Pagi ini aku ingin bercerita tentang Ahad kemarin (4 Juli 2021). Hari yang penuh ruang kontemplasi.
Pagi itu, seperti biasa. Aku membangunkan santri untuk sholat lail/tahajud. Menungguinya sampai usai, karena harus mengontrol juga sesiapa yang terlambat atau jika ada bacaan yang terlalu cepat. Ternyata, pagi itu yang terlambat lebih banyak, tidak seperti biasa. Mungkin karena semalam mereka tidur terlalu malam. Biasa~ Sabtu malam Ahad.
Harusnya iqob nya tilawah di depan kamar kami sampai subuh. Tapi kali itu, karena kebetulan koridor kotor, akhirnya kami alihkan untuk membersihkan koridor. Menggerutu? Ada. Tapi mereka tetap mengerjakan. Salut. Kalian hebat. Bahkan ada pup kucing pun besih dengan tangan mereka.
Hari Ahad kali ini, ada amal shalih jama’i atau akrabnya dikenal dengan kerja bakti. Masing masing membersihkan kamar, maghsal (tempat cucian dan jemuran), juga kamar mandi, Harus bersih sebersih-bersihnya. Tak boleh ada lumut, sarang laba-laba, jamur, bahkan debu sekecil pun. Hiyaaa khaan. Terdengar idealis sekali. Tapi demikianlah kriterianya. Ada reward untuk yang terbersih dan punishment untuk yang terkotor. Dimulai dari semalam sebenarnya, sampai Ahad jam 9 pagi akan dinilai oleh Roisah maskan.
Harusnya, Musyrifah (read: me) mendampingi anak kamarnya masing-masing. Mengoprak dan mengontrol kebersihannya. Tapi sepagi itu, kuputuskan untuk mengopeni jemuran dan seterikaan yang sudah nangkring dari kemarin. Pagi itu, aku juga piket buang sampah dan ambil makan. Musyrifah lain sudah bergegas, aku masih rempong dengan seterikaan. Kabarnya kamar lain sudah mulai membersihkan, tapi aku masih belum tahu anak kamarku sudah bangun apa tidak? Sampai jam setengah delapan. Akhirnya aku dapat celetukan. “Mbak Irma, nggak ambil makan ta? Nanti kehabisan lauk lho.” “Lho, kalau Ahad kan buka nya Jam tujuh sampai Jam sembilan?”, jawabku sekenanya. “Iyaa, tapi yaa cepet banget anak anak itu ambil makannya. Baru dibuka math’amnya bisa langsung ludes”. Haha. Iya juga.
Bergegaslah aku mengambil makan, sambil buang sampah jam setengah delapan. Jam delapan kurang aku harus kembali lagi ke kamar buat log in dan join zoom meeting Career Class. Tidak bisa terlambat. Karena lewat jam delapan, link akan ditutup. Aku menghitung-hitung perjalanan dan persiapan. Lalu bergegas. Alhamdulillah, sampai math’am, ibu dapur baik banget. Responnya cepat ketika aku baru sampai. Padahal anak anak masih ramai mengantri.
Sampai di kamar jam delapan kurang 10 menit an. Join kelas dulu. Lalu ku tinggal ke kamar anak buat ngoprak bersih-bersih. Aku pegang dua kamar dengan karakter anak yang cukup berbeda. Alhamdulillaah ternyata mereka sudah standby (tidak tidur). Kamar yang satu, sedang menyelesaikan sarapannya. Kamar yang satunya, sudah sibuk dengan agenda bersih bersihnya. Jam delapan lebih. Artinya kurang satu jam an lagi jadwal penilaian kamar.
Ku sampaikan vibes bersih bersih kamar pagi itu. Aku harus menjaga mood mereka. Sambil menampilkan nada dengan sedikit ekspresifnya emak emak, “Ayoo, kok belum bersih-bersih. Pokoknya ustadzah ngga mau tahu kamar harus bersih, wangi, barang harus tertata rapi, maghsal juga, kloset juga, sampah dibuang. Ngga boleh ada barang di bawah ranjang kecuali kontener. Koper ditaruh di atas almari. Nggak boleh ada barang berserakan. Ustadzah akan cek lagi nanti jam setengah sembilan ya.” “Jangan ustadzah, jam sembilan kurang lima belas menit saja.” “Oke kurang dua puluh.” “Lho, kurang lima belas menit saja ustadzah. 10 menit deh ustadzah.” “Hee. Oke kuranglima belas menit, tapi ga boleh ada revisi ya.” Haha. MaasyaAllah. Bising nggak ya mereka punya Musyrifah macam aku. “Siaap ustadzah, tenang saja, sebelum jam sembilan semua akan sudah rapi.”
Ku beranjak. Bergegas kembali ke kamar dan lanjut join zoom meeting. Kali itu yang mengisi Pak Her, orang yang sudah sepuh sekali tampaknya. Namanya tak asing, karena Kak Al rasanya sering sekali menyebut nama Pak Her. Ternyata ini, Pak Her :)