Di atas langit masih ada langit..
Dihadapan Allah rendahkan dirimu,
Dihadapan manusia rendahkan hatimu..

ellievsbear
Today's Document
styofa doing anything
KIROKAZE

Origami Around
Sweet Seals For You, Always
🪼
No title available

titsay

Discoholic 🪩
No title available
taylor price
NASA
Peter Solarz
Misplaced Lens Cap
Sade Olutola
Monterey Bay Aquarium
he wasn't even looking at me and he found me
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

No title available
seen from United States
seen from United States

seen from Indonesia
seen from Italy
seen from Netherlands

seen from Netherlands
seen from United States

seen from Australia

seen from Australia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United Arab Emirates
seen from China

seen from Switzerland
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Brazil
@askaineta
Di atas langit masih ada langit..
Dihadapan Allah rendahkan dirimu,
Dihadapan manusia rendahkan hatimu..
Penyakit Amnesia, akan membuat hidupmu menjadi sia-sia.
Kita diciptakan oleh Allah pasti ada maksud dan tujuannya. Maka jangan pura-pura lupa, kita hidup untuk apa?
Jika berlarut larut nanti Allah malah menjadikanmu benar-benar lupa akan dirinya sendiri.
وَلَا تَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَ نْسٰٮهُمْ اَنْفُسَهُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik."
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 19)
Do not attach your heart to any human being!
Shaykh al-Islam Ibn Taymiyyah - may Allah have mercy on him - said:
The heart was created solely for the love of Allah Almighty. Do not scatter your heart in seeking love, security, and perfection from other than Allah. You will not find it, and the heart will continue to be let down by people. And they are all excused, due to their own deficiency and weakness. You will continue to be disappointed and hurt until you become certain that true attachment is only befitting for Allah, and that the heart does not find rest, tranquility, and a sense of security except with Allah. So, love others for the sake of Allah, in accordance with Allah's will, and to please Allah -not to please yourself. And whoever pleases Allah , He will please them, even if after a while.
Majmoo' al-Fataawa, 10/134
Ternyata Terluka
Beberapa waktu lalu, teman sekolahku berpulang. Dalam rangkaian kabar yang kuterima, ia telah berjuang dan bertahan selama ini dari depresi dan berbagai isu kesehatan mental yang ia alami. Dan ternyata, aku baru tahu, ia telah berjuang sejak dulu kami sama-sama masih sekolah. Tapi, aku tidak tahu. Yang aku tahu, ia adalah anak yang populer. Cantik, ramah, supel, dan mudah berteman. Ia bisa bergaul dengan mudah baik seangkatan maupun dengan kakak-kakak tingkat. Sementara aku, saat itu, sembunyi dari keriuhan karena tak memiliki kepercayaan diri. Latar belakangku yang biasa-biasa saja membuatku tak punya cukup kesempatan saat itu. Saat teman-teman dulu bisa nongkrong di kafe, aku tak cukup uang untuk melakukan hal yang sama. Saat dulu semua orang punya pin BB, aku pun tak punya karena memang tak ada uang untuk membeli ponsel semahal itu. Bisa dikatakan, aku cukup tertinggal dalam pergaulan.
Tapi tidak dengannya. Dalam pandanganku, semua hal yang ada padanya begitu sempurna. Pintar, cantik, ramah, dan berbagai macam hal lain yang memang membuatnya bersinar.
Tapi aku sama sekali tidak tahu, kalau ternyata ia terluka. Sepeninggalnya kemarin, aku terkejut karena bertahun-tahun ia bertahan dari depresi. Sesuatu yang sama sekali tak nampak bagiku saat itu. Mungkin karena kami jarang bicara mendalam, hanya bersapa dan bertanya pelajaran sekolah. Setelah beberapa tahun terakhir juga membantu orang lain engan masalahnya, aku menyadari bahwa setiap orang punya permasalahan yang cukup kompleks. Dengan skalanya masing-masing. Kalau ada waktu saat itu, mungkin yang kutanyakan padanya bukan tentang pelajaran hari itu, tapi bagaimana keadaaanya atau kabarnya. Ternyata, permasalahan hidup yang ia hadapi lebih rumit dariku. Padahal kupikir, hidupku sudah begitu rumit.
Aku tak pernah berpikir untuk menjadi pendengar saat itu, karena aku masih berkutat dengan ketidakpercayaan diri. Aku tak pernah berpikir bahwa seseorang yang nampak sempurna, ternyata menyimpan luka menganga. Aku tak pernah berpikir, untuk bertanya kabar dan mendengarkan cerita. Ia meninggalkan dunia ini, serta meninggalkan pertanyaan ke dalam pikiranku sekarang. Jangan-jangan di sekitarku, orang yang kukenal dan kusangka hidupnya baik-baik saja. Bahkan penuh dengan pencapaian yang membuatku sering membandingkan diri. Ternyata sedang terluka dan tak ada yang mendengarnya. Ia sembunyi dari keriuhan dunia karena takut orang lain mengetahui kerentanannya. Apakah ada juga di sini?
Apakah itu kamu? (c)kurniawangunadi
I love how varied and universally weird the circumstances for making lifelong friendships are. Here's this guy I accidentally messaged once and I could not imagine my life without them now. Here's this girl I was so scared of when I met her, I would kill for her and remind her to rest on the regular. Here's this other guy we have so much in common we used to joke we were the same person in different timelines. It took us years to meet in person and I attended his wedding. There are also people who entered my life in absolutely unremarkable ways but changed it forever for the better. It's wonderful how easy it is to find people to love.
Selama ini seringkali aku hanya menempatkan doa sebagai ban cadangan ketika semua usaha sudah kuanggap mentok.
Dan kerapkali menjadikannya sebagai pintu darurat yang hanya diingat saat musibah menghampiri.
Hal ini sebenarnya membuatku agak kurang nyaman. Ada perasaan kurang sreg, malu, sekaligus ingin protes pada diri sendiri, karena hati kecilku bilang bahwa tidak selayaknya sebuah doa diperlakukan seperti itu, dijadikan sebagai pilihan terakhir. Menurutku, disitu ada dimensi adab yang dikesampingkan, ada nuansa "terlalu mengedepankan ikhtiar" yang mencuat dan ada keangkuhan yang terselubung.
Walaupun kemudian ada suara dalam diriku yang membisikkan 'pembelaan' bahwa, "nggak masalah kok, toh pada akhirnya kamu berdoa juga, kan?"
--------
Wallohu a'lam bisshowab.
tji leng shi, sunyi, 0907-2025 | 11.10 pm
doa untukmu
jika ada, semoga Allah mengangkat semua rasa sedih, marah, kecewa, takut, curiga, dendam, dan khawatir dari dadamu. semoga Allah menggantinya dengan kelapangan dan kesabaran. semoga Allah menghapus dosa-dosamu dari datangnya perasaan-perasaan itu.
semoga Allah memberimu petunjuk hidup yang terang benderang. semoga hidayah selalu turun kepadamu. semoga kamu mendapatkan undangan dari Allah untuk senantiasa bertaubat.
semoga kamu bisa menerima kenyataan, memperoleh kemenangan. semoga kamu bisa memeluk dirimu sendiri dengan kejujuran---dan menjadi lebih kuat setiap harinya. semoga Allah menyembuhkan semua luka.
semoga kamu bisa memaafkan orang-orang yang menurutmu jahat, yang menurutmu telah merebut kebahagiaanmu. orang-orang yang melukaimu. orang-orang yang kamu tertawakan, kasihani, benci. tolong maafkan (kami) ya.
semoga kamu segera dipertemukan Allah dengan seseorang yang baik, yang menyayangi segalamu dengan segenap jiwa dan raganya, dengan ketaatan dan keimanan yang semestinya. yang menghargaimu dan selalu cenderung kepadamu, hanya kepadamu. yang janjinya selalu ditepati. yang membawamu ke tempat-tempat jauh itu.
semoga semua mimpimu terwujud satu per satu. semoga kamu mencapai semua garis finish. semoga kamu menaklukkan semua puncak. semoga yang kamu cintai tumbuh dan mekar dengan hebat.
semoga kamu menemukan ketenangan dan kebahagiaan. di dunia. di akhirat. selamanya.
Semua orang sibuk menjadi ‘baik-baik saja’ demi citra, bukan demi jiwa. Kita berlomba menunjukkan pencapaian, hingga lupa bahwa bernapas tanpa beban pun adalah kemenangan.
Resmi mengurangi beban media sosial; menonaktifkan fitur anon, dan mengabaikan akun dengan identitas yang samar-samar
Munculnya problem keilmuan di tengah era informasi adalah bukan hanya terkait jawaban yang salah; tapi juga pertanyaan yang salah, pun ditujukan kepada orang yang salah
Ditambah, mudahnya orang lari dari tanggung jawab, memberi komentar tapi kemudian menghilang saat ada balasan, seakan selesai begitu saja
Maka jangan heran, mungkin banyak ditemukan orang yang sangat lantang di dunia maya, tapi menciut saat bertemu di dunia nyata; karena terbiasa menggunakan topeng palsu
Edit : mari mulai belajar, bahwa kata-kata pendek, kalimat singkat, bahkan kutipan tokoh pun, tidak bisa dijadikan patokan ilmu
perlu dicek ulang, perlu dijelaskan oleh seseorang yang lebih memahami, jangan telan mentah-mentah, parahnya tersugesti dalam diri sebagai kebenaran
POV : Hindari orang yang tidak bahagia hidupnya.
Statement itu ada di media sosial (threads), mungkin kamu pernah menemukannya. Aku membaca utasnya dan menemukan banyak sekali respon senanda. Bahwa, dalam hidup kita perlu menghindari orang-orang yang tidak bahagia hidupnya. Karena energi kita akan terserap, bahkan kita mungkin akan menjadi korban dari berbagai macam perilaku manipulatifnya dsb. Ketidakbahagiaannya bisa jadi dipicu oleh trauma di masa lalu, masalah keluarga, masalah ekonomi, dan atau memang cara berpikirnya yang negatif terus sama hidup sehingga susah baginya untuk bahagia.
Tapi juga ada yang kontra, bahwa beberapa orang di dunia ini dilahirkan/menjalani takdir yang kurang baik (dalam POV mereka) sehingga mereka menjadi demikian. Dan mungkin, mereka hanya butuh ditemani.
Aku menyimak dua pendapat ini secara seksama dan berkesimpulan untuk diriku sendiri. Aku tidak menghindari (karena memang mungkin orang-orang ini ada disekitar kita dan tidak bisa dihindari), tapi harus membangun boundaries yang kuat dengan orang-orang yang hidupnya tidak bahagia. Karena, perspektif mereka terhadap kehidupan ini bener-benar berbeda denganku. Sebeda itu. Aku yang tumbuh dengan perspektif positif pada hidup, bisa melihat hidup ini dengan lebih luas. Tapi, ia begitu sempit dan sesempit itu. Ia terluka sama kehidupan dan cara berpikirnya sendiri, tapi menyeret orang lain agar memiliki perspektif yang sama dengannya terhadap hal-hal yang melukainya.
Pernah nggak, kamu ketemu sama orang yang punya trust issue gede banget. Sehingga pada hal-hal yang seharusnya dia trust, seperti kepada pasangan sendiri. Ia sendiri tidak bisa percaya sama pasangannya sendiri. Dengan keyakinannya, ia mengajak orang lain untuk selalu bersiap-siap dengan hidupnya sendiri karena pasangannya kalau gak diambil Tuhan ya diambil orang lain (selingkuh). Sehingga, dalam perspektif perempuan, menjadi ibu rumah tangga yang 100% fokus secara domestik (tidak menghasilkan uang sama sekali, 100% bergantung dari nafkah suami) adalah hal yang tidak membahagiakan bagi orang ini. Padahal orang lain, sebahagia itu full handle domestik keluarga. Sementara dalam perspektif hidupku yang tidak memiliki trust issue, aku percaya sama pasangan sepercaya itu. Tidak ada keraguan sedikitpun kepadanya. Bahkan, tidak terbersit sedikitpun bahwa ia tidak akan setia. Kalau kematian memang keniscayaan, tidak bisa dihindari.
Jadi kalau seseorang keliru memilih pasangan hidup, atau ia memiliki trust issue, sehingga ia tidak bahagia dengan kehidupan keluarganya dan harus melakukan hal2 yang dia yakini. Jangan sampai, hidupmu yang sudah bahagia dengan pasanganmu, bahagia dengan peranmu saat ini, menjadi berpikir ulang gara-gara dijelali sama narasi-narasi ketidakbahagiaan hidup orang lain tersebut, hingga kamu merasa salah dengan caramu saat ini. Enggak! Dia tidak bahagia, bukan berarti kamu harus berempati dengan menjalani hidup juga dengan cara berpikirnya.
Di tempat lain, mungkin kamu pernah ketemu sama orang yang setiap hari mengeluh terus kerjaannya. Semua hal dikeluhkan. Orang seperti itu juga harus berada di luar boundaries kita, tidak perlu dimasukan ke dalam lingkaran pertemanan. Ia tidak bahagia dengan hidupnya jangan sampai membuatmu berpikir sama. Orang yang gemar mengeluh, bahkan kalau kamu pun menemukan blog/tulisan yang isinya keluhan semua, segera unfollow - block aja dari kehidupanmu. Dalam perspektif seorang muslim, mengeluh itu melemahkan iman karena membuat diri kita jadi sulit untuk bersyukur. Energi negatif dari mengeluh juga gede banget. Refleksi Diri
Orang-orang yang tidak bahagia hidupnya, ini sebenarnya juga jadi evaluasi bagi diri kita sendiri apakah kita bahagia? Jangan sampai, ternyata kita sendiri yang sakit dan justru menyakiti orang lain.
Jangan sampai playing victim, merasa diri kita terus menerus disakit oleh orang lain padahal diri kitalah yang sakit. Dan kitalah sumber dari segala masalah yang ada di sekitar kita karena kita tidak bahagia, suka mengeluh, memandang buruk pada takdir, melihat dunia ini dengan pesimis, dsb. Kesimpulan Aku cenderung sepakat dengan berbagai pendapat di media sosial, kalau ketemu sama orang yang penuh trauma, yang suka mengeluh, dan hal-hal yang membuat ia merasa tidak bahagia hidupnya. Buatlah boundaries yang kuat dan tebal. Kamu tidak berkewajiban dan bertanggungjawab untuk membuatnya bahagia.
04:28
Ada kalanya, hidup terasa seperti serpihan-serpihan teka-teki yang tak pernah tersusun dengan rapi. Saat langit tampak mendung dan hari-hari terasa monoton, kita sering kali bertanya-tanya, "Mengapa harus begini?" Namun, di tengah-tengah kekacauan itu, ada satu prinsip yang mulai mengalir dalam darah kita: Amor Fati—mencintai takdir.
Dulu, aku berjuang dengan segala ketidakpastian, berusaha melawan setiap rintangan yang datang. Setiap kegagalan membuatku merasa semakin kecil, seperti tak ada yang lebih buruk daripada itu. Tapi, aku lupa satu hal: takdir itu bukan musuh. Takdir adalah bagian dari kita, entah kita menyukainya atau tidak. Dan justru, di sanalah letak kebebasannya—menerima tanpa perlu melawan.
Sekarang, aku belajar untuk melihat segala yang terjadi dalam hidup dengan cara yang berbeda. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjalanan yang membentukku menjadi lebih kuat. Hari-hari yang kelabu, kesalahan, bahkan saat-saat kesedihan itu, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Mereka adalah bagian dari takdirku yang harus aku terima, bukan sebagai beban, tapi sebagai langkah menuju pemahaman yang lebih dalam tentang siapa aku.
Amor Fati—mencintai takdir. Menerima setiap potongan hidup dengan cinta, bukan kebencian. Bukan hanya menerima hal-hal baik yang datang, tetapi juga berani mencintai momen-momen sulit, karena dari sana kita tumbuh. Seiring waktu, aku menyadari bahwa takdir bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan, tetapi yang perlu dicintai.
Hidup ini bukan tentang melawan segala hal yang datang, melainkan tentang berdamai dengan perjalanan itu. Aku mencintai setiap sisi dari takdirku, karena itu yang membentukku.
@ffahraa , hari keempat dari #28hariberprosa
We're not all on the same schedule, and there's no rush to "catch up" to any societally-determined timeline. We're growing at our own pace. 🥕
Chibird store | Positive pin club | Instagram
Segala Sesuatu yang Berharga Memiliki Penjaga
Penjaga hatimu adalah pendengaran dan penglihatan. Dan kekuatan penjagaan keduanya atas hatimu, sesuai dengan sejauh mana pemeliharaan imanmu dan penghindaran keduanya dari tempat-tempat yang penuh ujian.
Allah berfirman, "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (17:36)
Pendengaran dan penglihatan disebut pertama karena keduanya adalah gerbang menuju hati. Bila keduanya terjaga, hati menjadi baik. Bila keduanya rusak, hati pun akan ikut rusak.
Kalau hatimu cukup berharga, maka pilihlah untuk "penjaga hatimu" sesuatu yang dapat meningkatkan kekuatannya. Ciptakan ekosistem yang baik bagi pertumbuhannya agar semakin tinggi harganya untuk dipersembahkan pada Dia, yang berhak mendapat versi terbaik hatimu.
— Giza, sehari-hari adalah penjagaan diri. Sampai mati.
Chronic stress doesn’t just wear you out—it actually changes your body at the cellular level. When you’re constantly stressed, your brain pumps out stress hormones like cortisol. Over time, this can flip genetic switches, activating genes tied to illnesses like diabetes, cancer, autoimmune disorders & chronic inflammation. Stress also messes with your immune system, slows down your body’s ability to heal, and creates the ideal setup for sickness. Healing starts when you make peace a priority, calm your nervous system & surround yourself with environments that support your health instead of harming it. Remember that it’s your life, you don’t have to keep people around who hurt you!
Becoming a writer is great because now you have a hobby that haunts you whenever you don’t have time to do it
I don't haunt the narrative - the narrative haunts me
Living in silence
Jika hal ini membuatmu berprasangka, maafkan aku.
Di usia ini, keinginan untuk posting-posting itu sudah semakin berkurang. Hanya sesekali saja, itupun jarang dan seringkali dihapus setelah beberapa jam.
Dan juga semakin jarang buka-buka post orang lain di sosmed manapun. Entahlah sudah tidak lagi penasaran. Walaupun sesekali membuka untuk tahu kabar keluarga atau teman lama. Tetapi ini jarang sekali.
Dan dua hal itu membuatku sangat tenang.
Tidak merasa berkewajiban membuka post atau like dan agar aku juga tidak berharap mereka akan melakukan hal yang sama.
Just living in silence, hidup dalam hening.