Makanan Higienis, Kesehatan dan Pariwisata
Suatu hari, melihat penjual bakso memasukkan mie instan beserta kemasannya ke dalam panci. Ketika ditanya "Pak, kenapa dimasukkan sama bungkusnya?". Dengan enteng bapaknya menjawab "Biar gampang mbak ngambilnya juga". Alasan praktis tanpa tahu bahwa ketika plastik terpapar suhu panas akan melepaskan bahan kimia penyusunnya.
Cerita lainnya... Seorang kerabat berjualan makanan dan menyediakan sambal di mejanya tanpa tutup. Posisis warungnya tepat di pinggir jalan. Saya bertanya "Wadah sambalnya gak ada tutupnya?". Dijawab "Dulu ada tapi gampang kotor jadi gak ditutup lagi". Kepraktisan juga menjadi alasan, tanpa paham bahwa sambalnya akan terpapar udara bebas yang mungkin membawa agen berbahaya.
Kejadian begini banyak sekali di negara ini. Agak ironis ketika banyak pula sekolah kesehatan tersebar di penjuru nusantara. Setau saya, ada ilmu kesehatan lingkungan dan lulusannya pun telah tersebar di puskesmas seluruh Indonesia. Apa yang mereka pelajari saya tidak tahu. Tapi sederhananya mereka pasti mempelajari hubungan antara lingkungan dan kesehatan. Makanan dan kebersihan juga erat kaitannya dengan wisata. Saya belum pernah ke Thailand, tapi cukup sering dengar cerita atau menonton tayangan tv. Bagaimana bule-bule santai saja makan jajanan pinggir jalan. Tapi di Indonesia, atau kalau terlalu luas, ya saya sendiri saja lah, mau jajan pinggir jalan masih berpikir dan mengamati tingkat kebersihannya atau penampilan penjualnya. Teman yang baru pulang setelah 2 tahun di Jerman saja perlu waktu 1 tahun untuk kembali terbiasa makanan warung.
Jadi, topik ini menjadi bahan rumpian kami di kontrakan. Rekan yang lebih banyak mencicip pahit manis kehidupan *tsah, bercerita. Bahwa di Bali ada warung yang sangat laris. Sampai kepala dinas wisatanya pun mensurvei langsung apa rahasianya. Ternyata, dapur warung itu posisinya di depan dan terlihat aktivitasnya. Pembeli pun tidak ragu untuk makan di situ. Terlepas dari benar tidaknya karena saya belum pernah jalan-jalan di Bali, ini masukan yang bagus untuk kita semua, terutama yg concern dengan perkembangan wisata Indonesia. Di mana jajanan dan warung bisa menjadi nilai lebih untuk memaksimalkan potensi daerah wisata.
Well...urusan perut itu pada kenyataannya sangatlah penting. Bayangkan saja kalau pengetahuan pentingnya sanitasi ini membudaya. Masyarakat ekonomi rendah lebih sehat dan lebih produktif pula kan. Jadi terlintas barusan, mungkin seharusnya ini bisa jadi bahan acara MOS di sekolah-sekolah.