On Our 6th Anniversary
ku ingin tak berjarak dengan kensunyian semarak
dan mengurai kegelapan dari Derai Derai Cemara
bahwa hidup tak melulu soal kekalahan yang tertunda
namun pula perihal bersamamu menjalani yang tak terduga
cherry valley forever
Monterey Bay Aquarium
occasionally subtle

祝日 / Permanent Vacation
trying on a metaphor

PR's Tumblrdome

roma★
YOU ARE THE REASON
todays bird
Keni

ellievsbear
noise dept.
Alisa U Zemlji Chuda
dirt enthusiast

Product Placement
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Stranger Things
Game of Thrones Daily
will byers stan first human second
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
seen from South Africa

seen from Iraq
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from Indonesia

seen from South Africa
@wehaveeverythinggreat
On Our 6th Anniversary
ku ingin tak berjarak dengan kensunyian semarak
dan mengurai kegelapan dari Derai Derai Cemara
bahwa hidup tak melulu soal kekalahan yang tertunda
namun pula perihal bersamamu menjalani yang tak terduga
you'll find grief tucked in the back of pocket of every youth
I wish grief was more like a steaming bowl of boiled potatoes, plain, something you can break apart easily with a few hard presses, and transform into mash, something even blander and easier to chew. But my grief is stubborn like cold rice, I wait for it to come in messy clumps and stray wet grains that stick on my fingers.
On our 5th Anniversary
I know I love you for a reason, Adinda.
When I see things you like and I have this urge to share what I see to you; when I can repeat the silly routines we have; when I learn another trivial thing and wanting you to immerse on it too. But most of all, when I know how I love to be alone but being with you is a life path that I’d eager to choose.
On my father's 71st birthday
Bapak, gimana kabar di atas sana?
adakah Tuhan itu rupanya bisa digambar,
dengan krayon, cat akrilik, atau pensil 2B?
Pak, adakah warga akhirat itu ramah
menjamu bapak dengan kopi susu sachet
dituang air panas sedikit
dikocek, lalu dituang air penuh
dan disajikan dengan sebungkus rokok
persis betul yang suka bapak lakukan?
Pokoknya bapak kudu dijamu, dong
harus full service tanpa terkecuali. Gitu. Titik
Pak, hari ini hari ulang tahunmu. Kalau saja bapak masih di sini, umur bapak sekarang 71 tahun. Sebuah pencapaian besar untuk perokok yang bisa berumur hingga kepala 7.
Bapak, sesekali datanglah ke mimpiku, di sana ada rumah lamamu yang cukup baru, saat itu kan dipenuhi tawa seluruh sanak keluargamu. Bapak tak lagi perlu menunggu Sabtu untuk bertemu, bapak pun bisa ceritakan apapun yang bapak mau. Jika saatnya tiba, bapak boleh cicipi hidangan sapi favoritmu dan kita bisa lebih sering menonton TV sembari mengutuki para politisi badut itu.
Sekali lagi, selamat ulang tahun Bapak. Sampai jumpa pada tulisan lainnya.
Al Fatihah
Jakarta, 12 Oktober 2024
On Our 4th Anniversary
If there’s a limit to love, I want to love you to the fullest, And I’m still trying every day. There’s no days in the past when I love you more than I love you today, But I want to be able to say this every day. Some people don’t understand what love is, Some people won’t understand what this is, But that’s okay, Because if there’s a limit to love, I want to love you to the fullest, And I’m still trying every day.
Bernadya - Terlintas (EP)
In the realm of contemporary pop, where bombast and bravado often reign supreme, Bernadya's latest EP 'Terlintas' emerges as a beacon of introspective subtlety. The mini-album, a concise collection of five tracks, navigates the complex terrains of heartbreak with a remarkable sense of serenity and depth.
Right from the outset, 'Terlintas' distinguishes itself with Bernadya’s approach to songwriting. Her lyrics in tracks called 'Terlintas' (like the title of her EP) resonate with a poignant simplicity, a rarity in an era of lyrical overindulgence. She writes:
'Terlintas di kepala / Menjelang lelap yang panjang / Akankah semua yang bernyawa / Berpisah dan saling melupa.../
It's this very economy of words, paired with her understated vocal delivery, that lends the EP its emotive power. The closing track, 'Satu Bulan', extends this narrative, weaving queries of loss and longing with a haunting, minimalist melody.
Production wise, Rendy Pandugo and Lafa Pratomo bring a nuanced touch to one of the tracks, ensuring that the EP’s soundscape complements its lyrical intimacy. They steer clear of the flashy, big-production style that’s so typical in current female pop. It's a refreshing change, especially compared to what we've heard from more mature artists.
However, 'Terlintas' is not without its limitations. The brevity of the mini-album leaves the listener yearning for more, a testament to Bernadya’s captivating musical storytelling. Through just a handful of tracks, she establishes herself as a lyricist and vocalist of effortless charisma.
In conclusion, Bernadya's 'Terlintas' is not just a standout EP of 2023, but a refreshing antithesis to the often overwhelming drama of modern pop. It’s a testament to the power of restraint and the beauty of nuanced emotional expression in music.
On Becoming a Half Marathoner
Minggu kemarin saya baru saja lari sejauh 21.1km di event Maybank Marathon Bali. Sebuah pencapaian yang gak kebayang sama sekali, apalagi di awal tahun dimana kondisi badan yang lagi sportless-sportless nya. Sayang rasanya kalau pencapaian ini gak diabadikan dalam bentuk tulisan yang besok-besok kalau lagi butuh motivasi tinggal dibaca sambil merenung look how far I've come . Format tulisan akan disajikan dalam bentuk timeline dan mungkin ada sedikit takeaways karena purely ini berdasarkan pengalaman aja. So, let's start
Desember 2022
Awalnya saya ngelihat postingan dan instagram story yang di-share sama temen saya soal acara lari Semarang 10K. Saya mulai tertarik soal lari ini, mulailah tanya-tanya sambil googling hal-hal teknis seputar lari. Mantaplah saya untuk mulai olahraga lagi, kali ini saya memilih lari untuk jadi cabornya.
Key Takeaways:
Sebelum ini saya udah pernah nyoba lari, dari jaman apps-nya masih Endomondo tapi berantakan banget dan bosen setelah 4 bulanan. So running is not *that* new to me.
Hidayah emang kadang datang dari hal-hal yang gak diduga, make sure to remain vigilant at all times.
Punya temen yang udah nyebur duluan ini enak. Selain ilmunya udah lebih update, bisa dapet bonus diceburin juga.
Januari - Februari 2023
Saya mulai lari dari treadmill yang dibeli waktu awal pandemi yang akhirnya malah kepake setelah gak pandemi, talking about irony. Di bulan ini juga mulai bikin akun strava biar log-nya gampang dilihat.
Key Takeaways:
Running is easy, running the proper way is fookin hard.
Your first run might be painful, but it's good for you. Dari saya yang sesi lari pertamanya cuma kuat 20 menit yang selanjutnya malah gak bisa berhenti karena kebanjiran endorphins.
Tahap ini sih kayaknya belum mulai macem-macem ya, badan bisa gerak aja udah syukur yang penting rutin dan disiplin.
Maret - April 2023
Lari udah mulai lancar. Disiplin lagi oke-okenya. Konsep dan teori baru juga udah makin banyak yang dipelajari. Kalau kalian bisa sampai fase ini, just keep going.
Key Takeaways:
Badan mulai adaptasi. Mulai ngerti gunanya HR Zone, pemanasan sebelum mulai lari, dan tidur yang cukup.
Daftar race itu penting, karena apalah artinya latihan kalau gak bisa update medali di sosmed hua. Tapi ini serius, at least buat saya yang butuh motivasi eksternal tambahan. Daftar race dan buat target yang masuk akal. Saya sendiri akhirnya daftar Maybank Marathon karena dari awal emang udah ngincer event ini. Maybank Marathon bisa dibilang cukup prestis dan seru, jadi at least kalau kalian bisa finish di sini kemudian update ya lumayan wah lah. Alasan lainnya karena waktu itu timing pendaftaran dan promonya pas, saya dapet slotnya gratis lewat jalur buka tabungan di Maybank. Jadi kalian yang udah mulai jenuh latihan, daftar race solusinya.
Bikinlah target se-spesifik mungkin. Target waktu saya, finish 2:30 di HM. Nah setelah tahu targetnya, latihannya pun jadi mengikuti.
April - Mei 2023
Daftar race udah, saatnya update gear. Lima bulan dari mulai lari akhirnya upgrade mi-band jadi Garmin Forerunner 55. Hasilnya? Luar biasa, program training jadi lebih terkontrol dan ngebuka beberapa potensi yang sebelumnya gak kebaca.
Key Takeaways:
Kalau ada budgetnya, smartwatch upgrade is worth it. Selain monitoring, banyak fitur coaching dan routes yang never knew I needed.
Di bulan ini juga saya pertama kali lari di track dan menjajal menu latihan interval. Saya yang notabene masih lari di pace 7.30 - 8 tiba-tiba diajakin untuk lari interval bareng orang yang udah bisa pace 4. Inget banget itu latihannya abis buka puasa, fisik yang belum mumpuni ditambah side stitch bikin klenger akhirnya cuma kuat 2 set. Plusnya sih, setelah latihan interval jadi tahu ternyata badan kita bisa dipake buat lari sekenceng itu.
Mei - Juni 2023
Your body started to change. Dari yang awalnya gerak aja susah, sekarang bisa lari 10K without breaking a sweat *insert SantaiDulu GakSih.jpg*. Harusnya sih kalau punya target race finish di 5K atau 10K udah bisa gas.
Key Takeaways:
Badan udah di tahap jam 10 malam ngantuk, pas weekend kalau gak longrun kayak ada yang kurang.
Setelah riset, akhirnya memutuskan untuk beli sepatu buat race sekaligus bisa buat interval session. Pilihan jatuh kepada Asics Magic Speed 3. Harganya relatif lebih murah dibanding sepatu plat karbon lainnya. Desainnya juga bagus dan bobotnya ringan. Untuk review lebih lengkapnya bisa googling aja.
Pertama kali lari dengan jarak 18K di event Road to LPS Half Marathon. Rasanya dahsyat, karena belum pernah lari jarak segitu ditambah cuma bawa satu botol minum kecil. Alhasil kram di kilometer 17. Plusnya, abis long run ini makin enteng buat lari jarak 15k keatas.
Juli 2023
Latihan banyak yang bolong-bolong karena perkonseran duniawi yang bikin begadang berujung gak jadi long-run.
Agustus 2023
Sudah tidak sabar untuk ikut race. At this point, target finish udah mengecil jadi 2:15:00. Semakin optimis sehabis peak training terakhir
Race Day
KM 1 - 3
Rame banget, baru bisa in the zone running itu di kilometer ke 3 waktu jalanannya agak lowong dan banyak runner yang melambat karena tanjakan.
KM 4 - 12
It was so much fun. Jalanan yang steril, pemandangan yang bagus dan udara yang bersih memang bener-bener jadi poin plus dari event ini. Saya sendiri ngerasa lari lebih kenceng dari target pace saya.
KM 12 - 16
Tanjakan angker di MMB bukan sekedar mitos, mental dan teknik cadence bener-bener diuji di sini. Banyak runners yang kram dan harus minggir dulu. Untungnya saya dari awal lari emang gak pernah pake cadence yang terlalu lebar jadi bisa gas terus ~
KM 17 - 18
Kaki udah mulai capek, mental udah mulai diuji. Bahkan di kilometer 18 saya sampai berhenti bentar di waterstation nya buat ngumpulin nyawa sambil minum dengan betul
KM 19 - Finish
Panas, pegel dan napas yang mulai abis gak dipeduliin karena udah kebayang tinggal dikit lagi finish, jadi itu yang ngebikin ada tenaga tambahan buat lari terus sampai finish.
Why finish strong when you can finish fast, strong, and happy?
On Forgiveness (Eid Edition)
There was a time when forgiving others was a breeze. When we were young, we thought of mistakes as ordinary occurrences and believed that love was powerful enough to overcome any pain. But as we grew older, the world around us became more intricate and complex, and our wounds became deeper. Forgiveness began to feel like an elusive concept, and the language we used to talk about it started to fade away.
As we navigate through the world, we carry the weight of love, pain, hope, mistakes, and memories for 364 days of the year. But for one day, under the shimmering light of the full moon, we are called to forgive. We question how we can forgive those who have hurt us and ourselves for allowing it to happen. How can I forgive the way you trespassed me? How can I forgive myself for allowing life to unfold this way?
But forgiveness is a language that transcends words. It's a feeling that fills our hearts and lifts us up. In English, forgiveness comes from the Latin word perdonare, which means to give completely. In Aramaic, it means to untie. In Indonesian maaf is born out of the Arabic word mu’af, which means freedom. These words all point to the same thing: forgiveness is about freeing ourselves from the bonds of pain, anger, and resentment. A forgiveness that exists beyond language, that becomes a part of yourself.
Here is this week’s tender reminder: this year, and every year after, forgiveness will find you. This year, and every year after, we will find each other and say: Thank you for giving me freedom.
On Waymond Wang
Hari ini (Senin, 13/03/2023) seorang aktor bernama Ke Huy Quan mendapatkan piala Oscar pertamanya untuk kategori Best Supporting Actor dalam perannya sebagai Waymond Wang di film Everything Everywhere All At Once (selanjutnya akan disingkat EEAAO).
EEAAO memang sudah banyak menuai pujian dari penonton hingga kritikus kawakan. Maklum saja, film berbudget rendah ini memang mampu menghadirkan sesuatu yang remeh sekaligus intens dari segi tema, visual hingga pemilihan karakternya. Di luar kualitas akting dan ide cerita yang segar, dalam tulisan kali ini saya akan spesifik membahas tentang kehadiran karater Waymond Wang dan kenapa kemenangan-nya dalam Oscar patut dirayakan.
Hal pertama yang mindblowing dari karakter Waymond Wang adalah bagaimana dia bisa menjadi simbol maskulin sekaligus subversif dalam plot cerita. Ketika kita bertemu dengan Waymond, kita akan disuguhkan dengan karakter pria yang kekanak-kanakan, lembut dan naif. Bapak-bapak minderan yang sedang di ambang perceraian dengan istrinya, Evelyn. Sifat seperti ini sering diasosiasikan sebagai penggambaran karakter pria lemah dalam layar Hollywood. Sang sutradara memang berniat menjadikan Waymond sebagai karakter “beta male” yang bertransformasi menjadi protagonis utama. Sangatlah tidak lazim kita dengan transformasi karakter seperti itu. Kebanyakan plot protagonis utama adalah bagaimana seseorang dengan keterbatasan kemampuan kemudian menjelma menjadi kuat/agresif seiring konflik yang ada.
Yang membuat Waymond berbeda adalah bagaimana sang penulis membuat Waymond menjadi protagonis tanpa membuat arc di dalam transformasinya atau bahkan dia tidak bertransformasi sama sekali. Waymond tidak latihan keras seperti Rocky Balboa, disengat laba-laba radioaktif seperti Peter Parker atau mampu mendominasi sepert Marty McFly dengan Delorean-nya. Yang dilakukan Waymond adalah dia tetap menjadi karakternya dari awal hingga akhir film. Secara penulisan plot, hal tersebut sangatlah tidak mungkin. Bagaimana kita bisa menulis sebuah cerita dengan karakter yang tidak bertransformasi sepanjang film? Jawabannya adalah dengan menjadikan cerita di dalam penulisannya beradaptasi dengan Waymond yang “baru”, seperti apakah itu?
Sebelum membahas lebih jauh bagaimana itu terjadi, mari kita rekap bahas dulu bagaimana Hollywood kerap menggambarkan beta dan alpha male secara gamblang. Beta male atau laki-laki yang tersingkirkan digambarkan sebagai laki-laki lemah yang cenderung pengecut, pasif dan menghindari konflik. Ketika memasukan kritera beta male dalam relasi suami-istri, si beta male ini juga tidak jarang digambarkan sebagai figur komedi yang dijadikan bulan-bulanan.
Walaupun di pertengahan film kita disughi transformasi Waymond dari universe lainnya, dimana Waymond yang ini sangat bertipe alpha-male tapi kita tahu pada akhirnya EEAAO bukanlah film dengan arc yang biasa-bisa aja. Alih-alih mengubah Waymond menjadi alpha-male sepenuhnya, penonton malah diberi perspektif lain soal Waymond. Sepanjang film akhirnya kita sadar bahwa Waymond bukanlah lelaki pasif yang menghindari konflik, tapi dia justru menyelesaikan konflik dengan caranya. Apa yang berubah? Cara pandang penonton yang ditempatkan dalam PoV Evelyn membuat kita melihat Waymond dalam sosok yang baru.
Dari bagaimana dia membujuk petugas pajak, sampai dialog heartbreakingnya soal perceraian dengan Evelyn. Dia tahu apa yang dia mau dan melakukannya sepanjang film, hanya saja dia tidak melakukan dengan cara alpha-male pada umumnya.
Pesan Waymond soal “be kind” betul-betul termanifestasi dalam setiap adegan, dialog dan empati yang ditunjukan sepanjang film yang mana menuntun kita menuju Business Waymond. Tokoh Business Waymond ini berbicara kepada penonton seperti dia berbicara kepada Evelyn. Dalam third act ini pula kita mendapatkan kalimat gombalan memorable (sekaligus overused) tentang laundry dan tax.
Waymond adalah representasi anti-sinisme dimana dunianya penuh dengan keoptimisan dan harapan yang digambarkan dengan googly eyes dalam film. Ketika akhirnya Evelyn berhasil mengadopsi perspektif Waymond, tone film berubah 180 derajat. Dari yang tadinya standard film action dimana masalah akan selesai dengan kekerasan menjadi ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan konflik, kekerasan bukan salah satunya. Sehingga di akhir film kita bisa melihat bahwa bukan Waymond yang yang bertransformasi menjadi jagoan, tapi kita para penonton yang akhirnya mengerti sudut pandang dari seorang Waymond.
What results is a complete reconception of the modern male lead: Waymond, or any character, doesn’t have to be reduced to any one thing—just like white male leads never have to be limited to one specific characteristic. He can be anything and everything all at once.
On The Biggest Highlight of 2022
We all have goals that we say are important to us — getting a better job, studying abroad, writing a book, and so on — but for most of us, the inertia of life holds us back. This is especially true when we’re living a relatively comfortable life.
Dua tahunan ini saya memang casually looking for better opportunity. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Dalam perjalanan apply kerjaan baru ini saya lebih sering gagal, bahkan dalam tahap pertama teknikal test. All those failed tests started taking a toll on me. Walaupun tidak expect begitu tinggi, kegagalan tetaplah kegagalan. Apalagi kalau gagalnya di tahap-tahap awal perkara teknikal tes.
Berpuluh artikel, tips dan tutorial sudah saya baca dan praktekan to fight this impostor syndrome, but none of them are working. Ok, some of them maybe help me, but not much.
To be a better programmer is just to build something, anything that you passionate about. Or solve a real problem with your solution.
Kira-kira begitulah nasehat yang saya dapatkan dari berpuluh-puluh artikel tersebut, but still... what if I’m not that passionate about programming? What if I’m only coding just because it is... my job and it pays bill? Is there any chance for a programmer like me to develop the skills with this kind of mindset? Jawabannya, ternyata ada. Dari artikel ini https://dev.to/pungiish/programmers-who-only-code-at-work-bhp saya jadi tahu bahwa ada banyak programmer di luar sana yang menjadikan coding ya hanya sekedar skill dalam bekerja saja. Problem pertama sudah lumayan terjawab, lanjut ke problem kedua; bagaimana cara tetap relevan ketika menjadikan coding hanya sabagai alat?
Jujur, saya juga gak tahu jawaban dari pertanyaan tersebut sampai ketika bulan Maret 2022, saya dapat tawaran untuk mengajar basic programming di sebuah portal e-learning.
Diingat-ingat, salah satu hal yang saya sukai selain chronically online di internet adalah mansplaining teaching. Ya betul, sejak jaman sekolah hingga mahasiswa paling suka kalau ada assignment presentasi. Bahkan dulu pernah juga jadi asdos dan guru les bahasa Inggris. Walaupun kayaknya sepele, tapi ini beneran jadi awal trajectory yang mengubah hidup saya setahun kedepan.
Hari-hari selanjutnya disibukkan dengan saya yang belajar, bikin materi, revisi materi, bikin video tutorial, tapping, belajar, bikin materi lagi, revisi lagi on repeat. Ini semua saya lakukan karena saya bener-bener suka sok tahu ngasih penjelasan sebaik-baiknya, semacam ada tanggung jawab moral yang melekat untuk tugas yang ini. Ternyata hari-hari saya dalam menyusun materi berpengaruh lumayan besar juga ke diri saya. Hal-hal basic dalam programming yang tadinya saya cuma asal pake jadi saya mengerti sampe ke dalam-dalamnya.
Di fase ini juga saya masih casually looking for opportunity, tapi bedanya sekarang success rate nya udah lebih gede dibanding kemarin-kemarin. But still, belum menemukan job yang cocok entah dari segi salary atau work-life balancenya. Emang gak tau juga sebetulnya, maunya apa.
https://tenor.com/view/taylor-swift-t-swift-hi-its-gif-27009848
Kepercayaan diri memuncak ketika akhirnya saya bisa menembus salah satu dream job dari jaman kuliah. Sayangnya, timing tidak tepat. Saya harus menolaknya karena ada tawaran yang lebih baik.
At this point, kepercayaan diri saya mulai kembali. Kerjaan baru, pengetahuan programming yang lebih mature dan tantangan baru. Maka nikmat mana yang kamu dustakan? I got greedy at this point, having worked from singaporean startup makes me think that I can conquer startup on any given sunday.
Saya lagi-lagi mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan payment system di Jepang. Dua tahap sudah saya lewati, kurang tahap teknikal interview yang ada waiting list sampai dua minggu. Selama dua minggu ini kebetulan salah satu panutan frontend engineer saya di ADPList sedang idle, singkat cerita saya booked session dengan Mazipan. Saya bercerita soal keresahan karier saya. Mazipan pun memberikan beberapa wejangan yang menurut saya cukup oke untuk diterapkan. Begini kira-kira nasehatnya:
1. Mau se-stuck apapun dalam bidang pekerjaan, pasti ada hal yang sudah banyak improve dari kita. Mungkin kita-nya aja yang gak sadar.
2. Cari kerjaan yang bisa dapat salah satu dari dua hal berikut: skill atau uang, kalau dirasa gak dapet dua-duanya, saatnya cabut.
3. Mazipan juga cerita bagaimana dia kalau di teknikal tes gak selalu berhasil karena dia sendiri coding cuma yang dirasa dibutuhkan saja. Bayangkan Mazipan, dedengkot frontend aja masih bisa gagal dalam coding test maybe there’s really a hope for me.
Sekarang saya udah pindah lagi dari startup singapura ke salah startup singapura lagi, bedanya I feel so right to be here. So if there is any moral of the story for this post, probably this:
Reinventing yourself and developing a new skill is hard work. Going from out of shape to the best shape of your life is hard work. Moving from your comfort zone to best version of you is hard work. And so is pretty much every other goal worth fighting for.
And to further complicate things, reinventing yourself is particularly hard because nobody is going to praise you for it.
The good news is that the path to doing work you love might not look the way you expected, but it can still get you to where you want to go — if you make the choice to try something new.
It’s never too late to reinvent yourself.
On Our 3rd Anniversary
Dear Adinda,
Semoga telingaku cukup bagimu untuk mendengarkanmu saat kau sedang lelah dan marah pada dunia. Semoga pelukanku cukup bagimu untuk menghangatkanmu saat kau sedang menggigil. Karena aku tak punya apa-apa dan tak tahu apa-apa tentang jalan nasib dan sisa waktu kita di dunia. Semoga aku, dalam bagian umurmu, menjadi salah satu di antara penanda-penanda bahagiamu.
Selamat tiga tahun
Love,
Dandhi
On Falling Behind
You don’t need more motivation. You don’t need to be inspired to action. You don’t need to read any more lists and posts about how you’re not doing enough.
We act as if we can read enough articles and enough little motivation quotes and suddenly the little switch in our brain will put us into action. But, honestly, here’s the thing that nobody really talks about when it comes to success and motivation and willpower and goals and productivity and all those little buzzwords that have come into popularity: you are as you are until you’re not. You change when you want to change. You put your ideas into action in the timing that is best. That’s just how it happens.
You’re not a robot. You can’t just conjure up motivation when you don’t have it. Sometimes you’re going through something. Sometimes life has happened. Life! Remember life? Yeah, it teaches you things and sometimes makes you go the long way around for your biggest lessons. You don’t get to control everything. You can wake up at 5am every day until you’re tired and broken, but if the words or the painting or the ideas don’t want to come to fruition, they won’t. You can show up every day to your best intentions, but if it’s not the time, it’s just not the fucking time. You need to give yourself permission to be a human being.
You don’t get to game the system of your life. You just don’t. You don’t get to control every outcome and aspect as a way to never give in to the uncertainty and unpredictability of something that’s beyond what you understand. It’s the basis of presence: to show up as you are in this moment and let that be enough.
Yet, we don’t act in a way that supports this lifestyle. We fill every minute with productivity tools and read 30-point lists on how to better drive out natural, human impulse. We often forget that we are as we are until we’re not. We are the same until we’re changed. We can move that a bit further by putting into place healthy habits and to show up to our lives in a way that fosters growth, but we can’t game timing. Timing is the one thing that we often forget to surrender to.
There’s a magic beyond us that works in ways we can’t understand. We can’t game it. We can’t 10-point list it. We can’t control it. We have to just let it be, to take a step back for a moment, stop beating ourselves up into oblivion, and to let the cogs turn as they will. One day, this moment will make sense. Trust that.
Give yourself permission to trust that.
On Decentralize
Part 1 Code is not and cannot be law. We're bad at software. Our current system sucks but this new model is just going back to the worse system the incumbent replaced. You can't code infinite contingencies for unexpected events. This is where central authorities shine. If something is done in error, a trusted central authority should be able to undo the transaction. How do you mint a trusted central authority? No, replacing it with a trustless system doesn't work because trust is the key feature in conflict resolution. Trustless systems work for a whole lot of things just not the problems we're trying to solve with them.
The Bride: You'll find a bit lonely on my side.
Bill: Your side always was a bit lonely. But I wouldn't sit anywhere else.