Kontradiksi yang Membekas.
” Ibarat peribahasa, karna nilai setitik rusak susu sebelanga “
Pagi ini mulai menulis setiap lembaran peristiwa yang pernah terjadi pada saya. Dan bisa jadi peristiwa ini juga terjadi pada kalian. Tapi saya harap, kalian tidak pernah merasakannya ya.
Suatu peristiwa yang menimbulkan kontradiksi. Sebuah penilaian yang dilihat orang lain karena adanya kesalahpahaman yang tidak berujung. Tidak keberujungan inilah yang akan membuat rasa ketakutan hingga menimbulkan kesan sedikit traumatik untuk menjauhi hal itu. Sebagian yang ikut memberikan penilaian tersebut merasa santai, namun tanpa berpikir panjang justru hal itulah yang membuat orang lain merasa ketakutan.
Saat duduk di bangku perkuliahan, saya mulai merasa apa yang diucapkan oleh kakak saya benar adanya. ” Makin dewasa perjalanan hidup, makin berat pula tantangan yang kamu jalani. Hidup ini keras loh, kalau hanya hal sepele kamu tidak segera bangkit dan bergegas melupakannya “, pesan yang kala itu diucapkan pada saya sebelum memulai hari pertama Ospek di Kampus.
Semester tiap semester, saya lalui dengan gembira dan tidak pernah takut untuk berbuat kebaikan. Hingga suatu saat, tepatnya saat saya menulis dan mencatat materi yang telah disampaikan oleh dosen ke dalam buku binder bergambarkan logo Harry Potter di sampul depannya. Maklum, #potterhead sebutan bagi mereka yang menyukai segala sesuatu berhubungan dengan imajinasi dunia Harry Potter.
Saat itu, saya memang dikenal sebagai mahasiswa rajin yang selalu mencatat apapun materi yang dibahas. Hingga kemudian, salah seorang teman saya dengan muka memelas ingin meminjam buku catatan saya untuk ia salin kembali ke rumah. Saya pun menyetujuinya, karena berbuat kebaikan dan saling tolong menolong itu perbuatan yang mulia di mata Allah. Aku percaya itu.
Namun, beberapa selang bulan berikutnya tepatnya saat mulai Ujian salah satu mata kuliah, teman saya dengan asyiknya membuka lembaran kertas yang penuh dengan lekukan tidak rapi. Rasa penasaran pun muncul. Setelah ujian berlangsung, tepat waktunya untuk mengumpulkan hasil ujian. Saat itu teman saya memanggil saya.
” Tar, ayo gak keluar ” tanya Ria kepada saya.
” Kamu keluar saja dulu, saya mau cek sesuatu.” balas saya kepada Ria.
Ternyata benar dugaan saya, kertas lipatan itu berisikan tulisan catatan saya yang telah di fotokopi oleh teman saya yang saat itu pernah meminjam buku catatan saya. Ternyata saya menemui fotokopian catatan saya kembali, di meja sebrang. Perasaan bingung campur sedih, harus berbuat apa menyelimuti saya. Sikap baik yang seharusnya tidak terlalu baik kepada seseorang. Karena kita tidak pernah mengetahui isi hati orang lain. Meskipun di depan kita, menaruh sikap yang penuh rasa iba.
Sedari kecil, saya diajarkan suatu nilai kejujuran dari keluarga maupun lingkungan tempat mengaji, dan seketika langsung membuat perasaan dan air mata ini tidak bisa tertahan. Apa kamu sedih ? tentu rasanya bukan main yaa. Apa kalian menganggap hal ini suatu anggapan remeh yang tidak terlalu dipikirkan. Karena bisa memenuhi pikiran. Tapi nyatanya, hal ini menimbulkan suatu kontradiksi yang membekas.
Setelah itu, saya pulang ke rumah dan menghadap ke arah jendela luar menatap langit dan merenungi kejadian saat itu. Bukan masalah tidak ikhlas untuk menerima jika catatan semasa kuliah bisa membantu belajar teman-teman, namun cara yang dilakukan menurut saya itu salah. Mengonsumsi sebuah catatan untuk kepentingan publik tanpa meminta ijin kepada si penulis. Niat hati ingin membantu agar teman-teman mudah memahami, namun cara instanlah yang dilakukan. Apakah semua masyarakat yang berpendidikan di Indonesia seperti itu ? Bagaimana cara saya untuk bertanggung jawab ? Apa yang harus saya lakukan kedepannya ?
Hingga suatu saat, terlepas dari mengevaluasi diri tentang apa yang harus dilakukan kedepannya. Keputusan terbaik yang saya ambil kala itu ialah dengan memberanikan diri untuk mengeluarkan aspirasi, aspirasi kejujuran tentang tindakan yang dilakukan oleh teman saya. Benar, ternyata aspirasi kejujuran yang saya ungkapkan kala itu menimbulkan situasi berbeda. Beberapa teman yang tidak berpihak padaku memilih untuk menjauhi dan menyebar sebuah perkataan yang menimbulkan kesalah pahaman. ” Tara itu pelit ” ucap salah seorang teman yang saya dengar saat menuruni tangga perkuliahan. Memang saat itu, beberapa keputusan tersulit dalam menghadapi sebuah permasalahan.
Beberapa saran teman saya terima namun saya menolaknya, saran untuk memilih diam dan mengabaikannya saja. Karena setiap kebiasaan buruk yang dilakukan akan terus berjalan seperti itu. “Ahh.. bismillah aku bener kok ! ” ucap saya dengan tegas.
Dengan sebuah keberanian untuk mengutarakan aspirasi sama halnya dengan membuktikan bahwa kepedulian terhadap seorang teman agar kejadian ini tidak berulang kepada siapapun. Dunia perkuliahan memang tidak sekejam dunia kerja. Pikirku begitu.. Tapi jika diri kita saja memilih diam tanpa melakukan perubahan yang akan membuat penuh pikiran dan hati bisa-bisa membuat badan ini tidak terurus, kurus mengering. Buat yang memiliki posisi sama dengan cerita, beranikan untuk mengeluarkan aspirasi ya namun harus juga ada kebenaran dalam menjelaskannya agar siapa saja yang mendengarnya akan merasa takut.