang ingin dicapai.
Ketiga, there is no harm in self-editing.
Setelah menyelesaikan draf esai, ambillah jeda 2-3 hari. Setelah itu baca lagi draf esai dengan pikiran jernih dan istirahat yang cukup. Biasanya, nanti akan terlihat bagian yang masih bolong, melompat, atau belum koheren. Jika diperlukan argumen atau detail tambahan, tidak ada salahnya untuk melakukan riset lebih lanjut.
Details will make your essay more convincing, coherence will make it readable.
Setelah melalui 1-2 ronde self-editing dan jika masih ada waktu, barulah meminta pendapat dari kolega, teman, atau senior yang dipercaya akan memberikan dampak yang lebih signifikan. Kalau yang mau diminta input masih bingung saat baca esainya karena ngalor ngidul atau melompat, feedback-nya bakalan untuk restructure. Sedangkan jika sudah rapi, feedback-nya akan lebih kepada fine-tuning alias poles dalam pilihan kata supaya lebih nendang dan meyakinkan.
Itu dulu. Semoga bermanfaat!
"Rasyid, umur adek bulan ini 21 bulan dak sih? "
"Hmmmm???? "
Bentar lagi si adek 2 tahun.
Kosakatanya masih minim sekali :(
Apa ya yg salah?
Kok anak2 yg di bawah usia dia udah pada pinter ngomong, apalagi anak2 cewek?
Mau no gadget susah sekali, harus konsisten sm bapaknya.
Apa aku kurang cerewet? Atau waktuku kurang berkualitas?
Jadi ibu itu banyak pikiran dan penuh kekhawatiran ternyata...
Cerpen : Jangan Khawatir
Kalau boleh, bisakah urusan tentang keluarga tidak perlu diungkit dalam persiapan menuju pernikahan? Sebab, dari dulu sampai sekarang, urusan tersebut yang tidak pernah sampai dititik aku merasa siap.
Suatu hari, ketika kami masih sama-sama muda. Hidup penuh gairah, semangat yang tinggi tapi minim pengalaman. Memiliki rencana-rencana yang begitu terang, meski tidak tahu bagaimana jalan ke depan. Lepas kami dari studi, usia bertambah, hidup kami seakan semakin jauh dari mimpi. Hidup terasa menjadi semakin realistis.
Dulu kami sangka, menikah itu mudah. Nyatanya tidak. Mungkin ini berlaku bagi kami saja, sih.
Urusannya tidak pernah sepanjang ini. Dari mulai perdebatan soal asal usul, keturunan, dsb. Dari perkara ditanya soal pendapatan, harakah, dsb.
Mengapa semuanya tampak sulit? “Ya, itulah realitanya manusia. Pikirannya boleh terbang jauh, tapi sekalinya soal dunia, semuanya diukur dari keselamatan dirinya” ujar temanku.
“Tak terkecuali soal pernikahan?” tanyaku.
“Yaps!” tegasnya.
Apakah pernikahan tidak menjadi selamat hanya karena latar belakang keluargaku yang tidak ideal? Ayahku jarang sekali shalat, aku akui itu, meski demikian ia adalah sosok yang amat bertanggungjawab. Sayangnya, orang-orang yang selama ini datang kepadaku selalu bermasalah dengan perkara keluargaku. Sementara aku, tidak tahu bagaimana mengatakannya kepada mereka. Ibuku, baru belajar agama dua tiga tahun terakhir. Keluarga kami memang jauh dari agama, aku pun baru mengenal sedikit ketika semester 5. Kerudung ini, pertama kali menyentuhku di usia 20. Sepertinya, surga sulit diraih jika menikah denganku, mungkin itu yang orang lain pikirkan.
Temanku lebih pelik mungkin, ayah dan ibunya berpisah. Dan itu selalu menjadi alasan orang-orang yang selama ini mendekatinya, menolaknya ketika tahu. Ah, bukan begitu, tapi orang tuanya yang menolak, bukan laki-laki yang mendekatinya.
“Apa ada keluarga yang bisa menerima keluarga lain apa adanya?” kesahku.
“Ada,nanti keluarga kita akan menjadi keluarga yang seperti itu.” ujarnya.
“Kita?” tanyaku.
“Yaps, nanti kalau kita menikah, tentu orang yang menikah dengan kita, juga keluarganya, adalah keluarga yang bisa menerima. Kemudian, ketika kita nanti punya keluarga, kemudian memiliki anak dan di satu masa anak-anak kita akan menikah, kita akan menjadi orang tua yang lebih bijaksana untuk menerima berbagai kondisi keluarga dari calon pasangan anak-anak kita nanti.” ujarnya.
“Ah iya, semoga kita bisa menjadi yang demikian.”
Untuk saat ini, urusan keluarga ini akan tetap menjadi perkara yang tak kunjung kelihatan akhirnya. Tapi mau bagaimana lagi, beginilah keadaanku, keadaan temanku, mungkin juga keadaan orang lain. Bagian ini melekat dalam hidup kami, kalau orang lain tidak mampu menerimanya, ya sudah.
Sebab kami tahu, seburuk apapun kondisi saat ini. Kami tetap memiliki impian agar kelak bisa berkumpul dengan keluarga kami di surga.
Sayangnya, begitu banyak orang yang tidak bisa menerima kami ditengah-tengah proses menuju baik ini, maunya yang sudah baik, yang sudah saleh/salehah. Aku, biar aku meniti jalan ini. “Sampai jumpa,” ujar temanku.
“Mau ke mana?” tanyaku.
“Kemana aja, yang penting bergerak biar gak berpikiran kemana-mana,” terangnya.
Yogyakarta, 11 Januari 2019 | ©kurniawangunadi
Dulu ketika sekolah FK, gue tidak pernah mendapat materi ajar tentang bagaimana coping dengan rasa lelah sepanjang shift sementara harus tetap tampil profesional dan hangat saat berhadapan dengan klien, dalam hal ini pasien. Padahal, seperti halnya kasir, polisi, petugas front office, dokter adalah salah satu pekerjaan pelayanan, yang kerjaan utamanya adalah melayani, manusia.
Semalam, setelah badai kerjaan yang bertubi-tubi, seakan belum cuku, jam dua pagi ada keluarga pasien komplain marah-marah sampai menghubungi keluarganya yang dokter karena merasa tidak dilayani dengan baik. Anaknya demam dan kejang, tapi menurut keluarganya tidak turun sama sekali demamnya dan perawat dianggap lambat merespon keluhan mereka. Ini bukan pertama kalinya gue digituin keluarga pasien, sih. Tapi mau diulang berapa kalipun, berhadapan dengan komplain disaat badan sedang remuk-remuknya dan emosi sedang tebalikin-meja-mode, tentu tidak akan pernah mudah.
Saat itu kondisi bangsal lagi penuh gilak, pasien hampir enam puluh orang dan jumlah perawat yang jaga cuma enam. Dokter jaga bangsal cuma gue, dan gue harus pegang 5 ruangan di tiga lantai. Kalo mau menjadikan ini excuse tentu gampang banget. Playing victim aja bilang kalo capek, kerja molo kaya kagak, pasien banyak bukan lo doang, dll sb dst. Gampang, kalo mau nyari alasan untuk bersikap kacrut mah gampang.
Gue bisa banget relate sama mbak-mbak customer service yang muknya grumpy atau jawabinnya jutek, atau mas-mas operator yang nadanya udah datar, atau pedagang yang ngga bisa senyum lagi. Paham banget gimana rasanya ngelawan lelah fisik dan mental untuk tetap perform maksimal saat melayani manusia, apalagi dengan bentukan manusia yang macem-macem gitu.
Klien atau pelanggan mana peduli tuh kerjaan kita sebelumnya gimana, atau abis dibentak atasan, dimusuhin temen sekantor, atau ada masalah personal di rumah di ranjang di bumi, bodo amat, taunya mah kita tetap memberikan pelayanan terbaik. Tetep tampil memukau tanpa cela dengan segala beban duniawi. Kayak robot aja gitu. Dan yaudah, emang begitulah seharusnya pelayan bekerja. Tenaga dituntut kayak robot, penampakan dituntut kayak ibu peri, senyum salam sapa setiap hari.
Kalo sekarang lo bekerja sebagai salah satu pelayan yang kerjaannya melayani kayak gue, telat banget kalo lo mau nyesel dan meratapi nasib. Percuma, bung. Nasi sudah menjadi kerak. Either accept it, or stop it, berenti kerja, cari profesi lain. Emang udah resiko lo untuk tampil optimal tanpa peduli apapun yang sedang menimpa hidup lo. Chin up. Inget gajian. Inget pilu-nya jadi pengangguran. Inget cicilan. Gue taulah, nilai-nilai pengabdian dan rasa ingin membaktikan dan mendermakan diri bagi masyarakat itu bukan faktor yang bisa secepat kilat menguatkan. Gue sih lebih mempan inget mau liburan atau jajan buku mahal dibanding inget pahala yang akan gue dapat kalau menolong orang. Apapun itu lah ya alasan lo untuk bertahan, berusahalah dulu untuk menjadi pelayan yang baik.
Pasti sih, pastiii banget akan ada masanya klien atau pelanggan bersifat sangat tai dan ga tau diri. Momen-momen penguras hati dan penguji kesabaran numero uno banget. Gue tau banget susahnya mengatur tone suara untuk tetap chill dan tidak naik sama sekali ketika emosi mulai terbakar. Gue tau banget sulitnya menahan diri untuk tidak mengeluarkan excuse ataupun alasan-alasan yang membenarkan diri. Tapi percayalah,maaf dan terima kasih bisa banget jadi diksi andalan disaat lo udah terlalu nggatau mau merespon apa. Sama satu lagi, dengarkan. Iyain aja udah, dengerin selama apa itu manusia mau komplain. Ujung-ujungnya juga capek sendiri kok.
Dan kalo lo kebetulan bukan pelayan melainkan pelanggan atau klien,
oke, pembeli adalah raja. Tapi bukan raja kayak Firaun juga, kan? Maka hargailah. Bersikaplah sebagaimana mestinya. Mintalah sesuai hak. Jadilah manusia. Iya gue tau, lo bayar. Gue tau, lo punya duit. Tapi punya otak dan hati juga kan?
Marilah bersama-sama menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain.
Sekian dan terima pijet punggung buset pegel bats ini huhu.
Tulisan ini sangat mewakiliku, kak
Bener kan, setelah kebahagiaan dan keberuntungan tiada henti semingguan lalu, gue harus membayarnya dgn kabar super pahit menggelisahkan ini.
Do something, miracles.
Bener kan, setelah kebahagiaan dan keberuntungan tiada henti semingguan lalu, gue harus membayarnya dgn kabar super pahit menggelisahkan ini.
Do something, miracles.
Aku dan Dunia Anak ABK
Profesi ini kini sudah menjadi bagian dari kehidupan. Mau konsisten atau enggak, semua tergantung aku. Aku percaya, semua pekerjaan pasti ada kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Semua tergantung bagaimana cara kita menikmati setiap prosesnya.
Terapis anak berkebutuhan khusus itu kerjaannya ngapain aja sih? Kalo dulu yang sering aku denger dari orang awam, orang berpandangan kayak seorang guru SLB itu kerjaan ngelapin ences seperti anak-anak downsyndrom, misalnya. Intinya serendah itu. Padahal, faktanya aku harus jungkir balik mikirin cara untuk mensetting perilaku anak-anak ini agar dapat berfungsi dengan baik di lingkungannya. Apalagi anak-anak dengan masalah perilaku. Serumit itu,sebenarnya.
Dengan basic ilmu psikologi, aku belajar tentang prinsip-prinsip behaviour yang bisa di terapkan ke manusia. Salah satunya yang sering di pakai untuk anak ABK, yaitu prinsip pemberian reinforcement positif dan negatif, atau lebih kita kenal sebagai pemberian reward dan punishment.
Sederhananya, kebanyakan anak autis sangat pintar memanipulasi keadaan. Lemah sedikit kita bisa terkecoh oleh mereka. Makanya menurutku, kenapa sarjana psikologi banyak dibutuhkan untuk membantu menangani anak-anak berkebutuhan khusus.
Hari ini aku kepikiran untuk mulai sharing tentang profesiku. Sesingkat tulisan di atas dulu sebagai pembukaan. Semoga ke depannya bisa berbagi sekaligus curhat lebih banyak lagi.
Selasa, 14 Agustus 2018.
Apakah yang membuatmu benar-benar mengakui sebuah perjuangan, dan seperti apakah selebrasi yang sangat cocok untuk itu ?
Hei anonim. Tunjukkan wujudmu :)
Kekhawatiran hadir karena ketidaktahuan, ketidakmengertian, ketidakjelasan, kesalahpahaman, sesuatu yang tidak utuh. Seperti kekhawatiranmu pada hal-hal di masa yang akan datang. Pada rezeki, pada jodoh, pada karir, dan sedikit yang ingat pada amal dan kematian. Untuk itu kita diminta berusaha juga berdoa, selepas itu berserah. Karena yang bisa menetramkan hati adalah ketenangan. Saat kita percaya dan yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja, selepas kita berusaha. Semuanya adalah yang terbaik, sebagai jawaban atas doa.
Hutan
media sosial kayak hutan. Ada tumbuhan nan penuh manfaat, mata air yang bikin segar tapi juga ada hewan - hewan liar.
Tapi akhir - akhir ini hewan liar di hutan seperti sedang kelaparan. Begitu mencium mangsa, mereka siap menerkam. Kalau sampai tertangkap, dicabik habis - habisan. Oh, atau sebenarnya mereka marah? atau…. atau sedang perlihatkan tabiat aslinya?
Hutan, kalau dipenuhi hewan liar..sebanyak apapun manfaat di dalamnya jarang manusia mau masuk. Tapi di hutan yang satu ini, manusia justru banyak yang membangun tempat tinggal. Kayaknya betah berlama - lama. Nah, masalahnya..tempat tinggal mempengaruhi perkembangan mereka. Ingat tarzan? manusia yang terus jadi ikut liar gara - gara dibesarkan di hutan.
Oke, oke, gak bisa dibandingin gitu aja sih sama tarzan. Tarzan kan anak baik. Enggak liar. Tapi cara bertahan hidupnya sama dengan hewan. Gak pakai akal. Hmm, kayaknya di Hutan yang satu ini juga begitu. Seliweran orang - orang yang bertahan “tanpa akal”. Oh tunggu, mungkin disini bukan tanpa akal.. tapi tanpa hati. Hingga tega menyakiti. Hingga tega menghakimi. Hingga tega membully. Bahkan katanya, si ‘raja’ nya pun bisa dibully. Hiiih, seram ya. Liar - liar. Kalau aku terpaksa harus masuk hutan.. akan kupilih jalan dimana tak banyak hewan liar. Pokoknya tujuanku masuk cuma dua ; pohon yang bermanfaat atau mata air segar! hmm, sepertinya aku perlu tameng atau baju baja untuk berlindung dari hewan liar ;)
Anak-anak adalah makhluk paling eksploratif dan sebenarnya paling bisa di arahkan, walaupun butuh chemistry antara saya dan dia dulu. #belajardarianak
Di awal pertemuan anak ini gerasak-gerusuk sekali hampir semua isi lemari mainan dikeluarkan. Jalan kesana-kesini menolak saya ikuti. Lalu ketika di suruh selesaikan satu tugas dari mainan edukasi, fokus langsung beralih ke mainan lain, tiap hari minta ditemenin papanya masuk ke dalam, dan yang paling susah ngajak dia komunikasi. Hanya kata-kata ocehan tidak jelas yang keluar. Pokoknya menerapi anak ini awalnya agak berat. Lambat laun dari proses belajar, dia mulai mandiri. Sekarang udah mau masuk ruangan tanpa di temenin siapapun. Udah mau duduk menyelesaikan 1-2 tugas. Udah mulai mau imitasi suara saya. Udah mulai ada kontak mata sama orang lain, mau disuruh salam, dan yang paling menggemaskan ketika matanya ilang karena ketawa-ketawa geli saat di ajak bermain bersama. Alhamdulillah saya senang dengan profesi ini. Semoga niatan saya bisa di mudahkan jalannya tahun depan. Batam, 7 Desember 2017
Aku benar dengan caraku. Kamu juga benar dengan caramu. Masing-masing kita membawa kebenaran yang diperjuangkan. Hingga kemudian lupa bahwa benar tak selalu harus dimenangkan. Sebab sebenarnya, masing-masing kita juga berkesempatan menjadi salah, atas semua hal yang dirasa benar.
Hujan Mimpi (via hujanmimpi)
Self Challenge
Terinsipirasi dari seorang sahabat yang membuat tantangan 70 hari tanpa instagram. Saya juga ingin mencoba membuat tantangan 1 bulan tanpa instagram, tanpa facebook untuk diri saya sendiri. Seharian ini sudah mulai saya lakukan. Well, semuanya baik-baik saja. Dan mulai sekarang mari menuangkan ide dan memperdalam ilmu di tumblr saja. (Batam, 5 Desember 2017)
Mengikhtiarkanmu dengan cara baik-baik
Aku perempuan.
Aku ingin mengikhtiarkanmu dengan cara baik-baik. Tanpa pertemuan-pertemuan tak beralasan, tanpa perbincangan basa-basi yang bersandar pada kepentingan dibuat-buat, tanpa gejolak berlebihan, serta naik-turunnya perasaan yang sulit dikendalikan.
Aku ingin mengikhtiarkanmu dengan cara baik-baik. Menyertakan namamu dalam doa di setiap pagi. Tersenyum dan berbincang sekadarnya. Mendukung cita-citamu semampunya karena aku belum menjadi (atau bahkan bukan) siapa-siapa.
Aku, ingin mengikhtiarkanmu dengan cara baik-baik. Dengan cara yang tak membuat Tuhan dan hamba-hambaNya cemburu. Cara yang penuh keikhlasan. Cara yang tak akan menyakitkan bila kamu ternyata bersama orang lain.
Umurku 23 tahun. Aku masih suka mendengar, melihat, dan belajar hal-hal baik. Aku banyak menyaksikan kisah orang-orang terdekatku yang sukses karena kegigihan mereka, karena keinginan mereka untuk belajar banyak TANPA bicara banyak. Just do it!