Yerussalem: Tiga Perbedaan yang Saling Mengenal(?) Menurut orang Yahudi, Nabi Muhammad AS. mengumumkan dirinya sebagai Nabi setelah ia mendapat Ilmu dari orang Nasrani dan Yahudi. Sedangkan Yesus, bagi orang Yahudi adalah penganut dan penceramah agama Yahudi. Pengikut beliau sangat banyak, lalu ia mengumumkan dirinya sebagai raja. Kekaisaran Romawi yang menguasai Palestina saat itu, mengganggap itu sebagai pemberontakan, maka Yesus pun dihukum di tiang salib. Demikianlah Yahudi terus mengklaim sebagai pewaris tunggal agama ibrahim, dan tidak bisa dibagi melalui kehadiran nabi-nabi lain setelah Musa AS. Mereka menganggap Nabi Isa AS. bukanlah mesiah yang tertulis dalam Taurat karena ia tidak terlahir di bawah garis keturunan Nabi Daud. Isa AS. terlahir secara ajaib dari perut Maryam. Selain itu, dalam taurat tertulis Mesiah sejati juga akan mengantarkan sebuah zaman perdamaian dunia ketika kebencian dan penindasan akan berhenti. Namun, menurut Yahudi Isa AS. justru telah memecah agama Yahudi dengan mengganti Taurat dengan Injil. Ya, mau bagaimana lagi, sebagai keturunan Nabi Ya’kub, Bani Israil mengaku dirinya adalah bangsa terpilih, hanya merekalah pewaris Tanah Palestina, dan Yerussalem sebagai pusatnya. Dari sudut pandang Yahudi, seharusnya orang Arab Palestina tidak menentang kehadiran mereka di tanah sendiri. Sementara menurut sejarah yang dipercayai sebagian besar penganut Nasrani dan Islam, bangsa yahudi tidak mempunyai tanah air selama 2000 tahun, sejak pengusiran yang dilakukan oleh Kaisar Titus dari Romawi tahun 70 M sampai abad 20 M. Baru pada tahun 1948, Yahudi dengan semangat Zionisme berhasil merebut Palestina setelah bekerja sama dengan pendudukan Inggris untuk tinggal di sana. Pertanyaannya bagaimana mungkin yahudi bisa disebut bangsa pilihan kalau tidak mempunyai negara selama 2000 tahun? Perhatikanlah Seorang pendeta agung yang ditanya di dalam Talmud (-kitab buatan orang Yahudi): ”Katakan padaku wahai guru, apa yang akan terjadi dengan kita, jika semua orang berilmu beralih memeluk agama Yahudi?”. Ia menjawab, ”Ini tidak mungkin”. ”Kenapa tidak mungkin guru?” sanggah si penanya. ”Karena Yahudi adalah bangsa yang dipilih oleh Allah. Jika semua bangsa adalah Yahudi, maka tidak ada bangsa yang terpilih. Jika semua manusia menjadi penguasa, maka siapa yang menjadi rakyat. Jika semua barang tambang adalah emas, maka barang tambang menjadi tidak bernilai, dan emas pun juga tidak bernilai, sesungguhnya emas menjadi bernilai, karena disana ada barang tambang lainnya yang tidak bernilai. Oleh sebab itu, semua bangsa wajib menjadi bangsa yang hina, agar Yahudi menjadi bangsa yang terbaik dan pemimpinnya”. Orang Arab Palestina-baik Nasrani maupun Islam- menyebut klaim Yahudi semacam itu sangat lucu, seakan-akan tuhan itu rasis hanya untuk Yahudi. Padahal, kita tahu bahwa dunia ini tercipta atas bangsa-bangsa dan suku-suku yang berbeda, agar bisa saling mengenal. Alhasil, nurani kebaikan umat manusia tentu berharap perbedaan bukanlah halangan untuk hidup berdampingan dengan damai. Namun tampaknya kini, kehangatan tegur sapa antar beragama di lorong-lorong bangunan suci Yerussalem benar-benar hanya menjadi harapan. Beberapa gambaran diatas hanya mewakili segelintir konflik yang terjadi di Yerussalem. Bisa dibayangkan, betapa runcingnya klaim-klaim yang selalu berhasil mencoret opsi damai di antara penganut-penganut tiga agama samawi ini. Lobi-lobi politik damai akhirnya terus berujung pertikaian. Lagi-lagi, tak bisa dipungkiri area ini masih langgeng konflik karena didukung bentrokan keyakinan. Masing-masing berupaya keras meyakinkan pihak lain akan kebenaran posisinya. Di sisi lain, bersungguh-sungguh menolak keyakinan dan memojokkan posisi pihak lain, terutama pihak yang mengajukan alasan agama. Setiap mereka punya keyakinan arkeologis, historis, etnisitas yang berbeda-beda. Dengan perbedaan yang sedemikian rupa mereka harus hidup bersama di Yerussalem, demi menjaga bangunan suci masing-masing. Apakah memang perbedaan yang damai bersama terlalu utopis untuk dicapai? Apalagi, di era zaman now, di mana kebanggaan ras dan agama dianggap dapat memecah belah. Dan sudah berabad-abad kita mencatat sengketa kota bernama kedamaian,Yerussalem (-dalam bahasa Ibrani). Tetapi ironi, di sekeliling kota ini kita dipertontonkan pembangunan pemukiman oleh pemerintahan Zionis Israel. Padahal, dunia internasional sudah banyak mengecam pendudukan ilegal tersebut. Kalau pun benar klaim Yahudi bahwa tanah Palestina itu adalah tanah yang dijanjikan untuk mereka, tetap saja mereka tidak bisa main gusur semaunya. Karenanya, jutaan penduduk Arab-Palestina mengungsi ke negara-negara tetangga, hidup di Tepi Barat dengan segala tekanan pendudukan atau terjebak di Jalur Gaza yang di blokade. Kenapa Yahudi tidak datang baik-baik? Minta izin kepada penduduk Arab-Palestina yang secara de facto telah menjadi penghuninya selama 14 abad. Kenapa Yahudi tidak melakukan apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka di masa Shalahuddin Al-Ayyubi dahulu? Bangsa barat mengenalnya sebaga Saladin, pahlawan islam yang mahsyur dengan sifat toleransinya. Pada zaman Saladin, komunitas Yahudi bebas mendirikan sinagog, beribadah di dalamnya serta menjalankan semua ritual sesuai keyakinan mereka. Bayangkan di masa itu, umat Islam hidup berdampingan dengan umat Nasrani dan juga Yahudi. Tidak ada blokade, tidak ada bau anyir darah, tidak ada isak tangis yatim yang kematian orang tua akibat dibunuh lawannya. Kenapa Yahudi harus datang membuntut tentara Inggris di tahun 1948, lalu dengan klaim sepihak mengaku negara berdaulat dan mengubah peta dunia seenaknya? Prof. Roger Garaudy, seorang ilmuwan Perancis, mengungkap bahwa isu "tanah yang dijanjikan" versi Zionis Yahudi tersebut merupakan mitos. Sehingga, yang sebenarnya terjadi adalah "tanah yang ditaklukkan" (the conquered land), bukan"tanah yang dijanjikan" (the promised land). Roger memaparkan bukti-bukti yang mendukung pernyataannya tersebut dengan mengacu pada literatur-literatur Yahudi dan Nasrani. Dengan demikian, isu "tanah yang dijanjikan" yang digunakan oleh Israel sebagai dalih pendudukan atas Palestina sebenarnya bukan merupakan ajaran Taurat, bukan pula ajaran Injil. Dan memang kenyataannya kaum Zionis tidak lagi berpedoman pada Taurat. Mereka lebih berpegang pada kitab suci lain yang bernama Talmud, atau dikenal juga dengan sebutan Shulhan Arukh, yaitu kitab yang ditulis oleh seorang Rabi Yahudi yang bernama Joseph Ben Ephraim Caro di abad ke-16 M. Kitab Talmud ini mengajarkan pandangan-pandangan yang buruk, di antaranya adalah: Kaum Yahudi adalah kaum pilihan Tuhan. Selain kaum Yahudi adalah binatang dan pagan (penyembah berhala). Kaum Yahudi harus selalu bekerja keras untuk meruntuhkan bangsa dan kaum lainnya, agar kaum Yahudi dapat menguasai dunia. Kaum Yahudi diizinkan untuk mencuri harta benda selain kaum Yahudi. Kaum Yahudi diizinkan untuk berbuat curang kepada selain kaum Yahudi, menjalankan riba pada mereka, dan memaksa mereka untuk menjual semua miliknya kepada kaum Yahudi. Sedangkan, klaim Zionis Israel bahwa Palestina adalah bumi yang dijanjikan untuk nabi Ibrahim dan anak keturunannya disandarkan pada ayat Taurat (Perjanjian Lama). Di antaranya, “Berfirmanlah Tuhan kepada Abram, ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu..,” (Kejadian 12:1) Lalu dalam ayat lain yang mereka sebutkan juga, “Berfirmanlah Tuhan kepada Abram, ‘Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke utara dan selatan, timur dan barat; karena segala tanah yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada anak cucumu sampai selama-lamanya’.” (Kejadian 13:15) Dr. Muhsin bin Muhammad Shalih, dalam salah satu risalahnya, At-Tariq Ila Al-Quds, menjelaskan di antara bentuk kejanggalan klaim tersebut, antara lain: Jika memang di sana ada perjanjian, yaitu nabi Ibrahim serta keturunannya akan diberikan wilayah Palestina, maka perlu kita pahami bahwa bani israil bukanlah satu-satunya keturunan nabi Ibrahim, kaum Arab pun termasuk anak cucu beliau dari garis keturunan nabi Ismail. Dan di antara mereka adalah nabi Muhammad SAW. Lalu persoalan berkaitan dengan keturunan, Yahudi Ashkenazi yang mendominasi Zionis Yahudi hari ini mayoritasnya bukan dari garis keturunan Nabi Ibrahim. Sebab, secara umum mayoritas orang-orang yahudi sekarang berasal dari keturunan yahud al-khazar. Yaitu salah satu suku di wilayah turki yang masuk dalam agama Yahudi pada abad 9-10 Masehi. Selain itu, berdasarkan perspektif Al-Qur’an menjelaskan bahwa ikatan kepemimpinan Nabi Ibrahim serta anak keturunannya terlepas dari segala bentuk kezaliman. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim,” (QS. Al-Baqarah: 124) Tidak akan ada perdamaian sampai kezaliman di muka bumi lenyap. Klise. Tapi itulah realita peradaban manusia kini. Sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orang zalim pasti akan bergejolak. Konflik Yerussalem, Palestina, Timur Tengah menjadi contoh gejolak antara penguasa/yang memaksa berkuasa menentang nurani dengan kesombongan. Konteks seperti ini bisa kita refleksikan dengan pada interaksi antara individu di sebuah organisasi. Kita sering berinteraksi dan menemukan berbagai karakter yang berbeda. Tentu, karakter yang dirasa menzalimi akan mendapat teguran dari sesama rekannya. Dan ada batas-batasannya bila dia telah melanggar hal yang disepakati, keadilan harus ditegakkan entah dengan hukuman atau negosiasi yang setimpal. Lebih jauh, sebenarnya hikmah yang ingin kita cari dalam berorganisasi adalah kita bisa saling mengenal karakter manusia yang berbeda-beda. Melalui itu kita belajar untuk mencari solusi bersama dengan pikiran-pikiran yang berbeda pula. Menyikapi perbedaan adalah dengan belajar saling mengenali prinsip, kekurangan, kelebihan dan hal-hal tertentu dari setiap rekan kita. Dengan begitu kita, bisa saling memahami dan bahkan menyayangi di tengah perbedaan. Di tataran berbangsa, bersuku dan beragama tentu dinamika saling mengenalnya lebih rumit lagi. Tapi intinya sama bukan? Perbedaan di setiap sudut bumi adalah niscaya, sedangkan saling mengenal di antara mereka adalah upaya dengan itikad baik untuk mencapai kesepakatan. Sebaliknya, semua itu tidak akan terjadi bila diikuti dengan kesombongan. Seperti mengutip Emile Durkheim, sosiolog keturunan Yahudi, ”Sesungguhnya semua umat laksana sungai-sungai yang kita ketahui hilirnya, tapi tidak dengan hulunya. Maka kepindahan manusia dari tanah air mereka menuju tanah lainnya untuk berdagang, berlibur, berperang atau untuk menetap, menjadikan mereka membaur dengan lainnya selama ia tidak membuka ruang bagi faham kesukuan yang menyatakan kemurnian ras, dan tidak pula bagi faham keturunan yang mendorong munculnya kesombongan antara satu sama lain”. Maka kemuliaan hubungan dan pertemuan harus berada pada cahaya yang membangkitkan teladan tertinggi dan prinsip-prinsip yang mulia, sehingga manusia menjadi bersaudara tanpa dibatasi paham kesukuan dan kebangsaan. Selama tujuannya adalah kebaikan dan kedamaian atas nama kita sebagai manusia. Sedangkan apa-apa yang menyimpang dari nurani maka ia adalah cabang yang layu dan lemah yang harus dipotong. #NarasiNurani #DimanaNurani #KamiBersamaPalestina #BacaSejarahYuk #DialogAntarPerbedaan #BicarakanSARAUntukBasmiPrasangka Tsurayya Fajri Islami, 20 Desember 2017.