Hal-Hal yang Menurut Saya Penting tetapi Mungkin Menurut Anda Tidak atau Sebaliknya (3)
“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kamu berujar ah kepada mereka dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Orang-orang yang ketika SD, SMP, atau di masa SMA pernah mendapatkan pelajaran Pendidikan Agama Islam tentunya sudah mengenal terjemahan Quran surat Al Isra’ ayat 23 di atas. Biasanya ayat ini akan menjadi dalil naqli pada pembahasan tentang adab kepada orang tua. Untuk pula diketahui, dan tentu saja ini bukanlah bagian yang membanggakan, lanjutan ayat ini yaitu doa untuk keselamatan orang tua, adalah satu dari sedikit doa berbahasa Arab yang saya hafal. Tentu saja sebagai seorang muslim yang dari brojol langsung Islam, ini adalah kenyataan yang getir untuk diakui.
Lalu, mengapa tiba-tiba saya menulis hal-hal yang begitu religius seperti ini? Beberapa orang yang membaca tulisan ini tentu bertanya-tanya (saya selalu membayangkan selalu ada yang membaca tulisan saya). Mungkinkah ini sekadar pencitraan? Mungkinkah saya salah minum obat? Atau jangan-jangan yang menulis ini bukanlah saya. Ada seseorang yang “meminjam” akun saya, lalu menulis atas nama saya.
Tenang, ini memang benar-benar tulisan saya. Muhammad Akhyar. Orang yang mengidentifikasi diri di semua media sosial yang ia miliki sebagai “Melayu” dan “Anak Guru SD”. Saya ingin juga sesekali memberi semacam klarifikasi bahwa jika saya menulis atau berbicara hal-hal yang nyerempet perkara-perkara agama, sekurang-kurangnya spiritualitas, yah itu memang agaknya cukup menggambarkan diri saya. Saya selalu percaya, bahwa saya adalah seorang yang religius. Perkara tafsiran religiusitas saya yang mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, itu masuk ke bab yang lain. Akur?
Ngomong-ngomong tentang Al Quran, saya memiliki semacam kepercayaan bahwa ketika kita membacanya seharusnya kita berusaha sekuat tenaga fokus pada satu pertanyaan: “apa hal yang bisa saya ambil dari teks ini untuk saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya?” Tentu setiap orang akan mengambil hikmah yang akan berbeda-beda dengan menggunakan perspektif ini. Saya kira tak apa-apa. Bukankah Quran diberikan kepada manusia sebagai petunjuk hidup. Dengan perspektif ini saya menjadi tak terlalu peduli dengan ide-ide keselarasan Quran dengan sains. Saya juga tak terlalu menghiraukan isu apakah kisah Quran benar-benar terjadi, sebagai suatu sejarah, atau adalah semacam metode pembelajaran dengan menggunakan narasi. Bagi saya selaras tidaknya Quran dengan sains, atau apakah kisah-kisah di Quran benar-benar terjadi tidak lebih penting ketimbang “apa hal yang bisa saya ambil dari teks ini untuk saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya?”
Tentu dengan cara pandang seperti ini akan ada dua kutub yang memberi respon. Pertama, hati-hati loh, menafsirkan Quran sendiri, dengan perkiraan-perkiraan sendiri, nanti malah sesat lagi. Kedua, memang tidak boleh ya kita membaca Quran lalu mengambil pembelajaran pribadi darinya tanpa perlu merujuk tafsir-tafsir yang sudah ada. Bukankah Tuhan sudah memberikan akal kepada kita. Tak bisakah ada sedikit ruang untuk kita? Saya percaya setiap manusia memiliki kapasitas, saya juga percaya perbincangan antara sesama kapasitas tadi tentu akan membuahkan resultan kapasitas yang lebih baik. Dalam persoalan ini, bagi saya, membaca tafsir, bertanya kepada ulama, adalah semacam perbincangan dengan kapasitas-kapasitas yang pernah bergumul juga dengan Quran. Hal-hal seperti itu tak akan mempersempit ruang pembacaan kita terhadap Quran, tetapi malah meluaskannya. Syaratnya cuma satu: kita tak menghambat diri kita untuk “membaca” hanya dari sedikit tafsir yang telah ada.
Ikhtiar untuk menjawab “apa hal yang bisa saya ambil dari teks ini untuk saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya?” ketika melakukan pembacaan terhadap Quran, bermula dari kepercayaan saya bahwa Quran adalah sumber inspirasi perilaku, nilai, moral, dan tentu juga etika keseharian kita dalam kehidupan bersama yang lain di Bumi. Saya memiliki anggapan jikalau seseorang setelah membaca Quran entah di ayat mana, entah surat keberapa, atau malah sudah menghafal seluruh isi Al Quran tetapi tak kunjung bisa menemukan inspirasi standar moral untuk menuntunnya berperilaku, sungguh pantaslah saya merasa iba kepada orang tersebut.
Saya ingin berbagi tentang salah satu nilai hidup yang saya temukan ketika membaca beberapa ayat di surat Hud berikut,
“Lalu ketika rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang padanya, dia pun berbincang dengan kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan kembali kepada Allah.”
Saya selalu heran, mengapa kisah tentang Ibrahim ini seringkali terlewat ketika membahas tentang kaum Luth. Jawaban apa yang bisa kita dapatkan dari “apa hal yang bisa saya ambil dari teks ini untuk saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya?” dengan mengulang-ulang azab yang diturunkan Tuhan kepada kaum Luth? Apakah perasaan takut? Apakah perasaan marah? Apakah perasaan bahwa azab akan segera tiba jika perilaku kaum Luth tak segera dihentikan? Atau keinginan untuk meninjau perilaku orang lain, menilainya, mencoba mengajaknya kepada kebaikan karena jika mereka tak juga bertaubat azab akan diturunkan? Tentu saja terlampau banyak opsi yang bisa dipilih. Hanya saja, dasar mengajak orang lain kepada kebaikan karena khawatir akan adanya azab yang menimpa, terasa kurang cocok dengan rasa keberagamaan saya. Ada semacam egosentrisme yang begitu terang-benderang di sana.
Sekarang mari kita beranjak ke potongan surat Hud ini,
“Lalu ketika rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang padanya, dia pun berbincang dengan kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan kembali kepada Allah.”
Apa jawaban atas “apa hal yang bisa saya ambil dari teks ini untuk saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya?” ketika membacanya? Jikalah anda bertanya kepada saya, cukup ringkas. Ibrahim adalah kekasih Allah, saya tekankan sekali lagi, kekasih. Saya kira, jikalau hendak kita mencontoh, marilah kita mencontoh apa yang dilakukan seseorang yang mendapat sebutan kekasih Allah. Dalam beberapa riwayat yang saya baca (anda tak perlu bertanya apakah riwayat yang saya baca ini sahih atau tidak. Saya tak punya kapasitas untuk menjawab itu.) terkait kisah ini, disebutkan Ibrahim bertanya (mungkin malah memohon) dengan kalimat kira-kira seperti ini “tak bisakah azab itu ditunda (mungkin mereka akan kembali kepada kebaikan)?” Lalu jawaban untuk “apa hal yang bisa saya ambil dari teks ini untuk saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya?” tak lain dan tak bukan adalah mulailah berdasarkan cinta, dasarilah semua perilaku kita dengan kasih kepada manusia lain, kepada hewan, kepada tumbuhan, kepada alam, dan tentu saja kepada Allah.
Jika anda cukup teliti dan cukup fokus, tentu saja tulisan ini tak dimaksudkan untuk menjelaskan potongan surat Hud tadi, tetapi Al Isra’ ayat 23. Mungkin ada yang berujar, sial, gw udah capek-capek membaca ratusan kata, cuman mukadimah doing ternyata.Tenang, untuk tulisan tak bermutu seringkali butuh pembukaan yang bertele-tele untuk menyampaikan maksud intinya memang. Memangnya anda tak pernah membaca novel yang setengah pidato setengahnya ceramah setebal ratusan halaman yang intinya adalah: manusia hanya berencana, Tuhanlah yang menentukan.
Oke, oke, saya akan segera menuju inti.
Subuh ini, papa saya bertanya, “ke masjid kau Yar?”
Saya segera menjawab, tak terlalu keras memang, “iya.”
Ia mengulang pertanyaannya. Tiba-tiba saya gusar. Ada semacam amarah yang mulai timbul. Muncul suara, “haduuuh, kan udah kujawab iyaaa…”
Lalu saya teringat potongan ayat Quran tadi. Anda tak perlu membayangkan ada suara Quran dalam versi aslinya terlantun di kepala saya. Saya tak hafal versi aslinya. Saya cuma akrab dengan arti dalam bahasa Indonesianya. Saya mencoba mengubah perasaan saya. Muncul rasa menyesal. Bukan karena saya telah menjadi anak durhaka. Bukan. Durhaka adalah terminologi yang terlampau abstrak untuk saya. Saya menyesal karena saya salah memilih respon terhadap perilaku ayah saya itu.
Seharusnya, saya merasa sedih mendengar ayah saya mengulang pertanyaannya. Itu menunjukkan ada fungsi fisiologis pendengaran, atau malah psikologisnya yang telah menurun. Kesalahan saya memilih respon dikarenakan dua hal. Pertama, kurangnya kemampuan empati. Empati yang saya maksudkan adalah ikhtiar untuk mencoba memahami apa yang seseorang pikirkan, rasakan, dan inginkan. Jika saya memiliki empati yang cukup baik, saya tentu saja bisa menempatkan diri saya pada keadaan ayah saya. Jika ia mendengar jawaban saya, mengapa pula ia mengulang pertanyaannya. Kedua, kesadaran diri yang tak konsisten saya jaga. Empati adalah sesuatu yang tak mudah dilakukan. Manusia adalah tempatnya khilaf, sedikit saja kita alpa, dengan mudah empati hanya akan menjadi teori belaka. Oleh karena itu, keinsyafan terus-menerus terhadap apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan, mutlak menjadi prasyarat lahirnya empati. Pada titik ini saya makin merasa menyesal. Dua hal ini adalah kemampuan yang sebenarnya bisa dilatih. Sesuatu yang bisa ditingkatkan.
Sampai di sini, saya telah berhasil mengambil salah satu aspek yang memang telah jamak dibahas tentang potongan ayat ini.
Saya bertanya-tanya, “apakah ayat ini hanya tentang hal teknis semacam bagaimana seharusnya kita berperilaku kepada orang tua?”
Belahan diri saya yang lain menjawab “sepertinya tidak. Tak adakah kemungkinan prinsip yang kamu dapatkan dari mengganti konsep abstrak durhaka tadi diterapkan ke area yang lebih luas?”
“Maksudnya, Tuhan mungkin saja mencoba menjelaskan prinsip umum dalam agama melalui nasihat bagaimana berperilaku kepada orang tua?”
Belahan diri saya yang lain berjingkrak kegirangan.
Empati dan keinsafan yang dijaga terus-menerus, dua hal yang mungkin tak sekadar perkara teknis tentang adab menghadapi orang tua yang telah lanjut, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalankan hidup bersama manusia lain di muka Bumi ini. Kira-kira logikanya seperti ini: semakin uzur usia orang tua kita, semakin tak mirip kemampuan mereka dibanding kita, dari menurunnya kemampuan inderawi hingga melemahnya kapasitas kognitif. Sudah lazim, semakin kita tak mirip dengan seseorang, semakin sulit kita untuk mencoba memahaminya, mendengarkannya, lebih bersabar menangkap apa yang ia maksudkan. Lihat, bukankah di zaman kebebasan ini, kita semakin mudah bertemu, berpapasan, berinteraksi dengan manusia yang begitu berbeda dengan kita, mulai hal remeh seperti status ekonomi hingga perkara krusial seperti ideologi. Bukankah pada titik ini kita juga memerlukan dua hal tadi: empati dan keinsafan diri.
Dalam perkara empati, Muhammad dengan kalimatnya “mereka belum memahami” ketika merespon tindakan brutal yang diberikan penduduk Thaif kepadanya, tentu bisa menjadi contoh bahwa empati bahkan bisa dikeluarkan dalam kondisi yang sangat tak menguntungkan kita. Dalam perkara keinsafan bukankah dalam kitab-kitab klasik tasawuf disebutkan bahwa kita sudah jatuh ke dalam kekufuran jika ada satu detik saja dalam hembusan napas kita yang lupa dalam mengingat Allah.
Demikian saya kira jawaban saya atas “apa hal yang bisa saya ambil dari teks ini untuk saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya?” terkait Quran surat Al Isra’ ayat 23. Saya sungguh senang dengan apa yang saya dapatkan ini. Terutama dalam hingar-bingar perdebatan yang seringkali muncul hari-hari ini. Bagaimana dengan anda?
Selamat merawat akal sehat. Percayalah merawat akal sehat lebih “mudah” ketimbang merawat isteri (orangnya pasti merespon “alay lu” hahaha…).