Winter Blues
Belakangan ini lagi merasa hal-hal yang aku jalani lagi berada dalam status quo. Semuanya sedang baik-baik aja (Alhamdulillah), tapi entah kenapa ada pemikiran-pemikiran yang ‘mengganjal’. Emang sih, lagi banyak hal yang harus dipikirkan, tapi semuanya bisa diatur, semuanya terkontrol dengan baik, hanya saja belakangan ini suka tiba-tiba kepikiran satu-dua hal yang malah memicu nestapa.
Seperti hari ini, lagi berdiri di peron kereta pulang dari kantor, terus tiba-tiba merasa kota ini asing sekali…..Aku ga merasa menjadi bagian keramaian arus balik orang-orang ini, aku merasa ganjil dan terjebak dalam duniaku sendiri. Seharian berinteraksi dengan bahasa asing, bertemu orang sana-sini, membuat aku membutuhkan kesempatan untuk duduk tenang dengan orang yang wajahnya familiar dan bahasa yang tak perlu aku terjemahkan. Aku rindu banyak orang.....aku tiba-tiba saja mengharapkan momen-momen sederhana seperti pulang kerja dan disambut papa mama yang bertanya gimana kerjaanku hari ini, atau sampai rumah ganggu adik dan kakakku sebentar hanya untuk melepas penat, atau berkesempatan untuk makan malam bersama teman-temanku, menertawakan ini itu, melepas hiruk piruk setelah seharian mengadu nasib di bilik yang dulu jadi mimpiku.
Lara yang aku rasakan semakin menjadi karena tiba-tiba setelah seharian menjalani peranku dan berkutat dengan ini dan itu, aku hanya ingin berkesempatan untuk melihatmu di tengah keramaian. Aku hanya ingin tak sengaja menemukanmu di antara orang-orang yang berbondong-bondong masuk kereta, dengan wajah letihnya, atau dengan laptop di tangan kanannya. Aku sungguh hanya ingin melihat wajah yang familiar di sudut kota ini, dan rupanya jauh di alam bawah sadarku, menemukanmu dalam keramaian adalah sebuah ketidakmungkinan yang masih terus aku harapkan.
Mungkin aku hanya rindu orang-orang….ternyata memang tidak semua kedinginan obatnya adalah jaket tebal atau minuman hangat, kadang kehangatan dari orang-orang terdekat atau yang diharapkanlah yang jadi pelipur lara.
Meskipun perasaan-perasan di atas cuman sekejap aku rasain, aku jadi sadar dibalik status quoku, aku sedang tidak baik-baik saja…..berlama-lama di sini tidak membuatku menjadi ahli dalam menaklukan winter blues yang tiba-tiba datang dan pergi. Terbiasa jauh tidak membuatku jadi punya kendali menaklukan perasaan-perasaanku yang bergejolak pilu menahan rindu.
Tapi aku sadar suatu hal, dari perasaan-perasaan tidak nyaman inilah aku terus bertumbuh jadi manusia utuh. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bijaksana menafsirkan emosi yang tiba-tiba muncul ketika winter blues. Aku teringat aja dulu aku pernah merasa winter blues ini aneh, apa hubungannya musim dengan emosi manusia, kenapa kita harus ngebiarin diri kita dikontrol faktor eksternal yang jelas-jelas di luar kendali kita? Tapi sekarang aku malah menggunakan ini sebagai sinyal untuk berhenti sejenak dan mendengarkan apa yang badanku dan hatiku rasain.
Seiring berganti musim, aku udah ga menolak segala rupa emosi yang bergejolak ketika dingin menyelimutiku, aku malah berdamai dan jadi lebih lembut terhadap diriku dan perasaan-perasaan yang berlalu-lalang silih berganti. Aku belajar tidak menyulitkan diriku dengan memberikannya ruang untuk merasakan apa yang perlu aku rasakan, aku berusaha mendengarkan nestapa yang bergemuruh dengan seksama, walaupun ini hanya sesuatu yang ’seasonal’.
"Aku benar rindu, di sini asing, entah harus mulai dari mana, tapi yang jelas aku ingin berteleportasi dan berada di kota yang familiar bagiku dengan orang-orang yang familiar pula. Kalaulah itu terlalu rumit, aku hanya ingin menemuimu di peron kereta selepas aku pulang kerja."
Dan perasaan ini valid, bukan karena aku sedih berlarut, lemah tak berdaya, atau tidak bersyukur.
Perasaan dan penerimaan ini bentuk nyata bahwa aku sedang berproses sebagai manusia yang akan memanusiakan manusia.













