9. memilih yang baik
sejak beberapa bulan yang lalu–sejak mbak yuna lahir tepatnya–saya kepingin ganti hape. alasannya, saya ingin punya kamera yang bagus untuk mengabadikan momen-momen tumbuh kembang mbak yuna (sekaligus ingin kalau fotonya di-share di sosial media tampak lebih mentereng–jujur). setiap bulan, saya pun mencoba untuk sedikit-sedikit nabung.
di tengah perjalanan menabung saya, laptop ibu saya rusak. laptop ibu itu usianya sudah lebih dari 5 tahun, dapat hibah dari sekolah karena sudah tidak dipakai lagi. laptop-laptop yang dibeli bersamaan dengan laptop itu kebanyakan sudah rusak dan mati total. spesifikasi laptopnya hanya bisa dipakai untuk mengetik dan browsing–itu pun dengan kecepatan siput.
akhirnya, saya pun berinisiatif membelikan ibu laptop (pakai anggaran kantor tentu, tidak mengganggu gugat tabungan hape saya). ceritanya laptop ini kejutan, kami hadiahkan tanpa bilang-bilang. saat laptop baru tersedia, laptop lama ibu selesai diperbaiki. ibu yang dihadiahi laptop bilang, “nggak usahlah. dipakai sama yang lain saja. ibu cukup kok pakai yang ini (laptop lama). kan sudah bisa nyala sekarang.”
di situ saya merasa malu.
ibu saya memang juara soal berhemat. tidak hanya laptop, ini berlaku juga untuk benda-benda elektronik lain, listrik dan air, perkakas-perkakas, baju, makanan, bahkan sabun dan teman-temannya. sering saya heran sendiri dengan ibu yang secara natural bisa begitu pas menempatkan segalanya. tidak pernah berlebihan. saya sangat jarang melihat ibu “memanjakan dirinya” dengan kemewahan, bahkan tidak dengan kenyamanan.
waktu saya tanya kenapa ibu bisa begitu, kata ibu, “karena bisa untuk yang lain.” jawaban ibu sangat sederhana tapi sangat telak. karena ibu dan ayah berhemat-lah, ibu dan ayah bisa membangun sekolah dari garasi sampai ada di enam kota. karena ibu dan ayah sangat sederhana-lah, ibu dan ayah bisa membesarkan anak-anaknya dengan cukup. kami bisa sekolah, bisa mengembangkan diri.
saya jika berkaca pada diri sendiri: manusia dengan gaji dan penghasilan pas-pasan, belum punya rumah sendiri, belum punya tabungan untuk anak sekolah, belum punya tabungan kesehatan, dan lain-lain–tapi hobinya jajan, senangnya jalan-jalan, makan-makan. juga, senangnya ingin selalu serba kekinian.
kesimpulannya, saya belum melek dengan “karena bisa untuk yang lain.” pertama, saya merasa berada di zona nyaman. kedua, saya minim sekali pengalaman memberinya. padahal kalau kita konversi, satu ponsel pintar bisa jadi kambing kurban. satu laptop bisa jadi sapi mungkin. jajan sekali makan di resto bisa untuk makan seminggu sekeluarga lain.
salah satu pertanyaan di hari akhir kelak adalah ke mana harta kita pergi, bagaimana harta kita digunakan. idealnya kita memilih yang baik, yang lebih bermanfaat. tentu saja, kita bisa memilih jika kita punya pilihannya, jika kita mengetahui pilihan apa saja yang ada.
kata ibu, cara latihannya mudah. sering-seringlah memikirkan orang lain. sering-seringlah melihat ke bawah. sering-seringlah bersyukur. kalau kita terbiasa memikirkan diri sendiri, rasanya enak menyamankan diri sendiri saja. kalau kita terbiasa memikirkan orang lain, rasanya nggak tega berlebih-lebihan, meskipun kita mampu untuk itu.
rencana beli hape pun bubar jalan. di benak saya bergaung terus-menerus, “yang boros saudaranya setan.”















