"Maa syaa Allah Tabarakallah."
Ucapku beberapa menit lalu, setelah meletakkan E di atas kasurnya setelah sepuluh menit ku gendong dan ku ayun dengan sling carrier. Kemudian menatapnya wajah polosnya saat terlelap. Ah, sudah besar sekali anakku. Tidak terasa.
Usianya 5 tahun, tapi tumbuh kembangnya masih seperti anak usia 3 tahun.
3 tahun lalu, Ia didiagnosa memiliki spektrum autisme ringan. Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar, apa itu spektrum autisme, apa penyebabnya dan bagaimana ciri-cirinya. Aku hanya ingin membagi kisahku, perjalananku, perjuanganku, serta perasaanku dalam mengasuh anak dengan spektrum autisme.
3 tahun lalu, aku duduk di kursi konsultasi sebuah klinik tumbuh kembang, seorang professor di bidang tumbuh kembang anak duduk dihadapanku. E sudah hampir setahun menjalani terapi sensori integrasi di klinik ini. Karena dulu beliau bilang, E mengalami keterlambatan bicara akibat kurang stimulasi. Namun hari ini, setelah melakukan observasi pada E, raut mukanya berubah, "E sepertinya memiliki spektrum autisme ringan." Biidznillah, tidak ada ledakan hebat di dadaku, hanya letupan emosi minor saja, aku menghela nafas, kemudian aku merasa baik-baik saja, merasa bisa terima dan merasa ini semua akan mudah dihadapi.
Sebelumnya, bahkan sebelum E lahir, Allah seakan memberi petunjuk tanpa aku sadari. Aku beberapa kali tanpa sengaja mendengar podcast dengan pembicara seorang orang tua dengan anak autisma. Aku jadi tahu sedikit dan sekilas mengenai autisma, tapi yaaaa, memang hanya sedikit. Tapi mungkin itulah yang membuat ku tidak terlalu khawatir saat mendengar diagnosa dari prof saat itu. Qadarullah.
Waktu berlalu, usia E semakin bertambah, keinginannya sudah semakin banyak, namun kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasinya belum mumpuni, sehingga cara ia menyampaikan keinginannya adalah dengan tantrum. Selain itu, ia juga sering mengalami sensory overload, stimming, gangguan tidur dan banyak hal yang tidak pernah aku prediksi sebelumnya. Bak diterjang ombak besar ditengah lautan, aku seringkali, kewalahan, menyerah dan tenggelam dalam kebingungan, 'Apa yg harus ku perbuat?' Ternyata semua tak semudah yang ku bayangkan.
Tak hanya itu, aku seringkali merasa bersalah atas hal-hal kecil, seringkali frustrasi, seringkali tiba-tiba merasa sedih dalam waktu yang cukup lama, seringkali lepas kendali, rasanya badan juga lebih sering letih dan sakit. Ya, begitulah ternyata, aku belum benar-benar siap.
Aku bergabung dengan beberapa support group, tapi adanya grup itu malah membuatku merasa insecure, lebih banyak membanding-bandingkan perkembangan anak dibanding memberi support satu sama lain. Beberapa group bahkan sudah aku tinggalkan.
Untuk menjaga kesehatan mentalku, aku tak jarang berkonsultasi dengan ahli, berolahraga atau melakukan hobby. Alhamdulillah, suamiku juga selalu memberiku kesempatan untuk ku me time, berolahraga atau pergi sebentar dengan teman.
Bagaimanapun Allah ciptakan kondisi E dan menghadiahkannya untukku, aku sungguh bersyukur, kehadiran E membuatku lebih dekat dengan Rabb ku, membuatku selalu ingin memperbaiki diri, belajar lebih memahami dan berempati. Bukan hanya kehadiran E, tapi juga kehadiran N, anak keduaku, yang Allah hadirkan sebagai pelipur lara, sebagai pelengkap kebahagiaan.
Sampai saat ini, aku masih berdoa, masih berjuang, masih belajar untuk menerima kondisi up and down perkembangan E. Tentunya, semakin bertambah usianya, semakin banyak tantangan yang harus ku hadapi, selayaknya orang tua lain, dengan anak autisma maupun anak tipikal.
Semoga Allah senantiasa selalu membersamai ku❤️
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.