Perlahan kau belajar makin banyak. Semua rapi tersusun, tidak ada kejutan, tidak ada hal di luar rutinitas. Bangun tidur pergi kerja, ada makanan di gerobak nasi uduk, atap di atas kepala, teman di sekitar, cinta di hati dan ada sesuatu yang mengawasi kelakuan. Hidup aman saja. Katanya, yang baik terbang ke surga dan yang jahat dilempar ke neraka.
Terus bertambah umur kau jadi banyak berfikir. Apakah jalan hidup yang kau pilih sudah benar? Apakah rencanamu akan berujung pelangi? Apa kau akan tetap waras menolak reklamasi atau pelan-pelan percaya teori konspirasi?
Rentang usia 20–25 adalah waktu dimana pilihan menjadi sulur dan belati yang merekat dan menikam. Kesalahan bergerak sedikit saja maka kau akan tertikam, namun tidak bergerak akan kelaparan.
“Hidup menjelang 25” terdengar sangat bisa diromantisasi. Rentang usia ini menjadi penting karena 30 terdengar seperti umur dimana kau telah usai menjalani transformasi menjadi lebih dewasa, stabil secara emosional dan cukup kaya untuk beranak satu kesebelasan bola. Padahal satu-satunya yang berubah adalah tambahan tuntutan hidup.
Bangun tidur dimulai dengan pilihan karir macam apa yang akan kau jalani. Mending bisa hanya sekedar memilih, seringkali karir impian malah menutup pintu menyisakan pilihan yang tidak direncanakan.
Kegagalan mencari kerja biasanya disebabkan masalah klasik. Perusahaan minta kandidat berpengalaman, sementara untuk berpengalaman butuh kerja. Life is impossible.
Sudah sekolah tinggi-tinggipun tidak menjamin. Inginnya sih berkarir dalam koridor yang sudah didesain sejak balita, namun apa daya. Keahlian yang diasah ternyata tidak menghasilkan uang. Mau wiraswastapun cari uang dimana? Mau membuka jasa analisis AMDAL, misalnya, membutuhkan alat yang sudah lebih mahal dari harga diri.
Apalagi kalau keahlianmu terlalu bagus diatas kertas namun tidak ada yang membutuhkan. Mau cari kerja dimana lulusan teknik propulsi roket?
Bekerja di posisi yang didambakan juga tidak menjamin kebahagiaan. Kau bisa saja bangga jadi saintis terisolir di garda terdepan ilmu pengetahuan untuk menemukan vaksin. Sayangnya saat wabah beginipun, masyarakat hanya mengapresiasi dokter. Bukannya itu salah, namun saintis sepertimu juga bertaruh nyawa menemukan obatnya kan? Pamrih sih tidak, hanya siapa yang tahan menjadi transparan dan hidup tanpa merasa berarti.
Belakangan kau banyak membaca tulisan yang mengajak bersyukur akibat keberadaan orang lain yang lebih susah. Bersyukurnya sih tidak masalah, tapi apa harus dengan menempatkan diri “di atas” orang lain?
Orang-orang yang sama kemudian memproklamirkan, “Semua orang punya timingnya masing-masing”
Hidup selalu berjalan baik untuk orang-orang itu ya, pada akhirnya? Mungkin semua orang punya timing, namun tidak sama baik. Ingat tukang nasi goreng di depan kampus? Kapan timing mereka untuk keluar dari kemiskinan? Saat orang-orang itu sempat berpikir untuk “kuliah ke Amerika”, masih banyak orang yang kapasitas otaknya hanya cukup untuk memproses “besok makan apa”. Bukan karena tidak berusaha mendaftar beasiswa agar bisa kuliah dan dapat pekerjaan layak, namun karena usaha terbaiknya tidak pernah cukup baik.
Semakin tua kau semakin sadar kalau bahan dasar hidup rupanya hoki. Kau merasa selalu ditempatkan pada sisi statistik yang salah. Kalau ada 0.1% kemungkinan berhasil, maka kau adalah 99.9%nya. Begitupun sebaliknya, kalau kemungkinan gagal hanya 1%, maka kaulah 1% itu. Kalau kemungkinan mati terkena corona cuma 2%, maka kaulah yang mati. Kau adalah bayangan yang tenggelam bersama keberuntungan yang selalu berpihak pada orang lain. Yang tidak melakukan apapun bisa mendapat apa yang telah kau kejar selama bertahun-tahun.
Semua makin sulit seiring dewasa. Memotivasi diri saja sulit. Apapun yang orang katakan tentang hidup memantul begitu saja. Padahal dulu mudah sekali memotivasi diri. Mungkin karena masih bodoh saja, masih percaya pada “semesta yang bekerja untukmu”.
Bagaimana mau termotivasi kalau hal terbaik yang kau lakukan tak pernah cukup baik. Semua identitas dan jati diri yang kau tanamkan mendadak buyar. Kau pikir kau bisa menulis? Coba tebak, bahkan pacarmu berpendapat itu jelek! Kau pikir kau pintar menyanyi? Kau pikir kau menang audisi? Oh tidak bisa. Bagaimana kalau skornya ternyata salah hitung!
Kau pikir kau tau dirimu, namun tidak juga. Orang yang kau lihat di cermin menjadi kabur. Siapa dia, apa yang dia lakukan, kenapa? Semua nilai yang diikat pada diri lepas. Bahkan anggapan naif seperti “aku orang baik”-pun luruh, karena merasa berbakti pada orang tuapun tidak.
Hidup itu begitu. Saat kau pikir hidupmu mulai membentuk sesuatu, semua mendadak hancur berantakan. Padahal kau hanya ingin sedikit kontrol atasnya. Paling tidak mendapat apa yang kau pantas dapatkan. Tapi hey siapa tau di tanah merah sana ada manusia tolol yang memakan binatang liar bervirus. Virus yang akhirnya menyebar dan membunuh rencanamu.
“Ini cuma hari yang buruk, bukan hidup yang buruk”, katanya.
Iya, lalu kenapa tiap pagi harus memohon agar hari ini tidak seburuk kemarin?
Pertanyaan yang tak ada ujungnya.
Pertanyaan yang yang tak ada jawabnya.
Pertanyaan yang muncul seiring hidup melaju tanpa bisa kau kendalikan.
Pertanyaan demi pertanyaan memusar dan mengumpul untuk mengerak di batang otak.
Menjadi ketakutan menjelma nadi. Ketakutan perempuan yang tidak bisa mengempu, atau lelaki yang tidak berdiri sama tinggi.
Kita ingin sekali membunuh pikiran. Bising sekali seperti ospek jurusan. Namun tidak bisa, kan? Kalau berhenti bertanya, mungkin hidup akan melaju ke arah yang akan disesali. Apalagi kalau tidak mampu mengambil keputusan akibat tidak yakin antara masih cinta, atau hanya tidak mau menjadi pihak yang meminta putus. Mungkin yang abadi bukanlah perubahan, namun kebingungan.
Biar bagaimanapun, hidup harus terus berjalan. Tidak masalah bagimu jika hanya bisa mengambang dari hari ke hari tanpa tujuan dan mimpi besar. Yang penting tidak mati.
Eits, standar hidup yang rendah bukan berarti kau bisa lepas dari masalah. Masalah apa lagi kalau bukan uang.
Menjelang 25 menjadi waktu dimana semua seharusnya sudah ada di posisinya, karena menjelang 30 nanti kau sudah harus mengumpulkan uang. Bertahan hidup itu mahal, lebih mahal lagi kalau kau punya mimpi besar, mau menyicil rumah, memelihara anjing dan punya gundik. Untuk menabung, kau harus punya banyak duit. Banyak duit berasal dari posisi karir yang sudah cukup atau jadi peliharaan sugar daddy. Mau yang manapun, kau tetap harus sudah menetapkan banyak aspek dalam hidup.
Sepertinya tanda seseorang sudah dewasa adalah saat dia sudah kesal mendengar, “Uang tidak dapat membeli kebahagiaan.”
Bawaannya ingin mendebat, “Uang bukan segalanya kepala buaya? kalau kamu tidak bahagia sini biar aku yang tunjukkan caranya.”
Mau uang banyak? Tentu usaha sampingan jawabannya. Ya itu kecuali kalau kerja menjadi konsultan yang tidur 3 kali seminggu.
Mulailah kau ikut seminar dan training bisnis yes sukses mantap return 5% dari nilai investasi/bulan. Disana kau bertemu banyak manusia super positif. Jenis manusia yang selalu menegasikan kemungkinan gagal, ketakutan dan emosi negatif dibanding mengelolanya secara realistis. Wajah mereka biasanya cerah seolah semua yang dilakukan dalam hidup selalu berhasil hingga punya banyak waktu kosong untuk berbicara di depan hadirin. Padahal kalau benar sukses, harusnya kan rahasianya disimpan sendiri (?) Lihat saja, apa ada yang membuat talk show resep ayam KFC?
Kalau ada pelajaran dari hidup, pasti untuk mencurigai orang-orang yang berpikir hidup itu selalu indah. Semacam orang yang sedang bicara di seminar bisnis ini. Seolah membuat bisnis bermodal dan berpengorbanan sedikit bisa tau-tau JEBRET jadi unicorn.
Untuk bertahan dalam hidup kejam ini, hal paling logis bagi makhluk sosial adalah dengan mencari koalisi. Orang-orang yang mungkin dapat menjadi tempat berbagi kelelahan. Sayangnya, temanmu mulai menghilang satu persatu, sibuk dengan urusannya masing-masing. Kau berusaha menjadi inisiator agar paling tidak dapat kumpul beberapa kali setahun, namun hanya mendapat respon yang dingin. Mereka bahkan tidak mau repot-repot menelefon menanyakan kabarmu. Kau berada dalam permainan gravitasi. Kalau terlalu dekat akan jatuh, kalau terlalu jauh akan kesepian. Persahabatan jadi makin langka dan berharga.
“Mungkin itulah keniscayaannya, teman akan pergi jua. Kita mungkin harus hidup berpasangan demi menghindari mati kesepian.”, pikirmu.
Tapi bukankah menerima cinta hanya karena takut kesepian sebenarnya menyedihkan?
Serba salah juga sebenarnya. Tidak mencintai akan membuatmu membusuk sendiri, sementara bersama hanya saling menyakiti. Kalau tidak ada yang mencintaimu, kau merasa tidak cukup baik untuk siapapun. Sebaliknya kalau menyakiti yang mencintaimu, kau merasa hina. Life is impossible.
Cinta itu sendiri, sebenarnya apa? Apa sebuah tipu daya alam agar sepasang mau mengikat diri satu sama lain dan meneruskan keberlangsungan spesies?
Kalau iya, kasihan anak yang lahir. Hidup ini sulit, mungkin lebih baik tidak usah lahir.
Tapi kalau kuamati, tidak ada anak-anak yang bertanya “kenapa aku dilahirkan?” Ada juga usia remaja dan seterusnya. Kalau begitu orang tua tidak perlu merasa bersalah lagi, karena usia remaja sudah mulai dibutakan mimpi dan cita-cita. Tidak mungkin mereka tiba-tiba bunuh diri.
Jadi, pertanyaan “kenapa mau punya anak?” Tidak harus ada jawabnya. Alasan apapun bisa jadi. Alasan berupa cuma ingin, tes kesuburan, redemption, salvation, investasi, insting ataupun kepo, semua jadi tidak salah maupun benar.
Asal jangan sampai berharap apapun saja pada anak nantinya, ya? Hidup seolah masih belum cukup mengecewakan sehingga masih harus menaruh harapan pada jiwa yang belum terlahir.
Kalau dipikir lagi, sebenarnya “quarter life crisis” ini mungkin adalah “middle life crisis”. Kau mungkin saja mati di umur 40 kan?
Ya, tetap krisis sih, bagaimanapun juga.
Ini adalah usia dimana dekat dengan kematian membuatmu lega. Kalau mati besok akhirnya kau bisa jadi dirimu sendiri. Mengerjakan apa yang kau suka tanpa peduli konsekuensi jangka panjang. Tidak ada tuntutan sosial, finansial, spiritual, emosional, sial.
Tapi ironisnya. Kau tau kalau mati sudah selalu dekat. Dia ada di ujung pisau yang sedang kau genggam. Tapi kau tak mau melakukannya. Kenapa?