- 4 Mei 2014 -
Gunung Rinjani 3726 mdpl, menjadi pengalaman pendakian pertama.
Petualangan âBenang dan Jarumâ
in frame : Wahyu - Kak Multi - Alman - Ridho
photo taken by : Mas Eky
Stranger Things
Today's Document

Kaledo Art

blake kathryn

tannertan36
đȘŒ
Sade Olutola
will byers stan first human second
AnasAbdin

if i look back, i am lost
hello vonnie
No title available

shark vs the universe
Cosimo Galluzzi
DEAR READER

â

No title available
sheepfilms

Product Placement
Lint Roller? I Barely Know Her

seen from United States
seen from United States
seen from Mexico

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from India

seen from Singapore
seen from Mexico
seen from United States

seen from Singapore

seen from Brazil
seen from South Korea
seen from China

seen from United States
@triwahyupra
- 4 Mei 2014 -
Gunung Rinjani 3726 mdpl, menjadi pengalaman pendakian pertama.
Petualangan âBenang dan Jarumâ
in frame : Wahyu - Kak Multi - Alman - Ridho
photo taken by : Mas Eky
Benang dan Jarum
Aku siap!
Selama satu minggu ini aku sudah mempersiapkan semuanya. Dari fisik, logistik, dan keperluan alat-alat lainnya. Hari ini aku akan mendaki gunung Rinjani bersama Kak Multi yang selalu kuanggap sebagai kakak sekaligus guru, Wahyu, sahabatku yang amat menyebalkan itu dan juga Ridho, yang skill fotografinya sudah tidak perlu diragukan lagi. Petualangan kali ini akan menghasilkan foto-foto yang epic!. Aku akan menaklukkan puncak tertinggi di pulau Lombok itu. Â Aku tidak sabar!
Dari catatan harian Alman Yasrid Ditulis hari ini, Minggu 4 Mei 2014, di Mataram, kota penuh kenangan
****
Empat buah tas carrier dengan ukuran enam puluh liter tergeletak di samping berugak tempat pos registrasi pendakian gunung Rinjani. Alman memandang salah satu carrier berwarna biru muda cerah dengan penuh antusias. Sorot mata dibalik kacamata ovalnya memancarkan cahaya penuh semangat. Sedangkan mulutnya sejak tadi menimbulkan suara gumam tak jelas. Kedua bola mata laki-laki itu tak beranjak juga dari carrier yang telah siap dibawanya mendaki gunung tertinggi di pulau Lombok itu.
Petualangan besar, kalau boleh disebut Alman demikian. Jelas ini akan menjadi pendakian yang pertama kali baginya. Seketika pandangan Alman berpindah ke seorang laki-laki yang sejak tadi terus mondar-mandir gelisah.
âKenapa Kak Mul?â
Lelaki berusia dua puluh tiga tahun dengan kulit cokelat gelap dan rambut sedikit ikal itu tak menjawab dan terus saja mondar-mandir dengan gelisah.
âItu jujur kan?â Kali ini Wahyu yang angkat bicara. Ia meminta ijin kepada orang tuanya dengan mengatakan bahwa ia akan berkemah seperti biasa dengan teman-teman sekolahnya. Wahyu mengerti bahwa ia tidak akan mendapatkan ijin jika mengatakan akan mendaki sebuah gunung dengan ketinggian 3726 mdpl itu. âLagian kita memang akan berkemah kan? Ya cuma kemahnya di Rinjani sihâ Tambah Wahyu dengan seringai usilnya yang tanpa dosa itu.
Dengan berat hati Kak Multi tetap membiarkan Wahyu ikut dalam perjalanan ini. Pengalaman membuatnya khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika tidak mendapat restu yang pasti dari kedua orang tua. âAwas aja kalau nanti terjadi aneh-aneh cuma karena kamu gak minta ijin yang jelas ke orang tuamu yu!â. Kak Multi sudah melewati beberapa pendakian sebelumnya, hingga jelas saja jika timbul sedikit kekhawatiran berdasarkan pengalamannya yang lebih itu.
âTenang aja, gak bakalâŠâ Bruuk! Belum usai Wahyu menjawab tiba-tiba seseorang menjatuhkan tas carrier-nya tepat di samping berugak tempat kami bersantai. Lelaki dengan celana jeans pendek robek-robek, ikat kepala usang, dan dengan segala keperawakannya yang kurang terurus itu menoleh kanan-kirinya memperhatikan pos registrasi pendakian yang sedang sepi.
âNaik Rinjani yak?â Tanya pria itu kepada empat orang di depannya. âBareng yak, gue sendirian ini dari Jakartaâ. Keempat orang di depannya hanya terdiam dan saling toleh satu sama lain. âGue daftar dulu yak nama tim kalian yang didaftarin apa?â Tambah pemuda dengan penampilan yang seperti jarang mandi itu.
âAl-Muhsininâ Jawab kak Multi tiba-tiba âDi tabelnya ada di list paling bawah kokâ. Dengan bingung Kak Multi mencerna kembali kata-katanya barusan, seharusnya ia tidak begitu saja mengijinkan orang asing itu ikut bersama timnya.
Pemuda itu langsung menuju loket pendaftaran meninggalkan kami yang masih kebingungan. âNgapain dikasih ikut Kak Mul?â Protes Ridho. âIya, tanyain kita dulu lah harusnyaâ Sergah Alman. âGimana kalau kita langsung kabur aja nih sekarang, mumpung orangnya masih di dalam, sekalian carrier-nya kita sembunyiin biar tau rasa diaâ Sela Wahyu yang sedikit ngawur namun direspon dengan anggukan oleh Alman dan Ridho.
Namun Kak Multi sudah terlanjur meng-iyakan permintaan orang asing tersebut. Wahyu dan Alman pun perlahan mengalah untuk kemudian setuju dengan keputusan Kak Multi, hanya Ridho yang terus mempermasalahkannya âTenda kita kan kecil Kak Mul, diisi empat manusia aja sudah sempit, belum lagi ada carrier, sekarang malah ⊠â
âEh kalau tenda saya ada kokâ Pemuda asing itu tiba-tiba sudah kembali dari loket pendaftaran yang sontak membuat Ridho membisu karena malu. âGue juga bawa beras, mie instan, sama ada kompor portable juga sih â Oh ya gue Ekyâ Pemuda itu kemudian menjabat tangan keepat orang di depannya bergantian. âkebetulan sebulan ini lagi challenge aja sih naik gunung-gunung di Indonesia, minggu lalu gue baru dari Malang nyobain Mahameru sebentarâ
Penjelasan Eky membuat keempat orang di depannya mengangguk-anggukkan kepala dengan decak kagum. âWah keren-keren, boleh lah nanti kita saling bagi pengalaman â Eh ini kebetulan sudah hampir jam dua, kita Sholat dzuhur dulu sekalian di-jamak ashar â Habis itu kita langsung berangkatâ Saran kak Multi yang membuat keempat orang lainnya berdiri dan bersiap untuk melaksanakan sholat.
****
âFormasinya, Kak Multi paling depan, dilanjut Alman, Wahyu, Ridho sama paling belakang Mas Eky yaâ Arahan Kak Multi mengatur timnya. Setelah doa bersama mereka pun memulai perjalanan dari gerbang pendakian Sembalun.
Perjalan ditengah siang hari yang terik, ditambah beban tas carrier di punggung membuat Wahyu, Alman, dan Ridho kerap kali meminta ijin untuk break. Pengalaman pertama bagi ketiga remaja berusia delapan belas tahun itu membuat tubuh mereka kaget dan merasakan pegal-pegal di sekujur tubuhnya.
Sesampainya ketiga remaja itu di pos satu jalur Sembalun, seketika mereka melepas carrier masing-masing demi merasakan ringannya tubuh mereka saat beban bawaan di punggung terlepas.
âAduh Kak Mul, pantes aja rasanya miringâ Tukas Wahyu yang baru saja menemukan bagian robek pada tali lengan bagian kanan tas carrier yang dibawanya itu. âSudah banyak bekas jahitannya lagi, bisa-bisa pertanda buruk nih gak sanggup sampai puncak carrier-nyaâ Protes Wahyu.
âYa kamu sih yu, gak minta ijin yang benerâ Sindir Alman yang hanya dibalas tatapan protes oleh Wahyu.
Kak Multi kemudian merogoh tas carrier-nya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi dua gulungan benang hitam dan merah serta satu set jarum jahit. âNah, ini gunanya kita bawa benang sama jarumâ Jelas Kak Multi.
Selagi Kak Multi menjahit, Mas Eky menceritakan pengalaman challenge-nya mendaki beberapa gunung di Indonesia. Dari break yang cukup lama itu akhirnya Ridho mulai melupakan protesnya terhadap Mas Eky, terlebih karena ia kini dapat belajar banyak terkait fotografi karena hobi yang mereka miliki serupa. Terlebih skill dan pengalaman Mas Eky jauh melampauinya.
Malam itu mereka memutuskan untuk berkemah di pos satu Sembalun. Malam pertama itu mereka habiskan dengan mengaji bersama, dan kemudian saling berbagi cerita sambil menikmati makan malam di bawah kemerlap ribuan bintang di angkasa.
âHotel berbintang yang sesungguhnyaâ pikir Alman. Sejak kecil ia kerap kali bersama keluarganya menginap di hotel mewah berbintang lima. Namun tak ada satupun yang mampu menandingi keindahan hotelnya malam ini.
****
Aku sangat lelah!
Siang ini aku baru saja melewati yang namanya bukit penyesalan. Dan benar saja, saat itu aku benar-benar menyesal! Bahkan sempat terlintas untuk menyerah saja dan segera pulang. Ingin sekali rasanya bersantai di kasur yang empuk sambil minum es kelapa segar, hmmmm. Tapi tidak! Aku tidak akan menyerah! Perjalanan ini belum selesai, masih terlalu dini untuk menyerah. Karena kini puncak semakin terlihat jelas. Dan besok pagi aku akan berdiri di sana saat fajar. Aku yakin aku bisa!
Dari catatan harian Alman Yasrid Ditulis malam ini, Senin 5 Mei 2014, di Pos Pelawangan, titik menuju puncak
****
âApaan tuh? Kamu nulis diary Man?â tiba-tiba Wahyu masuk ke dalam tenda sambil tertawa penuh ejekan. âDih, cewek banget sih, kamu bukan cowok kan? ayo ngaku!â
Wajah Alman seketika berubah merah padam. âNyebelin banget sih anak ini!â gerutu Alman dalam hatinya. Sedangkan Wahyu terus saja menertawakannya dan mencoba merebut buku catatan itu demi melihat betapa memalukan isi di dalamnya.
âApa sih ribut-ribut?â Tanya Kak Multi dari luar tenda sambil menjahit tas carrier Wahyu yang selama perjalanan menuju pos pelawangan itu telah berkali-kali terlepas jahitannya. Sejak mereka melanjutkan kembali perjalanan setelah bermalam di pos satu, carrier yang dibawa oleh Wahyu seringkali terputus jahitannya, terutama saat mereka berada pada tempat yang dikenal sebagai bukit penyesalan. Diberi julukan seperti itu karena setiap kali para pendaki melewati suatu bukit, mereka kira tanjakan bukit itu adalah yang terakhir. Hanya saja setelah mencapai puncak bukit, para pendaki itu melihat satu tanjakan lainnya di hadapan mereka dan hal tersebut terjadi berulang kali hingga tak sedikit dari mereka yang merasakan penyesalan telah melalui jalur tersubut.
Kak Multi kemudian menjitak kepala Wahyu dan Alman bergantian. âKalian ini masalah sepele aja diributin, bantu Mas Eky sama Ridho masak sana!â gerutu Kak Multi yang kemudian melanjutkan menjahit. Kini Ridho dan Mas Eky semakin akrab karena mereka memiliki hobi yang serupa, yaitu fotografi. Bahkan kini tidak ada satupun yang mempermasalahkan penampilan Mas Eky yang terlihat acak-acakan dan tidak terurus. Mereka justru kini menghormati sosok lelaki yang penuh pengalaman dan petualangan itu. Benarlah bahwa penampilan luar tidak selalu memperlihatkan jiwa dan karakter sebenarnya yang ada di dalam penampilan tersebut.
âSiaap Kak Mul!â Sahut Wahyu sambil mengusap kepalanya yang nyeri setelah kena jitak. âItu carrier nyusahin banget ya, dari awal rusak terus â Harusnya dari awal dibuang aja itu kalau sudah tau rusakâ gerutu Wahyu yang melangkah dengan malas sambil melirik tas carrier-nya yang sedang dijahit.
âKamu tau carrier itu mirip siapa yu?â Celetuk Ridho sambil menghidangkan mie rebus. âJelas mirip Wahyu lah, nyebelin â harusnya mulutnya Wahyu ikut dijahit tuh  Kak Mul? Sahut Alman yang memecah gelak tawa kelima orang itu, termasuk Wahyu yang terlihat tanpa dosa seperti biasa. Walaupun selalu disindir Wahyu tidak pernah tersinggung bahkan ia selalu berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang selalu dilakukannya.
Sejenak Wahyu melamun dan berpikir. âKebayang gak sih, sebenernya Negara kita juga kayak gini kondisinya â Rusak! Banyak koruptornya!â
Keempat orang lainnya sontak menatap Wahyu. âTerus, kalau sudah tau rusak, mau kamu apain yu? Mau dibuang aja gitu Negaranya?â Celetuk Kak Multi yang membuat Wahyu melamun dan berpikir keras. âGak semuanya bisa sekedar kita buang aja yu, Â kalau rusak, robek, atau hancur sekalipun â Harusnya kita berusaha memperbaikinya terlebih duluâ
âTapi Kak Mul, Indonesia ini sudah parah loh â Memangnya siapa orang di jaman sekarang yang bisa memperbaiki Indonesia?â Protes Wahyu tidak setuju.
Kali ini Kak Multi memperlihatkan senyumnya yang terlihat amat tulus kepada Wahyu. âYa kamu yu â Indonesia butuh orang-orang yang memikirkan orang lain, terlebih memikirkan Negaranya seperti kamuâ.
Kata-kata itu membuat semua orang terdiam. Terutama Wahyu yang kini tersipu, terlihat jelas di wajahnya yang kini merona merah karena malu.
âYa, kita semua harus bisa jadi benang dan jarum untuk Indonesia yang sedang rusak iniâ Lanjut Kak Multi sambil sedikit mengangkat tangannya yang memegang segulung benang merah dengan sebuah jarum yang menancap padanya.
âMungkin cuma segelintir yang seperti kita â Yang seperti Wahyu terutamaâ Ucap Kak Multi sambil melirik Wahyu dengan senyumnya yang sedikit menggoda. âTapi karakter  pahlawan itu memang cuma sedikit yang punya Yu..â
Dalam suasana yang damai itu Kak Multi kemudian lanjut menceritakan sejarah perjuangan pahlawan yang menegakkan kemerdekaan Indonesia. Kak Multi menceritakan bahwa tak sedikit dari para pahlawan itu yang dengan ikhlas berkorban demi orang lain, walaupun taka da satupun yang mengetahui pengorbanannya itu. Bahkan walaupun dengan pengorbanan itu mereka kesusahan sampai tak jarang melukai pelakunya sendiri, para pahlawan itu tetap melakukannya. Hanya demi orang lain, hanya demi kemerdekaan Negaranya. Dengan ajaib cerita-cerita itu meresap menjadi motivasi ke dalam jiwa keempat orang lainnya.
Sampai-sampai keesokan paginya, saat mereka bersama mendaki puncak Rinjani. Walau dengan langkah yang payah, walau fisik mereka teramat lelah. Dengan terus bersama, mereka berhasil. Mereka berlima kini berdiri di puncak tertinggi di tanah Lombok itu. Bahkan semua perasaan lelah seakan sirna ketika mereka berhasil mencapai puncak gunung Rinjani itu.
âYu, maaf ya kalau aku sering ngejek kamuâ Spontan Alman kepada Wahyu ketika mereka bersama turun dari puncak Rinjani.
âMaaf ?â Ucap Wahyu dalam pikirannya. Baginya terasa aneh jika rekan berkelahinya ini meminta maaf padanya. Â âMana sini diary kamu, baru aku maafinâ Ucap Wahyu asal sambil melirik Alman dengan heran.
âAh iya, kamu memang harus baca isi buku itu yu!â Jawab Alman sambil tersenyum. âSetelah perjalanan ini, buku itu pasti aku kasih ke kamu â Disimpan baik-baik yaâ
Wahyu hanya terdiam dan bingung akan sikap Alman padanya yang tiba-tiba berubah itu. Percakapan dan motovasi dari Kak Multi semalam membuat Alman kini teramat menghormati sahabatnya yang paling menyebalkan itu. Alman secara tak sengaja mengetahui, bahwa tas carrier yang dibawa Wahyu seringkali putus, hanya dikarenakan Wahyu yang dengan diam-diam terus memaksakan diri untuk membawa barang paling banyak hingga terlalu memberatkan carrier yang dibawanya. Hanya Kak Multi yang tahu persis dan ia mengijinkan Wahyu melakukannya, karena ia tahu bahwa Wahyu memiliki fisik paling kuat diantara rekan satu tim lainnya. Dan Kak Multi mengerti bahwa Wahyu juga ingin berkorban demi mempermudah perjalanan teman-temannya.
****
Aku Bahagia!
Hari ini aku menaklukkan puncak tertinggi di pulau Lombok. Terlebih lagi aku bahagia karena memiliki sahabat yang menyebalkan namun penuh perhatian seperti Wahyu. Aku mungkin tidak bisa mencapai puncak jika bukan karena Wahyu yang dengan diam-diam membantuku meringankan beban bawaanku. Dari petualangan ini aku banyak belajar. Aku benar-benar kagum dengan keindahan alam Negeri ini. Yah walaupun memang banyak diluar sana yang membuat Negeri ini tercemar oleh keserakahan mereka. Tapi aku sangat yakin, Aku, Ridho dan Wahyu, kami semua bisa menjadi benang dan jarum untuk Indonesia. Mungkin tidak mudah, mungkin kami akan banyak berkorban. Tapi dengan bersama, kami akan memperbaiki Negeri ini!
Dari catatan harian Alman Yasrid Ditulis hari ini, Kamis 8 Mei 2014, di Indonesia, Negeriku tercinta.
MikMik Project
Teringat akan kisah di masa lalu Yang tak kusebut kau pun tahu Ya, ini kisah kita, kau dan aku Banyak rahasia yang kita bagi kala itu Dari bahagia, sampai dengan sendu yang mengharu biru Bagiku kau sahabat, saudara, bahkan guru Selalu menasihati dikala ku layu Sungguh, rindu menyelimut kalbu Biarlah kini kumenanti waktu Hingga tiba saat kembali kita bertemu Bertatap muka, berbagi cerita kita yang baru -Aku juga Rindu- . . #dahulukala #pengendaliombak
Mereka bangga dengan cantiknya pacar dan mantan-mantan mereka. Dengan bangganya mereka berkata "ini lo pacar/mantanku, cantik kan? gak jomblo kayak kamu". bahkan ada pula yang berkata "jangan mau sama cewek itu, dia kan bekasnya si itu". "bekas", Entah bagaimana cara mereka menganggap seorang wanita. Ketahuilah kawan, wanita ialah perhiasan dunia. Pun jika benar mencintainya, bukankah seharusnya kau lebih memilih tuk menjaga kehormatannya dan jadikan ia sebaik-baik perhiasan dunia? Karena, sebaik-baik perhiasan dunia ialah wanita shalihah yang terjaga kehormatannya. Pikirlah kembali, benarkah yang kau beri itu cinta, atau hanya nafsu belaka. Bagiku kawan, saat ini lebih baik sendiri. Sendiri tuk memperbaiki diri. . . #alone #hope #to #be #better
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang (Imam syafi'i). Yakinlah perjuanganmu akan terbayarkan, kutahu kau mampu, kutahu kau dapat bertahan, karena engkau.. sang pejuang. . . #Pejuang #kalimati #semeru #pendakikusam #semeruberkah #nolderajat (at Kalimati Semeru)
Begitu banyak hal yang dapat menghambat perjuangan, saat rasa kesal memuncak dan membuatku malas bertindak, saat tumpukan amanah membuatku terasa lelah. Banyak hal. Istirahat mungkin perlu, namun jangan sampai diri ini terlena dalam istirahat itu. Bertarung dengan diri sendiri memang bukanlah hal mudah. Yah, semoga saja diri ini tetap istiqomah dalam mengemban amanah, dapat menjadi pribadi yang produktif baik dalam diamnya sekalipun. Aamiin. . . #pejuang #petualang #martialarts #waterfall #jalanjalan #fight
Jika bukan kalian yang minta, aku tak akan mau ikut di perjalanan ini, ya persahabatan kita memang unik, mencapai batas awan, ah tidak bukan hanya sekedar mencapai batas awan, melainkan mencapai jannah-Nya kelak, insyaAllah . . #ram #bersinergi #ukhuwah #petualang #pendakitampan #pendakicantik #3676mdpl #mahameru #nolderajat (at Puncak Mahameru - Gn. Semeru - Jawa Timur)
Sederhana namun penuh makna Dirgahayu Indonesiaku kami mengabdi padamu . . Cek video lengkapnya : https://youtu.be/zOD_btoUSiE #dirgahayu71 #Indonesia #Brawijaya #robotics (at Universitas Brawijaya)
Edisi kangen orangtua #keluarga
My first comic #komik #ospekub. #tugasonline3. #keterampilan
Mount Rinjani (Lombok-NTB)