CUKUP
Sudah satu tahun ini siklus menstruasi saya acak adut sekali. Beberapa kali saya melewati bulan tanpa kedatangan si tamu merah. Terkadang juga dalam satu bulan tamu tersebut datang dua kali. Awalnya saya berusaha menghiraukan karena memang saya cenderung memiliki siklus yang tidak teratur. Tidak teratur di sini maksudnya adalah tidak standar 28 hari seperti yang selalu menjadi acuan dalam kesehatan reproduksi, atau berkala secara regular misalnya 30 atau 35 hari sekali.
Saya pernah mendengar cerita dari dua teman yang juga mengeluhkan kondisi yang sama. Mereka kemudian datang ke dokter kandungan dan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Salah satu teman bercerita bahwa ketika dokter ditanyai mengapa siklusnya tidak teratur, sang dokter hanya bisa menjawab dengan pernyataan klise seperti, “bisa karena capek atau stres”. Tolonglah, kalau seperti itu saja jawabannya, kami pun tidak perlu repot-repot datang ke dokter kandungan dan membayar biaya mahal untuk berkonsultasi atau mengikuti pemeriksaan ini-itu. Saya pernah mempertanyakannya kepada salah satu dokter di social media (@blogdokter), apakah ketidakteraturan siklus itu sesuatu yang harus diobati atau tidak. Jawabannya tidak. Meskipun memang pendapat blogdokter tidak benar-benar dapat dijadikan rujukan mengingat sepertinya beliau adalah seorang dokter umum, yang bukan memiliki keahlian di bidang obstetri dan ginekologi.
Suatu ketika, saat sedang mampir ke blog seputar kehamilan, saya tidak sengaja menemukan artikel mengenai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). PCOS adalah sebuah kondisi dimana sel telur tidak dapat matang sempurna secara normal. Beberapa tanda PCOS adalah ketidakteraturan siklus menstruasi, keguguran berulang, jerawat, tumbuhnya rambut di wilayah tertentu, depresi, dan kelebihan berat badan terutama di daerah pinggang (disertai kesulitan untuk menurunkannya). Artikel-artikel yang saya baca (di sini, di sini, dan di sini) menyatakan bahwa PCO adalah kondisi yang belum diketahui pasti penyebabnya dan belum ditemukan pula obatnya. Meskipun demikian, penyebab yang dapat diidentifikasi sejauh ini adalah karena tubuh mengalami resisten insulin. Oleh karena itu, komplikasi yang ditimbulkannya kemudian cukup membuat saya was-was, seperti diabetes tipe 2, masalah kardiovaskular, maupun kanker serviks. Berbekal pengetahuan itu, saya akhirnya memutuskan untuk mengunjungi dokter kandungan terdekat dari kantor.
Saya datang ke sana ketika hari pertama menstruasi dan diminta melakukan USG transvaginal untuk melihat kondisi rahim dan ovarium. Rahim saya normal (seperti dinyatakan oleh dokter obgyn lainnya) tetapi sel telur saya kecil-kecil dan banyak. Dokter dengan yakinnya menyatakan saya terkena PCOS. Saya kemudian meminta rekomendasi tes lab untuk memastikan apakah memang terkonfirmasi memiliki PCOS. Awalnya dokter berkata bahwa saya tidak perlu sampai melakukan tes lab karena hari gambar USG saja sudah terlihat tetapi saya bersikukuh untuk meminta rekomendasi. Rincian biaya tes hormon sex di Prodia adalah sebagai berikut.
Untuk tes-tes hormon, Prodia menyarankan agar pasien melakukan pengambilan darah sebelum pukul 10 pagi. Dalam keadaan mesntruasi atau tidak pun tidak masalah. Saya melakukan tes pada saat hari kedua belas (tidak sedang menstruasi). Mengatahui hari pengambilan sampel menjadi penting untuk membaca hasil tes. Pagi sampel darah diambil, besok sorenya hasil lab sudah bisa diminta. Ternyata, tes lab saya seluruhnya menunjukkan hasil yang normal, bahkan untuk glukosa sewaktu mengingat saya memang punya bakat diabetes dari keluarga besar. Ketika menerima hasil itu, setengah dari diri saya merasa lega, setengahnya lagi bertanya-tanya. Seakan ingin berteriak, “Lalu apa yang salah selama ini? Jadi bukan PCOS?”
Baru kemarin lusa saya sempat bertemu dokter lagi. Di kunjungan pertama, dokter memang meminta saya datang lagi pada hari kedua siklus. Sama seperti sebelumnya, saya pun diminta melakukan USG transvaginal. Kali ini beliau langsung mengecek ovarium kanan dan kiri saya. Dokter menyatakan jumlah telur saya cukup normal (10 di kanan, 7 di kiri). Beliau juga sebenarnya meminta saya meminum ovacare dan profertil. Waktu itu sengaja obatnya tidak saya tebus karena memang belum program hamil. Namun dokter berkata bahwa obat-obat tersebut untuk membuat siklus saya lancar karena berisi hormon progesteron dan esterogen. Kalau memang benar demikian, saya semakin tidak mau minum obat karena untuk apa menggantungkan diri pada obat-obatan hanya untuk mendapatkan siklus yang teratur padahal keteraturan siklus itu hanya “bermanfaat” ketika ingin memiliki anak.
Dalam sesi konsultasi, dokter menjelaskan bahwa saya harus datang lagi di hari kelima, delapan, sepuluh, dan dua belas untuk memantau perkembangan sel telur, apakah ovum saya akan matang sebagai mana mestinya. Dokter berkata bahwa normalnya, sel telur akan mencapai ukuran optimum dan matang pada hari kedua belas, dengan diameter sekitar 20 mm. Saya yang kebetulan akan cuti minggu depan terpaksa melewatkan jadwal kunjungan berikutnya, mengingat akhir bulan juga akan mulai pindah ke Pangkalpinang. Setelah beberapa saat berdiskusi, saya menyetahui bahwa pada awal-awal siklus, memang ukuran sel telur relatif kecil dan akan membesar seiring berjalannya waktu. Dari sana saya mempertanyakan tiga hal:
Pada kunjungan pertama, saya datang di hari pertama siklus dan dokter langsung menghakimi bahwa ukuran telur kecil. Kunjungan kedua datang pada hari ketiga dan masih kecil kemudian beliau berkata bahwa pada awal siklus memang ukuran ovum relatif kecil. Jadi sebenarnya saya tidak terkena PCOS? Bagaimana dengan diagnosis sebelumnya?
Pada kunjungan pertama, dokter penyatakan saya terkena PCOS tetapi hasl tes lab saya menunjukkan kondisi yang normal. Jadi penyebab ketidakteraturan siklus dan keguguran berulang kemarin itu apa?
Dokter menyebutkan bahawa normalnya sel telur akan matang pada hari kedua belas siklus atau dua minggu setelah mens hari pertama. Saya tahu bahwa normal di sini apabila siklus menstruasi terjadi setiap 28 hari. Lalu bagaimana dengan saya yang siklusnya bisa 20 harian, 30 harian, atau bahkan 60 harian sekali? Maka datang di hari kedua belas pun percuma Karena bisa saja saat itu memang sel telur saya belum saatnya matang. Bisa saja dokter kemudian seenaknya mendiagnosis saya terkena PCOS karena sel telur saya terlihat kecil saat diperiksa. Setahu saya, luteal phase, atau masa-masa ovulasi, terjadi justru dua minggu sebelum menstruasi.
Dokter juga sempat menyebutkan tes sperma kemarin. Saya berkata bahwa kami belum pernah melakukan tes kesuburan apapun karena dokter-dokter kandungan sebelumnya menyatakan tidak perlu mengingat saya pernah hamil dua kali. Beliau lalu berkata bahwa kondisi sperma sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh pula, artinya ketika kondisi suami tidak fit maka kualitas sperma pun bisa turun. Hal ini membuat saya berpikir kembali, misalnya suami saat ini melakukan tes sperma dan dinyatakan bagus lalu karena tekanan pekerjaan atau apalah ketika kami akan program hamil lalu kualitas spermanya turun, siapa yang akan tahu kalau kami tidak melakukan pemeriksaan follow up?
Kunjungan ke dokter kali ini benar-benar memberikan banyak pengalaman pada saya. Pertama, sebagai pasien jangan terlalu mudah percaya dengan semua perkataan dokter karena kita punya hak untuk mencari tahu lebih dalam, kita punya hak untuk diberi penjelasan. Oleh karena itu, ada baiknya mencari informasi awal terlebih dahulu sebelum datang ke dokter (apapun). Kedua, sebagai pasien kita juga memiliki hak untuk tau jenis dan cara kerja dari obat yang diresepkan. Kalau ternyata memang tidak sesuai ya bisa menolak untuk menebus. Ketiga, bahwa sebenarnya dokter kandungan pun tidak punya jawaban pasti atas hal-hal yang terjadi pada organ reproduksi manusia meskipun seumur hidup mereka belajar di bidang itu.
Pada akhirnya, setelah dua tahun berselang dari kisah kegagalan pertama memiliki anak, saya sampai pada kesimpulan bahwa momongan itu benar-benar adalah urusan Tuhan, bahwa memiliki keturunan adalah hak prerogatif Yang Maha Kuasa, yang tidak perlu dipertanyakan lagi kapan dan bagaimana akan diberi-Nya. Untuk bisa sampai di titik ini, tak terhitung banyaknya biaya yang telah saya keluarkan untuk mondar-mandir ke dokter kandungan, untuk melakukan bermacam-macam tes, untuk membeli buku, dan tak terkira pula banyaknya artikel kesehatan yang saya baca untuk sekedar menjawab pertanyaan “mengapa”. Saya putus asa dengan ketidaktahuan manusia, pun lelah karena terus menyalahkan diri sendiri dan merasa bersalah. Kali ini, saya putuskan berhenti dan tidak akan ke dokter kandungan lagi kecuali untuk kontrol kehamilan dan kelahiran.
Kalau sampai kemarin saya masih belum ikhlas menerima keadaan ini, semoga setelah tulisan ini terbit saya sudah mulai bisa merelakan semuanya. Bahwa segala sesuatu telah direncanakan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya. Bahwa saya hanya perlu bersabar sambil terus menerus berusaha tanpa perlu banyak bertanya.











