*Esai pertama dalam draf kumpulan esai “Sketsa Indonesia” yang masih kutulis, sengaja dibocorkan sebelum tanggal 22 Mei 2019.
Tengah malam, tanggal 16 bulan Agustus, beberapa jam sebelum 17 Agustus hari jadi proklamasi kemerdekaan RI, pos piket samping gerbang markas Kepolisian Kota Besar Makassar menahan tiga orang pemuda yang meracau tidak jelas, pakaian mereka kotor bau selokan, tanpa alas kaki. Seorang membawa obor menyala-nyala, dua lagi membawa lampu senter. Ketiganya mengaku baru selesai berkeliling kota Makassar. Turun mencari sesuatu ke dalam selokan, tong sampah, memanjat ke atas pohon Beringin angker di Lapangan Karebosi, sebelum berakhir di ruang tahanan pos piket.
"Kalian mabuk?" Seorang petugas kepolisian yang berpangkat paling tinggi mulai menginterogasi ketiga pemuda yang terus berlagak sedang mencari sesuatu di dalam sel tahanan. Cahaya terang senter dan bau kerosin asap obor mulai mengganggu pernafasan empat orang petugas piket.
"Bapak aparat negara dan pengayom masyarakat?"
"Seragamku kurang jelas? Tulisan di depan selokan yang kalian turuni tadi tidak terbaca? Kepolisian Republik Indonesia."
"Kalau begitu Bapak pasti tahu di mana Indonesia berada."
"Jangan main-main! Petugas penggantiku nanti tidak tahu bertanya pakai mulut."
"Walaupun kami aktor kelompok teater di Benteng Ujungpandang, belum pernah seserius ini. Kami baru saja tersadar telah kehilangan Indonesia, bagaimana wajahnya, karakternya, di mana rumahnya, siapa yang menjaganya. Bapak tahu?"
"Hahaha. Kalian sedang *happening-art*, betul begitu istilah pertunjukan kesenian interaktif?"
"Aduh, kalau Bapak yang aparat Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak tahu kemana mencari Indonesia, bagaimana dengan kami yang jelata. Ini bukan pertunjukan Pak, kita memang kehilangan Indonesia." Jawab seorang dari tiga pemuda tersebut penuh emosi, kemudian berteriak, "Merdeka!" Kedua kawannya ikut menjerit, meracau dan menangis meraung-raung.
Tidak tahan kebisingan dan tingkah gila, ketiganya dibebaskan tanpa syarat oleh komandan piket. "Sana, menangis semaumu di panggung terbuka dalam Benteng Ujungpandang. Ini pos jaga, bukan panggung teater."
Sekeluar dari tahanan, ketiganya masih mencari Indonesia ke sudut-sudut gelap sebelum melangkah tegap keluar pos jaga dengan sikap sempurna, tak lupa ketiganya memberi hormat militer pada pucuk tiang tanpa bendera merah putih di lapangan upacara.
Pencarian mereka berakhir tanpa hasil. Demikian pengakuan ketiganya sebelum meminta tiga gelas kopi ke pemilik gerobak kopi di Pantai Losari.
"Mungkin Indonesia memang tidak ada, sekadar nama tanpa isi dan wujud, atau masih berupa konsep dan cita-cita," kata pedagang kopi saat mengantar pesanan kopi.
"Atau kau yang sembunyikan Indonesia? Ayo, mengakulah!"
Pemuda berambut gimbal menampik pernyataan tukang kopi. Rupanya dia belum puas mencari.
"Indonesia terlalu besar untuk disembunyikan dalam gerobak kopiku, hanya cinta pada negeri ini mampu menampungnya," jawab tukang kopi tak ingin kalah arif.
"Aku ingat, kau pernah menulis naskah opera tujuh belasan untuk kelurahan tak lama setelah reformasi. Aku menontonnya sampai habis, Kau memang tahu Indonesia dimana." Gigih Gimbal mencecar tukang kopi.
Sorot matanya penuh selidik, tidak jelas lagi dia sedang akting atau bersungguh-sungguh.
"Opera? Bagaimana ceritanya?" Timpal pemuda berkepala gundul.
"Sebagai pemain teater yang pernah memainkan banyak naskah, ceritanya jelek dan buruk, tapi itulah wajah Indonesia di awal-awal reformasi, berantakan, terburai bak kapal pecah. Wajah Indonesia yang kita cari sekarang mungkin masih sama buruk bahkan lebih jelek. Kita tidak mau jujur mengakui, sibuk mencari wajah baru, menipu diri sendiri. Buruk wajah, cermin dibelah." Gimbal semangat menjelaskan panjang lebar sembari menahan isak tangis.
"Ceritakan pada kami!" Kedua kawannya bersamaan menimpali, kompak mencegah si Gimbal kembali menangis meraung-raung terbawa emosi, sebelum jadi tontonan pengunjung Pantai Losari yang memenuhi tanggul dari ujung ke ujung.
"Jatuh cintalah, maka kau menjadi pujangga, tukang kopi tetanggaku ini buktinya. Mendadak tahu menulis naskah opera campur aduk, hanya karena panggung pertunjukan malam puncak kesenian tujuh belasan tingkat kelurahan tepat depan rumah pacarnya."
"Mantan. Naskah itu tanda perpisahan untuk anak-anak kecil dan remaja jalanan. Terakhir kali melakukan sesuatu bersama-sama setelah kontrak garasi tidak kuperpanjang. Teater, operet, bukan sesuatu yang baru buatku. Semasa SD sampai SMP diajak sahabat ayahku ikut teater kampus."
"Mantan, tapi kau beri peran?"
"Iya, dan pacarnya mantan pacarku juga ikut main."
"Amatir. Tanpa tata lampu dan tata suara yang memadai, kostum asal comot jemuran di rumah, dialek campur aduk logat Makassar dan Jakarta, menyisipkan tokoh punakawan, distorsi lucu yang tidak ada dalam literasi sastra lisan dan tulisan di Sulawesi. Tidak jelas pesan ceritanya kecuali menonton sampai habis."
"Kami mau mendengar kisahnya, bukan kritik seni pertunjukan, apalagi roman masa lalu." Si Gundul segera memotong Gimbal.
Aku yakin dia mengenal dan mengetahui di mana Indonesia sekarang karena tokoh utama pilihannya. Tidak ada yang lebih mengenal Indonesia ketimbang para pendahulu yang merintis, merebut, memproklamirkan, dan mempertahankan negara Indonesia, berikut bangsa, rakyat, dan tanah airnya, tokoh utama yang tidak tampil ke atas panggung kecuali suaranya saja.
Operanya tentang kehidupan keluarga veteran pejuang kemerdekaan Indonesia. Awalnya aku kecewa karena terlalu berharap dengan suasana dramatis lewat lampu panggung yang meredup berlahan kemudian padam, ditimpali sayup-sayup denting gitar akustik.
Petikan gitar anak tukang becak itu merdu sampai dia mulai bernyanyi. Suaranya ke kanan denting gitarnya ke kiri, persis ketika dia sedang sibuk menjadi juru parkir. Modal suara keras dan petikan C, F, G, Aminor, nekad menerima tawaran membuka operet. Lagu Kebyar-Kebyar mendiang Gombloh yang mestinya syahdu, jadi berantakan. Mengaduk-aduk jiwaku kepingin menggantikan dia bernyanyi dan main gitar.
Kesal aku. Ada tiga orang anak di kelurahan kita tamat kursus gitar klasik tapi dia yang kau pilih.
Namun. Jengkelku bubar ketika penonton tertawa, terhibur mendengar nyanyian dan gitarnya berkejaran.
Sirna, saat melihat bapaknya bangga bersorak dari atas becaknya, "Anakku, suaranya anakku itu penontooon!"
Sekaligus dua wajah Indonesia tampil di pembuka operamu.
Lalu seorang gadis kecil berkepang dua berbaju Pramuka yang lebih cocok kau beri kostum berwarna khaki, garang membaca puisi. Penonton sekelurahan terdiam merasa pantas dimarahi.
Pilihanmu memberinya tugas membaca puisi kali ini benar.
Sebaiknya sesekali kau tengok rumah tangganya, kudengar kegarangannya di atas panggung terbawa ketika memarahi suaminya. Dia sekarang istriku.
Penulis sajaknya mesti seorang veteran kemerdekaan, sekolah yang dia maksud adalah sekolah Nasional, sekolah Wolter Monginsidi, sekolah Dr. Sam Ratulangi dan Emmy Saelan. Seseorang yang tak hanya mengenal baik wajah Indonesia, tapi ikut membentuk wajah Indonesia. Wajah yang dulu begitu indah, berkilau oleh cahaya cita dan cinta.
Wajah yang masih terus dirusak oleh anak-anaknya sendiri. Centang prenang penuh pupur dan dempul. Setiap yang mengaku mampu menuntaskan wajah harapan dan cita Indonesia ternyata pedagang alat kecantikan semua.
Lima tahun sekali kita makin kehilangan wajah Indonesia, tertipu pedagang kosmetik yang berusaha meyakinkan bahwa membangun karakter yang akan menjelma wajah hanya perlu dilakukan sekali lima tahun dengan caci maki, bukan dengan sehari lima kali memeriksa diri, berusaha meyakinkan bahwa membenahi negeri ini hanya bisa lewat kekuasaan politik saja.
Sementara penulis sajak garang yang kau kutip, yang membuat kita hari ini merasa kehilangan Indonesia, tak pernah sekalipun mengambil tunjangan veterannya.