“How amazing it is to find someone who wants to hear about all the things that go on in your head.”
— Nina LaCour (via quotemadness)
Claire Keane

@theartofmadeline
DEAR READER
RMH
Xuebing Du
Jules of Nature
Today's Document
Monterey Bay Aquarium
No title available

Janaina Medeiros
hello vonnie
ojovivo
Lint Roller? I Barely Know Her
Alisa U Zemlji Chuda
almost home

Product Placement
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
No title available

Kiana Khansmith
i don't do bad sauce passes
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from United States
seen from France
seen from T1
seen from United States

seen from United States
seen from Sri Lanka
seen from United States

seen from United States

seen from Australia
seen from United States

seen from Ireland
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
@twinklinglittlestar
“How amazing it is to find someone who wants to hear about all the things that go on in your head.”
— Nina LaCour (via quotemadness)
“No one in my family, not one of my friends or classmates realized that I was going through life asleep. It was literally true: I was going through life asleep. My body had no more feeling than a drowned corpse. My very existence, my life in the world, seemed like a hallucination. A strong wind would make me think my body was about to be blown to the end of the earth, to some land I had never seen or heard of, where my mind and body would separate forever. ‘Hold tight’, I would tell myself, but there was nothing for me to hold on to.”
— Haruki Murakami (via quotemadness)
Fur Elise.
Aku jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa kumiliki.
Perasaan dangkal yang kupikir tidak begitu penting berubah menjadi sesuatu yang serius ketika kamu bisa mendeskripsikan segala hal tentangnya dalam metafora yang mungkin juga kudengarkan orang lain menyebutnya, akan membuatku merinding. Indra penglihatan berubah menjadi deskripsi indah ketika aku diminta menjabarkan tentang dirinya.
Seperti apa dirinya?
Dan kusebutkan segala kosa kata indah yang kuketahui—kupilih dengan amat hati-hati supaya semua orang tahu bahwa bahkan kata paling indah sedunia pun tidak mampu menggambarkan keindahannya. Dia indah, meretas segala keburukan dan duka yang ada kemudian menggantinya dengan kebahagiaan kecil yang berujung delusi.
Dia tidak bisa kumiliki; kuberikan penekanan pada kalimat tersebut berulang kali.
*
Aku jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa kumiliki.
Tidak, masih tidak bisa. Kecuali delusi berubah menjadi obsesi. Ketika sebuah keputusasaan berubah menjadi kegilaan. Kuambil bilah tajam itu dan membiarkannya bermain-main di sela-sela jemariku. Tipis, namun kupastikan aku amat berhati-hati agar tidak membuat luka ketika aku membiasakan diri menyentuh benda yang dahulu membuat wajahku menggrafir kengerian di wajah sendu milikku.
Kupastikan ia melihatnya.
Dia tidak bisa kumiliki; namun dapat kucicipi secuil dirinya—perhatiannya.
*
Aku jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa kumiliki.
Bukan karena dia milik seseorang atau dia terlalu jauh dari jangkauanku. Jaraknya begitu dekat—di ujung bibir dan di sela-sela jemari yang setiap hari membelai setiap inci wajahnya yang terlihat semakin pucat. Kunyanyikan setiap malam lagu-lagu pengantar tidur tepat di telinganya.
Setiap hari, tanpa terkecuali. Kubiarkan diriku berada di sisinya dengan dan atau tanpa permisi. Ia tidak menolak; entah karena ia menikmati nyanyian-nyanyian yang kubisikkan di telinganya atau ia memang selalu begitu: terlalu baik. Tidak pernah ia menolak permintaan seseorang dan tidak pula menjadi egois karenanya. Mengalah, kedua, di belakang mereka.
Aku tidak benci mereka, jujur saja. Ia menyayangi mereka dan untuk itu aku juga menyayanginya.
Lagu terhenti dan suara-suara di ruangan itu menyela lagu yang kudendangkan untuknya: For Elise, dengan nada-nada yang sama dengan lagu di kotak musik yang pernah kuperlihatkan padanya ketika ia berinteraksi denganku. Keingintahuannya, perhatiannya, semua membuatku haus dan mendamba lebih. Permainan kecil kala itu berubah menjadi sesuatu yang serius ketika sebuah plester berubah menjadi perban yang menggulung di pergelangan tangan, lalu berakhir menjadi ketidakmampuanku merasakan sakit.
Dia masih tidak bisa kumiliki; namun kini ia bisa melihatku.
*
Aku jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa kumiliki.
Tapi... apakah itu sesuatu yang menyakitkan?
Jawabannya: tidak. Karena pada detik itu, detik yang sama ketika mata kami akhirnya bertemu setelah sekian lama, ketika kami sama-sama bisa mendengarkan satu sama lainnya, aku mendapati satu hal mengejutkan tentang betapa egoisnya diriku selama ini dan betapa tidak bergunanya obsesiku itu.
“Hati-hati. Semoga kau sudah ingat caranya egois..”
Kusebutkan kalimat itu padanya sambil melambai. Tidak ada perban atau apa pun yang ia berikan padaku untuk menyembunyikan bekas-bekas tidak mengenakkan di pergelangan tangan milikku, begitu pun perban-perban serta selang yang menutupi sebagian besar tubuhnya.
Di ruangan itu, mesin-mesin masih berbunyi memekakkan telinga. Kulihat ayahnya menangis dan ibunya sudah terbaring di lantai—pingsan, memikirkan bahwa anak lelakinya yang baik hati sudah tidak ada lagi.
Aku tersenyum bahagia.
“Kau tidak perlu menderita lagi..”
Kalau saja mulutku bisa robek karena tersenyum, maka sudah robek mulut ini sejak tadi.
“Terima kasih sudah memikirkanku.”
*
Aku jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa kumiliki.
Suara-suara mesin tadi kemudian berhenti dan membuat ruangan berubah senyap. Orang-orang mulai meninggalkan ruangan dan tempat tidur yang tadinya ditidurinya telah kosong—digantikan olehku yang duduk di sana dengan kedua kaki menjuntai ke bawah.
Sekelebat cahaya muncul dan aku mendongak. Kuberikan senyumku pada cahaya tanpa bentuk pasti itu kemudian mendengarkan suara yang masuk ke dalam kepalaku.
“Sungguh tempat yang pantas untuknya.”
Aku tersenyum membayangkan dirinya yang berbahagia dalam kebahagiaan di keabadian.
“Ya, aku bahagia.”
Makin lebar.
“Aku tidak pernah menyesal sudah mendorongnya waktu itu.”
Lalu lenyap sama sekali.
“Tapi aku menyesal karena tidak pernah memberitahunya... kalau aku akan melakukan apa saja demi kebahagiaannya.
Apa saja.
Termasuk terjebak dalam dimensi waktu tanpa tujuan. Sendirian dan selamanya.
(Dia tetap tidak bisa kumiliki; malaikat surga dengan sayap suci yang tidak seharusnya berurusan dengan jiwa tersesat yang tidak memiliki tempat berpulang.)
Bukan OC mana pun. Ini cuma tulisan hasil galau mimpi, mumet penelitian, dan susah tidur karena parno abis nonton film setan. Si `dia` adalah dia yang memang tidak bisa kumiliki~ #siapa.
Ps. Ada yang paham ga maksud tulisan ini apa? ;;))
Tears don't mean you're losing Everybody's bruising Just be true to who you are.
#valentinegift: for the one that got away
Disclaimer: Hershel Schindler belongs to the respective PM
#valentinegift: for misua <’:
Siapa bilang ketika sepasang kekasih menikah, hidupnya akan menjadi sesuatu seperti membangunkan suami dengan aroma kopi atau sarapan buatan sendiri, sarapan bersama, dapat ciuman dikening sebelum ia berangkat kerja, lalu pulangnya dibanjiri hadiah-hadiah manis meski tidak ada hari special saat itu?
Meh.
Cassiopeia sekarang duduk diam di meja makan yang berada dalam area kekuasaannya alias dapur sambil menatap Loyang berbentuk hati yang tidak berisi. Kedua alis yang membingkai menyatu seiring dengan kening yang berkerut membentuk lipatan-lipatan yang harusnya tidak boleh ia lakukan jika ingin awet muda. Sayang sekali saat ini ia tengah mempedulisetani segala hal karena ia tengah berpikir keras tentang apa yang harus ia buat untuk suaminya dan memberikannya sebelum bocah—wait, ia tidak boleh bicara begitu lagi—itu pulang. Bodoh sekali dirinya yang benar-benar lupa kalau hari ini adalah 14 Februari dan ia baru ingat setelah siang dan pasar tidak lagi punya stok cokelat untuk dijual.
Maka hanya ada loyang kosong tanpa isi di depannya. Berkali-kali ia berpikir harus mencari cokelat dimana namun otak cemerlangnya mendadak buntu. Sial sekali bukan?
“Kenapa harus ada hari begini sih..” gumamnya lemas. Kepalanya ia rebahkan di atas meja sementara dirinya melanjutkan acara bersungut-sungut karena kesal pada dirinya sendiri. Sejak menikah rasanya ia bukannya makin manis malah jadi makin semena-mena pada suaminya. Mungkin karena ia sudah seribu persen yakin suaminya tidak akan pergi terlepas dari tingkahnya yang cerai-able bahan sejak keduanya belum menikah?
Memang kurang ajar.
Kepalanya terangkat ketika ia merasakan sesuatu menyentuh lengannya. Ternyata Boncil, yang sepertinya lapar dan mengingatkan dirinya kalau sejak tadi ia belum juga memberikan daging pada si serigala. Lekas ia bangkit, mengelus kanina berbulu tersebut lalu mengambilkan daging jatahnya—
Sebentar.
“BENAR JUGA!” ia berseru senang. Daging adalah jawaban dari segala tanya yang ia miliki sejak tadi. Tanpa menunggu lama ia memberikan jatah makanan Boncil lalu mulai sibuk berkutat seorang diri di dapur. Kali ini, ia tersenyum lega karena loyang berbentuk hatinya bisa dipakai.
***
Ketika hari mulai gelap, Cassie dengan gelisah duduk di sofa empuk berwarna cokelat di ruang tengahnya. Sebuah buku tebal asal ambil ia letakkan di atas pangkuannya sementara matanya terus menerus melihat kearah pintu dengan gelisah. Sejak tadi ia memikirkan bagaimana menyerahkan pai daging berbentuk hati (yang dengan segala keajaiban ternyata berhasil) yang kini diletakkan di atas meja masih dalam keadaan panas.
Haaaah..jantungnya berdegup kencang.
Pintu depan mengayun terbuka dan ia kembali pura-pura serius membaca buku yang entah apa judulnya itu. Suara suaminya memenuhi ruang pendengarannya dan ia masih pura-pura tuli. Barulah ketika suaminya mendekat dan ikut menghempaskan diri di sebelahnya, Cassiopeia dengan segala kepalsuan menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.
“Oh? Sudah pulang? Aku keasyikan baca sampai tidak dengar.” Jelasnya acuh sebelum memberikan ciuman ringan dipipi suaminya. Asyik? Entah bagian mana yang asyik dari cara membedakan tanaman beracun dan tidak.
Ayo, ayo, pergilah ke dapur dan lihat ke atas meja!
“Ah, capek.”
Setan. Suaminya malah merebahkan diri dipangkuannya dan memejamkan mata.
“Kanda, jangan tidur! Sana mandi!” Sengaja ia menggoyangkan pahanya hingga kepala yang berada di atasnya ikut bergerak heboh.
“Malas. Kanda mau disini aja. Capek seharian lihatnya mayat.”
“…..”
Lalu Cassiopeia-si-hati-lemah-Duchamp jadi kasihan dan tidak tega menyuruhnya mandi.
Hngg..gimana ya biar dia ke dapur?
“Kanda gak mau mandi dulu?”
“Engga.”
“Kanda gak haus? Minum dulu gih ke dapur.”
“Sudah minum banyak dari tadi.”
Ya dewi, alasan apa lagi supaya dia ke dapur?
“Eh, si Boncil seharian gak mau makan gak mau minum gak mau ngapa-ngapain. Bawaannya tiduran di dapur.”
Berhasil! Kali ini ia bangkit dan menunjukkan ekspresi cemas. Hah, apanya yang tidak mau apa-apa di saat kanina itu bahkan menghabiskan jatah makannya kurang dari lima menit?
“Kenapa ya? Coba Kanda cek deh.” Ucapnya lalu bangkit dan berjalan menuju dapur. Saat itulah Cassie kembali sok sibuk dengan bukunya hingga ia kembali mendengar suara suaminya.
“Adinda, ini apa?”
Terlihat biasa, terlihat biasa, terlihat biasa.
“Itu? Oh, cuma pai daging.” Ia mengangkat bahu tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. “Kupikir tidak ada salahnya membuatnya untukmu selagi aku senggang. Anggap saja hadiah valentine.”
Lantas hanya ada keheningan setelahnya. Tidak ada respon sama sekali.
Kok diam?
Ia mengangkat kepala lalu menemukan lelaki tersebut menatapnya dengan senyum hangat bercampur ekspresi jahil khasnya. Ia menatap waspada lalu menutup buku dipangkuannya.
“Adinda..”
“Jangan coba-coba.” Ucapnya sambil menunjuk lelaki tersebut. Ia kenal betul tatapan itu. “Kanda, aku serius. Jangan coba-coba. Makan dulu painya selagi hangat. Aku tidak terima kalau pai yang kubuat susah payah itu tidak diacuh—“
Tubuhnya ditarik ke dalam gendongan dan dibawa pergi darisana.
Ah, sudahlah.
DISCLAIMER: Isley Duchamp belongs to the respective Pm (and Cassiopeia, though. #heh).
Some things better left unsaid
Red is the color of life—It’s blood, passion, rage. It’s menstrual flow and after birth. Beginnings and violent end.
Red is the color of love—Beating hearts and hungry lips. Roses, Valentines, cherries.
Red is the color of shame—Crimson cheeks and spilled blood. Broken hearts, opened veins. A burning desire to return to white.
—Pretty Face
“Don’t build a wall. Build a bridge instead.”
Don’t die before me
“You can kill yourself after i’m dead. As if you’re following me.”
“How do people get through life without twin sister?”
-Amaranthine Evanora Reger&Alexandrine Eleonora Reger-
Who run the world?
GIRLS!
©Chella
She was free in her wildness. She was a wanderess, a drop of free water. She belonged to no man and to no city (Chevelle Gladiolus Kiershaw)
"what is your biggest fear?"
Jina:".....farewell."
Tash:"Darkness. It reminds me of the day my dad left."
Yuka:"Snake and past. I never know about my past so it scares me."
Hyunae:"Height. I'd rather die than riding a ferris wheel."
Cassie:"Cigarette, the smoke. Anything related to that. I used to be afraid of belt but i'm used to it now."
Capella:"Dog. Once, a dog bit me and it really hurt. Off the record it's a poodle—cute but scary."
Mint:"not sure if i'm afraid or not but since mum hates cockroach so i kind of hate it, though? Oh, that's not fear? Then i have no fear."
Been planning to write a songfic based on this song with two different people and both of them agree this song may lead to something "nyerempet rating" if we go on 😂😂😂
The Brightest Ray of Sunshine Called Aurora
disclaimer: Capella Briere and Aurora Longitude belong to the respective PM Rory belongs to those rabbits, though.
Beauxbatons girls vs. Hogwarts girls
“We know what we are, but not what we may be.”