Baru inget punya tumblr, banyak sarang laba-laba nih 😅
YOU ARE THE REASON
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Xuebing Du
No title available
🪼
Monterey Bay Aquarium
trying on a metaphor

Andulka

titsay

@theartofmadeline
Cosimo Galluzzi
Sade Olutola
Sweet Seals For You, Always
Today's Document
todays bird

❣ Chile in a Photography ❣
almost home

JVL
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Discoholic 🪩
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from Brazil
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Netherlands
seen from Iraq
seen from Netherlands
@zulfarfd
Baru inget punya tumblr, banyak sarang laba-laba nih 😅
Pesan Dari Kucing Hitam (Based on true story) Di tempat saya bekerja, tepatnya di Bidan Praktik Mandiri (tempat praktik Bidan, agar lebih mudah, saya akan menyebutnya klinik) ada seekor kucing yang hampir selalu ada di klinik. Kucing ini bukan dipelihara, tetapi karena pintu klinik selalu terbuka di saat pagi - jam 9 malam, sehingga kucing ini bebas keluar masuk klinik. Kucing itu berwarna hitam, berjenis kelamin jantan, tetapi anehnya dia sangat manja dan bisa disebut pemalas. Kucing tersebut selalu mendekati pasien, dan selalu mendekati kita (saya dan partner kerja) ketika sedang makan. Tak jarang dia mengeong-ngeong ketika kita sedang makan. Dan seperti menunggu diberi makan oleh kita. Pada suatu waktu, teman saya berbaik hati memberi kucing tersebut makanan, saya lupa lebih tepatnya yang diberikan itu apa, entah itu kepala ikan atau daging ayam utuh. Yang pasti, teman saya menggiring kucing itu agar mau ke jalan, agar kucing tersebut tidak diam terus di klinik (sekitar 5-7 meter jarak klinik ke pinggir jalan). Saya sedang duduk santai ketika itu, dan tidak melihat sejauh mana kucing itu mengikuti teman saya. Lalu beberapa detik kemudian, teman saya pun kembali ke klinik, menghampiri saya sambil bercerita dengan nada kesal. Teman saya bercerita bahwa kucing tersebut tidak mau mengikutinya ke pinggir jalan, malah berkeliaran di sekitar klinik saja. Lalu makanan yang teman saya bawa itu, dia simpan saja di pinggir jalan, "biarin aja, biar dimakan kucing lain" katanya dengan nada kesal. Lalu saya pun menyeringai dan mengernyitkan dahi, tidak mengerti melihat sikap kucing tersebut. Karena tidak seperti kucing lain yang akan mengikuti arah makanan jika di pancing. Namun kemudian aku tersadar sesuatu. Ketika saya ingat2 lagi perkataan teman saya tentang makanan itu agar dimakan oleh kucing yang lain. Entah kenapa, saya merasa kucing tersebut seperti menyindir saya. Karena saya merasa, pada saat itu saya berada di zona nyaman, yang membuat saya sedikit enggan untuk mencari tempat berpindah. Dalam hal ini yaitu pindah tempat bekerja. Karena di sisi lain saya mengharapkan perubahan nasib, tetapi di sisi lain saya merasa belum siap untuk pindah. Yang ada di dalam benak saya saat itu adalah "Oohh, mungkin Allah pun seperti itu ya, jangan2 Allah sudah menyiapkan rezeki di suatu tempat, tapi sayanya aja yang enggan mendatangi, persis seperti sikap kucing itu. Padahal kalau saya mau berusaha sedikit saja, mungkin saya udah dapet tuh. Tapi karena sayanya enggak mau, ya mungkin yang dapetnya orang lain". Entah darimana, analogi itu hadir secara tiba2 di benak saya. Dan saat itu, seketika saya merasa sangat sedih. Karena sejatinya, saat saya menertawakan sikap kucing itu, sama saja dengan menertawakan diri saya sendiri. Saya benar2 tidak menyangka, ternyata kucing yang selama ini saya anggap pemalas, manja, malah memberikan pelajaran ke pada saya. Saya pun berfikir, mungkin ini maksud Allah mengirimkan kucing tersebut. Saya benar-benar malu pada diri sendiri. Dan percaya atau tidak, saya pun hanya bisa menundukkan kepala, tanda saya malu dan menyadari kesalahan saya. Padahal si kucing itu tidak tau, kalau saya malu karenanya.
Aku memang seperti ini.. Masih banyak tak tahu, masih banyak ragu, sering khilafnya. Terkadang aku menjadi sangat bersemangat, sangat disiplin, sangat termotivasi. Namun tak jarang aku berdiam diri sangat lama, hanya ingin merenung dan melamun.
Aku memang begini, Masih banyak belajar, terkadang rajin, dan terkadang biasa saja, hanya mengikuti alur yang sudah ada.
Aku ingin menjadi pribadi terbaikku yang dengan tulus dan sabar menjalani kehidupan.. Namun aku pun sama seperti yang lainnya yang terkadang kesal dengan keadaan dan situasi tak sesuai harapan.
Oh Allah.. Ternyata seperti ini kehidupan, berwarna warni indah nian dipandang.. Bimbing aku selalu ya Rabb menuju ridho-Mu.. Aku masih buta jalan, masih meraba-raba tak karuan.. Semoga aku bisa selalu perbaiki niat, agar kelak bertemu Engkau dengan selamat..
Mungkin aku hanya salah satu dari sekian banyak yang engkau lihat. Namun ku yakin engkau tau, bahwa aku pun sama seperti yang lainnya, hanya manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Dan harusnya aku pun menyadari hal serupa, bahwa kau pun manusia biasa dengan segala plus minusnya. Entah skenario apa yang akan terjadi, namun kuharap pastilah yang terbaik yang dinanti. Yang pasti, aku telah cukup bahagia mengenalmu dengan segala lebihnya, dan terima kasih, karena hanya dengan itu pun aku bahagia. 😊
Dilanda demam Dilan
Semenjak booming film Dilan, aku jadi melihat2 sesuatu yang sudah lama tak kulihat, membuka yang tlah lama tak kubuka, membaca yang tlah lama sekali tak kubaca. Yaitu membuka akun twitter dan membaca timelinenya Ayah Pidi Baiq penulis novel Dilan.
Aku seperti kembali tersadarkan bahwa aku punya akun twitter. Akhirnya aku buka twitter karena aku tau Ayah Pidi aktivnya di twitter.
Begitu pun dengan boomingnya film Dilan, aku seperti diingatkan bahwa dulu aku suka stalking twitternya Ayah, karena ya banyak sekali jokes2nya beliau saat jawabin mentionnya orang2. Termasuk banyak yang bertanya tentang Dilan juga di twit beliau.
Aku belum pernah membaca novelnya, begitupun dengan filmnya. Aku hanya suka dengan cara beliau berfikir dan menjawab pertanyaan, karena seperti membuka pikiran saya mengenai melihat sesuatu dari sudut pandang lain.
Dan saat aku membuka youtube, aku sempat menonton trailernya film Dilan, hingga akhirnya, di timeline youtube ku banyak rekomendasi video yang berkaitan dengan Dilan, juga penulisnya yaitu Ayah Pidi baiq.
Karena merasa belum pernah bertemu dengan Ayah ataupun melihat videonya, lalu aku klik lah beberapa video yang ada Ayah disana. Awalnya hanya video2 wawancara mengenai film Dilan. Sampai akhirnya aku mengklik video yang menayangkan saat beliau perform di suatu acara. Beliau berbicara dengan gaya dan ciri khas nya, yang tak asing lagi dengan pernyataan2 beliau sukses membuat penonton tertawa.
Lalu, ada satu kalimat yang unik bagiku, beliau bilang ‘Saya diutus ke bumi untuk jum'atan, senin sampai kamis persiapan, sabtu minggu evaluasi’. Respon pertama ku pasti sama seperti yang lain, tertawa lepas mendengar pernyataan beliau. Hingga akhirnya kata2 itu terngiang dibenakku dan menjadi bahan perenungan.
Yang bisa kita lihat dari pernyataan beliau adalah: 1. ‘Saya diutus ke bumi untuk jum'atan’ Artinya secara garis besar bahwa kita diutus ke bumi ini untuk beribadah
2. 'Senin sampai kamis persiapan’ Pernyataan ini membuat saya menyadari bahwa untuk beribadah perlu persiapan, perlu niat, ilmu, dan kemauan untuk melaksanakannya.
3. 'Sabtu - minggu evaluasi’ Bahwa benar segala sesuatu yang kita lakukan mestinya di evaluasi, sudah seberapa matang kah? Apa yang masih kurang?
Alhamdulillah perenungan ini menambah insight saya dalam beribadah, bahwa seharusnya untuk menemui Allah kita bisa mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Kau bilang
Kau bilang aku terlalu banyak berfikir, Padahal jika kau tau, aku sedang berusaha menguranginya dengan mencari kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga aku bisa lebih sigap bergerak. Jika kau merasa bisa lebih mudah mencipta sesuatu tanpa berfikir, ketahuilah, aku tak secerdas itu. Maka yang bisa kulakukan hanyalah belajar. Karena aku tak bisa seperti kau yang dengan mudahnya mendapat ide cemerlang. Aku menyadari bahwa aku tak sebrilian itu.
Lagi inget aku yang dulu
Dulu saya suka baca quote-quote gitu. Entah kenapa, suka aja gitu kalau baca kata-kata bijak. Saya bukan anak yang pintar menghitung, rajin membaca, ataupun jago menggambar. Saya termasuk orang yang cukup bisa untuk mempelajari berbagai macam hal. Tapi tidak ada yang saya pelajari dengan lebih dalam. Sampai akhirnya pada saat saya masa SMA, saya ingat satu pepatah, ilmu tak diamalkan bagaikan pohon tak berbuah. Dulu saya tak terlalu paham maknanya, hingga akhirnya saya merasa kata-kata bijak yang saya baca tak ada gunanya jika tidak saya aplikasikan ke kehidupan sehari-hari. Dan saat saya mulai mencoba mengaplikasikannya, ternyata memang tidak semudah yang dibayangkan ya. Perlu kesabaran, keikhlasan dan evaluasi terus menerus.
Salah Jalan
Hey, pernah merasa “salah jalan”?
Salah jurusan, salah ikut organisasi, salah topik skripsi, salah memilih pekerjaan, salah membangun core competence, atau bahkan rasanya seluruh hidupmu salah sehingga untuk memperbaikinya kamu harus mengulangi hidup sejak bayi lagi?
Sedikit-banyak, saya pun pernah merasakannya.
Setelah sekian lama bergulat dan berefleksi atas perjalanan hidup, pada titik ini, inilah beberapa nasihat saya kepada diri saya sendiri.
1. Bebaskan diri dari ilusi waktu.
Masa lalu hanyalah memori, masa depan hanyalah imajinasi. Hidup yang sesungguhnya adalah apa yang kita jalani saat ini.
Kamu perlu ingat bahwa betapapun salahnya pilihan yang kita ambil di masa lalu atau seberat apapun situasi yang menanti di masa depan, saat ini mereka hanya terjadi di alam pikiran kita.
Yang nyata adalah apa yang kamu alami, pilihan yang kamu ambil, dan tindakan yang kamu lakukan saat ini; di sinilah hidupmu.
2. Kamu selalu bisa memulai hidup baru.
Bahkan, hidup itu sendiri memang selalu baru. Pagi ini bukanlah pagi yang sama dengan pagi manapun yang pernah kita lalui, detik ini adalah detik baru yang belum pernah kita isi.
Mengapa menyeret-nyeret memori dan menganggap kita yang hari ini adalah bawaan dari kita di masa lalu, ketika hidup selalu menyajikan kesempatan untuk menjadi seseorang yang baru?
3. Mulai sekarang, hiduplah secara intensional.
Hadirkan selalu kesadaran yang penuh pada setiap tindakan dan keputusan–hingga pada hal-hal yang selama ini tidak kita sadari bahwa ia adalah sebuah keputusan, seperti bagaimana kita mengisi Minggu pagi atau bagaimana kita memanfaatkan uang receh.
Hati-hati dengan mode autopilot–mode di mana kita menjalani hidup tanpa intensi dan tanpa kesadaran penuh, menyerahkan kendali pada naluri alamiah dan alam bawah sadar.
Hadir ke kelas karena otak kita sudah diprogram untuk melakukannya sebagai rutinitas–misalnya.
Melanjutkan studi karena, ya, semua orang melakukannya–bukankah begitu caranya hidup? SD - SMP - SMA - Kuliah - Kerja - Kuliah lagi kalau tidak dapat pekerjaan.
Hidup macam apa yang bisa dicapai dengan mode autopilot? Hidup yang terombang-ambing mengikuti apa pun di luar diri kita: tren yang populer, penilaian orang lain, tuntutan lingkungan, dan seterusnya.
If you don’t know where you are going, any road will get you there.
Lewis Caroll
Sejauh apapun kamu tersesat, sebanyak apapun waktu yang tersia-siakan, kamu selalu bisa berputar arah dan mengawali lagi segalanya.
Hutang bisa dibayar, maaf bisa diberi, dosa bisa dihapus; asal kita tidak berputus asa dan selalu memberikan yang terbaik yang kita mampu saat ini, mulai hari ini dan seterusnya.
Seperti yang aku renungkan akhir-akhir ini. Bahwa yang bisa aku lakukan hanyalah melakukan yg terbaik semaksimal mungkin pada saat itu. Apa yang ada di depan mata, apa yang ada di sekitar kita.
Mengajarkan Ibadah yang Menyenangkan pada Anak
Sebuah Catatan Seminar bersama Bunda Elly Risman, Psikolog
Oleh: Yulinda Ashari Bidang Pemuda ASA Indonesia Divisi Riset dan Kajian
Sebagai orang tua Muslim, kita seharusnya sudah memahami bahwa tugas utama kita dalam pengasuhan anak adalah bagaimana menjadikan anak sebaik-baik hamba yang taat beribadah kepada Allah swt. Konsep ibadah dan keimanan ini harus diajarkan sejak anak masih dini, agar kelak ketika beranjak dewasa mereka sudah terbiasa untuk beribadah tanpa harus disuruh lagi. Metode pengajaran beribadah kepada anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Ibadah bagi anak-anak harus dibuat menyenangkan. Mengapa ibadah bagi anak harus menyenangkan? Karena targetnya anak-anak, maka metode harus disesuaikan dengan cara kerja otaknya. Bagian sinaps pada otak anak belum menyatu dengan sempurna sehingga ibadah harus dikemas secara menyenangkan. Orang tua tidak bisa memberikan pengasuhan dengan mengabaikan perkembangan otak anak.
Sebelum mengajarkan ibadah kepada anak, orang tua harus mengingat kembali bahwa hal ini merupakan perintah Allah yang harus diperjuangkan dengan bersungguh-sungguh, karena sejatinya tujuan penciptaan manusia di dunia adalah untuk beribadah dan mengagungkan keesaan Allah swt. Mari kita buka kembali QS. Ad-Dzariyat ayat 56-58, yang artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
Salah satu tanggung jawab orang tua dalam hal beribadah ini adalah bagaimana cara membentuk kebiasaan yang baik serta meninggalkan kenangan yang baik pada anak. Ingatkah dahulu kala mungkin ada yang mendapat “ancaman” jika tidak salat? Barangkali hal itu dapat membentuk kebiasaan yang baik, namun kenangan yang tertinggal di ingatan adalah kenangan yang tidak baik, bukan? Kebiasaan baik dan kenangan yang baik. Ibadah harus dibuat menyenangkan agar anak tidak merasa terbebani, tidak menolak, dan tentu saja agar mereka merasa senang dan bahagia ketika beribadah. Jangan pernah tinggalkan kenangan buruk untuk anak ya Ayah Bunda!
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah berbicara dengan tutur kata yang benar.“ (QS. An-Nisa ayat 9)
Tugas pengasuhan anak apalagi terkait ibadah ini memang bukanlah hal yang mudah. Namun ingatlah bahwa karakter anak apapun yang Allah anugerahkan kepada Ayah Bunda, tidak akan melampaui batas kesanggupan masing-masing orang tua. Selalu ingatlah bahwa anak kita sejatinya bukanlah milik kita. Anak hanyalah titipan Allah yang dapat diambil kapan saja. Anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada pemilik-Nya. Mereka adalah kenikmatan, tantangan, sekaligus ujian, yang kemudian proses pengasuhannya membutuhkan perjuangan berupa pikiran, perasaan, jiwa, tenaga, serta biaya yang tidak sedikit. Bayangkan jika kita dititipi anak presiden, mungkinkah kita berani memukul, mencubit, atau berkata kasar padanya? Tentu saja tidak. Lalu bagaimana jika kita dititipi anak langsung oleh Sang Pemilik Kekuasaan? Masih beranikah kita mendidik anak tanpa ilmu dan bersikap sewenang-wenang pada mereka? Kira-kira sudah berapa banyak kita melanggar perintah Allah terkait pengasuhan anak ini?
Didiklah anak karena Allah. Jangan pernah mengharapkan kebaikan dari anak jika orang tua tidak mendidiknya dengan baik. Anak-anak kita bukanlah pilihan kita, mereka adalah takdir pilihan Allah untuk kita. Boleh memasukan anak ke sekolah-sekolah agama, namun bukan berarti kewajiban orang tua dalam mengajarkan agama menjadi gugur begitu saja. Tugas orang tua untuk mengajarkan agama harus dituntaskan terlebih dahulu sebelum memasukan anak ke pesantren. Di akhirat kelak, bukan guru-guru pesantren yang akan ditanya, tapi para orang tua masing-masing. Ayah dan Bunda, sudah siapkah mempertanggungjawabkan tugas pengasuhan ini?
Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi para orang tua dalam mengajarkan anak beribadah yang menyenangkan, antara lain: 1. Tantangan dari dalam diri sendiri dan pasangan Tantangan utama dalam hal ini adalah terkait bagaimana masalah agama ini ditanamkan pada diri Ayah dan Bunda sendiri. Selalu lihatlah ke dalam diri sendiri sebelum menyalahkan lingkungan. Seberapa pentingkah agama dalam hati dan kehidupan kita? Mungkinkah berharap anak yang salih saat kitapun tidak berusaha menjadi orang tua yang salih? Mungkinkah menginginkan anak yang rajin salat sedangkan Ayah dan Bunda tidak salat? Jadilah teladan yang terbaik bagi anak-anak kita terkait ibadah ini. Pelajarilah ilmu agama lebih banyak. Tumbuhkan kesadaran bahwa tujuan utama mendidik anak adalah menjadikan mereka penyembah Allah. Bagi yang sedang dalam proses pencarian pasangan, sepakatilah di awal pernikahan dengan pasangan untuk bersama-sama mendidik anak menjadi hamba Allah jika telah terlahir ke dunia kelak.
Tahukah Ayah dan Bunda, dalam proses pengasuhan ini, penanggung jawab utamanya ternyata adalah Ayah! Keterlibatan ayah untuk membentuk kebiasaan beribadah anak SANGAT PENTING! Anak yang mendapat keterlibatan pengasuhan ayahnya yang baik akan tumbuh memiliki harga diri yang tinggi, prestasi akademik di atas rata-rata, lebih pandai bergaul, dan saat dewasa akan menjadi pribadi yang senang menghibur orang lain. Maka wahai para ayah, kembalilah! Tugas ayah bukanlah sekadar mencari nafkah, namun juga sebagai penanggung jawab utama pengasuhan anak. Jika ayah terlalu sibuk bekerja—dengan alasan untuk kebahagiaan istri dan anak—maka tanyakanlah kembali pada diri: apa yang sebenarnya sedang ayah kejar? Apa yang ayah sebut dengan kebahagiaan anak dan istri tersebut? Tidak takutkah kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah mengenai hal ini?
2. Mengasuh generasi Alfa • Gen Y lahir pada rentang tahun 1980 – 1994. • Gen Z lahir pada rentang tahun 1994 – 2009. • Gen Alfa lahir pada rentang tahun 2010 – 2025. - Mereka hidup dengan internet (belajar, bikin PR, makan olahraga, tidur). - Semua serba cepat, instan, menantang dan menyenangkan. - Mereka terbiasa multiswitching (melalui gadget). - Mereka memiliki tata nilai yang berbeda. Generasi yang akan kita didik saat ini adalah para Alfa. Jika generasi Alfa ini tidak dididik dengan metode yang tepat sesuai zamannya, maka akan sulit memasuki dunia mereka, bukan? Karenanya, Ayah dan Bunda tidak boleh abai dengan tantangan dan perkembangan zaman ya!
3. Beban pelajaran yang berat • 70% anak masuk SD sebelum usia 7 tahun. • 46% anak di sekolah 6 – 7 jam sehari. • 25% sekolah masih memberi materi pelajaran formal setelah jam 12 siang. • 52% guru di sekolah masih memberikan 1 – 2 PR. • 18% anak mengikuti les mata pelajaran setelah pulang sekolah. • 25% anak mengikuti les 2 -3 hari dalam seminggu. • Standar kelulusan Indonesia tertinggi di dunia. Dengan beban pelajaran yang berat bagi anak, kegiatan beribadah seringkali menjadi tidak diutamakan. Para orang tua mendidik anak mereka menjadi orang yang pintar secara akademik, namun hampa secara keimanan. Tanamkanlah tekad dalam diri, “Anakku harus salih dulu, baru pintar”. Jangan salahkan pula jika kemudian anak menjadi mudah emosi karena terlalu lelah di sekolah. Jangan pernah abaikan perasaan mereka. Hindari menasihati mereka saat emosinya sedang tidak baik. Orang tua juga perlu menyelesaikan emosi dengan dirinya sendiri, jangan sampai emosi kita kemudian berimbas kepada anak dan pasangan. 4. Peer Pressure 5. Ancaman dari agama dan kepercayaan lain 6. Perubahan nilai dari masyarakat kita
Mulai dari mana?
Selesaikanlan urusan dengan diri sendiri dan pasangan terkait urusan ibadah ini. Semua kebiasaan beribadah ini bermula dari Ayah dan Bundanya, jadilah role model yang baik dan idola bagi anak kita sendiri. Orang tua juga perlu mengenali keunikan serta tahapan perkembangan otak anak, sehingga metode yang disampaikan dapat sesuai dan tepat sasaran. Kenalkan ibadah pada anak dengan cara yang menyenangkan. Biarlah jika pada awalnya mereka suka sekali bermain air saat berwudhu hingga bajunya basah dan haruss diganti berkali-kali. Biarlah jika gerakan salatnya masih semaunya, suka menarik-narik sajadah, atau menganggu ayah bundanya saat sedang salat. Jangan dimarahi. Biarkan anak senang dan bahagia terlebih dahulu dengan praktik ibadah ini. Masukan target “bahagia” dalam proses pengasuhan anak. Mendidik anak memang harus disertai kesabaran yang tanpa batas. Tidak apa-apa, didiklah anak dengan cinta karena Allah semata. Jika anak senang beribadah, ia akan mau beribadah, kemudian menjadi bisa beribadah, dan terakhir menjadi terbiasa beribadah tanpa harus disuruh dan merasa dipaksa.
Untuk mengajari anak ibadah yang menyenangkan diperlukan niat baik, kejujuran, keterbukaan, serta kerjasama yang baik dari kedua orang tuanya, tidak bisa hanya salah satunya saja. Setelahnya, kombinasikan semua tekad itu dengan mengenali kepribadian anak, sesuaikan dengan cara kerja otak, bakat, serta seluruh kemampuan anak. Setiap anak kita adalah unik, otak anak baru berhubungan sempurna ketika berusia 7 tahun, sedangkan hubungan anatara sistem limbik dan corteks cerebri di otak baru sempurna pada usia 19-21 tahun. Butuh sekitar 20 tahun bagi orang tua untuk mendidik anak dengan baik, maka bersabar dan bersungguh-sungguhlah, karena Allah menyukai orang yang bersungguh-sungguh. Jangan menuntut anak untuk dewasa sebelum waktunya. Anak perlu menjadi anak untuk dapat menjadi orang dewasa, hilangnya masa kanak-kanak akan mengakibatkan masyarakat yang kekanak-kanakan. Bantulah anak-anak kita untuki mekar sesuai dengan usia dan kemampuan serta keunikannya. Ayah dan Bunda harus membuat kesepakatan dan kerjasama di awal, siapa pengambil keputusan dalam hal A dan B, buat perencanaan-pelaksanaan-evaluasi, buat target per anak, pembagian kerjasama, kontrol, dan selalu bermusyawarah dalam setiap keputusan yang melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Ubah paradigma dan cara pandang kita, bahwa anak bukan saja harus bisa beribadah, namun juga suka beribadah.
Landasan Psikologis Anak
Anak Usia 5 – 8 tahun Ibadah untuk anak usia ini bukanlah suatu kewajiban, tapi perkenalan, latihan, dan pembiasaan. Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak untuk beribadah, namun ada kewajiban syar’i bagi orang tua untuk membentuk kebiasaan anak dengan cara yang menyenangkan. Didiklah anak dengan modal, misalnya belikan mukena yang disukai anak, membelikan baju koko baru agar anak rajin ke masjid, dan lain sebagainya. Jangan ragu mengeluarkan modal untuk keperluan beribadah kepada Allah swt. Jangan juga hilang kegembiraan anak usia 5 -8 tahun, masuki dunia anak dengan metode 3B: Bercerita/Berkisah, Bermain, dan Bernyanyi. Landasan Psikologis Anak Usia 5 – 8 tahun: • Mudah dibentuk. • Daya ingat yang kuat. • “Dunianya” terbatas. • Meniru: orang tua/ situasi. • Rasa persaudaraan sedunia.
Landasan Psikologis Anak Usia 9 – 14 tahun: • Otak sudah sempurna berhubungan. • Umumnya: Mukallaf. • Emosi sering kacau. • Tugas sekolah semakin berat (ditambah les). • Banyak aktivitas, termasuk bermain internet dan games. • Peer Pressure yang sangat kuat. • Hal yang perlu diperhatikan pada usia ini antara lain: - Fokus pada target tahun ini: tanggung jawab seorang yang sudah baligh. - Perlakuan dan komunikasi sebagai teman. - Bisa menjadi pendamping/ pembimbing adik-adiknya. - Diberi tanggung jawab sosial: mengantar makanan untuk berbuka puasa, membayar zakat, dan kerja sosial yang mudah sesuai usia. - Ajari anak untuk berwirausaha/ berdagang.
Landasan Psikologis Anak Usia 15 – 20 tahun: • Prefontal Corteks hampir sempurna berhubungan. • Dewasa muda. • Semakin banyak aktivitas, games dan internet. • Mulai mengenal pacaran dan pergaulan bebas. • Orientasi semakin di luar rumah. • Hal yang perlu diperhatikan pada usia ini antara lain: - Fokus pada target tahun ini: dewasa muda, ajarkan fiqih pernikahan. - Perlakuan dan komunikasi sebagai sesama orang dewasa. - Bisa menjadi motivator dan pembimbing adik-adiknya. - Jadikan ia penggerak/ koordinator kegiatan anak dan remaja masjid/mushala.
Setelah mengetahui landasan psikologis pada rentang umur anak, maka metode pembiasaan beribadah pada anak dapat disesuaikan dengan perkembangan dan cara kerja otaknya. Ayah dan Bunda harus terus belajar untuk bisa menjelaskan pertanyaan “mengapa?” dari anak, jelaskan apa yang saja yang menjadi perintah dan larangan Allah swt., serta manfaat dan ganjaran dari beribadah. Gunakan pendekatan kognitif secara ringkas serta contoh yang kongkrit pada anak, serta selalu gunakan Al-Qur’an dan Hadis sebagai referensi utama,. Teruslah bersabar dalam mendidik anak karena waktu persiapan setiap anak tidaklah sama, proses pengasuhan harus disesuaikan dengan usia, kemampuan, kondisi fisik, dan karakter anak.
Persiapkanlah diri Ayah dan Bunda untuk mengatasi setiap masalah yang terjadi dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Gunakanlah kata-kata yang memahami perasaan anak, lebih banyak mendengar aktif, hindari kata-kata yang menghambat komunikasi dengan anak, serta biasakanlah memberi kesempatan kepada anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan. Jika saat ini anak kita dimanjakan oleh fasilitas: kamar pribadi, rumah yang luas, gadget, serta wifi dan akses internet yang tidak terbatas, jangan lupa ingatkan anak untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluannya, ingatkan bahwa meski Ayah dan Bunda tidak berada di rumah atau di sekolah, ada Allah yang tetap mengawasi dimanapun mereka berada. Sampaikan tips sukses pada anak yang tidak hanya berupa kemampuan akademik, namun juga berupa salat tepat waktu, sayang pada ibu, puasa Senin dan Kamis, serta mengaji setiap pagi dan sore.
Akhirnya, selamat berjuang! Miliki kekuatan kehendak, bayangkan, dan doakan anak-anak menjadi penyembah Allah yang taat. Semoga Allah karuniakan kita anak-anak yang salih dan salihah.
Simpan dulu
fiqh
jika kita memaknai islam hanya dengan sekumpulan aturan hitam dan putih yang harus ditaati, maka disiplin ilmu fiqih tidak lagi diperlukan. Sebab peran dan fungsi fuqoha sudah bisa tergantikan dengan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan. Sesederhana decision tree yang terdiri atas ratusan if then else.
Namun beragama sesungguhnya tidak sesimpel itu. Jika kita menganggap islam sebagai solusi, maka kita harus bisa menempatkan Islam sebagai petunjuk untuk mengantarkan ummat dari kondisi real menuju kondisi paling ideal. Di sinilah peran fuqoha dalam merumuskan langkah tentang bagaimana mengantarkan ummat menuju kondisi ideal.
Maka dari itu, fiqih banyak sekali macamnya.
Seperti fiqih Tamkin yang mengajarkan kita tentang jalan menuju kemenangan. Seperti Manhaj Ishlah wa Taghyir yang mengajarkan kita cara-cara untuk memperbaiki kondisi ummat dan menggerakkan ummat. Syekh Qardhawi pun memperkenalkan Fiqih Minoritas untuk saudara kita yang tinggal di negeri yang jarang banget penduduk muslimnya.
Intinya, fiqih itu tidak sekedar membahas tentang hukum. Tetapi juga tentang sikap kita terhadap hukum. Sikap terhadap hukum ini yang kadang masih kurang kita kaji sehingga kita kadang tergagap-gagap dan reaktif ketika menghadapi kondisi yang tidak ideal.
semisal, kita tahu bahwa LGBT dilarang dalam islam. Namun ketika kita nemu temen kita yang LGBT, tentunya kita nggak cukup dengan mengatakan:
“Ittaqillah. Takutlah kepada Allah, etc..etc..”
Fiqih yang mengajarkan kita bagaimana mencari langkah terbaik agar teman-teman yang kadung terjebak dalam dunia LGBT bisa mendapatkan solusi yang mashlahat dan tidak menyakitkan.
pun ketika ngelihat temen kita yang mendadak lepas jilbab,
fiqih pula yang mengajarkan kita untuk memperlakukan mereka dengan cara yang baik. Tidak cukup sekedar memberikan ayat yang bilang itu salah, ini benar.
Fiqih itu tentang cara berpikir. Tentang kesungguhan kita dalam menggali hukum-hukum dalam Al Qur’an serta teladan-teladan dari sunnah Rasulullah sehingga membentuk kita menjadi muslim yang dapat melihat kebenaran sekaligus mampu mengantarkan ummat pada kebenaran dengan sebaik-baik akhlak.
Teringat ketika sahabat hendak menghardik badui yang buang air kecil di masjid, Rasulullah justeru hadir dengan wajah yang ramah. Menunggu badui tersebut menyelesaikan hajatnya, baru memberi tahu bahwa masjid tempat sholat tidak boleh dijadikan tempat untuk buang hajat. Lantas Rasulullah yang memberi teladan untuk membersihkan tempat tersebut.
Akhir cerita, si badui masuk islam karena kebaikan akhlak Rasulullah.
Gue nulis ini bukan buat judging siapapun. Hanya dengan banyaknya inbox yang nyuruh gue nulis tentang mbak Rina Nose yang copot jilbab, gue ngerasa mengolok-olok beliau merupakan sikap yang tidak peka.
Kita nggak pernah tau apa yang ngebuat orang berubah. Proses hijrah itu panjang dan halangannya banyak. Maka ketika ada temen kita yang tersendat dalam prosesnya, mestinya kita lebih peka untuk memberikan dia pelukan.
Itu pilihan sikap pribadi gue.
Tapi poin penting dalam tulisan ini bukanlah mbak Rina Nose ~XD
gue berharap kita berusaha untuk tidak jadi ummat yang reaktif dengan apa yang terjadi di media sosial. Kembalilah ke perpustakaan, kajilah Islam dengan disiplin ilmu yang utuh sehingga kita bisa menemukan akar permasalahan ummat dan menyelesaikan masalah tersebut dari akarnya.
gue kadang ngerasa hidup di dua dunia yang beda.
gue sering nemu ulama yang alim nan tawadhu. Yang kalo misal gue denger beliau mengkaji Al Qur’an, gue selalu nemu pemahaman baru. Meanwhile di sisi lain, gue nemu temen yang nggak punya trust ke ulama karena mereka masih ngelihat ulama-ulama toh banyak salahnya ~XD
rasanya kita terlalu lama memandang islam hanya sebagai kumpulan aturan dan menilai islam dari figur-figurnya. Padahal penting banget buat kita untuk mengkaji islam melalui diisiplin-disiplin ilmu yang paling dasar.
Ga harus sampe tingkat ulama. Tapi minimal kita enggak lagi menjadi yang reaktif, menghargai pandangan-pandangan orang lain dengan penuh hormat tetapi juga dengan sikap yang kritis dan tepat sasaran.
So ayo belajar fiqih :))
Pemaparan yang bagus sekaliii, nambah pemahaman baru 😍
Jaman dahulu banyak orang mendewakan IQ. Sekarang ini banyak penelitian yang menawarkan pandangan yang berbeda. Di buku ini, dibahas tentang bagaimana memori kerja (working memory) otak kita memiliki peran penting untuk menjalankan aktivitas dan berkarya dengan produktif. . . Salah satu hal yang menentukan keberhasilan seseorang adalah kemampuannya untuk menunda kesenangan (Delay of Gratification). . . Misalnya, kamu akan ujian besok tapi gebetan kamu ngajak main. Kalau kamu memori kerja kamu besar, kamu akan sanggup menahan godaan itu sehingga kamu menolak ajakan gebetan demi belajar dan dapat nilai 100 di sekolah. Setelah dapat nilai 100 baru kamu ajak dia jalan, dan dia bakal lebih bangga karena jalan sama orang yang nilai ujiannya 100. . . Tapi, kalau memori kerja kamu (ibarat RAM di komputer) rendah, kamu akan kesulitan untuk memproses prioritas, mengelola fokus, dan kalah dengan godaan. Kamu nekad jalan sama gebetan. Besoknya ujian kamu nilainya jelek. Besoknya lagi rupanya gebetan kamu jalan sama orang lain yang nilainya 105!! 😭😭😭💔 . . Hal sama juga berlaku untuk diet. Orang dengan memori kerja lebih tinggi cenderung bisa menahan godaan makanan enak waktu dia lagi diet. . . Kamu sendiri gimana? Apakah kamu tipe yang jago menunda kesenangan sesaat demi keuntungan yang lebih tinggi di kemudian hari? Tag temen-temen kamu yang sering impulsif dan nggak pikir panjang sebelum melakukan sesuatu! 😂😂
#faktamenarik #thenewiq #sains #edukasi #rekomendasibuku #memorikerja #workingmemory #book #bookquote #psychology #psikologi
“Kuliah, pusing. Mau nikah aja.”
“Kerja, pusing. Mau nikah aja.”
“Nanti nikah pusing juga, mau apa lagi?”
Bukan. Bukan begitu. Menikahlah bukan karena lelah dari kehidupan. Tapi menikahlah karena butuh diringankan dan meringankan beban pada saat yang sama.
Bukan. Bukan begitu. Menikahlah bukan karena ingin lari dari kenyataan. Tapi menikahlah karena ingin saling menguatkan hadapi kenyataan.
Bukan. Bukan begitu. Menikah bukanlah tentang kamu saja yang harus dijaga perasaan dan dibahagiakan hidupnya. Menikah adalah tentang sama-sama menjaga perasaan dan sama-sama membahagiakan.
Menikah bukanlah pelarian yang akan melepas beban-beban hidupmu. Menikah adalah tentang penyatuan dua kekuatan untuk membawa beban yang sudah ada sebelumnya. Menikah adalah tentang berkawan, saling berbagi dan menerima. Menikah adalah tentang membangun masa depan dan mencapai impian sama-sama.
Maka bayangkan, apa jadinya bila dua orang yang saling lari dari kenyataan hidup kemudian bertemu dalam satu bingkai pernikahan? Ya, mereka akan saling melarikan diri pada akhirnya.
— Taufik Aulia
Kompromi dengan Diri Sendiri
Memang perlu berulang-ulang untuk berkompromi dengan diri sendiri: berkompromi untuk tidak kecewa lama-lama dengan urusan duniawi, berkompromi untuk mengaku salah lalu bertanggungjawab, berkompromi untuk tidak melakukan hal bodoh saat marah, berkompromi untuk memaafkan diri sendiri atau orang lain, serta kompromi-kompromi lainnya.
Namun, sebelum semua itu bisa diterima, terima lebih dulu diri sendiri. Bahwa, suatu saat saya bisa salah, suatu saat orang lain bisa tersakiti karena saya, suatu saat orang lain yang benar, saya tidak. Jangan hanya menerima bahwa saya harus tidak boleh salah, saya ingin selalu benar, saya harus menjaga harga diri sekalipun terlihat ganjil.
Masalah, selain untuk menguji seberapa kuat dirimu, juga untuk memperlihatkan siapa kamu (jelas) pada orang lain, tapi lebih jelas pada diri sendiri. Jangan hidup dengan orang lain, jika semuanya suka-suka diri sendiri. Begitu kata bapak. Apalagi marah-marah saat salah. Marah-marah saat kecewa saja kadang bisa terlihat memalukan, apalagi marah-marah saat salah.
Begitulah.
Ttd, Yang masih terus berkompromi dengan diri sendiri.
Waktu Itu Untuk Kamu
Jika memang sudah waktunya, tak ada yang bisa menunda ataupun mempercepat. Yang menjadi kebimbangan adalah perjalanan menuju waktu tersebut. Kadang merasa hopeless, ingin menyerah, tergesa-gesa. Maka, kembalilah mengingat tujuan awal, juga tujuan akhir. Darimana, akan kemana, dan untuk apa keberadaan kita. Semoga dengan begitu, kita menjadi insan yang lebih baik setiap harinya. Yang bukan hanya menunggu waktu, tetapi menikmati setiap detiknya dengan kebaikan. Benarlah isi dari surat Al-Ashr itu. 'Demi Masa. Sesungguhnya manusia kerugian. Melainkan, yang beriman dan yang beramal sholeh'..
Antara Fiksi dan Nonfiksi
Kadang saya berfikir, membaca cerita fiksi itu cuma ngabisin waktu, buat apa? Cuma membuang waktu membaca sesuatu yang 'tidak nyata', dan saat kamu kembali ke duniamu, kamu tak mendapatkan apa-apa. Tapi terkadang ada saat dimana saya merasa bosan membaca hal-hal yang bersifat teknis ataupun motivasi. Karena ya, hal-hal yang seperti itu kalau di aplikasikan butuh waktu juga untuk mendapat perubahannya, ga bisa sekarang berubah terus besok jadi sukses 😄. Perlu proses dan perjuangan yang tidak sedikit dan sebentar. Pernah terbesit juga di pikiran saya, tentang salah satu penulis yang saya kagumi, yaitu Tere Liye. Saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa ya bang Tere nulis cerita fiksi terus? Padahal beliau orang yang sangat teguh pendirian sekali, sangat menjunjung tinggi kejujuran, dan nilai-nilai kebaikan. Kenapa beliau ga nulis hal-hal yang memang isinya nonfiksi aja? Yang memang mengajari kita untuk seperti itu. Tapi, di sisi lain, ternyata sebuah cerita itu bisa memberikan 'feel' yang luar biasa ke pembacanya. Mungkin karena masuk ke alam bawah sadar juga, jadi pesan-pesan yang dibawakan juga lebih mudah masuknya. Aku juga menyadari, kalau membaca sebuah cerita juga bisa menghilangkan rasa bosan dalam menjalani hidup. Seenggaknya, di pikiran saya ga terus-menerus mikirin apa yang saya inginkan, sementara apa yang saya lakukan masih itu-itu saja 😄. Mungkin karena itu lah, ayat pertama dari Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah adalah surat Al-Alaq ayat pertama, yaitu iqra' (bacalah). Membaca memang menambah wawasan, mengubah pandangan, dan menghilangkan kejenuhan 😀.
berharap
pernah nggak sih kamu, karena sudah tau dari awal bahwa sesuatu akan mengecewakan, kamu jadi malas, lelah, atau berhenti berharap?
kamu tahu bahwa skripsimu hanya akan memenuhi rak perpustakaan, jadi kamu malas berharap bahwa apa yang kamu teliti akan mengubah dunia.
kamu tahu bahwa berapa lama pun kamu bekerja gajimu tidaklah bertambah signifikan, jadi kamu malas berharap bahwa kebaikan yang kamu lalukan akan mendatangkan rezeki.
atau barangkali, kamu tahu bahwa semua–setiap–orang yang ada dalam hidupmu pasti akan mengecewakan, kamu malas berharap ada kebaikan yang mereka perbuat kepadamu.
pernah. kita mungkin pernah menolak berharap karena menghindari rasa kecewa yang ikut membuntuti (nanti).
ya, memang begitu! segala sesuatu di dunia ini punya sisi mengecewakan. sadarilah bahwa kamu pun–bagi seseorang–juga mengecewakan. maka, tidak ada guna menaruh harapan pada manusia. namun tidak, tidak begitu! kamu harus selalu berharap. berharaplah dengan tepat.
berharap adalah kepada yang Maha Menentukan. berharap adalah sekaligus berdoa dan berprasangka yang baik. berharap adalah sekaligus berjuang, sebaik-baiknya perjuangan. berharap adalah sambil meluaskan sabar dan rasa syukur.
jangan pernah berhenti berharap. bukankah tidak pernah ada seorang pun yang berharap kepada-Nya, lalu mendapati dirinya kecewa?
selesai
“setiap keluarga, setiap rumah tangga, pasti punya masalah sendiri-sendiri. tapi semua masalah itu harus segera selesai. bahkan, Ayah dan Ibu membiasakan bahwa setiap masalah dalam keluarga harus selesai sebelum tidur. menyesal deh Ayah, kalau sampai tidurnya meluk masalah bukan meluk Ibu.”
“hahaha Yah…” kamu terpingkal dalam hati.
“ini serius, Nak. setiap masalah yang datang dari dalam harus benar-benar selesai, sebab dalam perjalanan menikah, ada sangat banyak masalah yang datang dari luar. mungkin, sama seperti saat kita hendak menikah ya. kalau dulu eyang, papanya Ibu, bertanyanya kepada Ayah: kamu sudah selesai dengan dirimu sendiri belum?
nah, kalau kamu ingin keluargamu menjadi keluarga yang bisa bermanfaat, menyelesaikan banyak masalah umat, kamu dan suamimu nanti harus selesai dengan masalah-masalah internal keluarga kalian. dan itu artinya, kamu dan suamimu nanti, harus selesai secara sendiri-sendiri pula–dengan diri sendiri.”
“Yah, menurut Ayah, seperti apa orang yang selesai dengan dirinya sendiri itu, Yah?”
“damai, Nak. orang yang selesai dengan dirinya sendiri, hatinya selalu damai bagaimanapun di luar sedang badai. keluarga yang selesai juga sama. selalu damai di dalam keluarga tersebut, meskipun di luar badai sedang berkecamuk.”
kamu mengambil tempat tepat di belakang Ayah, lalu mulai memijiti punggungnya.
“Nak, syarat menjadi keluarga yang hebat itu adalah menjadi keluarga yang kuat. syarat menjadi keluarga yang kuat itu adalah menjadi keluarga yang sehat. syarat menjadi keluarga yang sehat itu adalah terpenuhi kebutuhannya. menyelesaikan masalah itu bagian dari kebutuhan loh, Nak. sifatnya harus karena memang perlu.
ingat, Nak. di luar sana ada banyak sekali sumber masalah. bahkan, tanpa kita datangi sekalipun, masalah hidup itu akan datang silih berganti dengan sendirinya. maka, jadilah seseorang yang selalu siap menemani pasanganmu dan anak-anakmu dalam menghadapi dan menyelesaikan itu semua. jangan beri kesempatan masalah itu ikut meretakkan yang ada di dalam. jangan beri kesempatan sampai ada orang lain yang berperan lebih besar untuk menyelesaikan masalah–itu sungguh sumber masalah yang lebih besar lagi.”
“siap, Yah. besok-besok kalau sudah menikah, pokoknya kalau tidur aku cuma peluk suami, bukan peluk masalah. hahaha…”
“hahaha… beruntung sekali ya suamimu itu nanti. dipeluk, dipijiti enak pula. Ayah pasti kangen jempol kamu.”