Selamat lebaraaaaaan (H+7)

Janaina Medeiros
he wasn't even looking at me and he found me
No title available
occasionally subtle
RMH
Game of Thrones Daily
sheepfilms

@theartofmadeline
Alisa U Zemlji Chuda
Today's Document

★
No title available

ellievsbear

No title available
Jules of Nature
Sweet Seals For You, Always
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
almost home
styofa doing anything
🪼

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Canada

seen from Germany

seen from China

seen from Singapore

seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Singapore

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
@vikarestuf
Selamat lebaraaaaaan (H+7)
One afternoon we went to city park for a picnic, we ate our bento and listened to nature. I’ve just had some lovely extraordinary experienced with simplicity.
.
.
.
.
.
illustrated by the talented one @herninurulf, she captured ordinary moment and turned it to be simply-adorably-cute picture. thanks a bunch, dear <3
One afternoon we went to city park for a picnic, we ate our bento and listened to nature. I've just had some lovely extraordinary experienced with simplicity.
.
.
.
illustrated by the talented one @herninurulf, she captured ordinary moment and turned it to be simply-adorably-cute picture. thanks a bunch, dear
#THROWBACK #MENYAPANEGERIKU
Malam ini tepat satu tahun yang lalu, saya menerima broadcast ajakan untuk mengikuti program dikti. Nama programnya #menyapanegeriku, kurang lebih gini iklannya
"Jika Anda berumur 18 hingga 35 tahun, warga Indonesia, dan suka berpetualang dari Aceh hingga Papua, apalagi ada pihak yang membiayainya, ini tawaran program yang cocok untuk Anda".
Lalu tanpa pikir panjang saya mengirimkan tulisan berupa esai pendek tentang wajah pendidikan di Indonesia dan kontribusi yang bisa saya berikan jika berkesempatan menjadi salah satu peserta. voila! 2 minggu kemudian saya dihubungi pihak DIKTI dan diminta mempersiapkan kelengkapan administrasi untuk menjadi peserta. Bagi orang biasa seperti saya, menjadi 1 dari 33 peserta yang terpilih dari 30.000an pendaftar, merupakan hal yang sangat diluar dugaan. Mas Yogi dari DIKTI menghubungi dan memberitahukan bahwa saya akan ditempatkan di Kabupaten Aceh Timur, bukan di Simelueu (pilihan saya di formulir). Menurut Mas Yogi dengan profesi saya sebagai orthopaedagog, Aceh Timur lah lokasi yang paling cocok. Tidak mengapa, yang penting saya lulus. Lalu singkat cerita, bertemulah saya dengan pembimbing tim aceh timur, Teh Juni (guru SM3T kab. Aceh Timur). Peserta yang lain, Teh Sylvie, Mas Bustomi, Dwi, dan Mas Rama, serta dokter Rara sebagai pendamping (CMIW) :p Yang masih saya sesalkan sampai hari ini, selama berada di Aceh Timur kondisi kesehatan saya kurang baik, demam dan flu berat. sampai saat ini sedih rasanya jika mengingat performa saya yag kurang maksimal selama berada disana. Meskipun demikian, banyak pelajaran yang saya ambil. Disana saya bertemu dengan para guru SM3T, mereka orang-orang yang rela menyumbangkan satu tahun dalam hidupnya murni untuk berbagi, menginspirasi, dan berbakti pada negeri. Adalah kesia-siaan rasanya jika ilmu tidak dibagikan, karena sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat.
Terimakasih DIKTI, Guru SM3T, dan teman-teman #TimAcehTimur. I found my new family and happiness during my first trip to aceh. Thanks for the happiness, loving, caring, close-knit family in another city. Thank you, May God always pouring happiness around us. xo!
#THROWBACK #MENYAPANEGERIKU
Malam ini tepat satu tahun yang lalu, saya menerima broadcast ajakan untuk mengikuti program dikti. Nama programnya #menyapanegeriku, kurang lebih gini iklannya
"Jika Anda berumur 18 hingga 35 tahun, warga Indonesia, dan suka berpetualang dari Aceh hingga Papua, apalagi ada pihak yang membiayainya, ini tawaran program yang cocok untuk Anda".
Lalu tanpa pikir panjang saya mengirimkan tulisan berupa esai pendek tentang wajah pendidikan di Indonesia dan kontribusi yang bisa saya berikan jika berkesempatan menjadi salah satu peserta. voila! 2 minggu kemudian saya dihubungi pihak DIKTI dan diminta mempersiapkan kelengkapan administrasi untuk menjadi peserta. Bagi orang biasa seperti saya, menjadi 1 dari 33 peserta yang terpilih dari 30.000an pendaftar, merupakan hal yang sangat diluar dugaan. Mas Yogi dari DIKTI menghubungi dan memberitahukan bahwa saya akan ditempatkan di Kabupaten Aceh Timur, bukan di Simelueu (pilihan saya di formulir). Menurut Mas Yogi dengan profesi saya sebagai orthopaedagog, Aceh Timur lah lokasi yang paling cocok. Tidak mengapa, yang penting saya lulus. Lalu singkat cerita, bertemulah saya dengan pembimbing tim aceh timur, Teh Juni (guru SM3T kab. Aceh Timur). Peserta yang lain, Teh Sylvie, Mas Bustomi, Dwi, dan Mas Rama, serta dokter Rara sebagai pendamping (CMIW) :p Yang masih saya sesalkan sampai hari ini, selama berada di Aceh Timur kondisi kesehatan saya kurang baik, demam dan flu berat. sampai saat ini sedih rasanya jika mengingat performa saya yag kurang maksimal selama berada disana. Meskipun demikian, banyak pelajaran yang saya ambil. Disana saya bertemu dengan para guru SM3T, mereka orang-orang yang rela menyumbangkan satu tahun dalam hidupnya murni untuk berbagi, menginspirasi, dan berbakti pada negeri. Adalah kesia-siaan rasanya jika ilmu tidak dibagikan, karena sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat. Terimakasih DIKTI, Guru SM3T, dan teman-teman #TimAcehTimur. I found my new family and happiness during my first trip to aceh. Thanks for the happiness, loving, caring, close-knit family in another city. Thank you, May God always pouring happiness around us. xo!
life
another year passed, people grow together and apart, life moves on. It’s funny how time flies and people change. I’m glad we still here. May Allah grant our wishes and plans. aamiin
#MenyapaNegeriku #AcehTimur
Tulisan ini saya buat sepulang perjalanan saya dari Kabupaten Aceh Timur, Nanggroe Aceh Darussalam.. Seberkas Cahaya di Tanah Rencong
Kombinasi rasa sakit dan gatal di tenggorokan membangunkan saya dari tidur di Kamis subuh itu. Dari kejauhan terdengar lantunan ayat Al-Qur’an dari meunasah yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menginap. Ketiga teman yang tidur bersebelahan dengan saya, masih terlelap dalam tidurnya. Mereka adalah Sylvie -seorang penulis dan volunteer dari DOCTORShare-, Rara –seorang dokter, dan Juni –pendamping tim kami, yang juga merupakan guru SM3T angkatan 4 -. Selain ketiga orang ini masih ada tiga orang peserta lain, antaranya Bustomi –seorang independent researcher-, Rama –jurnalis TvOne-, dan Dwi –mahasiswa jurusan pendidikan fisika-. Kami bertujuh, mendapatkan kesempatan untuk berbagi insipirasi di ujung negeri. Ya di ujung negeri bagian barat Indonesia, disini....di Aceh Timur.
Hari ini masing-masing dari kami mempunyai agenda berbeda yang cukup padat. Sylvie akan mengajak murid-murid SLB Cahaya untuk melukis dinding sekolah yang sudah tidak jelas lagi warnanya, Rara akan memberikan penyuluhan hidup sehat di Kecamatan Idi, Rama akan berbagi ilmu jurnalistik kepada murid-murid di SMA N 1 Peureulak, Bustomi memotivasi para guru SMP N 2 Peureulak Timur, Dwi berbagi cara membatik dengan siswa SMP N 2 Pereulak Timur, dan kemudian saya sendiri akan memberikan pelatihan singkat kepada guru SLB Cahaya untuk treatment sederhana bagi anak berkebutuhan khusus dan dilanjutkan dengan workshop mengenai media stimulasi perkembangan anak yang diikuti oleh guru PAUD se-Aceh Timur.
Setelah kami menyelesaikan kegiatan masing-masing, tepat pada pukul 2, mobil pick up yang dikemudikan Pa Rahman menjemput kami dan siap mengantarkan kami menuju kecamatan Lokop. Di sana kami akan sharing bersama teman-teman SM3T yang mengabdi di Kabupaten Aceh Timur. Perjalanan dari Peureulak menuju Lokop sendiri memakan waktu kurang lebih 4-5 jam, perjalanan sore itu menyuguhi kami pemandangan menyejukan mata. Kebun sawit, ladang milik penduduk yang ditanami berbagai macam tanaman, perkampungan tradisional, sungai berkelok dan barisan pohon pinang. Ya pohon pinang, ini kali pertama saya melihat pohon pinang secara langsung, pengalaman yang langka bagi saya. Di Bandung, tempat saya tinggal, pohon pinang hanya dapat kami lihat setahun sekali ketika perlombaan HUT RI.
Sepanjang perjalanan saya bertanya-tanya “kenapa orang-orang ini bersedia ditugaskan disini?” Well..called it in the middle of nowhere, diujung hutan, tidak terlihat adanya kendaraan umum, dan yang lebih parah tanpa signal. I think, signal is the most important thing for native digital person like us. Tanpa signal bagaimana mereka menghubungi keluarga di sebrang pulau sana? Jika tidak betah bagaimana caranya kabur dari tempat seperti ini? Banyak sekali pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada mereka. Sesampainya di Lokop, saya akan menginterogasi teman-teman SM3T, niat saya pada waktu itu.
Kami sampai di tempat tujuan sekitar pukul 9 malam. Kami akan bermalam di SMK Lokop, bergabung bersama puluhan guru SM3T yang mengabdi di Kabupaten Aceh Timur. Malam itu saya agak kurang sehat, yang saya ingat hanya, gedung sekolah gelap dengan kondisi WC seadanya. Rasa lelah membuat kami menunda acara sharing yang semula akan dilaksanakan malam ini, rencanannya besok kami akan berbagi cerita sambil pelesir ke Air Terjun yang letaknya tidak jauh dari tempat kami bermalam. Oh ya..malam itu kami semua tidur di ruangan kelas, dengan alas tikar, tanpa bantal dan selimut, namun perbincangan sebelum tidur seakan menghangatkan tubuh kami hingga terlelap.
Keesokan harinya, sejak hari masih gelap kami sudah mengantri di depan WC dan kemudian bersiap untuk hiking menunju air terjun Terujak. Meskipun sakit dan ditambah dengan suara serak bahkan hampir tidak bersuara, saya tetap berniat untuk ikut hiking selama kurang lebih 2,5 jam perjalanan. Selain ingin melihat keindahan air terjun Terujak, saya juga ingin menyudahi rasa penasaran saya atas pertanyaan kemarin melalui “interogasi langsung” pada teman-teman SM3T (Sarjana Mendidik di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal) dan GGD (Guru Garis Depan).
Ketika saya keluar ruangan kelas pemandangan indah menyambut saya, SMK Lokop ini dikelilingi oleh pegunungan, sawah, dan ladang. Mungkin ini yang dirasakan Edmund ketika keluar dari lemari dan mendapati negeri salju bernama Narnia, mungkin juga hal seperti ini yang dirasakan Harry ketika pertama kali melihat kastil Hogwarts. Such an overwhelming scenery, i wanna wake up every morning in here just to see this.
Sepertinya Tuhan menciptakan segalanya secara equal, untuk melihat keindahan Air Terjun Terujak dibutuhkan tenaga ekstra, kami mendaki tanjakan yang rasanya tidak berujung, kemudian melewati turunan licin di hutan hijau yang lebat, menyusur sungai dengan dasar batu-batu besar yang juga sangat licin. Tetapi sepanjang perjalanan tidak henti kami mengucap syukur atas negeri yang indah ini, kami dapat melihat sungai yang meliuk melewati pegunungan, dengan ladang dan sawah di kedua sisinya. Persis seperti gambar pemandangan khas buatan anak indonesia. Air Terjun Terujak juga tidak kalah indahnya, airnya yang jernih menyejukan tubuh kami yang berkeringat. Setelah puas berenang acara sharing pun dimulai.Acara dimulai dengan menceritakan situasi dan kondisi di tempat mereka mengabdi, ada yang tinggal di daerah yang kekurangan air, ada yang mengajar di sekolah yang guru-guru serta muridnya gemar membolos, daerah yang terisolasi dan harus menyebrang sungai menggunakan boat selama 7 jam, daerah yang warganya lebih senang anak-anaknya mengaji daripada bersekolah, daerah yang tidak terjangkau signal, daerah yang belum tersentuh listrik, daerah yang menolak moderenitas, dan kondisi-kondisi lain yang mengejutkan saya. Like seriously? Ini 2015 loh?
Selanjutnya adalah acara bebas, kesempatan yang pas bagi saya untuk menghilangkan rasa penasaran. Kurang lebih ada lima orang guru SM3T dan seorang Guru Garis Depan yang saya tanyai. Pertanyaan saya, “Kok mau sih ngajar di daerah 3T?”. Rasa penasaran saya terjawab, teman-teman SM3T memiliki motivasi yang berbeda-beda, agar menjadi guru yang lebih bermanfaat, untuk pengembangan diri, panggilan jiwa, berbakti kepada negeri, menambah pengalaman dan wawasan. Sebenarnya jawaban-jawaban yang dilontarkan membuat saya merasa malu terhadap diri sendiri dan merfleksikannya terhadap diri saya.
Selama ini saya selalu berpikiran bahwa mencari ilmu di negara maju akan membantu saya untuk mengembangkan kemampuan agar dapat lebih bermanfaat dan berkontribusi melalui skill yang saya miliki. Namun ternyata saya keliru, sekolah di luar negeri bukan hanya satu-satunya jalan untuk mendapatkan itu semua, malah mungkin muatan gengsi lebih dominan dalam tujuannya. Saya selalu berpikir bahwa dengan tinggal di negara maju akan melatih kita untuk berpikiran terbuka, meningkatkan ketahanan diri dalam kondisi asing, menambah wawasan dan pengetahuan. Namun sekali lagi, pemikiran saya kurang tepat. Justru sebenarnya kontribusi yang langsung dapat dirasakan bagi orang banyak adalah “menyentuh” langsung daerah-daerah yang selama ini tak terjangkau, “mengobati” daerah-daerah yang selama ini sakit namun tak terobati, “berbagi” di daerah yang nampak kaya namun ternyata serba kekurangan. Perbincangan dengan teman-teman SM3T membuka pandangan saya yang ternyata selama ini sempit.
Saya sangat salut kepada teman-teman SM3T dan Guru Garis Depan yang rela hidup seadanya di daerah 3T, rela menyumbangkan satu tahun dalam hidupnya murni untuk berbagi, menginspirasi, dan berbakti pada negeri. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membangun sebuah sistem untuk kemudian diteruskan oleh figur otoritas lokal. Mengabdi sebagai guru SM3T merupakan wujud nyata rasa cinta kepada negeri. There is a light even in the darkest place, semoga cahaya-cahaya semangat yang dibawa para guru SM3T dapat menulari putra-putri daerah disini, di Tanah Rencong. Jadi....kamu cinta Indonesia? Indonesia yang mana?
Le me tryin’ to explain.
Wow...it’s been a while since my last post. Udah lama ga nyampah di tumblr, di polyvore, di pinterest and any other social media platform. Kenapa? Karena 6 bulan terakhir, hidup gue seakan berada di cernobyl -dimananya itu, gue juga ga tau- terus 2 bulan sisanya tune-in di tempat kerjaan baru. Oke ini curhatnya kepanjangan. Pokonya the one and only, who supposed to be blame adalah thesis gue. Yep but it’s already done now. Yay! Alhamdulillah
Well..I think enough for the pep. Let’s strike to the point. Sekitar seminggu yang lalu, gue lagi blog walking dan baca ini. In my case, pertanyaan yang sering orang-orang sekitar gue tanyain sejak gue memutuskan ambil master dengan jurusan special needs adalah “apa tuh?” “ntar udah lulus kerjanya apa?” dan diikuti dengan “kok bahasa jepang nyasarnya kesana sih?” dan anak-anak pertanyaan lainnya. Sebenernya pertanyaan itu akan sangat mudah gue jawab kalo gue berkecimpung –cailah- di dunia per-SLB-an, karena cukup dengan jawab “jadi guru SLB”. Tapi pertanyaan itu akan jadi pertanyaan beranak dan nuntut jawaban yang panjang, karena jawaban gue bukan itu.
Jadi gini..sekitar akhir taun 2012 gue berkesempatan untuk nemenin belajar anak yang spesial di salah satu sekolah inklusif di bandung, tugas gue adalah nyederhanain materi dan menerjemahkannya jadi bahasa yang bisa lebih diterima sama murid gue ini. Gue yang gatau apa-apa tentang kids with special needs ini, akhirnya baca-baca lewat internet –all hail to penemu gugel- buat cari info. Then..cupid shoot his arrow right on my left chest, that time my mind whisper “i’ve made my choice”. Pop! Sejak pertengahan 2013 gue kuliah di special needs education programnya sekolah pascasarjana UPI dan ternyata gue disiksa selama 2 taun kemudian. Selama kuliah dan sampe saat ini, setiap ada yang nanya jurusan dan pekerjaan, setiap itu pula kebingungan ngejelasinnya secara singkat.
Alright then..for those who want to know –kalo ada- profesi gue sekarang adalah orthopaedagog di sekolah ini. Apa sih orthopaedagog? Well..sebenernya orthopaedagog adalah istilah lama yang sangat tidak familiar buat orang kebanyakan –termasuk gue-. Tapi kalo gue jelasin disini apa itu orthopaedagog secara gramatikal dan harfiah bakalan bosenin banget, jadi singkatnya aja yah. Singkatnya sih orthopaedagog adalah guru khusus untuk anak-anak yang membutuhkan layanan pendidikan khusus di sekolah reguler.
Q: Terus kenapa namanya ga guru khusus aja gitu?
A: Ya gatau ya..apa alasannya di tempat kerja gue ini istilah orthopaedagog lebih dipake daripada guru pendidikan khusus. Nanti lah gue tanyain sama yang punya sekolahannya ya.
Q: Tugasnya ngapain?
A: tugas utama adalah treatment ortho, dimana gue harus memberikan treatment berupa stimulasi-stimulasi biar perkembangan akademik dan non-akademik optimal. Misalnya buat anak yang ada kesulitan membaca atau istilah kerennya diseleksia, berarti tugas gue adalah identifikasi masalah anak, observe anaknya untuk kemudian nyusun kegiatan stimulasinya. Selain itu, gue juga rutin berkunjung ke setiap kelas dan observasi gimana kondisi anak, terus bersama ibu dan bapak gurunya cari solusi dari masalah yang dihadapi di kelasnya. dan tentunya pekerjaan-pekerjaan printilan lainnya.
Q: oh kaya psikolog?
A: mmm...errrr..beda sih, tapi kadang suka overlapping juga sih. Kalo di sekolah gue sih, psikolog dan orthopaedagog tergabung dalam Tim LSDC (Learning Support and development center) kami kerjasama nanganin anak dan ngelayanin konsultasi sama orangtua, yang jadi beda adalah ranahnya. Ortho lebih ke akademik, kalo psikolog jelas concern ke psikolgis anak-anaknya. Kalo gue jelasin lebih detail bakalan teknis dan gue yakin ga akan pada pingin tau.
Q: kenapa ga jadi guru SLB aja?
A: nah ini nih pertanyaan kojo yang biasanya gue jawab panjang banget. Jadi gini, sejak awal, ketertarikan gue sama special needs education lebih ke pendidikan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler, bukan di special school. Kenapa? Pertama, gue ga punya background dan skill yang mumpuni buat jadi guru di SLB. Temen-temen yang S1 nya dari pendidikan luar biasa masing-masing punya keahlian khusus buat nanganin anak-anak yang spesial. Ada yang ahli nanganin tuna netra, ada yang jago ngajarin sign language buat anak-anak tuna rungu, dan keahlian lain yang mereka dapetin dari hasil belajar waktu S1. Sementara gue, belajarnya aja lewat google, terus pengalaman gue yang berhubungan sama special education juga ga banyak. Meskipun pada akhirnya harus bisa, tapi untuk saat ini gue merasa sekolah inklusif adalah tempat yang paling cocok buat gue untuk terus belajar.
Q:ooh..jadi bahasa jepangnya ga kepake ya?
A: ya sekarang sih jarang dipake..tapi kemampuan bahasa jepang gue yang pas-pasan banget sangat membantu pas ikutan short course di kitakyushu. Anggap aja lah gue perlu les bahasa jepang selama 4 taun buat ngobrol sehari-hari dan ngobrol sama nini-nini aki-aki selama gue disana. Sama ada satu lagi, boardgame wordtrip yang merupakan produk skripsi gue jaman S1 sampe sekarang masih bisa gue pake untuk stimulasi anak-anak murid gue.
Jadi kurang lebih itu lah yang seharusnya gue jelasin sama orang-orang yang nanya pekerjaan gue dan apa yang melatarbelakangi gue untuk bekerja dibidang ini. Tapi kadang suka males jelasin, jadi jawabnya sekenanya aja. Lagian kan katanya “never explain yourself to others” –lah..terus ini apa-
After all..gue sangat bersyukur dengan pilihan yang gue ambil 3 taun yang lalu, my choice throw so much blessing at me. Banyak...banyaaaaak banget. Dari pengalaman ini gue belajar bahwa untuk setiap keputusan yang diambil kita harus selalu siap dengan konsekuensinya. Awal kuliah gue harus berhenti kerja dan kembali menerima beasiswa orang tua secara penuh, terus selama kuliah gue selalu khawatir, mau kerja apa sehabis lulus ini. Tapi alhamdulillah..Setaun terakhir ini pekerjaan gue sesuai sama yang gue cita-citain dari awal, bahkan Allah ngebukain pintu-pintu rezeki lain yang ga pernah gue sangka sebelumnya. Alhamdulillah
....but Allah is your protector, and He is the best of helpers....-Q.S 3:150
A Paid Hobby
I dont remember the exact time when i started to made art and craft gift, I love giving gift to other which is i made it by my self, for me there are personal touch and exclusive value in it. Then..when giving presents to other, I always giving it along with my handmade craft, it could be the greeting card, the minor gift, even the gift, but mostly is the greeting card. The greeting card could be a scrapbook, or just a card, or message in a bottle, or doodles, or anything. As time go by, this making a diy art & crafts project become a hobby, when I have a free time I always doing this project, even when crazy deadline chase me, I spare my time to do it, just to release the stress.
Then I think it would be fun if I make money from this hobby, from something I’d like to do, maybe it wouldn't be feel as a work. Even our lovely major said that “pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar”. Yap..couldn't agree more sir!
Then I discussed it with my partner, he is the one who had idea to make this hobby as a project. In a snap of the fingers, he becomes my number one supporter, with his enthusiasm, he supported me to developing this hobby to be a “paid hobby”. He helps me with digital designing, picking the colors and the materials, cutting the materials, hunting the materials and with his fussy mouth he encourage me to produce something nice. Well this is my first product open for sale. So far there are 2 products ordered and on the process. The idea of making money from hobby, for me is more than awesome. So..is it okay if i captioning this picture with an “open order” ;)
leave it there, dear..
You though about him, didn’t you?
You were thinking about that one guy you’re still in love with, weren’t you?
That one word just brought a thousand of memories and emotion above, isn’t that hard?
Why do you do this to yourself, can you tell me why?
Why are you hurting yourself so deeply by checking out his profile every minute of the day, by feeding back to time you were so happy?
Why are you making up a thousand situation in your head you know deep inside it never happened and will never happen. Tell me why?
Why can’t you just admit it that he’s gone, although literally he never gone because from beginning he never come and stays in your life. It’s just you making up scenarios and end up with hurting yourself.
You should let him go instead of creating your own little drama and blaming him for it.
You should stop. This isn’t easy, it’s never easy to let go, but you have to face it. Life’s goes anyway.
My dear..you can't start next chapter in your life if you keep re-reading the last one. Just leave it there and moving on.
An Abandonment Seashore.
On a sunny day we walking from one palm tree to another at the seashore, we take in the warm and salty smell of the sea. Our hands holding like an almost prayer, tight and firmly.
"I'm getting married..." he whisper, regretlessly
How on earth are you supposed to react to something like this coming from the person you've always loved like for ten years.
the longer paused, "so my best friend is getting married?"
I laugh, too late. Obviously.
...you know, you're the first person who broke my heart, for the rest of my life, you will always be the one who hurt me the most..Those eyes, Ah..I don't even have courage to see his face, i pulled my hand left his palm.
"I'm so happy for you. send my love to her. time to dinner, shall we?"
Then we walk back together to where we never came from, but half of me left at the seashore. Yes, An abandonment seashore.
#fiction
Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.
Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin - Tere Liye
Falling seven time, get up eight.
Everybody has fall down, it could be fall from tree, fall while riding bicycle, fall from their own bed, fall too hard till their pants tear with bleeding knee and bruised elbow. Some people get well in a blink of eyes, others took ages to recover. Fall, healed, fall again, healed again, and so on. Yes, it become a cycle. Then .. a few years later, even though the wound still remain and the moment clearly remembered, it doesn't bring the pain back. The wound is already okay now, it healed at it's finest. One thing should be remember, we can't change the memory, but for sure we can change the way we feel and make it as a lesson.
七転び八起き- Japanese proverb
when will be my time?
I’ve always love attending a wedding ceremony. Akad and upacara adat are my favourite part and of course the foods and beverages . For me, the moment when they’re made promises to God in front of all family and guests is the most sweetest thing. The groom and the bride look so happy. They’re walking on the isle, holding hands, smiling, staring to each other. They were so ready to start a family, a new life, a new journey, a beginning of wonderful life.
“when will be my time?”
That question always whispering while I’m attending a wedding ceremony. Yes..when will be my time? and how I’ll get mine?. Impulsively silly question comes out. Silly, because it’s just like a little girl who get jealous when her friend got a new barbiedoll, as simple as that. Furthermore, for now I’m not ready yet, both mentally and financially. And the most important thing, I haven’t met him.
I haven’t met the one to share my life with. I never asking for the perfect one, because I’m so far away from perfection. All I’m asking is the one who’s not as perfect as me, so we’ll make each other perfect in front of Him. I need the one who need me as his number one supporter, together we’ll bear and solving all problems ahead us. The one who sincerely accept all my flaws as I do to him in the first place. And the most important things is the one who sincerely love me for who I am.
No need to worry dear self, love always come in very unexpected way as usually did to you. Keep chin up :)
-------------------------------------------------------------------------------------------
I took the paragraph above from my daily journal. When i was wrote it, i haven’t met him. Yea...physically we meet everyday, when i wrote the paragraph, he’s just one of my...let me say a co-worker!! It’s funny how things change in a blink of an eye. My feeling for him constanly changing, day by day more than yesterday. Now my past stranger becoming my present lover, my future husband, and father of my future children. My pray has been granted. In syaa Allah.
calmly pastel by vikarestu featuring a leather backpack
a mint by vikarestu featuring a flower purse