So, Mom just gathered us. In the name of class, she started convey essence about Al-ahqaf: 15. Ayat about devotation to parents.
Salah satu hikmahnya yaitu, anak yang lahir dari tubuh Ibu sebenarnya adalah projek Allah untuk menciptakan manusia. Maka seorang anak adalah milik Allah, yang Allah tugaskan Ibu menjadi seorang agen untuk melaksanakan tugas ini. Karena itu, berbakti kepada orang tua bukan untuk orang tuanya, tapi karena Allah perintahkan anak untuk berbakti kepada orang tua, eksplisit dikatakan di ayat tersebut. Kenapa Allah perintahkan? Karena anak yang berbakti merupakan hadiah dari Allah untuk agen yang sudah Allah titipkan tugas.
Maka Mamah bilang, ketika anak menghabiskan waktu luangnya untuk main game, nonton, maka dia tidak menjalankan perintah Allah. Yang rugi bukan orang tua, tapi anak itu. Karena yang tidak menjalankan tugasnya ya si anak itu, tugas orang tua (di ayat menjelaskan tentang ibu) adalah dari mengandung, menyusui sampai menyapih anaknya, cukup sebaik mungkin melakukan itu.
Jujur, yang aku rasakan saat Mamah menyampaikan itu, mulai masuk ke bagian akhir, dimana mengatakan bahwa kerugian anak lah untuk mengabaikan orang tua, namun menggunakan contoh-contoh yang kita anak" nya lakukan.. aku merasa geli. Ada rasa merinding karena jijik berdesir, rasa yang aku rasakan kalau sedang ada teman yang mengeluh.
Apakah aku merasa Mamah berkata ini karena Mamah sedang ingin mengeluh? Hanya ingin merengek? Sepertinya memang begitu. Antena radio ku mengartikan kelas Mamah hari ini sebagai sesi Mamah mengeluh, ingin protes karena anak-anak yang ngga bantu apa-apa, terutama tentang keluarga Fakhri yang akan datang besok, hanya membiarkan ibunya pusing sendiri mikirin rumah belum di beresin, makanan belum di siapin, dan lain sebagainya.
Mamah cuman pengen marah-marah ngeluarin kekesalan Mamah yang lagi bingung dan frustasi.
Mungkin egoku masih tinggi, mungkin akhlak ku belum sempurna, tapi menyadari semua itu yang aku rasakan hanya dua, geli dan.. kesal. Kenapa Mamah ngga menyampaikan kerisauan Mamah? Kalau memang bingung, ya udah ajak anak-anaknya brainstorming. Ini kan bukan pertama kalinya kita ada acara besar. Apa Mamah ga ngerasa kalau Mamah yang terlalu musingin sampai Mamah jadi marah ke kita, ngebuat kalau acara ini itu adalah kesalahan, malah buat Mamah pusing dan marah-marah. Kenapa Mamah nyalahin kita untuk peka? Kenapa Mamah mengeluh tapi berlindung di balik ayat? Aku geli. Bulu kuduk aku berdiri saking gelinya.
Mamah pakai contoh ustadz Abdul Somad. Beliau bilang berapapun hartanya beliau saat itu akan ia berikan berapapun kalau Mamaknya pinta. Mamah bilang, itu menunjukan dalamnya ilmu agama seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia memperlakukan ibunya. Apakah Mamah bermaksud bilang kalau ilmu agama ku begitu rendah? Maksudku, aku saja masih sering malas kalau Mamah meminta tolong, kalau Mamah butuh sesuatu ga langsung dikerjakan, berarti aku salah kan? Aku berdosa, hina..
Kalau.. kalau bukan Mamah yang menyampaikan ini padaku, aku tidak akan merasa seburuk ini. Tapi Mamah sendiri lah yang menyampaikan nasehat ini, Mamah sendiri dengan lidah dan air matanya bilang kalau anak-anaknya sudah lupa dengan beliau, sibuk dengan urusannya masing-masing.
Maafin aku Mah.. maaf semaaf-maaf nya. Aku minta maaf. Maa Mah, maafkan aku. Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, masf, maaf, maaf, maaf, maff, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maafkan aku.. aku benar-benar minta maaf..
Jangan, jangan benci aku, jangan berikan aku nilai yang buruk, tolong maafkan aku karena masih belum menikmati mengobrol dengan mu, masih mengabdi padamu karena itu adalah perintah Allah dan kalau aku mengikutinya Allah akan sayang padaku. Maaf, karena aku belum sayang padamu..
Mungkin, terlepas dari aku yang memang geli dengan orang yang mengeluh, aku juga merasa bersalah. Bersalah karena belum ada rasa sayang di hatiku untukmu, bersalah karena hanya menganggap mu objek tes dari Allah untuk mengabdi sebanyak" nya biar dibalas hadiah besar oleh Allah, maaf karena aku belum melihatmu sebagai ibu, melihatmu sebagai sosok yang aku dekat secara hati. Maaf karena aku, melihatmu sebagai tugas, tapi belum berhasil melihatmu sebagai orang yang aku harus dekatkan hatiku denganmu.
Ya Allah, salah kah aku seperti itu? Haruskah aku menganggap nya ibu? Bukankah yang penting aku menjalankan tugas-Mu untuk mengikuti perintahnya, bersabar padanya, mendengarkannya, haruskah kucintai dia sebagai ibuku? Berikanlah petunjuk-Mu ya Allah....