Produsen mobil menyediakan ban cadangan untuk situasi just in case. Pengguna mobil, merasa harus punya sebagai backup plan jika ban pecah. Lebih baik punya tapi dipakai daripada perlu tapi tidak punya. Pada kebanyakan kasus, ini disebut contingency plan.
Banyak manusia yang mempunyai backup plan, jika rencana utama mereka ternyata tidak sesuai atau tidak sejalan dengan ekspektasi mereka. Dalam kebanyakan bidang (seperti ban pecah), itu merupakan langkah yang brilian. Namun jika dalam kasusnya hubungan, kata backup plan agak sedikit abu-abu.
Memiliki backup plan sepertinya mencegah untuk memiliki hubungan yang lebih dekat dan lebih intim dengan yang dijalankan sekarang atau masih dalam tahap pdkt-an. Well, dalam bahasa sederhananya, sudah siap untuk hal terburuk yang nantinya akan terjadi, semacam persiapan sabotase yang mereka siapkan untuk mereka sendiri.
Keberadaan backup plan sendiri difungsikan ketika mereka merasa dalam posisi ambivalen. Karena pada dasarnya dalam benak mereka yang paling dalam, mereka sudah percaya bahkan sudah memutuskan bahwa hubungan ini tidak berhasil dan akan berakhir. Namun jika satu kaki sudah berada diluar pintu, sudah semestinya mereka memiliki alasan tertentu kenapa tidak berinvestasi dalam hubungan itu.
Mereka menganggap bahwa masih banyak homo sapiens di luar sana yang kompatibel dengan mereka, namun apa benar jika semuanya serba sama akan menjamin kebahagiaan?. Sedikit perbedaan sepertinya lebih bisa mengisi keberadaan dan hubungan yang sehat.
Atas dasar ketidaknyamanan lagi atau kemungkinan akan di tolak yang lebih besar, mereka menggunakan opsi backup plan. Karna mereka merasa dia adalah not the one. Kalau dengar cerita dari salah satu teman, dia mengartikan “tidak nafsu dalam chatting” juga salah satu alasan kenapa harus ada backup plan. Mungkin bagi dia, itu adalah semacam sinyal agar mitigasi risiko ini segera dijalankan.
Yang namanya hubungan itu pasti dinamis, entah menjadi lebih kompleks atau menjadi lebih berbeda. Entah breadcrumbing, ghosting, atau bisa jadi benching, semacam trend baru yang menjamur. Menurut penelitian, jenis hubungan ini terdapat potensi adanya backup plan.
Tipikalnya, dalam berhubungan, satu pihak berkomitmen dan menginginkan hubungan jangka panjang, meanwhile yang lainnya sekedar time killing sementara menunggu yang lain. Kalau begitu ini adalah “bendera merah” yang memberi tahu bahwa dia tidak berniat untuk melanjutkan hubungan ini (lebih lanjut).
Kecenderungan untuk terus mencari pasangan baru sebagai backup plan dianggap prilaku “normal” diantara manusia ini. Backup plan sedikit lebih baik, seakan menyelamatkan harga diri mereka setelah pasca rejected oleh gebetan atau pasangan mereka. Jadi ada “hiburan” yang bisa bikin mereka lebih cepat melupakan rasa sedih akibat patah hati.
Lalu , backup plan itu wajib hukumnya?. Krusial untuk memahami makna dalam arti yang sebenarnya, serta mengindentifikasi dengan pasti. Bagaimana jika posisi mereka yang dijadikan sebagai backup plan?. Will they be happy with that?. Setiap manusia jelas tidak ingin menjadi “opsi”, lalu kenapa mereka menghadirkan produk backup plan?. Beda orang bisa jadi beda pendapat. Si A mengganggap perlu adanya backup plan, sementara Si B menolak akan keberadaannya. Yang jelas setiap orang tidak ingin diposisi itu. Bagaimana jika nanti tidak berhasil mendapatkan gebetan atau pasangan yang diinginkan?. Well, just man up and deal with it!. Naluri yang baik diperoleh dengan membuat kesalahan. Jika beruntung untuk selamat dari beberapa kesalahan, you’re gonna be fine.