Nak, Allah SWT mengenalkan diriNya pada ayat pertama surat paling awal di Quran sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Maka dalam rangkaian takdir hidup yang telah Allah tetapkan untuk kita jalani ini, terselip kasih dan sayang Allah di setiap langkahnya. Dari episode sakitnya, bahagianya, bingungnya, sedihnya, harapnya, dan ragam rasa lainnya sejatinya terselip kasih dan sayang Allah disana. Namun sering kali kita terlalu lemah akal dan hatinya untuk mengetahui itu.
Bukankah seorang Ibu akan melarang anaknya yang belum paham bahaya memainkan pisau, untuk menjadikan pisau itu mainan baginya? Larangan yang diberikan ialah ekspresi kasih dan sayang. Bukankah seorang ayah akan marah melihat anak perempuannya dengan lancang disentuh laki-laki yang bukan mahram anak itu? Marahnya adalah ekspresi kasih dan sayang. Bukankah indra pendengaran dan penglihatan kita dibatasi oleh Allah SWT jangkauannya, agar bisa lebih menikmati hidup ini? Maka keterbatasan itu adalah ekspresi kasih dan sayangNya.
Nak, ketika kita dalam kondisi dikasihi dan disayangi maka tidak melulu bentuknya ialah sesuatu yang membuat kita senantiasa tertawa puas. Ada masa di mana kita menangis kencang, atau terhenyak diam, atau juga terkembang senyum bahagia. Maka yang membedakan kita sebagai orang-orang yang mengimani Allah sebagai Rabb dengan pihak lain yang tidak beriman ialah, bahwa berbagai rasa boleh datang tapi yakini bahwa Allah selalu sayang.
Sehingga ada langkah optimis yang bisa kita renda kembali. Ada kalimat istigfar sebagai alat evaluasi diri. Ada amalan shalih yang bisa kita harapkan menjadi penghapus kesalahan yang telah atau akan kita lakukan. Ada keyakinan bahwa Dzat Yang Maha Besar dan Maha Pengasih senantiasa menemani dan menyayangi. Dan langkah hidupmu ke depan dalam menghadapi dunia ini akan tenang, sebab Allah sudah menjaminnya dalam dekap kasih sayang.
Maka energi dan konsentrasi pikiran bisa kita arahkan kepada urusan yang lebih esensial, lebih kekal, lebih tidak ada jaminannya, ia adalah kehidupan kita di akhirat kelak.
Khawatir kita, semoga tercurah pada kekhawatiran akan kondisi meninggal kelak. Apakah Husnul khatimah atau suul khatimah. Harapan kita, semoga tercurah pada harapan kelak di kubur akan ada kawan rupawan yang menemani dan tempat yang kita diami jadi bagian dari taman-taman Surga. Ketakutan kita, semoga tercurah pada adzabNya yang diperuntukkan kepada orang-orang yang merugi. Syukur kita, semoga terlimpah ketika selamat dan cepat melewati Shirath. Bahagia kita, semoga membuncah ketika sampai di telaga Kautsar berjumpa dengan Baginda Nabi SAW. Dan tangis haru kita, semoga dipersembahkan ketika kelak bisa melihat Wajah Allah yang ridha kepada kita.
Apapun pencapaian dunia yang diperoleh, jangan sampai membuat kita lebih bahagia dari urusan-urusan penting nan genting yang kelak akan dihadapi ya Nak. Pun juga sesuatu yang membuat sedih atau kecewa di dunia, jangan sampai tercurah semua hingga kita lupa akan ancaman sedih dan kecewa yang lebih berbahaya di akhirat sana. Ibu menuliskan ini agar kita sama-sama mengingat dan meyakini, hiruk pikuk yang terjadi di dunia tak akan membuat kasih sayang Allah memudar untuk kita asalkan kita senantiasa mengikat dan menguatkan hubungan denganNya.
Tutur Ibu, 28 Januari 2025