sekedar mengeluarkan sesuatu yang belum dikeluarkan, hanya sekedar. namun kita takan pernah tahu kapan "sekedar" yang kita kira "sampah" ini akan kita butuhkan
Mungkin bisa ku buka, namun aku tak pernah tidur saat malam
Tapi setelah kusadari, bukan Pagi yang kubutuhkan
Yang ku ingin Pagi, ternyata aku tak butuh Pagi
Untuk mendapat sejuknya Pagi, semangatnya Pagi untuk memulai hari, merdunya Pagi membangunkan kehidupan, rasa itu, tak perlu saat Pagi
Lalu telah kudapatkan rasa itu sejak lama, aku temukan seseorang, bukan Pagi, tanpa Pagi
Ternyata, dia yang ku butuhkan
Dan Pagi, mungkin dia tidak butuh orang sepertiku. Dia bahagia dengan orang yang membutuhkannya. Mungkin itu salah satu alasan buatku meninggalkan harapan Pagi. Bulan tanpa Pagi, itu seharusnya.
Terimakasih untukmu Pagi, telah kau beri tahu tentangmu yang ku kira keinginanku
Akan ku tutup cerita pagi ini. Terimakasih, teman.
Drama banget memang hari ini. Diawali dengan overthinking tengah malem, lalu nulis-nulis resolusi, nonton film drama keluarga overthinking lagi, nangis, piringan cakram rem belakang patah tengah malam, ditutup dengan pulang ujan-ujanan. Lengkap sudah drama hari ini.
Awalnya memang mau bikin rekaman audio monolog di jalan tengah malem sambil ngerokok, buat ngingetin aku di suatu hari nanti. Tapi malah berujung drama yang diakhiri; Yasudahlah.
Eh, btw udah lama ga nulis di sini. Udah banyak jaring laba-laba yah di sini. hehe Yah, aku lanjutin aja deh rekam monolognya di sini. Nih, surat buat kamu; aku di masa depan. Surat ini berupa cerita dan pertanyaan-pertanyaan yang belum aku mengerti, yang mungkin akan kamu jawab kelak nanti. Semoga jadi pelajaran, yah. Kita coba ceritain drama tentang aku, dia; aku di masa lalu dan kamu; aku di masa depan- Kita.
Keluarga, adalah hal sentimentil buat kita. Kita, anak tunggal dari keluarga sederhana di sebuah desa yang masih desa banget. Dia; aku remaja, yang memutuskan pergi merantau ke kota. Tega banget yah ninggalin orang tua.
Bapa kita, seorang laki-laki yang masa mudanya ya anak laki-laki pada umumnya. Aku gak tau banyak sih soal bapak, gak pernah cerita banyak tentang dirinya. Punya kakak yang menikah dengan orang beda agama, sebuah kesalahan menurut orang di sana. Yang saat ini menjadi drama yang melengkapi hidup kita juga, yah?
Bapa, saat ini udah jadi yatim-piatu, kakanya juga sama udah gak ada. Hanya tinggal seorang diri, yang ditemani istrinya; Mamah, dan aku; yang gak pernah lama lagi tinggal di rumah. Sensitif, mudah marah, kadang lebay juga kalau ngasih petuah buat anaknya. Replikanya adalah aku. Tapi, keren juga sih menurutku kalo dipikir-pikir. Kamu pasti tau gimana kerennya bapak. Salah satunya nekat, pintar, mau ngulik, agak melek teknologi juga sih buat orang tua yang hidup di desa.
Mamah, anak ke 3 dari 8 atau 9 yah? Tapi, tinggal bersama Ua-nya dari umur 3 tahun. Sensitif juga, prihatin banget, khawatiran banget apalagi sama anaknya, sayang banget sama suaminya dengan dalih “demi anak”, gengsi ngungkapin rasa. Tapi, gak ada yang lebih hangat dari pelukan mamah.
Mamah sedikit yah intro-nya, mungkin karena yang akan aku ceritain adalah hal yang banyak kaitannya sama bapa.
Aku, laki-laki 25 tahun yang masih so idealis, gak mau kerja di orang lain tapi pengen punya uang, so jadi seniman padahal skill seadanya, ya anak muda lah. Quarter-life (crisis?). Salah satu drama yang melengkapi hidup kita, bro! haha
Punya pacar mahasiswa tingkat akhir, yang menurutku sama keras kepalanya, sama-sama musisi (so banget musisi, ya aku?) yang punya pemikiran realistis, agak cuek, setia. Okey, dramanya kita mulai, yah.
Perempuan Paling Setia
Aku punya visi “serius” dengannya. Iseng coba ngomongin hal itu dengan harapan di-iya-kan. di-hayu-kan. Tapi ingat ga kamu apa jawabannya?;
“Udah nyiapin apa?”
Respon di kepalaku bercabang. Gak menerima apa adanya, dong? Aku nyusahin dia kali, yah? Apa semuanya harus dari aku? Zzz Xxsh Fskgm ???(~) ?
Nangis depan dia kayaknya udah biasa. Gak punya malu sih. Setelah ku pikir dengan jernih, aku salah. Dia adalah perempuan yang paling menyayangiku dengan caranya, yang paling setia sama aku dengan caranya, dan yang paling perhatian sama aku dengan caranya.
Realistis, penting buat kehidupan dia. Namun sebenarnya itu buat aku juga. Saat aku gak punya uang, aku yang selalu mengeluh, yang membuat mood bekerjaku hilang. Mungkin dia gak mau itu terjadi.
Aku dan dia bersatu, bukan hanya tentang aku dan dia. Tapi tentang keluarga aku dan keluarga dia. Apakah bisa aku dengan aku sekarang mengambil dia dari keluarganya? Dia gak mau keluarganya memandang aku sekilas mata saja. Karena orang lain gak akan peduli latar belakang kita.
Sejak itu, pikiranku terguncang. Gini, semenjak aku memutuskan untuk kuliah, aku gak pernah mikirin mau pake ijazahku. Dan memang mungkin terjadi, gak banyak yang butuh lulusan prodi yang ku tempuh. Lalu buat apa aset kesenian yang aku kumpulin dari dulu? Dan aku, gak pernah mempelajari hal lain selain dunia kreatif yang menjadi idealisme dan harapanku.
Dan sejak saat itu juga, aku mencoba menggunakan ijazah itu untuk mendapatkan uang. Dengan dalih hanya sebagai identitas status sosial kalo ditanya pekerjaan sebagai apa. Namun, ijazah itu susah banget buat dapetin jodohnya. Prodi langka.
2 kali sempat diterima kerja di perusahaan kecil, gak pernah betah. Gak tau kenapa aku gak pernah bisa nurut sama atasan saat itu. Aku gak pernah bertahan sampai satu bulan. Selalu mengeluh. Mungkin dia udah bosen banget dengerin keluhan aku. Untungnya dia anak psikologi, pendengar yang baik, gak ada hubungannya sih, yah.
Puncak dari per-drama-an ini, adalah 2 kesalahan besar yang aku perbuat. Pertama dari sisi hubungan aku dengan dia, ke dua dari sisi finansial. Ancur! Dampaknya, sampai saat ini. Dia sangat kecewa. Aku sangat menyesal. Aku hanya bisa memohon maaf dari dia. Tapi, untungnya, dia setia. Entah apa yang membuat dia mempertahankan aku yang kacau ini.
Ini membuat aku luluh, aku memutuskan untuk kerja di perusahaan kreatif yang masih kecil dan banyak drama juga. Pertama demi status sosial, kedua buat bayar utang-utangku gara-gara kesalahan besar tersebut. Sebenarnya, aku masih punya tabungan. Namun berupa aset yang aku sayangi. Aku gak akan pernah rela untuk menjual aset itu. Karena untuk menunjang idealisme dan harapan yang aku bangun.
Namun pertanyaan besar di kepalaku adalah; untuk apa semua aset ini, kalo pada akhirnya aku meninggalkan semua yang ku harapkan itu?
Kerjaan saat ini. Apa aku akan terus berada di sana? Apa cukup buat hidup? Prospek jenjang karir, gimana? Hmm. Namun pada akhirnya, daripada gak ada kerjaan sama sekali?
Aku mendambakan harapan-harapan yang aku hayali setiap malam. Namun langkah saat ini tidak menuju ke sana. Apakah aku akan sampai pada harapan itu?
Pertanyaan-pernyataan itu yang selalu muncul setiap hari. Aku belum menemukan jawaban. Mungkin, kamu bisa jawab?
Hmm. Syukur adalah obat terbaik untukku. Di tengah sepinya job, banyaknya utang, susahnya membeli kemewahan dan keinginan, aku masih bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhanku. Salah satunya kebutuhan cinta yang dia berikan untukku. Terimakasih mungkin gak akan pernah cukup untuk membalas kebaikannya.
Jika suatu saat dia membaca ini, aku harap tidak akan ada hal yang menurunkan gain cintanya buat aku. Aku tidak pernah menyalahkan dia untuk memberi batasan terhadapku, karena aku yang memintanya untuk membatasiku. Dari lubuk hati yang paling dalam, aku sangat sayang dia, maaf aku masih begini-begini aja, perempuan paling setia.
Drama ke dua mungkin kita lanjut di sesi berikutnya. Ini udah kepanjangan. ehehe. Terimakasih buat kamu; aku di masa depan yang udah mau baca surat dariku. Dan terimakasih juga buat dia; aku di masa lalu, yang mengantarkanku sampai titik ini.
Bonus foto rem cakram patah untuk melengkapi malam tadi. hehe
Dan juga lagu yang menjadi soundtrack drama ini https://www.youtube.com/watch?v=Usw2X1p-SKc
Setelah pagi menghabisi seluruh tubuhku dengan dinginnya, ada siang yang mulai memenuhi bumi. Cerah memang, namun panas-bagi yang tak biasa. Aku belum bisa terbiasa dengan hal-hal yang panas. Namun setelah itu ada sore, dimana ada senja yang menurut orang-orang itu indah, memang indah sih. Tapi senja datangnya hanya sebentar, karena malam selalu menghabisi senja dengan gelapnya, dingin juga. Aku selalu menempatkannya untuk mengingat apa yang telah aku lakukan di ribuan detik yang aku habiskan.
Hidup, aku selalu tertarik dengan topik ini. Selalu terbalik dengan lawan kata dari hidup, kadang aku menggigil membahasnya; mati, ngeri. Tapi dia selalu mengejar kita, kapanpun. Aku ingin mengalaminya ketika semua orang bisa mengingatku dan mengantarkanku ke tempat yang indah. Lalu namaku tetap hidup dan diingat oleh semua orang, tentunya dalam hal kebaikan.
Kematian adalah malam. Sebelum larut malam tiba, aku ingin malamku selalu tetap indah dengan datangnya bintang-bintang di malam itu, seindah kita melihat cucu kita menikah dengan pasangan yang ia cintai dan dia sangat cantik sekali, dia sangat bahagia, sebahagia kita saat menikah dulu. Atau hal-hal indah lain yang telah kita lakukan di ribuan detik yang kita habiskan pada saat pagi sampai sore.
Sebelum datang malam, ada senja yang sangat indah. Yaitu saat kita mendengar tangisan pertama darah daging kita, perjuangan perempuan yang paling kita cintai setelah ibu, ia mempertaruhkan nyawa demi anak kita. Mungkin ini bisa jadi hal yang paling indah dalam hidup.
Siang, selalu datang panas. Keringat bercucuran di seluruh tubuh kita. Susah, jika kita tak bersyukur. Siang adalah saat paling tepat untuk mengeluarkan seluruh keringat. Sial, jika kita menghabiskan masa muda hanya untuk diam. Saat siang kita harus kuat, karena saat pagi kita sudah sarapan dan mandi. Kita harus keluar dari rumah, meskipun di luar panas. Yakinlah, setelah siang selalu ada sore, dimana di sana ada senja yang indah.
Hal yang ku temukan dari perempuan yang melahirkan ayahku, hari dan hidup. 1 tahun yang lalu aku masih bisa melihatnya tersenyum. Dia masih bisa memanggilku dengan lantang saat aku di rumah.
Setelah sore akan ada malam. Namun kau akan tetap hidup dalam siangnya anak cucumu! Kami selalu mendo’akanmu.
Dalam malam selalu datang sadar. 1/3 gelap telah ku habiskan dengan mata yang belum menutup. Bukan karena ku ingin cepat-cepat bertemu siang. Ini karena aku sangat rindu malam, yang selalu mendatangkan sadar.
Aku tahu hal-hal yang tak mereka ketahui tentangku. Aku tahu mereka selalu melihat ku berbeda dari mayoritas. Dan aku tahu aku bukan orang yang selalu benar. Entah kenapa aku selalu berpandangan berbeda sisi dengan yang lain. Tapi aku sangat senang dengan itu. Aku tak punya kesamaan dengan mereka. Mungkin saja mereka hanya pengikut. Sedang aku di depan mereka, suatu saat nanti mereka akan sependapat denganku, aku berharap.
Ini rencana-Nya. Rencana yang tak pernah bisa kita tebak. Ada harapan yang selalu ku jaga sampai anak-cucuku nanti, aku ingin melampaui batas. Batas normal yang diciptakan mayoritas. Sampai menuju ruang sempit berjarak satu badanpun, aku ingin selalu tetap hidup dan melampaui batas.
Namun ini hanya sekedar rencana yang aku buat. Kalau Tuhan menghendaki, aku sangat senang. Dan aku percaya Tuhan pasti memberikannya, memberikan segala sesuatu yang terbaik.
Sempurna, dalam jiwanya terdapat kata yang menjadi pola kehidupan baginya. Dia adalah panutanku, panutan umat yang memeluk sebuah kepercayaan yang sama sepertiku, agama, Muslim. Katanya dia diutus untuk meluruskan kehidupan di bumi ini, aku percaya akan hal itu.
Aku memang tak bisa menyamai pola kehidupannya. Aku masih dapat tergoda oleh banyak bisikan yang membuatku goyah. Bahkan mungkin aku telah banyak melakukan kesalan, mungkin banyak yang tak ku sadari. Atau tak ku ketahui. Apakah ini kesalahan pula?
Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik, khususnya untuk diriku sendiri. Walaupun menurut sebagian orang ada yang menyatakan bahwa ini adalah kesalahan. Apakah ini egois?
Aku selalu berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang dinamakan cita-cita dengan caraku sendiri. Walaupun mungkin saat ini aku sedang menjalani proses mengejar cita-cita dengan jalan yang tak searah dengan cita-citaku ini. Tidak senyaman yang kupikirkan ternyata. Aku meminta maaf pada mulutku yang tak bersalah ini karena aku telah memakainya untuk berkeluh kesah.
Rasanya, ingin aku menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Lalu semesta menjawab dengan gema suara pantulan dari teriakanku ini. Cengeng memang.
Harapan yang selalu ku inginkan, banyak sekali. Usaha demi usaha selalu ku lakukan, walaupun mungkin banyak usahaku yang membuat harapan-harapanku pergi. Aku memang tak pandai berusaha dalam berharap, tapi aku selalu berusaha dalam memperbaikinya.
Aku selalu ber’doa kepada penciptaku, tolong sampaikan pada harapan-harapanku ini, agar dia, mereka, suatu saat nanti bisa ku genggang erat dan betah dalam pelukanku. Atau jika harapanku ini bukan untukku, aku ingin penciptaku menggantinya dengan harapan lain yang lebih pantas untukku. Tapi, apakah ini egois pula?
Intinya, aku ingin hidup bahagia, dengan siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Thank’s God untuk semuanya.
Malam menjadi pengingat
Dimana pikirku
Membicarakan tentangmu
Walaupun bintang di sebelahku
Dan fajar di sebelahmu
Aku selalu suka
Apapun tentang dirimu
Dan aku selalu berharap
Kita dapat membicarakan batu tua
Juga semut hitam diatasnya
Bahkan apapun yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kita
Di setiap malamku
Di atas kasur sebelum ku tidur
Selamanya
“Akhir-akhir ini kepalaku sedang tidak beres. Ada semut-semut yang menghalangi kelancaran aliran sungai dalam pikiranku. Bisa dibilang mereka mengganggu tempoku. Ada yang menekan menyuruhku lebih cepat berlari, ada juga yang melambat menyuruhku untuk berleha-leha. Ah, itu sangat membuatku bimbang. Tapi, sudahlah lebih baik aku nonton.”
Ritmika pergi ke kamarnya untuk membuka laptop sambil mengambil sebungkus rokok di tasnya. Akhir-akhir ini, ia baru saja mengubah statusnya menjadi perokok. Entah karena apa, ia memberanikan diri untuk merokok. Padahal sebelumnya ia paling anti terhadap yang namanya rokok.
Sore tadi, tepat setelah latihan keroncong selesai, Ritmika melihat Melodi terburu-buru untuk pulang.
“Semuanya aku pulang duluan yah.”
“Mau kemana sih, Mel? Buru-buru amat.”
“Mau ke aaa, mau ke ada deh.”
Sejak saat itu, Ritmika mengabarkan pada dunia melalui raut wajahnya bahwa dia sedang merasa tidak nyaman.
“Lo kenapa, Mik? Kayak ayam lagi penyakitan aja diem mulu.”
“Engga, cuma ngantuk aja.”
“Gadang mulu sih. Eh, btw si Melodi kayaknya cocok sama Lo tuh.”
“Dih, gak mungkin.”
“Kenapa ga Lo anterin pulang, Mik?”
“Ah dia mau kemana juga. Mau langsung jalan sama orang kali.”
“Serius Lo?”
Ritmika hanya menjawab pertanyaan Cello dengan gestur yang menggambarkan keraguan. Minggu lalu, Ritmika jalan bareng Melodi. Ketika dalam perjalanan, ia melihat dari jauh ke smartphone Melodi. Selintas ia melihat chat Melodi dengan salah seorang laki-laki. namanya Dim; Diminished.
“BULAN! Pelan-pelan bisa gak bawa motornya? Aku hampir jatoh!”
Saat itu pertama dan terakhir kali Pagi marah padaku. Kira-kira, sekitar 4 bulan aku dan Pagi jalan bareng, setelah itu aku tak pernah berani lagi mengajaknya pergi. Mungkin karena Kabut telah datang menghampirinya, dan akupun sudah didampingi Bintang.
Sekarang sudah hampir 2 bulan lebih Bintang selalu memberikan ornamen di setiap malamku. Tapi perasaanku ini belum saja merasakan keindahan ornamen itu. Aku selalu bingung, kenapa aku saat itu memanggil Bintang?
Pagipun kini mungkin sudah merasa hangat dengan kedatangan Kabut. Aku selalu heran dengan dia. Aku selalu mempertanya itu.
Kenapa sih Pagi malah ngundang dia? Padahal setiap dini hari, aku selalu diam depan kost-annya, menunggu Pagi keluar. Lalu dia manggil namaku, dan mempertanyakan kenapa aku ada disana pagi buta. Tapi mungkin Pagi sekarang sudah nyaman dengan kedatangan Kabut.
Gi, aku selalu nunggu kamu. Kadang aku nunggu sampe matahari benar-benar keluar. Kadang aku juga ketiduran saat nunggu kamu, jadi mungkin kamu gak lihat aku. Tapi aku benar-benar selalu nunggu kamu, Gi.
Bintang selalu mempertanyakan apakah aku serius padanya. Dia mungkin gak yakin, karena aku selalu cuek padanya. Salah satunya karena kamu, Gi, aku menunggumu; aku menunggu Pagi.
Idealisme, egoisme. Mereka seperti terang dan gelap. Tapi hubungan mereka bukan antonim. Mereka berjarak sangat dekat.
Kita harus berhati-hati saat beropini. Bisa jadi argumen yang kita yakini, bahkan kita anggap idealisme, bergeser menjadi egoisme. Jika dianalogikan, posisi idealisme adalah 1 tingkat diatas egoisme. Diantara mereka ada sekat. Jika sekat tersebut lepas, maka idealisme akan turun ke posisi egoisme. Toleransilah yang menjadi sekatnya
Keramaian memakan tubuhku
hampir saja habis
harmoni mulutku tak terdengar
hanya menjadi daun gugur yang hampir tak mereka lihat
apalagi diperhatikan
tak ada gunanya memperhatikan daun jatuh, pikir mereka
Atau seperti tikus yang sekarat karena racun yang tak sengaja ia masukan ke tubuhnya
mereka hanya menunggu ku mati
lalu aku dibuang ke tumpukan sampah
ruangan sisa tempat orang-orang sisa
tak berguna!
Brengsek!
Keparat!
Sialan!
Aku hanya bisa melihat dengan remang
ah, aku masih hidup
sampah menutupi hampir seluruh wajahku
namun saat itu pandanganku menjadi fokus
aku melihat binatang berbadan manusia
ah manusia, mungkin itulah isi kepalanya
Lalu sedikit demi sedikit kebusukan yang menutupi tubuhku lenyap
ada mahluk kecil yang memakan kotoran di permukaan tubuhku
jasad reni namanya, katanya sih
ia lah yang tulus, bagiku
ia hanya fokus pada jiwa-jiwa yang busuk
hanya menghabiskan bongkahan kebrengsekan
tanpa melenyapkan bagian yang berguna
cerdas!