Ibuk, aku sudah merawat rinduku pagi ini dengan sepiring nasi dan sepotong tempe, seperti yang pernah kau goreng hari itu. Tiba-tiba sekelebat jiwaku pulang, kulihat rumah reot kita tegak di pinggir jalan.
Oh itu Abah sedang berdiri, segaris senyum ada di seberang melambai mengajakku kembali. Lantas, aku tak berjalan ke sana. Kuseret kakiku selangkah mundur kemudian jauh.
Ibuk, aku malu melihat rumah reot kita. Si apatis ini sedang bodoh, lelah tapi tak ingin pergi, terperangkap namun enggan bebas. Banyak mimpi menggantung disini, sekedar jemuran basah di belakang rumah yang terguyur hujan kemudian jatuh tanpa dijamah.
Aku benar-benar lelah dengan semuanya, Abah. Banyak kepalsuan dunia memfanakan jiwa si bodoh ini, setiap hari hidup dalam bayang yang melayang-layang diantara tidur malam, terperangkap pada keyakinan angkuh di pagi subuh, bahkan senja menjelang maghrib pun ia masih ada dalam sengketa batin yang berkecamuk riuh. Lepaskan, bebaskan, seret kaki itu pada temaram bulan malam isya' nanti.
Buk, Bah
Jika rindu adalah airmata do'a malammu, maka merawatnya adalah bagian dari ijabah.
Diselesaikan
Rabu 26 Oktober 2016
06:37, Bandung (Posisi gogoleran dikasur, baru bangun tidur)