i told you i like you.
DEAR READER

Janaina Medeiros
wallacepolsom
$LAYYYTER

roma★
Today's Document
Peter Solarz

Kiana Khansmith
One Nice Bug Per Day
Sade Olutola
sheepfilms
Sweet Seals For You, Always

No title available
Not today Justin

Kaledo Art
Mike Driver
we're not kids anymore.

Discoholic 🪩
Lint Roller? I Barely Know Her
occasionally subtle
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Luxembourg
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from India
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Switzerland

seen from South Korea
seen from United States
i told you i like you.
langkah demi langkah diperjuangkan biarpun ada luka di setiap perjuangannya.
Jika hidup itu anugerah, maka kamu adalah anugerah kecil lainnya.
Melawan Kepingan Hatinya Sendiri
Aku baru tau bahwa sebesar apapun keyakinan seseorang pada pilihannya. Tetap saja harus melawan kepingan hatinya sendiri.
Bagaimana jika salah memilih orang yang bersamanya akan melewati ribuan hari. Juga pertanyaan lain yang tak mungkin terjawab saat ini. Kata teman saya yang akan menikah begitu.
Jadi benar sekali kata John Gray dalam "Men are from Mars, Woman are from Venus". Keduanya dua mahluk unik yang masing-masing memiliki pengalaman yang unik.
Keduanya mempunyai cara memandang dunia dengan sudut yang berbeda. Termasuk cara meyakinkan dirinya sendiri pada keputusan-keputusan yang akan diambil. Sungguh unik manusia.
Diakhir cerita aku jadi bertanya lagi. Kalau tidak yakin, mengapa melangkah sejauh ini? Bukannya tidak yakin, aku hanya sedang menguatkan diri sendiri. Bahwa aku menikahi manusia, bukan mahluk tanpa cela.
Selain itu, aku sadar dengan dua tangan tak akan mungkin bisa memberi manfaat kepada seluruh mahluk bumi. Tapi dengan menikah, setidaknya bisa memberi manfaat untuk satu mahluk bumi.
Menatap langit-langit ini, ada yang berbisik, "Lepaskan stressnya. Jangan terus menerus khawatir. Masa depan memang ngga pasti, tapi bukan berarti akan menjadi buruk. Semua akan baik-baik aja. Selalu ada jalan keluar untuk semua persoalan."
Pilih mencintai atau dicintai ?
Dulu aku memilih untuk mencintai yang aku pikir aku bisa mengontrol diri sendiri untuk tidak jatuh lebih dalam namun sampai dimana aku mulai lelah dengan kata "Me-Cintai" yang artinya melakukan. Aku lelah Me-lakukannya sendiri, aku lelah Me-nantinya sendiri
Makin nambah umur, saya makin ngerti, ga semua orang bisa menjadi teman dekat kita. Ada yg sebatas rekan bisnis/kerja, temen medsos, atau murni orang asing. Sudah jadi mekanisme alamiah, sebagaimana berlaku pada kawanan serigala, domba, singa, atau burung camar. Setiap orang punya kliknya sendiri-sendiri.
Pasti akan selalu ada orang yg ngontak kita pas ada perlunya saja. Tiba-tiba minta tolong ini itu. Ya, memang kadang kita itu saling bersikap menyebalkan satu sama lain. Kita semua menyebalkan bagi sebagian yg lain. Hanya berbeda saja cara dan tingkatnya.
Tapi, manusia kan memang ga mungkin berteman dgn semua orang. Ada lapisan-lapisan relasi yang memisahkan kita. Sadari lapisan itu biar engga mudah baper atau terlalu terikat.
Meski demikian, ada lapisan terluar yg menyatukan kita semua, yaitu persaudaraan atas nama kemanusiaan. Jadi, entah teman atau bukan, menolong orang lain dengan alasan sesederhana 'karena kita sesama manusia' tetaplah nilai yang mestinya kita pertahankan*.
*Syarat dan ketentuan dapat berlaku pada kondisi tertentu.
sepakat sih, makin berumur, pertemanan itu tidak hanya sebatas seberapa banyak, melainkan juga seberapa dalam
Kita hidup ditengah masyarakat yang terobsesi menemukan kebahagiaan.
Padahal mungkin, tak perlu untuk ditemukan. Cukup untuk dihadirkan.
Sudah,
Bismillah aja doa
Jaga niatnya
Usaha semampunya
Lakukan selayaknya
Percayalah, Allah yang mencukupi semuanya.
Aku memilih tuk rehat sejenak dari dunia perdebatan
Aku memilih tuk alfa dari hiruk-pikuk dunia perpolitikan
Aku memilih tuk menepi dari keributan yang berkepanjangan
Aku memilih jeda dari Dakwah yang melelahkan
Aku memilih mencari tempat tuk sekedar menyandarkan punggungku dari segala keletihan. Di suatu tempat yang jauh dari kebisingan. Hanya ada aku dan semesta yang menyaksikan.
Duhai hati yg resah,, duhai raga yang lelah..
Jika kau merasa bumi terlalu kecil untuk berkeluh kesah. Tataplah langit yang tinggi. Ajaklah ia bicara perihal manusia. Hingga kau merasakan lega.
Dan jangan lupa bahwa menepi hanyalah solusi sementara disaat diri butuh terapi. Bukan sbgai pelarian dari tanggung jawab sebagai manusia.
Duhai hati,, duhai raga,,
Lelah boleh, rehat boleh.. tapi jangan pernah mundur.
Padang, 17 November 2020
@putrhanna
Agaknya menjadi aku memang begitu
Selalu di tinggal beribu batu
Sering ditipu bertalu-talu
Sanggup telan perih empedu
Mampu bertahan sampai kematu
Senyum di wajah, di hati siapa yg tahu..
Entah apa yg menjadi permasalahan kini begituh riuh pemikiran ku, hinga hanya ingin berdiam tuk sementara waktu
“Tidak apa-apa jika segala sesuatunya berjalan secara lambat, daripada tidak berjalan sama sekali.”
— Choqi Isyraqi
iya, kamu masih punya sepeti urusan untuk diselesaikan. iya, ada banyak lubang di pikiranmu, di hatimu, dan di jiwamu yang masih harus ditambal. iya, masa lalumu tidaklah paripurna. iya, masa depanmu mungkin bukanlah yang paling cerlang.
tapi saya sayang kamu dan itu cukup. kamu cukup dan perasaan saya pun cukup. kita cukup bersama-sama untuk menjadi lebih baik--atau memperbaiki yang kamu anggap tak baik. kita cukup untuk bersama menjalani setiap hari, menunggu pagi lalu menunggu malam lagi.
Trust is funny. You give them two, they break three.
Kalau ada pertanyaan, pencapaian macam apa yang bisa dinilai sebagai kesuksesan?
Barangkali menyentuh hati manusia.
Jabatan tinggi, gaji puluhan digit, atau keliling dunia bisa diraih karena ia materi. Ia wujud yang bisa dihitung, diproyeksikan, dan direncanakan dengan matang dengan segala upaya dan kemampuan. Tapi menyentuh hati manusia?
Nanti dulu.
Sebaik apapun kamu. Sebanyak apapun materi yang kamu keluarkan, belum tentu hati manusia itu bisa sayang. Bisa tanpa pamrih mencintai kamu. Bisa jadi ia hanya menghitung untung rugi dalam menjalin pertemanan. Selama kamu tak lagi berguna, buat apa menjalin komunikasi?
Atau bisa jadi, sedikit perhatian di waktu sulit menjadikan kamu sangat berharga dalam hidupnya. Barangkali kamu tidak suka ini. Terlalu berlebihan. Tapi kamu tidak bisa menahan perasaan manusia —terlebih bila itu tulus tanpa tendensi apapun.
Kalau kamu tidak suka, kurang nyaman, beritahu ia cara bersikap yang benar. Tidak dengan menjauh terang-terangan. Pemutusan sepihak rasanya kurang pas.
Terlepas itu hakmu, sangat disayangkan ngga sih, ketika perasaan baikmu itu sampai, diterima dengan baik, kemudian mendapat balasan yang diusahakan sama baiknya, kamu campakkan begitu saja?
Kebersamaan itu ada karena terbiasa, bukan pura-pura ada untuk bersama.
Rubah Gelap