Yang Dipalingkan Dari Tanda-Tanda
Mungkin ini tulisan pertama Giza tentang pernikahan, soalnya Socrates pernah bilang, "kehidupan yang tidak direnungkan, tidak layak dijalani." Maka Giza pun mencoba menerapkan logika yang sama dengan mengganti kata "kehidupan" menjadi "pernikahan".
Allah berfirman dalam QS. Al-A'raf (7): 146
Aku akan memalingkan dari ayat (tanda-tanda)-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Jika mereka melihat setiap tanda, mereka tidak akan beriman kepadanya. Jika mereka melihat jalan petunjuk, mereka tidak akan menempuhnya sebagai jalan. Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka akan menempuhnya sebagai jalan. Yang demikian itu karena mereka telah mendustakan tanda-tanda Kami dan mereka selalu lalai darinya.
Menurutku terhalang dari suatu ayat nggak selalu berarti ayat itu menghilang dari hadapan kita. Bisa aja ayat itu tetap ada di depan mata, tapi kita kehilangan kemampuan untuk melihatnya dengan cara yang memberi kita petunjuk, memahami maknanya, dan mengambil manfaat darinya. Deymm..
Di ayat lain, Al-Qur'an membuka ruang untuk aku merenungkan tentang pernikahan. Allah sendiri menyifati pernikahan sebagai salah satu di antara tanda-tanda-Nya.
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum: 21)
Berbekal dua premis di kedua ayat yang berbeda, aku pun bertanya.
Jika pernikahan adalah salah satu tanda Allah, mungkinkah seseorang menikah, tetapi kemudian terpaling dari melihat "ayat" pernikahan itu sendiri?
Mungkin pemalingan itu bukan berupa seseorang yang dicegah untuk menikah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah seseorang diberi pernikahan, tetapi kehilangan kemampuan untuk memahami maknanya.
Bisa aja seseorang menikah tapi gagal menemukan sakinah sebab dia nggak mendidik dirinya menjadi orang yang trustworthy (al-amin) sebelum mengikatkan diri pada mitsaqan ghalidza. Trustworthy di sini seenggaknya mencakup integritas, kompetensi, dan konsistensi.
Bisa aja seseorang menikah tapi gagal menemukan mawaddah karena nggak memahami dan mengilmui bahwa cinta adalah praktik etis sekaligus skill yang nggak cuma ditopang oleh romantic feeling semata. Memiliki pemahaman yang salah tentang "what is love" membuat mitsaqan ghalidza (yakni institusi yang melembagakan cinta itu sendiri) pun jadi kehilangan makna substantifnya. Malah bisa jadi arena pertarungan ego atau perangkap ekspektasi. Bayangkan betapa "neraka"-nya sebuah pernikahan kalau yang dilembagakan malah konflik bertubi-tubi di mana masing-masing merasa sebagai pihak yang dirugikan.
Bisa aja seseorang menikah tapi gagal menemukan rahmah karena nggak terbiasa considering dan berempati terhadap pihak lain. Nggak menanamkan nilai benevolence atau compassionate orientation, dan non-maleficence sebelum mengikatkan diri dengan mitsaqan ghalidza. Di sini non-maleficence berarti kecenderungan untuk nggak dengan sengaja menyakiti, sedangkan benevolence berarti kecenderungan hati untuk secara aktif menghendaki kebaikan, keselamatan, dan kesejahteraan orang lain. Yang artinya butuh kemampuan empati yang akurat untuk mengetahui jenis atau bentuk kebaikan yang diinginkan pihak lain.
Kesombongan dapat menghalangi seseorang dari "ayat" pernikahan.
"Aku akan memalingkan dari tanda-tanda-Ku orang-orang yang menyombongkan diri."
Kesombongan bisa beragam bentuknya.
Aku merasa bahwa aku selalu benar dan logis, dan masalah selalu ada padamu.
Aku menuntutmu untuk mengoreksi dirimu, tetapi aku sendiri tidak mau mengoreksi diriku.
Aku tahu bahwa aku salah, tetapi sulit dan gengsi bagiku untuk meminta maaf.
Aku menganggap mengalah sebagai kelemahan.
Aku menolak perkataan yang benar hanya karena perkataan itu datang darimu.
Aku ingin egoku menang, bahkan jika hubungan kami yang kalah.
Semakin besar ego seseorang, semakin sempit kemampuannya untuk melihat orang lain. Semakin ia berpusat pada hak-haknya sendiri, semakin berkurang kesadarannya terhadap tanggung jawabnya. Sampai akhirnya ia berada pada keadaan di mana kebaikan ada tepat di hadapannya tetapi ia tidak melihatnya.
"Dan jika mereka melihat jalan petunjuk, mereka tidak menjadikannya sebagai jalan."
Kalimat ini menarik untuk direnungkan dalam konflik pernikahan.
Seorang suami mungkin tau bahwa berdialog adalah jalan yang tepat, tetapi ia memilih mendiamkan dan menjauh.
Seorang istri mungkin tau bahwa tafsiran yang ia bangun tentang suaminya bisa jadi keliru, tetapi ia tetap mempertahankannya.
Seseorang tau bahwa meminta maaf akan memadamkan masalah, tetapi ia memilih mempertahankan gengsinya.
Seseorang tau bahwa memaafkan dapat membuka pintu baru, tetapi ia ingin rasa sakitnya yang menang.
Keduanya tau bahwa kasih sayang adalah jalan yang lebih baik bagi rumah tangga, tetapi masing-masing menunggu pihak lain untuk memulainya.
Coba deh iseng-iseng baca putusan perceraian di direktori Mahkamah Agung. Dari yang kuperoleh, krisis dalam sebagian pernikahan bukan karena kurangnya pengetahuan. Mereka nggak selalu clueless kok mana jalan yang benar, mereka melihatnya. Aku yakin orang yang masuk ke institusi ini nggak mungkin nggak tau tentang hak dan kewajiban dalam pernikahan. Mereka membaca tentang komunikasi, mengilmui dinamika gender, mendengar tentang cinta dan kasih sayang, bahkan mungkin menasihati orang lain tentang semua itu. Cuma mereka (atau salah satu dari mereka) memilih jalan lain untuk memenangkan harga dirinya, lukanya, atau egonya.
Penolakan nikmat yang paling berat adalah ketika nikmat itu tetap berada di genggamanmu, tapi kamu kehilangan kemampuan untuk menyadari nilainya. Kamu selamanya akan tetap buta jika menolak memperbarui pandanganmu dan enggan meminjam cara pandang orang lain. Bayangkan, udah buta, sombong pula.
Karena itu, Allah menutup ayat tentang pernikahan dengan "tafakkur"
"Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
Seakan-akan pernikahan adalah sebuah ayat yang membutuhkan manusia yang mampu merenung sebelum, selama, dan setelah menjalani peristiwa dan dinamikanya.
Apa yang Allah ingin aku pelajari saat menjalani tanda kekuasaan-Nya ini?
Bagian mana dari keegoisanku yang perlu dididik?
Di mana letak andil dan tanggung jawabku dalam apa yang terjadi di antara kami?
Di mana letak ketidakpekaanku dan pada momen apakah ayat itu hadir paling jelas?
Apakah aku ingin memperbaiki relasi ini, atau aku hanya ingin membuktikan bahwa aku benar?
Apakah selama ini aku lalai dan unaware dalam proses diperjalankan Allah? Sehingga aku melewatkan banyak sekali hikmah di sepanjang waktu?
Apakah aku sedang mencari jalan yang benar, atau mencari jalan di mana egoku keluar sebagai pemenang?
Jangan sampai kita menjalani bertahun-tahun hidup di dalam salah satu ayat Allah, tetapi keluar darinya (bisa karena mati atau berhenti ditugaskan) tanpa pernah benar-benar membacanya.
Berlaku untuk konteks apapun selain pernikahan juga sebenarnya (misal dalam hal kerjaan, studi, berorganisasi, berinteraksi) soalnya bagaimanapun juga seluruh hidup kita mah hakikatnya selalu memuat tanda-tanda kekuasaan Allah dan selalu ingat premis "rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathila" (tidak ada ciptaan-Nya yang sia-sia).
Akhir kata, dengan merujuk logika Socrates, "pernikahan yang tidak direnungkan, tidak layak dijalani."
— Giza, mari merenung, sesama makhluk berakal