Dress simple syari dengan bahan premium 😍😍😍
No title available
Monterey Bay Aquarium

Andulka
🩵 avery cochrane 🩵

roma★
No title available
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Origami Around

Jar Jar Binks Fan Club
The Bowery Presents
taylor price

tannertan36
todays bird
Cosmic Funnies
Not today Justin

@theartofmadeline
KIROKAZE
Sade Olutola

bliss lane

ellievsbear

seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from Romania

seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from T1
seen from Germany
seen from United States
seen from Canada
seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from Germany
seen from Pakistan

seen from Netherlands

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Singapore

seen from Belgium
@unifuadia
Dress simple syari dengan bahan premium 😍😍😍
Kesepakatan... Jika sudah saling sepakat ruang mengalah dan bersabar cukup luas.. Bukankah dalam kapal selalu ada nahkoda sebagai pemimpin 😊😊
Suami.orang yang menjadi partner dalam memilih mulai hal kecil.yang sabar mendengar cerita yang selalu sama.yang banyak berkorban.pengajar terbaik setelah orang tua. #random #suami #halfofmydeen
Saya mulai menikmati ritme menjadi seorang ibu.. Ada perasaan syukur saat si bayi tidur.Memandang wajahnya ketika tidur :) #bahagiaitusederhana
Menikmatii
Yeyy,. Aisyah udh mulai bobok dengan tenang.. Seru-seru gemesin kalau dirasa.tiap bayi memiliki keunikan berhubung mbak juga punya baby yg beda sebulan ^^ Kita enggak suka bandingin,tapi suka sharing keunikan 2 baby girl ini :)) Kalau aisyah minumnya kuat banget seperti cowok mungkin bisa dibilang ini 99%mirip abuyanya.cuma beda jenis kelamin :D, Kalau mb anakny minum asi sebentar aja minimal 5 menit kelar maksimal setengah jam.aisyah bisa sejam bahkan lebih Dan jarakny per 2 atau 3 jam.kalau mau bobok per satu jam Jadi asupan si ibu kudu banyak."gendut" ketika punya baby adalah hal yang wajar [alasan] Baik umur muda maupun sudah waktunya menjadi ibu hal yang menyenangkan.. Dan berharap bukan anak pertama kedua ketiga dan keselanjutanya
(repost) Reparasi Harga Diri Anakmu
by : Elly Risman
Bekasi, 20 Maret 2016.
Beberapa ibu yang bertemu saya di kesempatan yang berbeda mengajukan pertanyaan yang sama pada saya: ’Bu kenapa ibu membahas terus tentang Ayah akhir-akhir ini?” Pertanyaan yang sudah saya duga, dan akan banyak lagi ke depan, mungkin juga dari anda. Ceritanya panjaaang. Di tahun-tahun awal pertama YKBH kami hanya bekerja sama dengan para ibu. Ibu-ibu yang dulu anak mereka masih di TK atau SD, sekarang sudah kuliah bahkan sudah menjadi ibu dan ayah pula. Begitulah panjangnya waktu terentang, yang tidak sanggup menceritakan betapa sulitnya melibatkan ayah pada pengasuhan. Tidak pernah ada ayah dalam pelatihan. Bila ada 5-10 orang ayah tampak oleh saya duduk dalam seminar saya, maka saya akan meminta ratusan ibu yang menjadi peserta untuk bertepuk tangan untuk menghargai kehadiran mereka. Saya memanggil ayah-ayah tersebut sebagai “ayah hebat”, lepas mereka datang dengan ikhlas atau kah “dipaksa atau diseret” istrinya.
Ayah-ayah selalu ada dalam hati dan pikiran saya, bahkan dalam doa doa saya. Saya bermunajat agar Allah membuat hati ayah ayah Indonesia menjadi lembut dan pikirannya terbuka untuk menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai ayah, manusia pertama yang dianugerahi Allah amanah untuk melanjutkan kemanusiaan di muka bumi ini. Saya sangat bersungguh sungguh dan berjanji pada diri saya sendiri, suatu waktu sebelum saya menutup mata untuk selamanya, saya sudah melihat tanda tanda keterlibatan ayah akan meningkat dalam mengasuh dan membesarkan anak anak mereka dengan cinta dan ketakutan kepada Allah.
Kami lakukan berbagai riset, langsung ataupun berupa studi kepustakaan yang menghasilkan pengertian dan pemahaman kami tentang pentingnya peran ayah dari segi agama, psikologi, budaya bahkan dari sudut neuroscience. Kajian ini telah membantu kami untuk merumuskan berbagai cara dan taktik yang kami sosialisasikan pada ibu ibu pencinta Parenting, bagaimana mereka harus berjuang untuk melibatkan ayah dalam pengasuhan. Seiring dengan itu,berbagai upaya dilakukan oleh antara lain bapak Cahyadi Takariawan, Ayah Edi, Abah Ihsan, dan kemudian bermunculan tokoh muda ke “ayah”an seperti Ayah Irwan, Ustad Bendri dan berbagai nama lain yang tidak disebutkan satu persatu disini. Bukan karena saya, tapi kini ada kajian Ayah yang diselenggarakan oleh yang terhormat Ustadz Bakhtiar Nasir setiap bulan khusus hanya untuk dan calon ayah di AQL center yang beliau dirikan. Ada Father Forum yang digagas ayah ayah muda dari ITB di Bandung, ayah Pendidik dan terakhir yang sangat menyentuh hati adalah kelompok Daddy-cation yang dimotori suami suami dari kelompok ibu ibu muda pencinta Parenting:”Supermom”. Alhamdulillah!.
Jadi, untuk ibu ibu yang sudah mengajukan pertanyaan dan juga mungkin masih menyimpannya di dalam hati, sekarang mengerti mengapa untuk beberapa bulan kedepan kita masih akan membahas seputar ke ayahan di FB ini, walaupun ini hanya merupakan kerikil dalam bangunan ketrampilan menjadi ayah di negeri ini. Pembahasan ini bukan berarti “menidakkan” banyaknya ayah ayah baik dan hebat di luar sana, tetapi kajian kami menunjukkan ada pengikisan yang terjadi dari perjalanan waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap peran dan kemampuan seseorang untuk menjadi orangtua khususnya menjadi ayah.
Bagi saya dan adik-adik saya, ayah dan ibu kami adalah model yang sangat kuat bukan saja dalam membentuk saya sebagai manusia: kakak, istri,ibu dan nenek tapi juga sumber ilham mengapa kegiatan Parenting ini saya pilih untuk ditekuni di akhir usia saya. Seperti halnya orang lain juga, bagi saya mengingatnya kedua orang tua saya saja telah membuat air mata saya berderai derai.
Ayah, sebagaimana dicontohkan dalam Al-Qur’an telah memerankan hal yang luar biasa bagi saya, antara lain dalam mereparasi harga diri saya. Di luar apa yang anda lihat sekarang ini , saya yang kecil dulu adalah anak yang penyedih dan rendah dan tidak percaya diri, karena saya hitam, kurus dan asmatis (menderita asma) pula. Ayah sayalah yang menghujamkan keyakinan pada Allah, membangkitkan kepercayaan diri yang runtuh, membangun semangat juang dan menciptakan saya sebagai pekerja keras yang tidak menjadikan “lelah” sebagai penghambat untuk mencapai tujuan.
Izinkanlah saya berbagi sedikit dengan anda mengapa saya dulu seperti itu. Setiap orang punya kisahnya sendiri, begitu juga saya. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, tapi yang menghancurkan kepercayaan diri saya adalah karena saya “dibully” oleh sepupu saya sendiri yang jauh lebih dewasa dan besar tubuhnya yang diajak oleh orang tua saya tinggal bersama kami. Setiap hari, di luar sepengetahuan orang tua saya, saya selalu diyakinkannya bahwa orang berkulit hitam seperti saya tidak pantas pake baju warna “terang”. Orang yang berwajah tirus seperti saya, tidak akan punya masa depan cerah. Orang orang yang berhasil adalah yang berwajah bulat, seperti dia. Karena ini dilakukan terus menerus dan bahkan seringkali dalam bentuk ancaman, membuat pelan pelan saya membangun kepercayaan diri seperti yang ditanamkannya pada saya setiap hari. Apa yang dilakukan ayah saya? Persis seperti anda membawa kendaraan anda, apakah itu sepeda, sepeda motor atau mobil ke bengkel. Apa yang dilakukan oleh “orang bengkel” terhadap kendaraan anda? Dia mengamati dan memeriksanya dengan seksama untuk mengetahui masalah kendaraan anda bukan? Itulah yang dilakukan ayah saya.
Ayah dan ibu kami mempunyai kebiasaan mengumpulkan anak anaknya untuk bercerita, mengajarkan agama dan bermusyawarah hal hal yang kecil kecil yang akan atau yang sudah terjadi dalam keluarga, mulai dari mau ganti cat dinding, kulit sofa sampai memilih warna mobil baru yang akan dibeli. Beliau yang yang biasanya duduk berdampingan dengan ibu kami akan menanyakan pendapat satu satu dari kami. Kali ini, beliau hanya memanggil saya dan berkata : “Ayah lihat lihatlah ya akhir akhir ini kayaknya baju Elly itu itu saja. Jadi sudah waktunya ya Elly beli baju yang agak bagus bagus dan warnanya cerah,ya”.Saya membantah pendapat ayah saya dan mengatakan bahwa saya punya baju yang cukup banyak dan memadai. Ayah saya meningkahi, dan menyodorkan kepada saya sejumlah uang yang lumayan banyaknya sehingga saya terkejut, dan mengatakan :”Nah ini ayah kasih Elly uang untuk beli baju dan pergilah ke Pasar Baru sendiri (kami tinggal di sekitar Pasar Baru –Jakarta Pusat).
Saya menanyakan mengapa sendiri, bolehkan saya mengajak teman atau sepupu saya yang satu lagi yang tinggal juga bersama kami.”Tidak!, jawab ayah saya tegas.”Ayah sama mama ingin Elly pergi sendiri, dan pilih baju yang Elly suka, yang bagus dan berwarna cerah”, ujarnya. Pergilah saya sendirian. Saya menggunakan waktu yang lama sekali untuk membeli bahan baju itu. Dulu bisnis garment belum berkembang seperti sekarang, jadi orang biasa membeli bahan baju bukan baju jadi. Pulanglah saya dengan lima potong bahan baju dan menghadap ayah dan ibu saya untuk menunjukkan pada beliau apa yang saya beli. Ketika saya membeberkan belanjaan di atas mejanya, Ayah saya terdiam dan memandang saya dengan mata yang berkaca kaca. Beliau bertanya pada saya dengan suara yang parau menahan tangis :”Mengapa Elly beli baju ini nak ?”. Saya tidak mengerti apa yang beliau maksudkan dan kembali bertanya :”Apa yang salah dengan pilihan Elly, Yah?”. Beliau menanyakan saya : mengapa saya membeli semua warna lembut : kuning muda, pink, biru dan hijau muda?. Kemudian mengapa bahannya juga bahan murah: Poplin dan Bercolin (nama sejenis katun waktu itu). Saya terdiam sejenak untuk berfikir karena tidak menemukan jawaban bagi pertanyaan ayah saya tersebut dengan segera. Setelah terdiam agak lama sambil memandang beliau saya mengatakan alasannya, karena menurut kakak sepupu saya itu, orang berkulit hitam seperti saya tidak pantas pakai warna cerah!.
Ayah saya langsung bangun dari duduknya dan mengampiri saya, memeluk badan saya dari samping, mengelus kepala saya dan sambil sedikit membungkukkan badannya beliau berkata :” Ini uang masih tersisa banyak nak, makan dulu dan balik ke Pasar Baru, beli baju yang bagus, mahal dan berwarna cerah!”. Saya berjalan kembali ke Pasar Baru, sambil menangis. Saya sangat terharu, betapa ayah saya memperhatikan saya. Dalam hati saya pastilah beliau sudah lama mengamati saya, berunding dengan ibu saya, mencari cara untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi pada saya dan kemudian menemukan cara yang sekarang beliau minta untuk saya lakukan. Saya terus menangis, menangisi penderitaan saya dalam diam dan sunyi di kamar saya setiap hari…menangisi halusnya rasa dan pertimbangan serta cinta yang ditunjukkan ayah saya pada saya…Saya tidak perduli orang di dalam angkot memperhatikan saya. Saya sangat sangat mencintai ayah saya. Saya pulang dengan baju yang lebih banyak, mahal, berwarna cerah dan membeberkannya lagi di hadapan ayah dan ibu saya. Barulah ayah saya tersenyum lebar sehingga nampak semua giginya mendekati dan memeluk saya sambil berkata :”Ini baru anak ayah. Anak ayah yang cantik dan manis dan yang pantas memakai baju mahal berwarna cerah!”.
Alhamdulillah, kami sekarang dikaruniai Allah enam orang cucu. Saya masih mengingat bagaimana ayah saya mengamati, memeriksa dan kemudian MEREPARASI HARGA DIRI SAYA. Luar biasa dampaknya bagi sisa hidup saya, sehingga anda mengenal saya seperti sekarang ini. Kalau ayah saya saja yang hanya lulus SD, veteran perang bisa mereparasi harga diri saya, mengapa tidak anda? Saya mengingat dan menuliskan ini untuk anda dengan airmata, sambil dihati saya berdoa: Ya Allah, Engkau terimalah ayah dan ibuku. Lapangkan kuburnya dan jauhkan lah beliau ya Allah dari azab kubur dan api neraka. Engkau kasihanilah beliau ya Allah, sebagaimana beliau meyayangiku sepenuh hatinya sejak aku kecil hingga dewasa. Anugrahilah ayah dan ibuku ya Allah dengan syurgaMu yang Tinggi!. Semoga doa yang sama dipanjatkan tiada henti oleh anak anak anda kini dan suatu waktu nanti.
Dengan penuh cinta untuk semua ayah
Papap, i love you :*
buat kamu (yg entah siapa dan masih di rahasiakan) penting buat jadi partner kolaborasi jadi baby sitter nya Allah, karena anak itu titipan, semoga anak-anak kita nanti memanjatkan doa : Anugrahilah ayah dan ibuku ya Allah dengan syurgaMu yang Tinggi!. Aamiin Allahuma Aamiin :)
(repost) Reparasi Harga Diri Anakmu
by : Elly Risman
Bekasi, 20 Maret 2016.
Beberapa ibu yang bertemu saya di kesempatan yang berbeda mengajukan pertanyaan yang sama pada saya: ’Bu kenapa ibu membahas terus tentang Ayah akhir-akhir ini?” Pertanyaan yang sudah saya duga, dan akan banyak lagi ke depan, mungkin juga dari anda. Ceritanya panjaaang. Di tahun-tahun awal pertama YKBH kami hanya bekerja sama dengan para ibu. Ibu-ibu yang dulu anak mereka masih di TK atau SD, sekarang sudah kuliah bahkan sudah menjadi ibu dan ayah pula. Begitulah panjangnya waktu terentang, yang tidak sanggup menceritakan betapa sulitnya melibatkan ayah pada pengasuhan. Tidak pernah ada ayah dalam pelatihan. Bila ada 5-10 orang ayah tampak oleh saya duduk dalam seminar saya, maka saya akan meminta ratusan ibu yang menjadi peserta untuk bertepuk tangan untuk menghargai kehadiran mereka. Saya memanggil ayah-ayah tersebut sebagai “ayah hebat”, lepas mereka datang dengan ikhlas atau kah “dipaksa atau diseret” istrinya.
Ayah-ayah selalu ada dalam hati dan pikiran saya, bahkan dalam doa doa saya. Saya bermunajat agar Allah membuat hati ayah ayah Indonesia menjadi lembut dan pikirannya terbuka untuk menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai ayah, manusia pertama yang dianugerahi Allah amanah untuk melanjutkan kemanusiaan di muka bumi ini. Saya sangat bersungguh sungguh dan berjanji pada diri saya sendiri, suatu waktu sebelum saya menutup mata untuk selamanya, saya sudah melihat tanda tanda keterlibatan ayah akan meningkat dalam mengasuh dan membesarkan anak anak mereka dengan cinta dan ketakutan kepada Allah.
Kami lakukan berbagai riset, langsung ataupun berupa studi kepustakaan yang menghasilkan pengertian dan pemahaman kami tentang pentingnya peran ayah dari segi agama, psikologi, budaya bahkan dari sudut neuroscience. Kajian ini telah membantu kami untuk merumuskan berbagai cara dan taktik yang kami sosialisasikan pada ibu ibu pencinta Parenting, bagaimana mereka harus berjuang untuk melibatkan ayah dalam pengasuhan. Seiring dengan itu,berbagai upaya dilakukan oleh antara lain bapak Cahyadi Takariawan, Ayah Edi, Abah Ihsan, dan kemudian bermunculan tokoh muda ke “ayah”an seperti Ayah Irwan, Ustad Bendri dan berbagai nama lain yang tidak disebutkan satu persatu disini. Bukan karena saya, tapi kini ada kajian Ayah yang diselenggarakan oleh yang terhormat Ustadz Bakhtiar Nasir setiap bulan khusus hanya untuk dan calon ayah di AQL center yang beliau dirikan. Ada Father Forum yang digagas ayah ayah muda dari ITB di Bandung, ayah Pendidik dan terakhir yang sangat menyentuh hati adalah kelompok Daddy-cation yang dimotori suami suami dari kelompok ibu ibu muda pencinta Parenting:”Supermom”. Alhamdulillah!.
Jadi, untuk ibu ibu yang sudah mengajukan pertanyaan dan juga mungkin masih menyimpannya di dalam hati, sekarang mengerti mengapa untuk beberapa bulan kedepan kita masih akan membahas seputar ke ayahan di FB ini, walaupun ini hanya merupakan kerikil dalam bangunan ketrampilan menjadi ayah di negeri ini. Pembahasan ini bukan berarti “menidakkan” banyaknya ayah ayah baik dan hebat di luar sana, tetapi kajian kami menunjukkan ada pengikisan yang terjadi dari perjalanan waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap peran dan kemampuan seseorang untuk menjadi orangtua khususnya menjadi ayah.
Bagi saya dan adik-adik saya, ayah dan ibu kami adalah model yang sangat kuat bukan saja dalam membentuk saya sebagai manusia: kakak, istri,ibu dan nenek tapi juga sumber ilham mengapa kegiatan Parenting ini saya pilih untuk ditekuni di akhir usia saya. Seperti halnya orang lain juga, bagi saya mengingatnya kedua orang tua saya saja telah membuat air mata saya berderai derai.
Ayah, sebagaimana dicontohkan dalam Al-Qur’an telah memerankan hal yang luar biasa bagi saya, antara lain dalam mereparasi harga diri saya. Di luar apa yang anda lihat sekarang ini , saya yang kecil dulu adalah anak yang penyedih dan rendah dan tidak percaya diri, karena saya hitam, kurus dan asmatis (menderita asma) pula. Ayah sayalah yang menghujamkan keyakinan pada Allah, membangkitkan kepercayaan diri yang runtuh, membangun semangat juang dan menciptakan saya sebagai pekerja keras yang tidak menjadikan “lelah” sebagai penghambat untuk mencapai tujuan.
Izinkanlah saya berbagi sedikit dengan anda mengapa saya dulu seperti itu. Setiap orang punya kisahnya sendiri, begitu juga saya. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, tapi yang menghancurkan kepercayaan diri saya adalah karena saya “dibully” oleh sepupu saya sendiri yang jauh lebih dewasa dan besar tubuhnya yang diajak oleh orang tua saya tinggal bersama kami. Setiap hari, di luar sepengetahuan orang tua saya, saya selalu diyakinkannya bahwa orang berkulit hitam seperti saya tidak pantas pake baju warna “terang”. Orang yang berwajah tirus seperti saya, tidak akan punya masa depan cerah. Orang orang yang berhasil adalah yang berwajah bulat, seperti dia. Karena ini dilakukan terus menerus dan bahkan seringkali dalam bentuk ancaman, membuat pelan pelan saya membangun kepercayaan diri seperti yang ditanamkannya pada saya setiap hari. Apa yang dilakukan ayah saya? Persis seperti anda membawa kendaraan anda, apakah itu sepeda, sepeda motor atau mobil ke bengkel. Apa yang dilakukan oleh “orang bengkel” terhadap kendaraan anda? Dia mengamati dan memeriksanya dengan seksama untuk mengetahui masalah kendaraan anda bukan? Itulah yang dilakukan ayah saya.
Ayah dan ibu kami mempunyai kebiasaan mengumpulkan anak anaknya untuk bercerita, mengajarkan agama dan bermusyawarah hal hal yang kecil kecil yang akan atau yang sudah terjadi dalam keluarga, mulai dari mau ganti cat dinding, kulit sofa sampai memilih warna mobil baru yang akan dibeli. Beliau yang yang biasanya duduk berdampingan dengan ibu kami akan menanyakan pendapat satu satu dari kami. Kali ini, beliau hanya memanggil saya dan berkata : “Ayah lihat lihatlah ya akhir akhir ini kayaknya baju Elly itu itu saja. Jadi sudah waktunya ya Elly beli baju yang agak bagus bagus dan warnanya cerah,ya”.Saya membantah pendapat ayah saya dan mengatakan bahwa saya punya baju yang cukup banyak dan memadai. Ayah saya meningkahi, dan menyodorkan kepada saya sejumlah uang yang lumayan banyaknya sehingga saya terkejut, dan mengatakan :”Nah ini ayah kasih Elly uang untuk beli baju dan pergilah ke Pasar Baru sendiri (kami tinggal di sekitar Pasar Baru –Jakarta Pusat).
Saya menanyakan mengapa sendiri, bolehkan saya mengajak teman atau sepupu saya yang satu lagi yang tinggal juga bersama kami.”Tidak!, jawab ayah saya tegas.”Ayah sama mama ingin Elly pergi sendiri, dan pilih baju yang Elly suka, yang bagus dan berwarna cerah”, ujarnya. Pergilah saya sendirian. Saya menggunakan waktu yang lama sekali untuk membeli bahan baju itu. Dulu bisnis garment belum berkembang seperti sekarang, jadi orang biasa membeli bahan baju bukan baju jadi. Pulanglah saya dengan lima potong bahan baju dan menghadap ayah dan ibu saya untuk menunjukkan pada beliau apa yang saya beli. Ketika saya membeberkan belanjaan di atas mejanya, Ayah saya terdiam dan memandang saya dengan mata yang berkaca kaca. Beliau bertanya pada saya dengan suara yang parau menahan tangis :”Mengapa Elly beli baju ini nak ?”. Saya tidak mengerti apa yang beliau maksudkan dan kembali bertanya :”Apa yang salah dengan pilihan Elly, Yah?”. Beliau menanyakan saya : mengapa saya membeli semua warna lembut : kuning muda, pink, biru dan hijau muda?. Kemudian mengapa bahannya juga bahan murah: Poplin dan Bercolin (nama sejenis katun waktu itu). Saya terdiam sejenak untuk berfikir karena tidak menemukan jawaban bagi pertanyaan ayah saya tersebut dengan segera. Setelah terdiam agak lama sambil memandang beliau saya mengatakan alasannya, karena menurut kakak sepupu saya itu, orang berkulit hitam seperti saya tidak pantas pakai warna cerah!.
Ayah saya langsung bangun dari duduknya dan mengampiri saya, memeluk badan saya dari samping, mengelus kepala saya dan sambil sedikit membungkukkan badannya beliau berkata :” Ini uang masih tersisa banyak nak, makan dulu dan balik ke Pasar Baru, beli baju yang bagus, mahal dan berwarna cerah!”. Saya berjalan kembali ke Pasar Baru, sambil menangis. Saya sangat terharu, betapa ayah saya memperhatikan saya. Dalam hati saya pastilah beliau sudah lama mengamati saya, berunding dengan ibu saya, mencari cara untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi pada saya dan kemudian menemukan cara yang sekarang beliau minta untuk saya lakukan. Saya terus menangis, menangisi penderitaan saya dalam diam dan sunyi di kamar saya setiap hari…menangisi halusnya rasa dan pertimbangan serta cinta yang ditunjukkan ayah saya pada saya…Saya tidak perduli orang di dalam angkot memperhatikan saya. Saya sangat sangat mencintai ayah saya. Saya pulang dengan baju yang lebih banyak, mahal, berwarna cerah dan membeberkannya lagi di hadapan ayah dan ibu saya. Barulah ayah saya tersenyum lebar sehingga nampak semua giginya mendekati dan memeluk saya sambil berkata :”Ini baru anak ayah. Anak ayah yang cantik dan manis dan yang pantas memakai baju mahal berwarna cerah!”.
Alhamdulillah, kami sekarang dikaruniai Allah enam orang cucu. Saya masih mengingat bagaimana ayah saya mengamati, memeriksa dan kemudian MEREPARASI HARGA DIRI SAYA. Luar biasa dampaknya bagi sisa hidup saya, sehingga anda mengenal saya seperti sekarang ini. Kalau ayah saya saja yang hanya lulus SD, veteran perang bisa mereparasi harga diri saya, mengapa tidak anda? Saya mengingat dan menuliskan ini untuk anda dengan airmata, sambil dihati saya berdoa: Ya Allah, Engkau terimalah ayah dan ibuku. Lapangkan kuburnya dan jauhkan lah beliau ya Allah dari azab kubur dan api neraka. Engkau kasihanilah beliau ya Allah, sebagaimana beliau meyayangiku sepenuh hatinya sejak aku kecil hingga dewasa. Anugrahilah ayah dan ibuku ya Allah dengan syurgaMu yang Tinggi!. Semoga doa yang sama dipanjatkan tiada henti oleh anak anak anda kini dan suatu waktu nanti.
Dengan penuh cinta untuk semua ayah
Papap, i love you :*
buat kamu (yg entah siapa dan masih di rahasiakan) penting buat jadi partner kolaborasi jadi baby sitter nya Allah, karena anak itu titipan, semoga anak-anak kita nanti memanjatkan doa : Anugrahilah ayah dan ibuku ya Allah dengan syurgaMu yang Tinggi!. Aamiin Allahuma Aamiin :)
Mendadak cerita
Setelah sekian lama vakum dari menulis.Dan disaat si baby dipangkuan mencari bunga tidur kalau kami bilang..
Menjalankan fase seorang ibu yang sampai detik ini.saya masih dibantuin penuh sama suami.
Sudah setahun hidup dengan “tulang rusuk”
Menyenangkan.menggalaukan.dan menentramkan
Dengan kehadiran aisyah yg embul membuat setiap harinya belajaaar banyaak hall
Nak selalu ceria yaa.
#live #mendadakcerita
Karena setiap wanita akan nyaman bersama tulang rusuknya :) Tidak perlu buru-buru.Atau menebak dia ataupun dia.
For those who easily judge others. :)
I cant help to not share.
Syukur dan bersabar.. .. . Malam itu bulan sempurna bundar dengan pantulan sinarnya Menjadi perbicangan bahwa ramadhan sudah memasuki pertengahan .. . Saya bersyukur seketika itu sosok yang paling dekat menjadi penguat untuk terus berjuang. Setiap wanita memilki cerita berbeda.perbandingan bukan jawaban.. .. . Kondisi kelelahan membuat saya ingat.Allah selalu memberikan proses untuk hal yg kita inginkan.. .. . Memang sisi syukur harus terus di buka lapisanya. Tidak perlu menunggu waktu yang lama dalam penantian. Si suami yang luar biasa perhatian hingga malam berganti pagi. Memberi semangat bahwa amanah diberikan harus dijaga sebaik-baiknya. .. . Aahh..kiranya manusia yang suka mengadu dan mengeluh.betapa Allah selalu memberikan kenikmatan dalam setiap perjuangan :))
... . Periode bulan mulai mati,sabit,dan purnama sudah terlalu.. Cerita ttg sahabatku dan teman-temanku sudah bukan barang asing.. Pasangan itu bukan tentang jarak umur.bukan tentang latar belakang.atau pendidikan yg sebanding ataupun jauh.. Ketika deen menjadi tujuan untuk saling berbenah..untuk saling mengisi hari untuk perbekalan.. maka Allah yang memberikan Rahmat didalam keluarga tersebut.. Kehadiran buah hati itu yang dinanti..ada sebuah proses dengan kata "menunggu"disana. Perbekalan tanggung jawab bertambah. Pendidikan..Pola asuh.. harus disiapkan.. Amanah..yap.. itu salah satu kata yang harus dijaga #beach #halfofmydeen #lakidanperempuan #instadaily
Pagi ini suasana menyesakkan.. Episode mimpi malam tak selamnya menjadi bunga tidur Kepergian yang sebenarnya.. Tentang dunia dan hal yang menyelimutinya itu diskusi pagi ini Ramadhan sebentar lagi.Beliau tak henti-hentinya mengingatkan untuk lebih semangat dalam beribadah.. Pertengahan malam menuju pagi menjadi gelisah Sepertiga malamnya saling mencari makanan "hati" Memberi semangat dan saling mengingatkan untuk mendekatkan kepada pemilik cinta Selamat beraktivitas #lakidanperempuan #halfofmydeen #myhusband #live #instadaily #instagram #wooden #forest #nature
hal yang menyenangkan Saat aku bertemu denganya,setelah jarak memisahkan tanpa alasan...
Semua dalam kesibukan dan menikmatinya Aku hanya penjadi penikmat mereka.diam menunggu
.. Dibawah teriknya matahari dan gemuruhnya suara ombak.. Ada yg mengukir cinta dalam diam-diam. Ada yg malu-malu akan ungkapkan, walau suara mulai serak parau.. Tentang cinta yang halal.. Tentang rasa yang kian makin bersemi.. Tentang candu sebuah kebersamaan Parasnya bersemu merah-hitam Mukanya pucat karena lelah Jawabanya... Mari segera pulang..diulurkan tangan yang menjanjikan perlindungan.. #hijabsalaam #modestmuhajaba #lakidanperempuan #syarimystyle #live
... Kenangan itu masih lekat-lekat di bawah sadar.. Perpisahan boleh saja..tapi hanya sebentar.. Untuk meninggalkan dan ditinggalkan tidak sepenuhnya rela.. Masih lama kan(?) Aku selalu bertanya.. Mari kita nikmati kebersamaan ini.. engkau menjawab dengan tenang Akan ada waktunya saat perpisahan itu menjadi hal yang harus terjadi. Tidak untuk dipikirkan,Tidak untuk ditakuti.. Akan ada kesiapan..dan Allah yang menguatkan batinku maupun batinmu,dik.. #lakidanperempuan #halfofmydeen #instadaily #man #live