Ternyata Benar Hidup Itu Perjalanan
Hari ini aku akhirnya berhasil bangkit dari kebingungan yang aku rasakan sebulan yang lalu.
Belakangan ini aku bekerja terlalu keras, sampai di satu titik, aku lupa siapa sebenarnya aku. Pribadi apa yang ingin aku bangun, mimpi apa yang ingin aku capai. Aku terus memikirkan pekerjaan, mengerjakan hal yang menjadi tuntutan orang lain. Bisa dibilang aku menjual pikiran dan energy ku, menjadi budak untuk mencari penghidupan.
Dan ketidaktauan aku lagi terhadap aku menjadi boomerang, karena setelah aku menyadari bahwa aku hampir kehilangan jati diri, aku menjadi tidak bernafsu mengerjakan pekerjaan lain. Aku menjadi berputar-putar di dalam diri dan pikiran ku sendiri mencari jawaban, segala pekerjaan pun menjadi pertanyaan. Tangan dan pikiran pun menjadi melambat.
Sampai akhirnya tadi pagi, setelah perenungan dan me time yang berlarut-larut, aku kembali mengingat siapa aku, apa mimpi ku, apa passion, apa yang aku inginkan dan apa alasan awalku ingin menjalani semua jerih payah dan kesusahan ini.
Dulu dengan naifnya aku mengira, jika aku tau siapa aku maka pengetahuan ku tersebut bisa selalu ada di dalam pikiran ku, dengan effort ku untuk terus membuat pribadi tersebut semakin kuat.
Tapi ternyata pengenalan diri tidak bekerja seperti itu.
Jati diri, cinta diri harus terus diingatkan.
Membangun diri benar-benar sungguh adalah perjalanan. Tidak bisa selesai dan tidak bisa hanya menjadi pajangan atau memori atau ingatan.
Percaya diri, kualitas diri, pikiran dan imej tentang diri adalah sesuatu hal yang harus terus di cek kembali, diingatkan, ditelaah dan dievaluasi kembali.

















