Malam ini bertepatan dengan malam Jumat Wage. Bagi masyarakat Jawa, khususnya yang masih mepercayai kekeramatan hari lahir atau weton – anak yang lahir pada hari tersebut diprediksi memiliki perilaku yang jujur, lemah lembut, berpikiran bersih, dan suka menolong. Namun tentunya juga memiliki perilaku ganjil, yaitu keras kepala dan suka berhutang.
Kalau perilaku suka berhutang sih saya kira tidak hanya dimiliki orang yang wetonnya Jumat Wage, tetapi semua orang pun juga suka berhutang. Kecuali orang-rang yang memang sudah tajir sejak masih zigot.
Malam ini juga bertepatan dengan malam kelima belas Ramadan. Dan kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada esok hari. Akankah masih ada matahari yang terbit dari timur, atau justru sebaliknya matahari mengintip dari barat.
Menurut ceramah beberapa ustaz yang terdokumentasi di media sosial, akan terjadi kejutan pada pertengahan bulan Ramadan tahun 1441 H ini. Dan pertengahan bulan Ramadan itu akan jatuh pada esok hari, bertepatan dengan hari Jumat Wage.
Kemudian sempat heboh juga berita bahwa akan ada beberapa asteroid yang melintas di dekat Bumi tepat kita hidup sekarang ini. Meskipun hanya lewat, asteroid itu cukup membuat penduduk Bumi bersiaga.
Bagi ilmuan yang paham fenomena itu, tentunya esok hari adalah hari istimewa karena akan ada bahan penelitian yang jarang terjadi. Apalagi penilitian itu berkaitan dengan kelangsungan kehidupan di Bumi. Berapa lama lagi aka nada asteroid serupa yanga akan melintas, dan bagaimana dampaknya kepada Bumi.
Dengan ketiga uraian di atas, kita dapat meresumenya menjadi sebuah refleksi diri. Membaca kapabilitas diri tentang sensitifitas terhadap hal-hal yang diprediksikan akan terjadi dan berpengaruh terhadap kelangsungan kehidupan.
Sebagai orang awam, baik awam soal religi, sains antariksa, maupun kejawen, tentunya tingkatan refleksi yang mampu saya bangun adalah sekadar untuk membersihkan hati dari hal-hal yang memang seharusnya tidak perlu dimasukkan ke dalam hati.
Dengan nuansa komologi pertengahan Ramadan ini, sedikit atau banyak harus semakin menambah keimanan kita bahwa kita tidak tahu apa-apa yang akan terjadi pada satu detik ke depan, apalagi esok hari. Dengan kesadaran demikian, maka urat syaraf tegang kita dalam menghadapi esok hari akan berkurang karena sudah deprogram sedemikian rupa untuk tawakal kepada Allah semata.
Tanpa menolak ilmu sains dan tafsir beberapa ustaz tentang 15 Ramadan 1441 H, saya pribadi menaruh harapan kepada kita semua untuk tetap optimis dalam melakukan apapun. Jangan sampai karena terbayang-bayang kehancuran pada esok hari justru membuat sinar Ramadan ini redup dan hilang tertelah mendung gabut.
Momentum 15 Ramadan yang bertepatan dengan harI Jumat tidak terjadi setiap tahun. Apalagi juga diprekdisikan bertepatan dengan semakin mendekatnya beberapa asteroid menuju Bumi. Akankah mereka itu hanya sekadar kula nuwun numpang lewat, atau sejenak bertamu dengan meninggalkan bekas yang dahsyat bagi kita penduduk Bumi.
Pada saat menulis ini, hawa malam terasa sumuk. Beberapa bapak-bapak yang berjaga di pos kampling terlihat hanya memakai singlet. Berteman dengan sinetron Kian Santang yang cukup membuat ingatan para sesepuh kemabali – mengingat bagaimana alur cerita dan keajaiban-keajaiban yang dimiliki Kian Santang. Pertukaran pendapat terus bergulir, mulai dari tikus, pertanian, PSBB, mudik, dan asteroid.
Dulu, ketika adal sinar melintas di langit – saya diajari untuk memohon apapun (berdoa). Karena diyakini pada saat bintang jatuh atau orang Jawa mengatakannya lintang ngaleh: bintang yang berpindah adalah makbulnya doa.
Sebagaimana yang dilansir dari tabel NEO Earth Close Approaches, bahwa ketujuh asteroid itu mendekati Bumi. Artinya akan ada tujuh sinar api jatuh pad gelapnya malam, atau bisa juga pada esok hari. Tentunya hal itu akan lebih diketahui oleh peneliti. Dan kita tinggal menunggu terbitnya artikel tentang asteroid pada 15 Ramadan ini.
Dengan demikian, saya menarik simpulan bahwa prediksi-prediksi yang diutarakan baik oleh ustaz maupun peneliti tentang 15 Ramadan adalah tetepa bergantung pada scenario Allah. Tidak aka nada perubahan pada alur scenario itu. Tidak mungkinterjadi tokoh yang keluar sebelum waktunya, dan tidak mungkin drama akan diselesaikan pada pertengahan pementasan. Wallohua’lam.
Sragen, 15 Ramadan 1441 H