Untung saja, disini adalah tempat yang “lunak”, yah kalau tidak, ketika saya berkunjungkembali tentu tempat ini sudah berdebu, dan laba laba sudah mebuat koloni ala-ala koloni luar angkasa yang dicita-citakan manusia. Karena satu, dua, tiga hal baik, saya akhirnya memutuskan menulis lagi. Tentu tak lain tak bukan masih menulis untuk diri sendiri, dengan tokoh-tokoh di sekitar saya yang, maaf, kadang di-persona berlebihan sesuai subjektifitas penulis.
Awalnya ini masih tentang rasa syukur penulis, yang sekarang sudah bisa membekali diri sendiri, dan dari sekian banyak yang bisa disyukuri, mari mulai dari makanan. Iya makanan!
Kini penulis hampir bisa makan apa saja yang menjadi selera penulis, bersyukur ada lembaran lembaran di kantor untuk bayar patungan di kasir atau diserahkan ke abang-abang gojek, kadang kalap tanpa peduli nominal, kalap tanpa peduli tekanan darah… hahahaha nikmatnya dunia tekanan darah rendah, makan daging tiga kali sehari masih sanggup. Kalau dulu pasti kebatas mindset, “kalau saya makan ini, apa cukup yak sampai akhir bulan”, ujug-ujug berakhir di mi instan dengan varian rasa nusantara. Makanya sekarang sayang badan sayang diri, jadi pas badan minta makan apa, kasik! Kepala, dada, tangan, kaki, mereka udah usaha sampai sekarang. They deserve it!
Berlanjut tentang hobi, sebenarnya bukan hal yang menyehatkan. Tidak-tidak saya tidak berbicara tentang hobi riskan seperti mendaki, kemah, atau sekedar snorkeling. Bukan tentang hobi outdoor itu, tapi hobi mainan-mainan yang awalnya berupa remah, tapi kalau disusun apik, mendadak menjadi ganteng. Iya tentang hobi plastic modeling ini, hamper kalap beli ini, beli itu. Maklum dulu mesti potong anggaran ini itu, ngencangin sabuk celana biar bisa nabung buat beli kit impian. Dan sekarang, Terima Kasih Tuhan, selain bisa nambahin koleksi, bersyukur juga banyak kawan terdekat yang peduli, jadi banyak kit gundam hasil hibah, kawan yang memiliki sesama hobi tentunya. Mulai berlajar ngecat, dipinjemin set airbrush (karena gak mungkin punya alat ini di kosan, untuk alas an kerukunan antar umat perantau), dan teknik kelanjutan lainnya. Biar gak getol depan monitor doank sambil nyapa selamat pagi pak, selamat siang bu, selamat sore bu antriannya dipencet di samping piuntu masuk!
Lalu tentang hobi nyebrang pulau, karena udah punya bekal, tiket online, kalau kangen teman diujung pulang sana, tinggal bikin janji kumpul, luangkan waktu, ijin orang tua, yah, bisalah reuni kecil-kecilan kita. Mengingat kalian, kalian yang pernah kontak di hidup saya, saya sangat menghargai kalian! Ini tidak terlepas dari rasa syukur saya mendapat tugas pertama yang hanya tiga jam motoran dari rumah.
Dan yang terakhir, ketika mengalirkan kata-kata ini, saya sangat bersyukur bisa berkontribusi ke keluarga sekarang, meski tidak penuh, tapi selalu ada saya yang siap dihubungi kalau di rumah perlu apa apa. Buat belanja ibu, bekal adik kuliah dan sekolah, adik bisa ikut temannya study tour lah, adik bisa punya mesin peruncing pensil super unyu lah, atau sekedar bisa foto selfie hits karena memang yang satu ini lagi akil balik. Dan semoga proses memperbaiki rumah dilancarkan, supaya gundam gundam saya, eh salah salah, supaya bapak ibu kakek nenek adik adik punya tempat yang lebih layak buat berteduh dan beristirahat. Supaya semua selalu sehat biar bisa sama sama menikmatinya.
(yasagede, Batanghari-Denpasar)