Di suatu sore di samping tukang basgor

Love Begins
Cosimo Galluzzi
dirt enthusiast
Keni
Cosmic Funnies
he wasn't even looking at me and he found me
we're not kids anymore.

⁂
TVSTRANGERTHINGS
todays bird

Origami Around

oozey mess

pixel skylines
noise dept.

★
Show & Tell

tannertan36
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

祝日 / Permanent Vacation

No title available
seen from United States

seen from United States

seen from Venezuela

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Canada
@yayanbarcelona
Di suatu sore di samping tukang basgor
A leisure for the king
Finding a happines, but in this place a right to happy isn’t for a disability
Louder than words, a picture speaks everything
I’m reluctant to tell the story with words
Sedang memperbarui pertemanan.. – View on Path.
Ini foto terakhir Si Putih, tadi siang dia mati..
Tuhan memasukkan rasa takut ke dalam hati kita agar kita semakin bersandar kepadaNya
“Ketika seseorang memasuki suatu zona, kesadaran dirilah yang terpenting. Akan ke mana, kapan dan dengan siapa, dia harus tetap sadar dan bertindak sesuai dengan tujuan, visi dan misi dari zona tersebut.”-6
“Kita pergi untuk berjuang. Maka jangan biarkan lelahmu, kecewamu, dan sakitmu menyurutkan langkah juangmu.”-7
“Resapilah hafalan quran yang telah kalian miliki, jangan pernah berbangga dengan banyaknya dan cepatnya kalian dalam mengentaskan setoran, karena semakin banyak hafalan yang dimiliki, semakin berat pula amanah yang kalian emban.”-20
“Amanah terbesar bagi seorang penghafal alquran adalah mengamalkannya.”-11
Sedang kita sama-sama tahu, “Alquran dan kemaksiatan tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba.”-22
“Bukankah lebih baik terpaksa dalam kebaikan daripada terbiasa dalam keburukan?. Bukankah lebih nyaman hidup dengan ketaatan mematuhi aturan daripada melanggar demi nafsu semata?. Bukankah lebih bangga berbagi pengalaman mendapat penghargaan dibanding pengalaman lolos dari hukuman?. Memang, butuh proses sebab kepribadian yang matang hanya dilihat dari penyesuaian diri baik dalam hal orang maupun situasi.”-10
“Karena setitik yang rusak akan merusak seluruhnya. Tegakah kau menodai julukan ‘penghafal quran’ dengan nafsumu semata?”-21 . “Dek, hidup kita di dunia ini bebas. Bebas yang berbatas. Batas yang justru (tak pernah) mengekang. Hanya ingin melindungi dan menjaga kita dari seluruh keburukan. Menjadi baik (tak pernah) mudah bukan?”-2
Ada akhlak dan adab yang harus diperhatikan. “Orang fakir itu bukanlah ia yang kehilangan hartanya, namun ia yang kehilangan adabnya”-19
Dan termasuk adab; “Menghormati guru adalah kunci keberkahan ilmu.”-24
“Benar bahwa sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah, dan merupakan perhiasan yang baik bagi wanita shalihah adalah Rasa Malu dan Akhlaq Mulia.”-3
“Ingatkah engkau pada sabda Rasulullah, ‘Jika engkau tak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.’?”-23
“Saat akhlakmu baik, dapat dipastikan akalmu baik Saat akhlakmu buruk, tak dapat dipungkiri bahwa akalmu-pun buruk Akhlak itu cerminan akal, dan dari sanalah orang menilai diri kita.”-1
Dari RET, untuk semua, :)
Brexit, Si Pembawa Luka Part I
Kenapa kok judulnya seperti itu? “Brexit” adalah lakuran kata yg akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan. Untuk para pemudik yg baru saja pulang dari mudiknya, Brexit adalah nama pintu tol yg ada di Jawa Tengah. Sedangkan untuk para forex trader, Brexit adalah singkatan dari British Exit. Akan aku uraikan lebih lanjut istilah tersebut hingga dua part.
Disebut Tol Brexit oleh para pengguna jalan karena kebetulan momentumnya berdekatan dengan referendum di Britania Raya pada tanggal 23 Juni 2016 lalu, maka dipakailah istilah itu biar ikut mendunia sepertinya. Nama sebenarnya dari jalan tol ini adalah Tol Brebes Timur. Karena pintu keluarnya terletak di Kabupaten Brebes, jadi sangat cocok menyebutnya “Brexit” (Brebes Exit). Mudik tahun lalu, iring-iringan kendaraan terkonsentrasi di exit Pejagan (sekitar 15 km dari pusat kota). Untuk musim ini, agaknya para pemudik dapat “kado” dari Bapak Presiden dengan diresmikannya Tol Brexit sebagai perpanjangan dari tol Pejagan menuju arah Tegal maupun Semarang.
Pemudik yg datang dari arah tol Kanci Cirebon, ramai-ramai ingin mencoba melewati pintu tol yg baru dibuka ini. So, akibatnya berubah jadi horror karena tiba-tiba mereka harus rela “nginep” di jalan. Ternyata ada peristiwa “bottle-necking” yg menyebabkan kendaraan mandeg di pintu keluar tol. Bayangkan..!! Ketika mayoritas kendaraan dari tol Cikarang Utama yg mempunyai 32 gardu tol masuk ke tol Pejagan-Brebes Timur, dan keluar melalui pintu tol Brexit yg mempunyai 10 gardu tol. Dengan hanya 3 loket saja yg melayani pembayaran pada saat volume kendaraan sedang tinggi-tingginya, jelas ini menjadi bencana. Keadaan diperparah dengan ketidaksiapan sarana pendukung karena tidak tersedianya loket khusus untuk pembayaran E-Toll Card, semuanya jadi satu antara Tunai dan E-Payment (pembayaran elektronik). Tapi biarpun ada gerbang khusus buat E-Payment, mayoritas pemudik juga belum punya E-Toll Card ataupun E-Money. Untuk sekedar info, tol Brexit menggunakan sistem tertutup yaitu pengguna jalan mengambil tiket di gerbang tol masuk dan membayar di gerbang keluar. Bayar tol secara konvensional (tunai) inilah yg membuat antrian semakin panjang, walaupun mereka sudah mengusahakannya dengan uang pas. Sebenarnya sudah ada maksud dari pemerintah untuk memudahkan pembayaran bagi para pemudik yaitu dengan tiket terusan. Pemudik ambil tiket masuk di Cikarang Utama terus bayar di Palimanan dan bayar lagi di Brexit. Alih-alih mempermudah, tapi malah jadi menyengsarakan. Pemudik dari Jakarta merasa tol sangat lancar karena cepatnya pembayaran, sehingga sudah tertanam di benak mereka bahwa ini akan lancar sampai usai. Itulah sebabnya mereka “kepo” dengan tol baru ini. Di sini belum kelar bayar, ehh malah gelombang kendaraan dari arah Jakarta berdatangan dengan cepat. Akhirnya menumpuk di tol brexit bak kawanan domba yg sedang antri keluar kandang menuju alam bebas untuk digembalakan. Tapi manusia memang jauh berbeda dengan domba, mereka tidak nurut ketika digembalakan. Itu terbukti dari gagalnya rekayasa lalu lintas yg dilakukan oleh pak polisi.
Usulku kepada pemerintah, untuk menghindari kemacetan parah, lebih baik semua pintu tol di pulau Jawa digratiskan saja khusus selama momen mudik dan balik lebaran. Soal pemasukan untuk pendapatan negara, anggap saja itu sebagai “sodaqohnya” negara ke rakyat, toh bukan saban hari ini. Tahun depan semoga Pak Jokowi kasih instruksi yg isinya, “saya ga mau tahu, pokoknya semua tol di Jawa harus gratis” seperti yg dilakukannya pada saat kasih perintah ke menterinya supaya menurunkan harga daging sapi hingga di bawah 80 ribu sebelum lebaran. Meskipun tidak terwujud tapi minimal ada sedikit rasa memikirkan nasib rakyat yg tak sanggup makan daging. Keuntungan yg didapat negara ketika tol digratiskan adalah doa dari rakyatnya, semoga misi Pak Jokowi untuk membangun tol trans jawa bisa rampung sesuai target.
Kemudian setelah lolos dari pintu keluar tol Brexit, para pemudik disambut oleh pintu perlintasan kereta api yg akan tertutup setiap 20 menit sekali. Tampaknya perencanaan pembangunan Exit Toll ini sungguh-sungguh memperhitungkan apa yg akan membuat kendaraan tersendat. Setelah melewati pintu perlintasan kereta api, kendaraan pemudik harus terpaksa menunggu lagi. Untuk keluar ke jalur Pantura, sungguh tidak mudah karena di situ ada pasar Limbangan. Tidak ada pilihan lain, para pemudik harus melewati jalur Pantura menuju ke arah Tegal hingga perempatan Maya. Asal tahu saja, kondisi pantura pada siang hari akan sangat panas menyengat. Tak heran jika banyak orang yg dehidrasi ketika terjebak macet di sana. Mungkin saja dehidrasi itulah yg menyebabkan meninggalnya pemudik yg punya riwayat penyakit serius. Kemudian setelah sampai di perempatan Maya, barulah arus kepadatan kendaraan baik yg ke arah selatan maupun utara bisa terbagi. Tak seperti dulu ketika “exit-nya” di Pejagan, arus pemudik bisa langsung terbagi begitu keluar tol. Bagi pemudik yg punya tujuan ke arah Purwokerto-Yogya, dari exit Pejagan bisa ambil kanan melewati jalur alternatif ke arah Songgom. Sedangkan yg bertujuan ke Pemalang-Semarang bisa ambil kiri menuju jalur pantura. Oiya, aku dulu pernah punya pengalaman buruk di Pertigaan Pejagan. Mobil yg kunaiki terserempet tronton dan terbawa hingga beberapa meter.
Ketika aku masih SMP, hampir tiap hari aku melewati tempat yg dulu tak pernah terpikirkan olehku bakal jadi gerbang tol Brexit. Lokasinya hanya sejauh 3 km dari tempatku tinggal, hanya beda desa. Aku tinggal di Perumahan Kaligangsa Wetan sedangkan tol itu berada di Kaligangsa Kulon. Perumahan itu tepat berada di sebelah gapura perbatasan Brebes-Tegal. Untuk pergi ke sekolah, aku harus melewati jalur pantura. Jalan nasional ini tak pernah sepi oleh kendaraan besar, dan selalu macet di saat arus mudik. Perjalanan menuju sekolah memakan waktu lebih kurang 15 menit. Pergi pulang bonceng motor bapak, tapi terkadang jika bapak tak sempat jemput maka pulangnya naik becak langganan. Aku sekolah di SMPN 3 Brebes yg terletak di jalan Gajah Mada, itulah kenapa aku jadi suka pelajaran sejarah sampai sekarang.
Aku punya kesan tak terlupakan dengan tukang becak langgananku. Dia seorang yg terganggu pendengarannya, jadi aku harus mengeraskan suaraku tiap kali aku bicara dengan dia. Anak-anak lain menggunakan bus mikro ketika pulang sedangkan aku harus bersama si tukang becak “drifter” menyusuri pantura yg ramai itu. Di sana tak ada kendaraan yg berjalan lambat (kecuali pas macet), dari truk pengangkut ikan sampai becak semuanya “ngeblong”. Pernah beberapa kali hampir celaka karena saking ngebutnya dia hingga melupakan “batas teritori”. Becaknya yg unik itu sering melebar ke lajur kanan jalan. Sudah tentu banyak bus dan truk yg kasih dia klakson keras-keras. Tapi karena dasarnya dia budeg, ya cuek saja sambil terus mbalap. Keunikan becak di Brebes itu atapnya selalu dibuka dan setiap dikayuh bunyinya selalu ramai. Itu karena di bawah jok becak dipasangi “krencengan” yg terbuat dari seng.
Brebes adalah kota yg meninggalkan banyak kenangan buatku. Tak seperti buat para pemudik yg sekedar lewat di kota itu. Bagi mereka, Brebes membuat luka, luka penyesalan. Ketika mereka salah membuat keputusan maka akibatnya hanya penyesalan.
Jaga blumbang
Cik Cik, Deng Deng, Bith Bith dan Bul Bul.. Mereka bersodara
Dedeng is my sepupu.. Sepupu bahasa inggrise apa ya???
Smartpret di Cilacap ga 4G
I can't handle the hammock (at Pantai Sodong-Selok,adipala,cilacap)
Kepompong
Pantai Selok luput dari para pemudik, zzeeppii..
A True Heart
Baru beberapa jam saja kita berpisah, aku sudah tak sabar menantikan pertemuan dengamu lagi. Di dalam perasaanku seperti ada yg hilang ketika kamu pergi. Aku takut tak menjumpai keberadaanmu lagi. Betapa pentingnya kamu, bukan hanya di hatiku tapi di hidupku. Memang aku tak layak di hadapanmu, tapi aku berusaha untuk baik. Kamu juga yg selalu mengingatkanku akhir-akhir ini untuk terus berusaha semampuku agar menjadi baik. Tak pernah sedetikpun kulewatkan waktu agar bisa bersamamu…
Ahh tapi itu hanya bualan orang-orang yg berkasih mesra. Perkataanku tidak diiringi dengan perbuatan. Aku hanya sekedar ingin, tanpa ada perwujudan di gerak dan lakuku. Otak memberi perintah, tapi mulut tak mengeluarkan kata sesuai perintahnya, tangan tak melaksanakan gerak sesuai perintahnya, dan kaki tak digunakan melangkah menuju tempat yg didambakannya. Otak menangkap apa yg menjadi maksud dari harapan kamu tapi raga melaksanakan sesuka dirinya. Kemalasan mengikat hingga akhirnya hanya ada peyesalan karena tak mampu setia sepanjanjang waktu bersamamu. Hari ini disaat orang bergembira merayakan kemenangannya, aku sedih karena tanpa kamu kemenangan ini seakan-akan tak bisa bertahan lama.
Aku meminta maaf padamu karena surat-surat yg kuhapal tak mencapai jumlah banyak. Aku menyia-nyiakan waktu yg kauberi untuk urusan yg tidak penting sama sekali. Aku tak akan bisa menjawab jika kamu bertanya “dunia kamu lebih penting untukmu? Di mana wujud cinta kamu kepadaku?”. Jantungku berderu keras seolah-olah aku tak akan bertemu denganmu lagi. Iya, aku menggunakan kata “seolah-olah”, karena aku terus mengharap kamu selalu memberiku kesempatan untuk bertemu lagi denganmu.
Ramadan Ramadan, Ramadanu ya habib… Ramadan Ramadan Laytaka dawman qareeb