Pelan-pelan aku seakan terhempas dari lingkaran kawan-kawanku, dan nyatanya memang banyak hal yang selama ini aku hanya 'bertahan'. Seperti gaya hidup misalnya.
Tak hendak menyalahkan kehidupan lepas pernikahan, yang ternyata justru membawaku kembali pada gayaku yang sesungguhnya. Aku yang mungkin pernah demikian boros, sekarang dilatih untuk lebih hemat, bukan pelit. Aku yang dulu bisa melakukan berbagai hal sesuka hatiku, kini banyak sekali tanggung jawab yang perlu aku jaga dan pelihara sebelum kemudian melaksanakan apa yang kuinginkan -bukan kubutuhkan-.
Pelan-pelan aku memang seperti hidup dalam tempurung, berusaha menjaganya sedemikian rupa agar ia tak lepas dan hilang, macam rumah si ulat yang setelah selesai menjalankan fungsinya, akan terbuang. Aku sekarang ibarat seekor kura-kura, yang bagaimanapun harus 'membawa' rumahku kapanpun dan dimanapun juga.
Apakah aku marah? Apakah aku kesal? Apakah aku kecewa? Mungkin di awal ini ada rasa-rasa yang demikian, tapi aku tahu ini adalah prosesku menyesuaikan diri. Karena, bahkan saat aku menjadi kura-kura, aku pun masih mampu melakukan berbagai hal baru lagi menantang, hal baru yang aku pun menyukainya. Yang jelas, aku tidak sedang terpenjara.
Aku mungkin tak seperti ulat yang 'bebas' lepas menjadi kupu-kupu, tapi meski begitu aku bahagia. Atau, aku pasti menemukan kebahagiaan dan petualangan yang baru, hingga mungkin di depan aku menemukan kura-kura yang lainnya. Iya, kan?
Kehidupan lepas menikah sungguh tidak mudah, maka mengasah seni menikmati lagi mensyukuri adalah sebuah keharusan~
Selamat berjuang, wahai kita semuaaa; di atas berbagai jalan hidup yang sedang ditempuh. Apapun itu, semua membutuhkan proses yaaa :))))