Sekilas Tentang Positive Discipline
Jadi untuk mengisi kegabutanku supaya gak gabut gabut amat di rumah, sekarang gw sedang iseng ikutan workshop tentang positive discipline. Selain karena udah mulai lelah dengan perilaku Jingga yang di mata gw terlihat agak agak challenging ya (terutama karena sekarang lagi no nanny, tapi masih pake ART-yang-dateng-seminggu-3-kali-kerjanya-cuma-beberes-rumah-selama-maksimal-4-jam) dan mulai tersadar juga kalau perilaku menantang ini gw respon dengan tindakan yang menantang, yang ada akhirnya gw demot lagi dan nambah stres sendiri wkwk
Jadi intinya positive discipline ini bertujuan membentuk kita sebagai orang tua yang kind AND firm. Kalau dari teorinya, orang tua itu cenderung mendidik anaknya dengan menjadi orang tua yang firm (yang berpotensi membuat orang tua jadi otoriter) atau dengan menjadi orang tua yang kind (yang berpotensi membuat orang tua jadi permisif). Nah, positive discipline ini memfasilitasi orang tua untuk bisa menjadi firm (punya rules, tegas, ada batasan) sekaligus kind (menghargai anak, mengakui perasaan anak, melibatkan anak, dsb). Terdengar mudah ya teori nya, namun praktek nya super sulit. Ya gimana gak sulit, kalau di positive discipline ini salah satu tujuan nya juga untuk menumbuhkan motivasi internal anak, jadi yang namanya reward (even praise) sebagai motivator eksternal aja gak ada coba wkwkwk
Jujur sebagai tipikal orang tua yang firm, gw merasa selama mengikuti workshop ini penuh tamparan tapi juga menemukan beberapa keajaiban. Tamparan nya lebih ke beberapa kesalahan strategi yang gw lakukan saat Jingga terlihat susah diatur, kemudian yang paling menohok itu ya suatu kenyataan tentang bahwa keinginan anak itu sebetulnya hanyalah connection and contribution. Terkoneksi dengan orang tuanya dan punya kontribusi untuk keluarga serta keputusan hidupnya, sehingga mereka merasa dihargai dan disayangi apapun kondisi mereka.Ā
Gimana gak nyesss banget ya hati ini ketika mengetahui yang diinginkan anak itu bukan lah liburan ke tempat mewah, makan makanan enak (yeaa maafin ibuk ya nak, masakan ibuk yang penting masih bisa dimakan kan wkwk), mainan mainan dan baju baru, tapi cuma cinta dan penghargaan tanpa syarat dari orang tuanya. Tapi kok masih belum bisa ya memenuhi keinginan anak ini terhadap connection dan contribution sehingga tangki cinta mereka bisa penuh? Ya mohon maaf nak, saat ini saingan kamu adalah interaksi di group whatsapp yang terkesan lebih menarik, postingan instagram yang mengundang buat dikepoin, keributan di twitter yang lebih seru buat dipantengin, belum lagi kalo kerjaan lagi dikejar deadline ya kan.Ā
Jadi, koneksi ini adalah kunci untuk handle anak. Semakin kita terkoneksi dengan anak, semakin kita bisa memenuhi tangki cinta mereka, semakin mudah pula untuk kita bisa mendorong mereka memperbaiki kesalahan kesalahan mereka. Langkah awal untuk koneksi ini bisa dengan mengenali Bahasa cinta anak supaya kita juga mudah untuk mengisi tangka cinta mereka. Sepengamatan gw, Jingga ini anak nya suka banget physical touch, dia suka dipeluk, digelitikin, disayang sayang, dikasih ucapan selamat pagi (kalo bangun tidur dan gw kasih ucapan āSelamat pagi Jinggaā dia auto senyum senyum manja wkwk) Terus dia juga suka kalau dilibatkan bantu bantu ibuk ngerjain kerjaan rumah. Dia suka banget kalo diajakin masak, bagian ulek ulek bumbu dan kasih garam/kaldu. Lumayan nih kegiatan kegiatan simple ini bisa buat ngisi tangka cinta dia.
Working For Progress, Not Perfection
Meskipun terdengar sulit karena no reward and no punishment (lebih menekankan ke konsekuensi, yang mana kalo emosi lagi tinggi kok jadinya tipiiiiiis banget beda punishment dan konsekuensi ini ya wkwk) tapi ada konsep good enough parent di positive discipline ini. Jadi tidak ada orang tua yang sempurna gaes, karena orang tua juga manusia yang punya gudang kesalahan juga. Justru di sini yang ditekankan bahwa dari kesalahan, kita sebagai parents dan anak sama sama belajar untuk mengakui, meminta maaf dan focus ke solusi supaya ke depan kesalahan yang sama bisa diminimalisir. Kalau kita jadi orang tua yang sudah sempurna tidak pernah berbuat salah, pengalaman belajar dari kesalahan, perasaan ketika berbuat salah, dan bertanggung jawab memperbaiki kesalahan ini mungkin sulit ya buat diajarin ke anak. Menjadi good enough parents sudah cukup lah. Tapi ini jangan dijadiin excuse buat terus terusan berbuat kesalahan yaaa wkwk Ā
Gw cukup terkesima sih dengan konsep ini, karena cukup berbeda ya dengan hidup di era social media ini yang semuanya harus looks perfect. Supaya dikasih embel embel āgoalsā. Padahal hidup menjadi sempurna, capeknya luar biasa. Ya namanya manusia, selain memang ditakdirkan sering berbuat salah, gak pernah juga merasa puas. Maka konsep good enough parents ini lebih menekankan ke progress, bukan untuk meraih kesempuranaan yang paripurna.
Bagi gw pribadi jujur sih, ada beberapa hal yang cukup berhasil dari tools positive discipline ini yang gw terapkan ke Jingga. Misalnya perkara beres beres mainan. Karena gak ada yang tiap hari bantuin gw beresin rumah, jadi gw agak strict nih perkara beresin mainan ini. Ditambah gw juga orang nya gak betah gitu lho tinggal di rumah yang berantakan. Dulu jaman gw kerja, ritual pagi gw adalah beres beres meja karena mood gw bisa berantakan kalo meja gw berantakan.
Nah, kadang Jingga tuh kalo diminta beresin mainannya kadang mau kadang enggak. Pernah lho dia gak mau beresin mainannya terus gw kasih ultimatum akan gw buang mainannya dan beneran gw buang mainannya karena dia tetep gak mau beresin. Terus di kemudian hari, gw melakukan hal yang sama dan dia ya udah cuek aja gitu malah bilang āIya gapapa buang aja ini mainannyaā ujung nya malah gw yang gak mau buang mainan itu karena lumayan harganya yaa wkwk
Setelah belajar sedikit tentang positive discipline ini, gw baru sadar kalo cara gw salah. Instead of telling atau nyuruh nyuruh dia, akan lebih baik kalo gw Tanya dia udah selesai main atau belum, dan pembagian tugas dia mau beresin yang mana (kalo di positive discipline ini telling vs asking). Sekarang Jingga bisa beres beres mainan tanpa drama yang signifikan sih, dengan cara simpel āJingga mau beresin mainan yang ini atau yang itu? Kalau Jingga beresin yang itu, berarti ibuk bantu yang ini ya?ā Ya tentu saja ibuknya ikut terlibat wkwkwk tapi gapapa sih, lebih cepet dan lebih gak capek dibanding pake acara berantem dulu yang ujung ujungnya ibuknya doang yang beresin. Kalau cara ini gak berhasil, biasanya mulai gw tambah dengan konsekuensi kalo mainan dia berantakan. āJingga kalau mainan nya gak rapi, nanti Jingga bingung kalau mau main X, si X nya ini ada di mana. Kalau mainannya rapi, Jingga kan lebih mudah cari mainan X di mana, mainan Y di mana.ā Sekarang dia kadang sambil beberes suka sambil ngomong āIni Jingga beresin biar gak susah dicari ya kalau Jingga mau mainin lagiā (berhubung anaknya super talkative, dia jago banget niruin nasehat dan wejangan ibu bapaknya wkwk meskipun baru sebatas teori, tapi kalo lagi impulsive ya ujung ujungnya teori gak dipraktekin :p )
Parenting = Belajar Seumur Hidup
Sesungguhnya gw tidak menyangka bakal se-tertarik itu dengan parenting parenting an ini. Jujur sebelum jadi orang tua tuh ya gw kadang suka nyinyir sama yang sok iye ngebahas parenting, eh begitu punya anak gw malah jadi terbantu sekali dengan orang-orang yang suka sharing tentang parenting wkwkwk Tapi yang harus sama sama kita sadari, parenting itu sama dengan belajar seumur hidup. Karena seiring bertambah usia anak, ya semakin kompleks dan pasti ada aja hal hal baru yang kita pelajari. Mulai dari yang tampak nyata seperti kemampuan kognitif anak, sampai ke perkembangan emosi anak.
Dan yang harus dipahami juga adalah setiap anak itu unik. Jadi udah ya gak usah banding-bandingin anak yang satu dengan anak yang lain. Dan parenting itu tidak ada formula yang bener bener baku, missal teknik A akan berlaku di semua situasi dan kondisi untuk semua anak. Ini akan balik lagi ke si anak dan kondisi atau situasi saat kejadian tersebut. Maka observasi ini sifatnya jadi penting dan personal. Di situasi apa teknik A works, di situasi apa teknik A ini gak bisa dipakai.
Jadi saran gw nih yee buat anak anak muda kebelet nikah, disiapin juga deh itu investasi waktu buat belajar parenting. Karena ngurus anak tuh bukan Cuma perkara kasih makan, mandiin, bersihin pup, nina bobok in doang (asli masa masa ngurus bayi jadi lebih mudah dibanding masa masa ngurus toddler wkwk) tapi juga memfasilitasi anak supaya kelak jadi manusia yang tumbuh dengan karakter positif. Salah kaprahnya kita di sini adalah menyerahkan semua pendidikan anak ke pihak sekolah. Padahal sesungguhnya pendidikan karakter itu dimulai sejak dini, sejak anak belum kenal sekolah, sejak anak hanya kenal orang tua dan mungkin pihak pihak yang ikut serta mengasuhnya.













