opini ga masuk akal, jangan dibaca!!
“kenapa dulu nggak ikut organisasi?”, “karena saya tidak pernah takut saya tidak akan mendapat pekerjaan”. Yah! Itu jawaban yang seringkali saya lontarkan ketika pertanyaan terkait organisasi seringkali terdengar di telinga saya. Heran aja, ternyata memang punya pengaruh yang sangat besar ya. Bukan saya anti organisasi, karena sejak sekolah hingga kuliah-pun saya aktif di organisasi, tapi organisasi yang berbeda dengan mereka-mereka yang selalu bertanya kepada saya. *re: organisasi ekstra.
Organisasi saya sebatas UKM, yah! Unit Kegiatan Mahasiswa. Organisasi hura-hura yang kita semua di dalamnya diberi kebebasan untuk merdeka dalam menyalurkan bakat, aspirasi, bahkan ide ga masuk akal yang bikin semua anggota ketawa pun ada. Bukan organisasi pengkaderan yang selalu mengunggulkan nama baiknya, dan menjatuhkan satu sama lain atas prinsip yang dijunjungnya. Bukan organisasi yang membatasi anggotanya untuk berkembang, dan bukan pula organisasi yang menyindir secara halus ketika ada anggotanya bergabung dengan organisasi lain yang berbeda pemikiran dengannya.
Tulisan ini saya buat karena untuk kesekian kalinya pertanyaan yang saya anggap ga penting itu keluar dari mereka-mereka mantan anggota organisasi. Heran, sampai di dunia kerja seperti sekarang inipun, banyak dari teman-teman yang seringkali beradu pendapat kemudian membawa nama bendera mereka ketika masih duduk di bangku kuliah. Alasannya sih, mereka dengan bendera-bendera yang berbeda punya ciri khas masing-masing dalam berpendapat. Punya sudut pandang yang berbeda dari pemikirannya, dan cara mereka menyampaikan pendapatnya. Hahaha, bagi saya justru hal itu lucu. Kenapa mereka mesti bangga dengan pola pikir dan cara berpendapat yang terbentuk sedemikian rupa untuk menunjukkan latar belakang mereka? Bukankah kebebasan justru lebih indah? Hehehe.
Tapi itu pemikiran saya sih. Pemikiran perempuan yang tidak pernah sekalipun tertarik untuk menjadi kader sebuah organisasi. Pemikiran seorang perempuan yang lebih memilih bisa berpikir bebas, berpendapat sesuai pemikiran gila, dan tentunya tidak diatur dengan aturan yang serba tetek bengek, hehehe, satu lagi, tentunya yang tidak pernah takut menghadapi kerasnya dunia luar ketika lulus kuliah. Takut tidak bisa punya pekerjaan? Tidak sama sekali, karena saya selalu berpikir apa yang saya dapat di kuliah dan di organisasi seperti UKM saja sudah cukup sebagai bekal, hehehe.
Kenapa saya harus mengkaitkan organisasi dengan pekerjaan? Karena seringkali faktanya seperti itu. sedikit bercerita, pernah suatu ketika saya bertanya pada teman yang baru saja lulus kuliah dan dia mantan anggota organisasi yang getol mencari kader di kampus saya. Saya tanya, “mau kerja dimana entar lagi?”, jawabnya “bingung sih aku, sebenarnya sudah ditawari di kantor ... (ga usah disebut lah pemerintahan pastinya) tapi aku bingung mau apa ga?”, saya pun tertarik untuk bertanya lagi dengan pertanyaan yang menggelitik “ya gpp lah, kamu kan mantan anak organisasi, pasti gampang lah buat masuk”. Jawabnya, “iya sih, emang udah ditawari. Di suruh ikut test CPNS dan ngelamar aja ntar kalau dibuka pendaftaran, ya formalitas aja sih sebenernya. Sama kayak temen-temen yang udah kerja itu, udah ada tempat sih”. WOW,, jawaban yang keluar dari pertanyaan konyol dan menjebak itu ternyata asik sungguh. Nepotisme ga sih? Hehehe, maklum saya bukan orang pintar jebolan organisasi yang hebat.
Sebenarnya sih bukan hal yang terlalu WOW, karena memang sudah banyak hal seperti itu terjadi. Test CPNS dengan membayar uang sekian, iming-iming pekerjaan ketika kita diminta dukung calon yang tengah berebut kursi kepala daerah (ini pernah saya alami), dan disediakannya tempat (jatah kursi) untuk anak atau saudara. Namun kembali ke topik awal tulisan saya terkait organisasi, bagi saya jawaban seorang teman tersebut, sungguh luar biasa. Bagaimana tidak? Selama kuliah kalian di doktrin dengan berbagai ajaran organisasi, saling menjelekkan organisasi satu dengan yang lainnya, berebut calon kader yang kalian anggap akan membawa nama baik organisasi, bahkan rela teriak-teriak di depan kantor DPRD dalam rangka menyampaikan aspirasi. Lantas untuk apa?? Hehehe.
Untuk apa ketika kalian akan terjun ke dunia kerja saja masih mengandalkan yang seperti itu. mengandalkan senior-senior kalian yang sudah menjadi orang dengan harapan kalian mendapatkan tempat untuk sebuah pekerjaan, dan mengandalkan embel-embel nama bendera organisasi kalian. Harusnya yang patut kalian andalkan adalah ilmu yang kalian dapat ketika di organisasi tanpa kalian bawa embel-embel nama bendera kalian. Memang tidak bisa dipungkiri sih, orang independent akan sulit mendapatkan tempat, terlebih ketika terjun di dunia politik, hehehe.
Cerita lain yang saya dapat dari seorang teman anggota organisasi ketika kita sedang asik ngopi pada waktu itu, lantas dia bertanya “kenapa sih ve ga mau ikut organisasi” dengan jawaban singkat dan sedikit malas terpaksa saya menjawab, “males aja, ga tertarik”. rasa penasaran mendorong saya untuk bertanya balik dengan pertanyaan konyol yang bagi saya ga penting sebenarnya, hehehe. “lah terus kamu kenapa mau jadi kader?”, lantas dia bercerita panjang lebar pada saya terkait alasannya mau bergabung dengan organisasi. Saya masih ingat, petikan cerita dia yang sedikit membuat saya kaget ketika dia bercerita “...... awal maba kan ditampung, baik semua mereka, sampai bener-bener tertarik sih ngeliat prestasi senior-senior ve, biar nanti ke depannya aku juga gampang cari kerja lewat senior”. OH YA?? Hal yang sama. Sudahlah.
Terus terang, pada akhirnya saya berani untuk membuat tulisan seperti ini karena memang di dunia kerja yang sekarang saja, embel-embel bendera masih kerapkali dibawa oleh teman-teman. Sebenarnya sudah bosan, harusnya cukup di bangku kuliah saja, tetapi memang sepertinya tidak bisa. Bukan saya benci dengan mereka, tidak, tidak sama sekali. Bahkan terkadang saya juga berdiskusi dengan mereka, namun ada hal yang memang dari sejak kuliah yang membuat saya tidak tertarik dengan seperti itu. Terlebih ketika dulu, urusan kampus harus disangkut pautkan dengan organisasi, bagi saya itu adalah hal yang membosankan. Organisasi bolehlah mencari kader di dalam kampus dengan bagaimanapun caranya, tapi harus tau batasan dan cara intelektual yang seharusnya dilakukan. Apalagi ketika harus bawa nama organisasi di bangku perkuliahan, haduh itu sungguh menyebalkan bagi saya.
Saya bukan anak yang pintar untuk berteori, jauh jika dibanding mereka-mereka anak organisasi. IP juga ga bagus-bagus amat, bisa mencapai di atas 3,0 saja sudah bersyukur. Sebab saya lebih bangga dapat nilai B ataupun C sekaligus tapi memang hasil kerja saya, daripada saya harus dapat A karena hasil kenal dengan dosen karena satu bendera, hehehe.
Saya yakin, mereka teman-teman yang masih kuliah dan hanya ikut UKM bukan organisasi ekstra, akan manggut-manggut ketika membaca tulisan saya ini. Sebab saya yakin, banyak dari mereka yang sebenarnya juga muak dengan urusan kampus yang seringkali disangkutpautkan dengan bendera. Tenang, kita manusia yang bebas, yang merdeka, yang bisa berpendapat sesuai ide gila kita tanpa didoktrin terlebih dulu, yang tidak takut menghadapi kerasnya dunia kerja, dan tentunya tidak takut tidak mendapat pekerjaan, hehehe.
Ini opini saya, tidak suka silahkan dihapus saja!
Salam, Verra Zen Via dengan tulisannya yang ga masuk akal dan ngawur.










