aku mendapati orang suka sekali mengeluh tentang persoalannya di sosial media yang notabene tempat umum, artinya dia mempersilahkan kerumitan persoalan hidupnya menjadi konsumsi publik. lalu aku? tentu saja aku iba, turut prihatin. menganggap "wah, berat yah hidupnya.. lapang sekali hatinya diuji begitu, kalau aku mungkin tidak sanggup." aku selesai sampai situ. tapi rupanya, orang yang suka sekali mengeluh di hadapan umum itu tidak. dia melanjutkan lagi, terus mengeluh, sembari.. sembari menambah bebannya sendiri atas persoalannya (menurutku). Sampai aku mengernyitkan dahi, kok sepertinya dia tidak mencari solusinya sendiri? dia lihai sekali mendramatisir hidupnya? lalu aku membaca sesuatu, ternyata.. memang orang itu menikmati keluhannya yang sengaja ia tampilkan di publik. sengaja agar orang lain iba. sengaja agar dianggap orang paling berat dan sabar hidupnya. oh, baiklah, aku tidak akan iba lagi jika melihat siapa-siapa yang mengeluh dan bersedih di sosmed. lagi pula, janggal juga. kenapa harus sosmed? dia tidak punya teman yang nyaman untuk bercerita kah? suaminya tidak membuatnya nyaman untuk berbagi kesedihan? kalau orang tua, aku masih mengerti. sebagian anak tidak mau berbagi bebannya pada orang tua. maka, jika suami tidak bisa, apakah tidak ada sahabat atau teman dekat? oh, sekarang dokter psikologi juga bisa pakai BPJS. coba curhat kesana. bisa gratis, berikut dengan bantuan klinis. :))
Atau, cobalah membeli notebook di toko buku, kemudian, mulailah menulis diary. Menurut penelitian, menulis diary bisa jadi obat juga.
Sekian, semoga membantu.
















