Teman Bicara
Yogyakarta, 25 April 2016 | ©kurniawangunadi
Aku melihat dunia itu sunyi, sekalipun begitu banyak suara yang terdengar. Hanya sekedar terdengar, tidak berarti apapun, juga tidak mengisi apapun. Keramaian tidak membuat sunyi menjadi hilang seketika, karena sunyi bukanlah sebuah keadaan tapi pemaknaan.
Pun, saat aku melihat seseorang yang begitu banyak bicara. Apakah kemudian berarti dia adalah orang yang ramai, kadang aku melihat begitu dekat kesunyian itu dari matanya. Andai orang-orang itu kita tinggalkan, dibiarkan sendirian dan dikunci di dalam kamarnya yang dingin. Apakah yang terjadi padanya, kita tidak pernah tahu bukan?
Tidak semua dari kita memiliki teman bicara. Teman yang bersedia mendengarkan (listen) kita, tidak hanya sekedar mendengar (hear) kita. Begitu banyak orang yang mengalami kesunyian, tidak tahu harus kepada siapa bercerita, tidak tahu harus kepada siapa mengutarakan sesuatu, tidak tahu kepada siapa harus melepaskan beban.
Ada juga yang sedang menanti datangnya “teman bicara”, sepanjang waktu, seumur hidup. Apakah itu kamu?
apakah itu kamu?













