Pernah kepikiran tidak? Kalau bagaimana kejadian-kejadian di dunia sekitar kita, adalah cerminan apa yang ada di dalam diri kita sendiri. Bagaimana orang lain merespon kita, barangkali ada cerminan kita di waktu yang lain merespon orang lain. Mungkin tidak di saat sekarang, tapi beberapa tahun yang lalu.
Saat kita melihat betapa buruknya hari-hari berlalu. Apa jangan-jangan itu adalah cerminan pikiran kita yang memang memandang buruk banyak hal, julid sana-sini, suka nyinyir di dalam hati, dan beragam bentuk emosi yang terpendam. Tercermin dari bagaimana dunia berjalan dalam hidup kita.
Keadaan yang naik turun, hilangnya orang-orang yang tadinya kita kenal, dan banyak hal yang silih berganti terjadi di usia ini. Adalah cerminan bagaimana kita berpikir dan sudut pandang kita. Sesuatu yang selama ini kita anggap paling benar - karena kita merasa paling paham sama diri sendiri. Nggak ada orang lain yang bisa memahami kita, karena mereka tidak menjalani hidup yang kita jalani.
Tanpa sadar, kita membangun benteng yang tinggi sampai-sampai kita tidak menyadari bahwa diri ini tercermin sedemikian rupa. Dari tutur bicara, dari pengambilan keputusan, dan respon masalah, dan banyak hal lain yang secara tidak langsung menunjukkan jati diri kita.
Kita mungkin merasa baik-baik saja. Tapi, kenyataan yang kita hadapi menekan kita dari banyak sisi. Kita membangun bentang semakin tinggi, sampai-sampai tak ada lagi nasihat yang bisa kita resapi, tak lagi kita mau mendengarkan orang lain tentang diri sendiri.
Merasa diri paling tersakiti dan menjadi korban. Tidak menyadari, bahwa akar masalah dan pelaku dari rentetan kejadian itu adalah diri sendiri. Diri yang tidak bisa bercermin dengan bijak pada kehidupan.
kurniawangunadi