Untuk kedua kalinya berkesempatan melancong ke Purwakarta. Berangkat malam hari berombongan 7 orang dengan kendaraan pribadi, tujuan utama Gunung Lembu, Waduk Jatiluhur, dan kolam renang di atas bukit d Wanayasa. Apa saja yang saya dapatkan?! Saya melihat lebih jelas kabupaten Purwakarta dari sisi sesungguhnya, berdasarkan obrolan dengan warga setempat. Well...saya masih tetep kecewa tapi dengan "eksklusifisme" pusat wisata di kotanya. Pak Bupatinya memang berbeda, bervisi jelas dan tegas. Jam belajar dimulai pukul 06.00 karena alasan otak lebih encer di pagi hari. Seragam berbeda-beda setiap harinya dengan mengedepankan budaya asli Purwakarta (saya g hafal aturan seragamnya). Bangunan pemerintah dicat hitam-putih. Pak Bup juga tak segan sidak sampai ke pelosok kampung. Saluttt!!! Ada 3 bukit pendakian di sekitar Jatiluhur yaitu Gn. Parang, Gn. Bongkok, dan Gn. Lembu. Kami ke Gn. Bongkok. Dalam perjalanannya, melewati Gn. Parang yang menjulang tegak, sudah terbayang tingkat kesulitannya mengingat Gn. Bongkok saja sudah lumayan berat. Gn. Bongkok tingginya > 900 mdpl, dengan tingkat kesulitan yang untuk skala saya 7 dari 10. Beberapa tanjakan sangat curam dan licin sehingga harus berpegangan tali. Pengelolaannya juga baik, ada plang-plang petunjuk ketinggian, tali-tali yang memudahkan pendakian, dan camp area yang dilengkapi saung, musola, dan toilet. Puncaknya adalah tumpukan batu-batu dengan area datar yang tidak terlalu luas. Tapi tidak mengurangi pemandangannya yang spektakuler, Waduk Jatiluhur dan sekelilingnya. Hanya saja kami terganggu dengan vandalisme dan aksi abg-abg yang sedang ikut tren buat tulisan yang dipajang saat berfoto serta buang sampah seenaknya. Oiya...ketika sedang dalam perjalanan naik, kami bertemu serombongan anak-anak yang memungut dan mengumpulkan sampah. Ini keren!!! Berhubung kami jalan-jalan santai, total naik turun habis 5 jam 36 menit (ada yang sengaja ngitung gitu 😃). Malamnya mampir ke Sate Maranggi Cibungur yang terkenal itu. Jos gandos, kami sampai kalap. Lanjut ke Waduk Jatiluhur, maksud hati nenda tapi gagal karena kemalaman dan sudah tak ada petugas yang berjaga. Khawatir terjadi sesuatu, akhirnya numpang di saung warung sekitaran waduk. Ehhh...ternyata malamnya benar ada razia. Tidak banyak yang dilakukan di waduk, hikmahnya bagi kami adalah pembuktian cerita seorang dari kami bahwa di waduk dahulu kala dipelihara gajah untuk menarik pengunjung. Malahan dia bertemu dan mendengar cerita langsung salah seorang mantan pelatihnya yang juga suami ibu pemilik warung tempat kami numpang tidur. Agak bergidik mendengar cerita bagaimana gajah-gajah dilatih. Kasian euy, teuk tega membayangkan bagaimana mereka disakiti agar nurut. Saat dewasa, mereka nurut tapi di lubuk hatinya menyimpan sakit hati yang dalam. Lanjut ke kolam renang Wanayasa, pemandian dengan pemandangan indah dari atas bukit. Emmm...sebaiknya kalau mau kemari harus cari tahu dulu musim manggisnya kapan. Mahalnya itu loh...bikin terkaget-kaget. Tiket masuk 25rb dengan fasilitas keliling area perkebunan manggis, gratis metik kalau sedang musim dan mini zoo (prihatin melihatnya, masih konvensional). Untuk masuk ke kolam renang harus bayar lagi 60rb!!! Bagus sih sebenarnya, tapi agak unworthy aja... Karena tujuan tertentu, kami balik lagi ke Gn. Lembu (>700 mdpl) dan naik ke pos 1 bernama Bukit Ceria. Tersedia camp area yang luas, toilet, saung, rumah pohon, bahkan listrik. Jalan kaki sekitar 15 menit, dan sudah bisa melihat view Waduk Jatiluhur dari sini. Sama halnya Gn. Bongkok, tempat wisata ini juga dikelola oleh warga sekitarnya. Di Gn. Lembu ini kami bertemu dengan pentolan pemuda dan warga yang punya pola pandang yang luas. Mereka telah memikirkan ecotourism yang sustainable dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Saluttt lah pokokna mah!!! Masih penasaran dengan Gn. Parang. Katanya sih oke, medannya menanjak sekali tapi. Akhir kata...sok atuh mangga mau melancong kemanapun, tapi tetap hormati dan hargai apa yang kita punya. Tanah, air, dan udara di segala penjuru bumi ini adalah harta tak ternilai harganya yang wajib kita jaga. Karena kita masih punya utang untuk mewariskannya kepada generasi berikutnya setelah kita.