Jangan Takut Dengan Lamanya Kesendirian (2)
Sering banget saya dengar komentar orang, “belum nikah? Ngejar karir ya Mbak? Sibuk sekolah ya Mbak?” Gusti Allah, karir kok dikejar. Mending ngejar Lee Jae Hee.
Saya yakin bukan hanya saya yang mengalami, pasti juga dialami banyak perempuan di usia yang seharusnya sudah menikah tapi belum. Ketika saya melihat sekeliling, yang telat menikah memang banyak yang setipe dengan saya sih : suka kerja, suka sekolah, mandiri, dan semacam itu. Perempuan yang terlihat tidak butuh laki-laki.
Tahukah kamu, jika kondisi seringkali sebaliknya? Maksudnya, justru karena kami belum menikah, makanya memilih sibuk dalam pekerjaan, pendidikan, dakwah, kegiatan sosial, dan semacamnya. Mengapa? Bukan pelarian, tapi karena kami adalah perempuan - perempuan cerdas yang tahu benar letak kebaikan.
Bukan karena ga butuh laki-laki lalu ga nikah. Justru karena kami belum menikah, maka kami melatih diri untuk melakukan segalanya sendiri. Gak sedih kok, bahagia saja, hanya kurang lengkap tentunya. Seriously, perempuan mandiri tetap butuh lelaki. Saya sepenuhnya menyadari ini ketika kapan hari ga bisa ngangkat galon ke kamar yang berada di lantai 2. Rasanya pingin nangis dan teriak di tengah hujan, “aku pingin nikaaaaah biar ada yang angkatin galon!!!”
Jedderr, jedderr!! Lalu hujan makin deras dan kamar bocor parah. Lalu saya pingin teriak lagi pada ibu kost, “Teteeeeh, saya pingin nikah biar ada yang benerin genteng!!!”
No, itu hanya becandaan saya di tengah kondisi yang saya anggap kurang enak. Sorry bro, fungsi suami bukan hanya untuk angkat galon atau benerin genteng, no no. Maksud saya adalah, itu hanya sedikit kejadian yang menjadi hikmah bahwa perempuan tetap butuh laki - laki, untuk hal - hal yang lebih besar tentunya, membangun keluarga yang bermanfaat salah satunya.
Well. Jika belum ada keluarga yang harus diurus, apakah kami harus duduk lunglai menunggu jodoh? Dalam hal percintaan barangkali kami terlambat dan belum beruntung, tapi kami yakin bahwa ada banyak hikmah mengapa kami masih sendiri. Salah satunya adalah dengan memperbanyak ladang amal, melalui cara apapun.
Beruntunglah yang sudah menikah dan ladang amalnya makin luas. Agak sedih jika sudah menikah malah tidak berbuat apa - apa. Masih sedikit beruntung yang belum menikah tapi diberi rezeki ladang amal yang luas. Yang paling sedih adalah belum menikah, ga punya ladang amal. Jangan jadi yang terakhir ya.
Kadang - kadang saya mikir, ngapain saya ngejar karir sampai gak nikah - nikah? Lah, kalo bisa nikah cepet mah hepi banget, ga perlu kerja keras, udah ada yang nafkahin. Justru saya kerja keras karena belum ada yang nafkahiiiiiin, plis deh. Hahaha.
Beberapa waktu lalu kakak sepupu nge-chat. Dia bercerita tentang teman dekat saya ketika SD (usianya lebih tua dari saya), dimana kakak teman saya ini adalah teman dekat kakak sepupu. Kata sepupu saya, “si itu Din, belum nikah, padahal udah jadi dokter loh.”
Saya jawab, “Mbak, menjadi dokter dan menikah adalah dua jenis rezeki yang berbeda, jadi ga ada korelasinya kalau jadi dokter lalu jodoh jadi dekat. Barangkali, dia yang belum menikah itu jauh lebih bermanfaat karena dia dokter loh, dari pada yang sudah menikah tapi ga berbuat apa- apa.”
Bermanfaat tidak perlu bertitle sih, hanya saja menjadi dokter adalah contoh ladang amal yang menurut saya hebat jika dilakukan dengan bakti dan ikhlas. You name it simple good things that you can do, like ngajarin ibu - ibu PKK menjahit, atau kegiatan apapun. Pada intinya, sibukkan diri mencari ladang amal.
Semoga dengan menyibukkan diri berbuat baik, kita akan segera dijodohkan dengan pasangan yang juga sibuk berbuat baik. Lalu nanti menjadi keluarga yang sibuk membangun kebaikan.
Ah, tiba - tiba jadi ingat novel Ari Nur yang judulnya Diorama Sepasang Al-Banna. Ciee….uhuy uhuy..sekarang saya bisa menangkap makna filosofis di dalam novel yang menceritakan tentang sepasang arsitek itu. Bahwa pernikahan haruslah memperkuat teguhnya kita pada agama, bahwa pernikahan seharusnya menggabungkan dua kekuatan untuk membamgun peradaban. Tsaahh.
Maka, sebelum punya pasangan, semoga kita tetap menjadi Al-Banna meski masih sendirian, hingga saling disebelahkan di pelaminan.
Aiihhh,,,saya jadi baper sendiri gini.