Udah, Jangan Terlalu Romantisasi yang Nggak Perlu
Aku ingat seorang teman pernah bilang kalau dia menyesal memberi rutinitas pada hubungan silamnya yang indah dan singkat dengan seseorang. Karena sebelum diberi rutinitas, kisah itu punya keunggulan seperti debar hangat hanya dengan mengingatnya.
IMO, sebelum diberi rutinitas, sosok dan hubungan itu tidak sempat menunjukkan kebiasaan buruknya. Karena tidak sempat memiliki kenangan yang menunjukkan keburukannya, maka otak kita bebas mengisi sisanya dengan imajinasi kita. Imajinasi selalu lebih puitis daripada manusia asli. Rutinitas adalah ujian paling jujur bagi cinta, karena begitu diberi rutinitas, ia jadi berulang, ia berhenti jadi imajinasi dan mulai jadi kenyataan. Dan kenyataan, jarang puitis.
Hubungan singkat itu unggul bukan karena sakral. Dia unggul karena nggak sempat gagal. Udah itu aja.
Minimal sampai di sini kita sama-sama ngerti kenapa bisa berasa indah.
Keherananku yang lain, kok di tahun dua ribu dua lima/enam, tahun dengan semua literasi mental health, self-love, dan move on culture-nya, masih ada orang yang bilang "aku ingin merindukanmu seumur hidupku"? Padahal sosok yang dimaksud, kalau ditanyain durasi mampirnya, cuma sebentar saja.
Meski nggak tahu spesifiknya. Tapi kurasa itu karena mental health, self-love, move on culture itu cuma kosakata. Sementara yang hidup di dalam diri kebanyakan manusia tetap emosi jadul seperti keterikatan, kehilangan, dan ego yang ingin percaya bahwa pernah ada sesuatu yang begitu besar sampai pantas dirindukan selamanya.
Dan sebetulnya, mau di tahun berapa pun, selama manusia masih lebih nyaman memeluk makna daripada menghadapi kenyataan, kalimat semacam itu akan terus lahir.
Bodoh? Enggak. Cari sendiri deh istilahnya.
Yaudahlah. Kalian pilih sendiri. Mau hidup dengan cara pikir sejadul Aku akan merindukanmu selamanya (setia pada imajinasi) di era modern ini, atau Terima kasih sudah mampir. Aku lanjut hidup (cukup berani menghadapi kenyataan dan tumbuh).