Sebuah Cinta membersamai ODOJ
Bismillah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan saya Merlia Na, seorang pembelajar bersama pelangi inspirasi. Seorang pejalan yang kelaparan mencoba mencari secercah harapan di jalan Tuhan. Adalah dengan bersama semuanya kan indah dan mudah, menyelaraskan doa dan cita dengan seksama. Mengarungi perjalanan tak melulu tentang teori dan ambisi, namun apakah diri sudah terpaut pada Ilahi dengan ketulusan haqiqi?
Memberdayakan diri tentu memiliki berbagai pilihan dan jalan, akankah hati ini cenderung pada dunia atau masih bersama pada jalan-Nya? Bukan tentang apa-apa, tapi tentang nurani. Wahai hati, bukankah dirimu yang paling mengerti akan arah hidup ini? Lalu bagaimana mengekspresikan diri menjadi sebenar-benar insan yang mengikuti arah kebajikan?
Ya, salah satunya ialah bergabung dengan komunitas One Day One Juz yang biasa bersebut ODOJ. Mengapa saya ikut ODOJ? Pasti banyak jawaban yang terlintas di pikiran ODOJers. Saya adalah setitik bagian darinya, mencoba berkata dan memahaminya. “Luar biasa” saya menilainya, bagaimana tidak? Komunitas pecinta quran yang begitu cepat menyebar syiarnya. Barakallah sudah beberapa tahun ini terlihat begitu tumbuh signifikan.
Inilah cerita saya bersama ODOJ. Pertama kali saya mengetahui ODOJ adalah dari informasi publikasi teman di beranda facebook saya pada awal tahun 2014. Saat itu saya kepo sekali, apakah ODOJ itu? Saya klik link tersebut dan ternyata adalah komunitas pecinta quran dimana bisa beristiqomah menerapkan sehari mengaji dengan 1 juz Alquran. Wow luar biasa mendobrak dunia dan tentunya seperti merobek hati saya. Serasa diguyur oleh aroma-aroma segar nan mendamaikan, membayangkan nuansa quran yang menawan. Ya, terasa dicubit manis oleh informasi tersebut, yang biasanya membaca Alquran sehari saja masih sempat nggak sempat eh malah seperti ditawarkan 1 juz per hari, ma sya Allah. Kemudian saya tanya kepada teman ngaji dan juga guru ngaji saya tentang ODOJ tersebut. Saya disarankan agar ikut dan Alhamdulillah bisa tergerak hati ini untuk mengikuti komunitas kebaikan ini. Bismillah semoga niat ini Allah mudahkan sejengkal langkah untuk meraih ridha-Nya.
Uniknya saat itu saya masih belum mempunyai fasilitas yang memadai dimana ODOJ itu sarananya dengan menggunakan akun Whatsapp yang bisa diakses melalui handphone android. Namun saya terus mengikuti informasi dari facebook dan sampailah informasi Grand Launching ODOJ. Dengan informasi tersebut saya senang bukan kepalang dan seakan motivasi meledak dahsyat. Pelaksanaannya di Masjid Istiqlal Jakarta, sungguh informasi yang menawan. Saya adalah seorang yang punya impian pergi ke sana waktu itu, dan Allah tunjukkan caranya melalui hal tersebut. Alhamdulillah dengan bekal 350.000 rupiah saya bertekad berangkat dari Surabaya bersama kawan-kawan ODOJers Jawa Timur. Kesempatan yang luar biasa Allah tunjukkan cara yang indah menjemput hidayah pada hamba-Nya. Masih dengan komunikasi via SMS saya terhubung dengan guru ngaji dan pengurus ODOJ Ponorogo tempat saya mendaftar karena asal saya Ponorogo.
Begitu sudah terdata, berangkatlah saya dari Surabaya karena sedang menempuh pendidikan di sini. Saya nekat sekali waktu itu, status diri masih seorang mahasiswa baru yang belum tahu menahu tentang kota rantau dan masih tanya sana sini. Dan saya berangkat pun dari Ponorogo karena saat pulang kampung sekaligus minta restu bepergian jauh ke Jakarta. Kemudian saya masih teringat betul dulu belum mengerti memakai angkutan apa untuk pergi ke stasiun dari terminal tempat saya transit, lalu setelah tanya kakak kelas yaitu disarankan menggunakan taksi dan akhirnya sampailah di stasiun Gubeng Surabaya. Sesampai di stasiun dan registrasi ulang ternyata panitia mengatakan bahwa saya tidak kebagian tiket beserta satu peserta akhwat lain. Dan saat itu masih ada satu tiket dengan nama yang belum hadir di tempat itu, lalu panitia menawarkan untuk salah satu memakai tiket itu dan satunya naik kendaraan alternatif lain.
Subhanallah, ya Rabb ujian apakah yang kau berikan pada hamba? Hati langsung bergetar dahsyat dan membayangkan bagaimana jika tidak jadi berangkat ke sana, sungguh bercampur rasa dalam dada. Namun setelah didiskusikan dengan panitia, panitia memberi solusi dengan membelikan tiket di stasiun lain yaitu di Stasiun Pasar Turi dengan jadwal keberangkatan selang beberapa jam, Alhamdulillah dua orang bisa berangkat walau terpisah dari jamaah.
Ma sya Allah, tiba lah di Masjid Istiqlal. Sungguh pemandangan istimewa menggetarkan jiwa, dimana dipenuhi ribuan pecinta quran dari seluruh Indonesia berseragam putih-putih. Serasa menikmati nuansa berhaji kecil di sini, dan begitu indah ukhuwah dipandang dan dirasakan. Hmmm, sudah tidak sabar ingin menggunakan handphone android kala itu agar up to date dengan informasi ODOJ, namun harus bersabar dan baru tahu akun sosial media whatsapp pun dari sini. Ketika mendaftar saya masih menggunakan laporan via SMS sebelum diadakannya Grand Launching, tepatnya sekitar 2 minggu saya mendaftar. Namun ya begitu, masih edisi mencoba ibarat trial and error dimana seseorang yang paling bagus ngaji Alquran per harinya sebanyak 1 lembar dengan perubahan 1 juz per hari, sungguh tidak mudah melakukan perubahan itu. Tetapi semuanya butuh tindakan untuk memulai perubahan kebaikan, karena berbuat baik harusnya disegerakan. Jika tidak akan terus mengalir dan hilang dari ketukan pintu hati paling murni. Kalau tidak dari sekarang ya kapan lagi?
Bagi saya, peristiwa yang paling berkesan bersama ODOJ selain pemberangkatan ke Grand Launching adalah kehilangan handphone. Setelah saya membeli handphone android dan baru beberapa bulan, Allah menguji saya dengan menghilangkan nikmat itu kemudian otomatis laporan saya pun terkendala. Sebelumnya saja ketika perjalanan pulang dari Grand Launching pun handphone saya hilang di stasiun Jakarta Kota karena jatuh, lalu orang tua dan kerabat khawatir dengan saya karena terputus kabar. Begitu pula dengan laporan di ODOJ, ketika handphone bermasalah atau hilang akan sangat mengkhawatirkan grup karena berhubungan dengan laporan harian. Sudah beberapa kali saya kehilangan handphone seiring dengan keberlangsungan saya dengan kebersamaan naik turunnya keistiqomahan di ODOJ. Setelah nikmat handphone saya kembali, seakan semangat itu membara lagi. Karena memang motivasi awalnya memiliki handphone android adalah agar bisa laporan dan mengikuti informasi di grup ODOJ.
Dengan seiring berjalannya waktu dengan segenap aktivitas yang berprioritas tentu mengalami kefuturan dan kejenuhan kebiasaan berat itu. Handphone yang saat ini tidak hanya berfungsi sebagai laporan di grup ODOJ tapi juga untuk bersosial media dengan berbagai rekan kehidupan pasti memiliki ujian tersendiri. Saya suka membaca tulisan motivasi para pecinta quran yang sedang menghafal quran, ma sya Allah katanya memang bersosial media itu bisa merampas waktu-waktu luang kita untuk bermesra dengan ayat-ayat cinta-Nya. Oleh karena itu sebisa mungkin memang harus memberdayakan fasilitas ini sebaik-baiknya. Karena tak hanya kesibukan nyata di dunia saja yang bisa memenuhi jadwal kegiatan harian kita, namun juga kegiatan maya kita apakah juga sudah dikondisikan dengan seimbang. Mengalami futur di ODOJ adalah suatu hal yang sering terjadi pada para ODOJers, termasuk saya. Namun apakah itu suatu hal yang perlu dipertahankan atau tidak? Itulah pilihan.
Setiap perjalanan yang ditempuh memiliki konsekuensi tersendiri. Menjadi baik pun akan mendapat ujian yang setingkat dengan level kebaikan tersebut. Semuanya kembali pada diri, sesungguhnya membaca Alquran adalah suatu kebutuhan. Awalnya memang bisa jadi coba-coba, namun menjadi kebiasaan yang mengharuskan dan tertanam menjadi kepribadian. Semoga kita semua senantiasa istiqomah dalam menjalankan kebaikan-kebaikan dan membumikan quran dalam setiap aktifitas yang dijalankan. Akankah kita menjadi seorang pemenang? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
(semua foto adalah dokumentasi pribadi, 4 Mei tahun 2014)
@merlia_na (Grup ODOJ 2911) | Surabaya, 1 November 2016
*Tulisan ini diunggah untuk mengenang 7 tahun Milad ODOJ yang bertepatan dengan tanggal 11-11-2013 s.d. 11-11-2020. Terima kasih telah menjadi sahabat sepanjang ini yang selalu mengingatkan untuk mencintai ayat cinta-Nya.
Sebuah tulisan yang niatnya diikutkan untuk audisi buku trilogi ODOJ, namun karena dikirim terlewat beberapa menit deadline mungkin tidak jadi terseleksi.
Biarlah kisah ini kubagi di sini, semoga bermanfaat dan memberi inspirasi :)
PS: itu foto ter apdet, dan fotonya memakai Quran Al Mutqin yaitu quran hafalan dari Madina Alquran dengan fitur yang menarik kekinian menggunakan 3 metode sekaligus yaitu visual, audio menggunakan qr code, dan kinestetik. Banyak juga quran keren dan cantik lainnya secantik akuh *eh. Oh ya, kabarnya sih lagi ada diskon berkah s.d. 15 November 2020. Nggak percaya?
Boleh deh tengok di instagram @kitaba.id atau berteman dengan @merlia_na
Siapa tahu jodoh :D