Di Ingatanku Yang Terdalam.
Teruntuk engkau, Bapak. Dari anak ke 6 mu dari 5 saudaraku yang lainnya. Aku adalah gadis kecil yang kauharapkan sebagai penutup sekaligus penyempurnaan dari keluarga kecil kita.
Assalamualaikum pak, apa kabar?
Bagaimana keadaan bapak di sana? Semoga bapak di selimuti kebahagian dikelilingi oleh keluarga para pendahulumu disana.
Pak, yang tersisa dari kita hanyalah kenangan. Bolehkah aku bercerita sedikit tentang kenangan kita bapak ? Izinkan aku mengabadikan mu di tulisanku, bahkan ketika karakter hurufpun tak cukup untuk mengabadikanmu.
Seorang sosok mulia, taat akan penciptaNya, sungguh sabar, penyayang, sangat ikhlas, bertanggung jawab, dermawan, rendah hati, sederhana, kuat, pekerja keras dan tak banyak bicara. Sosok yang tak banyak kubicarakan kepada mereka, namun kekal di dalam jiwa.
Aku akan selalu ingat pak, bahu pundakmu yang kuat kala itu mengendongku menaiki bukit dan menuruni bukit belasan kilometer.
Aku akan selalu ingat rumah pohon yang selalu kau buat dikebun untuk ku panjat agar aku bisa bernyanyi ria.
Aku akan selalu ingat setiap pohon apapun yang kau tanam di kebun dengan segala sejarahnya yang kau ceritakan.
Aku akan selalu ingat masakan pertamaku disaat umurku 10 tahun yang kau makan dan kau benar-benar menikmatinya.
Aku akan selalu ingat setiap tumbuhan yang kau kenalkan padaku di hutan dan sebuah sungai kecil yang kau beri nama.
Aku akan selalu Ingat, mushola didekat kebun kita berjarak 5 km jauhnya, kau tempuh dengan berjalan kaki dan singgahi, yang menjadi tempat favoritmu sholat jummat berjemaah.
Aku akan selalu ingat disetiap persinggahan sungai dan disetiap batu besar yang menjadi tempat kau bersujud kepada Pencipta.
Pak, yang kutahu engkau sosok tangguh yang membuka lahan perkebunan belasan hektar hanya dengan tanganmu sendiri, membelah hutan belantara dengan usahamu sendiri. Hanya dari satu jentikan jemarimu itu, kau dapat menanam tumbuhan dan pepohonan dengan subur, seolah alam adalah bagian dari dirimu.
Engkau sungguh tangguh dalam menjalani hidup. Namun aku tetap bisa membaca dari sorot matamu itu jika kau bersedih. Namun sama sekali tak pernah ku saksikan engkau mengeluh bahkan menangis.
Seumur hidupku, hanya 2 kali kulihat engkau berlinang air mata.
Telah terpatri di hatiku hari itu bapak, pertama kali aku meilhat kau menangis hebat didepanku. karena hancur hatimu engkau terbaring tak berdaya sementara ada 2 tersisa tanggung jawabmu di dunia. Katamu ; tangismu itu adalah bentuk patah hatimu. betapa ke dua anak mu ini tak semudah menempuh perjalanan hidup dibandingkan saudara kami yang lainnya dikala engkau masih ada. Engkau menangis karena kedua anakmu ini menempuh takdir tak mudah dan berdarah-darah nantinya, sekali lagi : Tanpamu.
Tangis yang kedua dikala kepergianmu,
Jummat, pukul 09.33 A.M 21 juni 2013 dikelilingi keluarga, diakhir hembusan nafasmu air matamu meleleh disebelah kiri pelipis matamu dan kau pergi dengan sangat tenang beserta sedikit sunggingan senyum di sudut kiri bibirmu.
Bapak apakah maksud linangan air matamu mu dan singgung senyum mu yang simpul kala itu? Sungguh aku tak mengerti. Ku usap air mata itu untuk terakhir kali dan kugenggam tanganmu erat.
Tak banyak pesan yang kau sampaikan kepadaku, perihal hidup. Namun ada satu pesan yang kuingat selalu, kau sampaikan kepada ku agar tetap menjalani hidup dengan bahagia dengan tidak kehilangan diriku seutuhnya, perihal siapa yang menciptakanku, dari mana aku berasal dan keluarga. Kau mengatakan, aku harus menjalani hidup dan menjadi diriku seutuhnya dengan jalan dan caraku sendiri.
“ Buat apa ni sibuk mengejar nikmat dunia yang tak ada habisnya ? Jikalau itu hanya membuatmu sakit dan kesusahan saja nak. Jalani semampu dan sebisa mu, dunia ini hanya titipan. Jikalau bapak tak ada lagi, dengar setiap nasihat ibu dan saudara-saudaramu. Jika kelak engkau sudah bersuami, berbakti dan hormatlah kepada suamimu. Satu pintaku, jangan pernah tinggalkan sholat ya nak?”
Kini, 21 Juni 2019 tepat 6 tahun setelah kepergianmu, pak. Sungguh banyak hal yang terjadi dan berubah, serta masa-masa sulit tanpa kau disisi. Cucumu pun telah bertambah 3, Aku masih ingat betapa kau begitu menyayangi cucu pertamamu ; Afdhal Volta Sulestra. Kini tak bisa ku bayangkan senyum merekahmu itu jikalau kau melihat mereka ber empat ; sungguh kebahagiaan mu yang sempurna.
Waktu dan keadaan boleh bergerak dengan cepat, namun keberadaanmu di hati dan jiwa kami, tak pernah berubah. Sampai bila-bila.
Dengan segenap haru dan rindu.
Ramadhan, Friday 21 June 2019. 21.24 A.M.