Kadang diperlukan 1 malam penuh air mata untuk menjalani esok hari yang lebih menantang. Jadi menangislah lalu kemudian berbahagialah.
No title available

Love Begins
Misplaced Lens Cap

JBB: An Artblog!
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
d e v o n

tannertan36
Cosimo Galluzzi

titsay

祝日 / Permanent Vacation
Monterey Bay Aquarium

ellievsbear

roma★
occasionally subtle
he wasn't even looking at me and he found me
🪼
tumblr dot com
we're not kids anymore.
Claire Keane
ojovivo
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Argentina
seen from Türkiye
seen from Hong Kong SAR China

seen from Indonesia

seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Belgium

seen from China
seen from France
seen from Slovenia

seen from Malaysia
seen from Singapore

seen from Argentina
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Indonesia
@viasphere
Kadang diperlukan 1 malam penuh air mata untuk menjalani esok hari yang lebih menantang. Jadi menangislah lalu kemudian berbahagialah.
Tulisan: Abjad-abjad Cinta untuk Keluarga
💚Alif: Addib (Didiklah Adab). Didiklah anak sopan santun.
💚Ba’: Bayyin (Jelaskan). Jelaskan pendapat dan nasehat Ayah dan Bunda.
💚Ta’: Ta’assaf (Minta Ma'aflah). Tak ada aib bagi orang tua untuk meminta maaf kepada anaknya.
💚Tsa’: Tsaqqif (Didiklah). Didiklah anak Anda dan bekali mereka dengan pengetahuan. Pengetahuan yang membantu anak membangun kepribadian yang bijak.
💚Jim: Jaahid (Berjihadlah). Berjihadlah/Berjuanglah bersama Anak-anak Anda di jalan Allah SWT.
💚Ha: Habbib (Buat Mereka Mencintai). Buatlah mereka mencintai kebaikan.
💚Kha: Khaalil (Jadilah Teman). Jadilah teman bagi putra putri Anda. Jadilah teman bicara bagi mereka untuk memahami maksud mereka dan mengetahui rahasia-rahasia mereka. Jadilah kawan bagi mereka untuk selalu menasihati dan mengarahkan mereka.
💚Dal: Daafi’ (Belalah). Belalah putra putri Anda. Jangan biarkan mereka menjadi umpan empuk Iblis dan para tentaranya, baik dari golongan jin dan manusia.
💚Dzal: Dzakkir (Beri Peringatan). Karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman Alloh SWT dalam al-Qur'an surat Adz-Dzariyat, ayat 55.
💚Ra: Raghghib (Beri Harapan). Berilah harapan untuk meraih surga yang paling tinggi.
💚Za: Zayyin (Hiasilah). Hiasilah kata dan ucapan Anda. Kata-kata yang baik mempunyai pengaruh di dalam jiwa anak.
💚Sin: Sallim (Ucapkan Salam). Ucapkan salam kepada putra dan putri Anda.
💚Syin: Syaarik (Temanilah). Temanilah putra dan putri Anda dalam tanggung jawab mereka ketika mereka meminta Anda secara langsung.
💚Shad: Shil (Eratkan Hubungan). Eratkan hubungan Anda dengan anak. Ajarkan mereka bagaimana menjaga tali silaturahmi dengan kerabat. Ini adalah ajaran agama Islam dan merupakan salah satu prinsip interaksi dalam beragama.
💚Dhad: Dhaarib (Ajari Bertransaksi). Ajari anak Anda bertransaksi yang halal seperti berdagang dan jual beli. Agama kita menganjurkan kita untuk tidak mengemis, menyerah atau menggantungkan diri pada orang lain.
💚Tha: Thabbib (Obati). Obati putra-putri Anda. Jangan telantarkan mereka, karena kesibukan Anda atau prasangka buruk. Bersegeralah bertindak untuk menjaga mereka dari sakit dan efek negatif yang ditimbulkan.
💚Dzhai: Dzhallil (Lindunglah). Naungi anak Anda dengan cinta, kasih sayang dan perlindungan.
💚‘Ain: ‘Allim (Ajarkan). Ajarkan putra-putri Anda dalam ilmu agama dan dunia agar mereka mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik- baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
💚Ghoin: Ghayyir (Ubahlah). Ubahlah perilaku Anda yang dipandang tidak sedap oleh putra putri Anda baik dengan cara berhenti dari perilaku tidak terpuji atau menambah perilaku yang terpuji.
💚Fa: Farriq (Bedakan). Bedakan antara generasi Anda dan generasi putra putri Anda. Bedakan antara cara pandang Anda dengan cara pandang mereka. Ini bukan berarti kita membiarkan mereka dengan keadaan mereka, sehingga mereka menjadi generasi yang tidak sesuai dengan keluarga.
💚Qof: Qobbil (Ciumlah/Peluklah). Ciumlah/Peluklah anak Anda setiap hari. Demikian juga izinkan mereka mencium/memeluk Anda dan pasangan Anda setiap hari.
💚Kaf: Karrim (Muliakan). Muliakan putra putri Anda. Jauhkan mereka dari kehinaan, kerendahan dan tuduhan kebodohan, bersikap menyia-nyiakan dan buruk etika.
💚Lam: Laamis (Sentuhlah). Sentuhlah anak Anda. Jangan jauhkan dia dari sentuhan yang akan menanamkan cinta di dalam hatinya.
💚Mim: Maazih (Bergurauhlah). Berguraulah dengan anak-anak Anda. Ajaklah mereka bermain. Berikan kebahagiaan di dalam jiwa mereka.
💚Nun: Naaqisy (Ajaklah Berdialog). Ajaklah anak Anda berdialog. Ajaklah dia diskusi. Tanda kepribadian seseorang adalah ucapakannya dan bagaimana dia menggunakannya.
💚Ha: Haddi (Tenangkan). Tenangkan diri Anda. Jangan panik dan bersabarlah. Apakah Anda mengira hari, minggu atau bulan berlalu begitu saja tanpa terjadi permasalahan, percekcokan atau perbedaan pendapat? Tentu saja tidak. Ketika terjadi permasalahan, pastikan anak-anak Anda melihat Anda dalam keadaan tenang hingga mereka dapat bersimpati kepada Anda.
💚Wau: Waddi (Antarkan). Antarkan dan jemputlah. Anak memiliki hak untuk diperhatikan hingga mereka merasakan cinta kita kepada mereka.
💚Ya: Yassir (Mudahkan). “Mudahkanlah jangan kalian buat susah”, sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Di antara hak anak atas orang tuanya adalah mendapatkan kemudahan dalam berinteraksi. Jangan menuntut anak Anda sesuatu yang tidak mereka bisa. Jika Anda ingin ditaati, mintalah sesuatu yang bisa dikerjakan. Kadang anak tidak bisa melaksanakan tugas yang diberikan. Tolonglah mereka. Kadang mereka gagal dalam menjalankan tugas. Mintalah dan doronglah mereka untuk berusaha lagi di lain waktu.
Referensi: Diadaptasi dari Kitab/Buku : كيف تكون أبوين محبوبين “Kaifa Takuuna Abawaini Mahbubaini” (Bagaimana Menjadi Orangtua yang Dicintai Anak) Oleh : Dr. Muhammad Fahd Ats-Tsuwaini, Abyan 1429.
Mendidik anak secara Islam
Terkadang kita merindukan masa lalu. Entah kenangannya atau orangnya.
rencana
sesungguhnya perempuan adalah perencana yang ulung. kalau tidak mengatakannya, kami menuliskannya. kalau tidak menuliskannya, kami memikirkannya. kalau tidak memikirkannya, kami mengkhayalkannya. bagaimanapun, perempuan adalah perencana.
tapi perempuan bukan pelaksana. sebab kami tahu, kami bukan satu-satunya pihak yang bisa jadi punya rencana. sebab kami tak mau, menggagalkan rencana pihak satunya hanya karena ketidaksabaran kami.
itulah kenapa kami suka menunggu. selain karena kulit kami terbuat dari gengsi.
itulah kenapa kami suka mempercayakan urusan. selain karena kami lebih emosian.
tapi jangan salah. laki-laki memang menang memilih. namun perempuan menang menentukan.
karena kami adalah para perencana, sedangkan laki-laki adalah setengah pelaksana, setengah perencana.
🌴 “Yang Langka” 🌴
🌀 Yang langka itu…
🌷 Istri yang tunduk patuh pada suami. yang senantiasa berseri-seri saat dipandang. yang ridha terdiam saat suami marah. Tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara. Tercantik di hadapan suami. Terharum saat menemani suami beristirahat. Tidak menuntut keduniaan yang tidak mampu diberikan suaminya. yang sadar bahwa ridha-Nya ada pada ridha suaminya.
🌀 Yang langka itu…
🌷 Suami yang mengerti bahwa istrinya bukan pembantu. Sadar tak melulu ingin dilayani. Malu jika menyuruh ini itu karena tahu istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah. yang tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang karena sadar itulah resiko hadirnya amanah-amanah yang masih kecil. yang sadar pekerjaan rumah tangga juga kewajibannya. yang rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena rasa sayangnya terhadap istrinya yang kelelahan.
🌀 Yang langka itu…
🌷 Anak lelaki yang sadar bahwa ibunya yang paling berhak atas dirinya. yang mengutamakan memperhatikan urusan ibunya. yang lebih mencintai ibunya dibanding mencintai istri dan anak-anaknya. yang sadar bahwa surganya ada pada keridhaan ibunya.
🌀 Yang langka itu…
🌷 Orang tua yang sadar bahwa anak perempuannya jika menikah sudah bukan lagi miliknya. yang selalu menasehati untuk mentaati suaminya selama suaminya tidak menyuruhnya kepada perkara munkar. yang sadar bahwa keridhaan Allah bagi anaknya telah berpindah pada ridha suaminya.
🌀 Yang langka itu…
🌷 Seorang ibu yang meskipun tahu surga berada di bawah telapak kakinya. Tapi tidak pernah sekalipun menyinggung hal tersebut saat anaknya ada kelalaian terhadapnya. yang selalu sadar bahwa mungkin segala kekurangan pada anak-anaknya adalah hasil didikannya yang salah selama ini. yang sadar bahwa jika dirinya salah berucap atau do'a keburukan maka malaikat akan meng-ijabahi do'anya.
🌀 Yang langka itu…
🌱 Anak yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dalam keheningan sepertiga malam terakhir. Meskipun sehari-hari dalam kesibukan rumah tangganya. Dalam kesibukan usahanya. Dalam kesibukan pekerjaannya.
🌀 Yang langka itu…
🌱 Orang-orang yang saling memberikan nasehat dalam kebenaran dan kesabaran. yang saling memaklumi jika hal-hal di atas lupa atau lalai dilakukan. Sehingga saling memaafkan diantara mereka.
Maka rahmat Allah berada diantara mereka. Dan Allah dengan kemurahan-Nya memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.
Yuuk kita jadi yang langka-langka ini…
Baarakallaahu fiikum
_________________ ♻ Repost Grup Islamadina♻
Subhanallah
DI BALIK AJAKAN SHALAT ISTRI KEPADA SUAMINYA Seorang sahabat bercerita bahwa setelah menikah ia menjadi lebih rajin shalat tepat waktu. “Istriku selalu mengingatkanku untuk shalat tepat waktu,” Dia memulai cerita itu dengan wajah yang berseri-seri. Saya mendengarkan kisah lanjutannya dengan saksama, dalam hati ingin menirunya agar bisa melakukan kebaikan lebih giat lagi. “Setiap kali azan berkumandang, sebisa mungkin istriku akan segera meninggalkan apapun yang sedang dikerjakannya, mengambil wudlu, lalu kemudian, jika kebetulan aku sedang di rumah, ia akan mengajakku untuk shalat berjamaah,” sahabat saya melanjutkan ceritanya. “Kamu beruntung punya istri sebaik itu, Sob!” timpal saya, “Pernikahanmu akan menjadi pernikahan yang bahagia dan penuh berkah!” Sahabat saya tersenyum bangga. Ah, selalu membahagiakan melihat senyum seorang suami yang membanggakan istrinya. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal hati saya tentang cerita yang disampaikan sahabat saya ini. Bertahun-tahun mengenalnya, jauh sejak sebelum ia menikah, saya mengenal sahabat saya ini sebagai orang yang sering melalaikan shalat. Tak jarang sebenarnya teman-temanmengingatkannya untuk shalat, termasuk saya yang sesekali menegurnya, namun biasanya semua ajakan—bahkan teguran—diacuhkan begitu saja! Bagi saya, sungguh mengagumkan ketika ia menikah, sahabat saya ini bisa dengan begitu tenang dan senang menerima ajakan istrinya untuk shalat. Apa yang terjadi padanya? Apa yang dilakukan istrinya? Akhirnya saya mengajukan dua pertanyaan itu. Mendengar pertanyaan saya, ia terdiam beberapa saat. Untuk kemudian hanya menggelengkan kepala, “Aku juga nggak tahu! Kenapa, ya?” Dia justru balik bertanya, senyum yang asing tersungging di bibirnya. Dari sana kami berdua mencoba mencari-cari jawabannya. Kami berdiskusi cukup lama hinggamendapatkan sebuah jawaban yang paling bisa kami terima— “Kayaknya, ini karena istriku nggak pernah maksa, deh,” Sahabat saya akhirnya mengemukakan temuannya, “Ajakan istriku nggak mengandung semacam sentimen ‘gimana sih kok belum shalat?’ atau ‘shalat tepat waktu kayak gue dong!’” Saya menganggukk-anggukkan kepala. “Menarik!” Respons saya. Senyum sahabat saya makin lebar, “Kayaknya itu yang jadi kekuatan. Sesuatu yang bisa menggerakkanku untuk mengikuti ajakannya. Aku tak merasa direndahkan, diremehkan, atau disalahkan. Istriku justru mengajakku shalat dan memintaku jadi imamnya. Seketika ada perasaan haru sekaligus malu dalam diriku. Aku tak bisamenolaknya! Istriku mengajakku dengan rasa cinta!” Ia makin antusias. “Nah! Nah! Itu dia jawabannya, Sob!” Refleks saya mengarahkan telunjuk saya ke wajah sahabat saya itu. Sahabat saya mengangguk-angguk. “Keren, ya? Cinta bisa punya kekuatan kayak gitu?” Ia mengonfirmasi. Saya mengiyakan. “Mungkin dulu saat aku menegurmu, aku gagal menunjukkan bahwa aku mengajakmu shalat karena aku mencintaimu. Tapi istrimu berhasil melakukannya! Istrimu mengajakmu karena ia begitu menghargai, menghormati, sekaligus menyayangimu. Sementara, barangkali, dulu aku mengajakmu hanyaingin mengejar pahala atau sekadar jengah karena melihatmu tak sejalan dengan pengertianku tentang iman dan kebaikan.” “Cocok! Cocok banget!” Ia setuju dengan pendapat saya. Kami terdiam beberapa detik. Saling berpandangan dalam tatapan yang kosong, menikmati sesuatu yang tiba-tiba hadir dalam pikiran dan perasaan. “Sob,” sahabat saya memecahkan keheningan, “Bayangin kalau dakwah Islam dilakukan seperti itu! Dengan cinta di dalamnya!” Saya tercengang. Tak punya kata-kata apapun untuk meresponsnya. Ada gemuruh dalam pikiran danperasaan. Menggedor-gedor menjadi rasa bersalah. Ah, mengapa selama ini saya mengajak orang kepada kebaikan dengan perasaan yang angkuh? Bukan dengan hati yang penuh dengan cinta—melupakan hikmah dan teladan? Saya mengulang-ulang Surat an-Nahl ayat 125 dalam kepala. Azan Ashar berkumandang dari kejauhan. Handphone saya bergetar. Ada sebuah pesan masuk. WhatsApp dari istri saya. “Sayang, jangan lupa shalat, ya.” Begitu isi pesan itu. Diakhiri sebuah tanda senyum. Azan Ashar menggema dalam telinga kesadaran! FAHD PAHDEPIE Penulis buku ‘Rumah Tangga’ (PandaMedia, 2015). Bisa ditemui di facebook.com/fahdpahdepie atau twitter/instagram @fahdpahdepie
Negeri Tanpa Ayah
Ust Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri) Jika memiliki anak sudah mengaku-ngaku menjadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola. AYAH itu gelar untuk lelaki yang mau dan pandai mengasuh anak, bukan sekedar ‘membuat’ anak. Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi.
AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja. Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yang tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah. Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?
Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari ‘Umar bin Khattab (radhiyallahu 'anhu). AYAH durhaka bukan yang bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yang menuntut anaknya shalih dan shalihah, namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya. AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya. AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya.
Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country. Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama?
Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi. Banyak anak yang sudah merasa yatim sebelum waktunya, sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya.
Semangat Quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita mengenal Lukman, Ibrahim, Ya'qub, Imran. Mereka adalah contoh AYAH yang peduli. Ibnul Qayyim dalam kitab Tuhfatul Maudud berkata,
“Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH.”
Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yang merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak.
Rasulullah yang mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAH-nya. Tetapi nilai-nilai ke-AYAH-an tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya. Nabi Ibrahim adalah AYAH yang super sibuk, jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi. Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.
Di dalam Quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan, dimana 14 diantaranya yaitu dialog antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut.
Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid. Harus ada sosok AYAH yang mau menjadi guru TK dan TPA, agar anak kita belajar kisah 'Umar yang tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yang berkisah, tapi AYAH-lah.
AYAH pengasuh harus hadir di masjid, agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was-was atau merasa terancam dengan hardikan. Jadikan anak terhormat di masjid, agar ia menjadi generasi masjid, dan AYAH-lah yang membantunya merasa nyaman di masjid.
Ibu memang madrasah pertama seorang anak, tetapi AYAH yang menjadi kepala sekolahnya. AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya. Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH 'kepala sekolah’ tapi AYAH 'penjaga sekolah’ Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan keduanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan IBU-nya. Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak. Jika ibu tak ada, anak menjadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika.
AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yang tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yang peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama. Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yang lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi. Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH.
Silakan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan.
[Copas from here]
Repost… :)
Mind Maping
Mind Maping (peta pikiran) adalah sebuah metode untuk mengelola informasi secara menyeluruh berupa catatan yang lebih terstuktur.
Mind Maping ini juga dapat digunakan untuk menyimpan informasi, membuat prioritas, melakukan review dan mengingat informasi.
Mind Maping membuat catatan menjadi “eye catching” dan mudah dipahami secara keseluruhan.
*Ditemukan oleh Tony Buzan, seorang pakar manajemen otak, kreatifitas dan pendidikan sejak tahun 1970.
Good is not enough anymore, we must be different
Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya karena mereka hidup di generasinya, bukan pada jaman di mana engkau di didik
(Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)
Saat ini kita berada di jaman yang berubah sangat cepat. Dunia berubah dan akan terus berubah. Apakah kita masih menggunakan cara belajar yang sama? Bagaimana kita menyiapkan cara belajar yang berbeda untuk menghadapi tuntutan dunia yang dinamis ini? Sudah seharusnya kita bisa mengimbanginya dengan meng-upgrade kemampuan kita terus menerus dan bisa update terhadap informasi baru yang berkembang setiap saat. Kalau tidak memiliki ketertarikan untuk menambah wawasan dan tidak mau mencari tahu, maka kita sendiri yang akan mengalami banyak ketinggalan.
Keluarga ibarat perusahaan, yang ada Leader (suami), Manager (istri) dan Patner Kerja (anak-anak).
Buku Bunda Cekatan (12 Ilmu Dasar Manajemen Rumah Tangga)
Suami sebagai LEADER keluarga
Suami sebagai Leader keluarga, pemimpin keluarga yang menentukan ARAH dan TUJUAN keluarga. Istri sebagai Manager keluarga yang menentukan CARA keluarga untuk mencapai tujuan.
# Jika Leader “tidak jelas ARAH dan TUJUANnya” dalam berkeluarga dapat dipastikan Manager “mengalami kesulitan dalam menentukan CARA” demi sampai pada tujuan keluarga tersebut --> kesasar karena tidak tahu benar tidaknya arah dan tujuan (paling parah).
# Jika Leader “tidak tahu dan tidak jelas ARAH dan TUJUANnya” dalam berkeluarga, tetapi Manager “dapat menangkap maksudnya dan ia benar dalam menentukan CARA” demi sampai pada tujuan keluarga yang dimaksud --> kesasar tapi cepat tahu jalan sebenarnya.
# Jika Leader “benar ARAH dan TUJUANnya” dalam berkeluarga, tetapi Manager “salah dalam menentukan CARA” demi mencapai tujuan keluarga --> maka tetap sampai ke tujuan tapi lambat.
# Jika Leader “benar ARAH dan TUJUANnya” dalam berkeluarga dan Manager “benar pula dalam menentukan CARA” demi mencapai tujuan keluarga --> maka sampailah mereka ke tujuan dengan cepat. Inilah yang terbaik.
Prinsip komunikasi dengan suami: To C (Clear and Clarify), agar suami istri bisa klop dalam komunikasi, referensi hidupnya harus sama. Bagi umat muslim, referensi tentu saja Al Qur’an dan Hadist Nabi. Istri taat pada suami jika perintah suami tidak membuat Allah MARAH.
Be a SMART
S : Spesific (jelas) M : Measurable (dapat terukur) A : Achievable (bisa diraih) R : Realistic T : Timebone (ada batasannya)
Mengapa waktu mendidik anak 0-12 tahun
Karena di usia ini, waktu mendidik terbaik. Jika anak usianya sudah 12 tahun ke atas maka akan lebih banyak berinteraksi dengan lingkungannya. Sehingga anak biasanya lebih percaya kepada teman-teman dan lingkungannya dibandingkan orangtuanya. Bukan berarti mendidik mereka setelah melewati usia 12 tahun tidak bisa lagi, tetapi akan mempunyai peluang yang lebih kecil dibanding yang sudah mendidiknya lebih awal. Jika ini sudah dijalankan di rumah anda, maka akan terasa waktu 24 jam akan terasa "sangat kurang sekali"... ilmu yang kita dapat hari ini akan menjadi kecil sekali. Maka berbedalah kita dengan orangtua jaman dulu yang bekerja dengan insting tanpa adanya "improvement" (perbaikan). Hari ini mari kita bekerja berbasiskan ilmu, belajar dari berbagai sumber terpercaya. Dari Qur'an dan Hadist Nabi, tentu saja tak boleh ditinggalkan. Teruslah memperbaiki diri. Semangat mom 😊