hmm, bingung mau mulai cerita dari mana ya..
disclaimer nulis disini biar jadi time capsule dan sebagai refleksi emosi.
jadi udah 2 bulan aku telat haid, ahh pikirku selalu kearah pasti PCOS ini kambuh lagi.
satu kebiasaan baru setiap aku telat haid pasti aku cek pakai testpack, walaupun hasilnya selalu negatif, rasanya capek di prank tapi yaudahlah berusaha untuk menerima.
nah di telat yang sudah 2 bulan ini, entah kenapa di satu minggu setelah telat 1 bulan perutku kembung, terus mual, keram, dan nyeri sekitar pinggul. Ingin berharap kalau kali ini berhasil, tapi diriku yang lain meyakinkan sepertinya ini efek PCOS nya.
Setelah diskusi sama umi, umi nyaranin coba dilihat satu minggu kedepan gejalanya konsisten nggak, ternyata setelah 1 minggu aku benar2 merasa sakit seperti yang di deskripsikan di atas, dan uniknya itu muncul di tengah malam sampai pagi saja, siangnya aku seperti orang biasa. Sedikit aku jadi berharap apa ini benar hamil ya, gara-gara di tiktok melihat ada yang PCOS juga kasusnya dia nggak haid 3 bulan tetapi ternyata bisa hamil, walaupun usia kehamilan tidak bisa mengacu ke HPHT (hari pertama haid terakhir).
Gara-gara melihat hal itu aku jadi berharap dan menikmati rasa sakitku, rasanya nikmat sekali, meski aku nggak bisa ngapa-ngapain.
Sampailah setelah 1 minggu, akhirnya aku pun cek menggunakan testpack, sebelum tes aku bilang ke suami, "aku takut ke prank lagi", mas cuma jawab "gapapa kalo belum jadi."
Dan benar saat tes aku hanya lihat satu garis tebal, aku menghampiri mas, maaf masih garis satu, mas mengelus kepalaku dan bilang, "gapapa."
Tapi entah kenapa aku nggak langsung buang testpack itu, nah setelah sudah agak terang, aku kembali melihat testpack ku, kok kayaknya ada garis ya tapi samar dan tipis banget, berkali-kali aku lihat dengan pencahayaan dan benar terlihat garis tipis. Aku menanyakan suamiku juga apa dia melihat garis tipisnya, tapi dia bilang tidak lihat.
Akupun membawa testpack ku kerumah umi, untuk dibaca sama umi dan adik2ku, mereka ternyata sama melihat garis tipis itu juga.
Harapanku menjadi lebih tinggi lagi, namun suamiku masih berekspektasi bahwa aku belum hamil. Aku pun meminta untuk diantar cek usg, aku bilang kalau memang bukan hamil, semoga bisa buat deteksi dini kalau ada masalah lain. Suami baru bisa mengantar di 4 hari setelah testpack.
Di H-1 sebelum cek usg, aku iseng melihat test pack yang kusimpan, setelah didiamkan garisnya makin terlihat, setelah suami pulang, aku memperlihatkan padanya, "nih kan yang, keliatan garisnya." suami langsung tersenyum lebar baru kali ini aku lihat mukanya sesenang itu, "Oke besok kita lihat ke dokter ya." suami langsung memelukku.
Di paginya, suamiku menyamakan warna bajunya dengan warna bajuku, putih. Aku dari semalam itu sampai pagi itu rasanya moodku sangat baik, bagaimana kalau aku ternyata benar-benar hamil.
Sesampainya di klinik, aku melihat ada sekitar 10 pasangan yang sedang menunggu, aku takjub semua ibu-ibu itu di dampingi oleh suaminya. Satu persatu pasangan keluar dari ruang periksa dokter, dengan wajah berseri-serinya setelah tau keadaan janin mereka.
Sampailah akhirnya mendekati nomor antriku, aku bilang ke suami, "yang aku deg-degan.", suamiku hanya menggenggam tanganku, menenangkan.
Sampailah aku masuk, dokter yang menyambutku sangat ramah sekali, dokter langsung bilang, "Hasil testpacknya garis 2 ya, selamat ya! sekarang kita cek yaa", "bapak lihat ke tv diatas itu ya pak." Aku di USG transvaginal untuk pertama kalinya, rasanya aneh tapi ternyata tidak seserem yang kupikirkan.
Hasil USG muncul di TV, namun tiba-tiba muka dokter yang tadi ramah, langsung tidak seramah diawal, aku yang melihat kearah TV juga sepertinya tau apa yang terjadi, tidak ada kantung kehamilan disana,
"Ibu ini saya tidak melihat ada kantung kehamilan, dan tidak ada penebalan pada dinding rahim, saya khawatirnya testpack kemarin positif palsu karena hormonnya."
DEGG! rasanya hatiku benar-benar turun, sesak.
Dokter pun mencoba memperlihatkan ke arah ovarium, dan benar-benar muncul gambar seperti hasil USG wanita-wanita yang memiliki PCOS yaitu terlihat sel telur yang kecil2.
"Nah kan ini lebih mengarah ke PCOS nya ternyata ibu, ada di kedua ovariumnya. Jadi memang karena efek hormonnya ya bu."
Hari itu semakin terkonfirmasi aku memang PCOS dengan PCO, suami ku terdiam melihat aku yang didiagnosa langsung di depan dokter.
"Tapi kita coba testpack dulu ya setelah ini, kalau memang garis 2 lagi, tunggu 2 minggu lagi terus USG lagi ya." dokternya sangat positif thinking, padahal dalam hati aku udah mau pulang dan nangis.
Masih berusaha tegar, aku keluar ruangan, diiringi tatapan pasangan lain disana, apalagi saat dipanggil suster untuk testpack rasanya malu aja saat itu, aku pun ke kamar mandi, dan akhirnya air mata nggak bisa kutahan.
Aku tetap testpack walaupun aku tau hasilnya pasti negatif. Beberapa saat kemudian aku pun dipanggil kembali oleh dokter,
"Ibu ini hasilnya negatif ya, saya resepkan pelancar haid ya, karena bagaimana bisa dibuahi kalau ibunya tidak haid ya, ubah pola hidup ya, jangan makan yang manis-manis."
iya dok, jawabku. aku juga tau, aku juga sudah mengubah makanku, ucapku dalam hati.
Aku dan suami keluar ruangan, kami sama-sama diam selama di perjalanan pulang.
Sesampainya dirumah, suami untuk menutupi rasa sedihnya ia langsung memainkan gamenya, aku menghampirinya.
"Mas makasih ya sudah nemenin aku berobat dan biayain pengobatanku, maaf kalau belum sesuai harapan ya, semoga rezeki yang dikeluarkan hari ini diganti Allah dengan lebih baik ya."
Aku tau obat hormon ku ini mahal sekali, dan sedihnya PCOS ini nggak bisa di cover BPJS.
dengan suara bergetar aku bertanya, "mas aku boleh nangis nggak?" aku tau dia nggak suka sekali kalau aku nangis, itulah kenapa akhirnya aku izin untuk nangis karena aku udah nggak kuat menahannya.
Akhirnya tangisku pecah, baju suamiku benar-benar basah, tanpa kata apa-apa suamiku hanya menenangkan ku dengan pelukan.
Entah saat itu aku menangisi apa, aku berusaha menerima takdirku ini sejak sebelum menikah, tangisku saat itu sepertinya disebabkan banyak hal, mungkin karena kecewa akan ekspektasi ku, merasa bersalah karena belum bisa memenuhi harapan suami, atau karena merasa gagal atas segala upaya yang kulakukan untuk menerapkan hidup sehat.
Semoga tangisku bukan karena aku marah atas takdir yang Allah gariskan untukku.
Suamiku seharian itu banyak diam, aku memberinya waktu untuk menerima kenyataan ini, beberapa waktu belakangan mungkin itu fase aku menerima dirinya, tapi kali ini mungkin fasenya untuk menerima diriku. Semoga Allah mudahkan dan lapangkan hati kita untuk bisa menerima keadaan satu sama lain aaamiin.