________abadi on instagram shot by sofiatlara blessed by olicomoestas_

seen from Argentina
seen from Puerto Rico
seen from Panama
seen from United States
seen from China
seen from India
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Argentina

seen from Hong Kong SAR China

seen from Russia
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from Canada
seen from Malaysia

seen from Russia
seen from France

seen from United States
________abadi on instagram shot by sofiatlara blessed by olicomoestas_
abadi hair accessory
Abadi
rosalia in abadi ‘angel jacket’ in barcelona
Hidup adalah tentang kehilangan-kehilangan yang sedang menunggu kita, lalu menguji sabar serta syukur yang ada dalam hati kita, seluas apakah ruang di dalamnya, hingga kita bertemu kembali di kehidupan yang abadi yang tiada yang namanya kehilangan lagi.
Ke Mana Perginya Puisi Saya
Masih menjadi pertanyaan besar yang menggantung di kepala: ke mana perginya puisi-puisi yang saya susun dengan hati patah itu? Setiap hari, saya mencari jejak langkahnya, yang saya temukan hanya bayangan. Hati saya sungguh patah ketika meramu kata demi kata pada sajak berlapis sendu. Terkadang patahnya terbelah dua, sesekali hingga membentuk serpihan, lebih sering sobek di ujungnya. Saya sulit mengerti, tatkala selesai dirangkai dengan rapi di atas kertas, puisi saya lenyap begitu saja. Ke manakah perginya engkau, puisi? Kepada sosok yang saya tuliskan dirimu untuknya kah? Kalau begitu, aaah, salah langkah, puisi. Memang saya menulis tentang dirinya, tapi saya tidak pernah meminta kamu datang langsung menemuinya dan memamerkan seluruh tubuhmu agar dia baca dan terka. Memang saya meracik huruf-huruf serta menggoreskannya di atas sepucuk kertas agar dibaca, tapi bukan untuk dibaca olehnya. Aduuuh, jika benar demikian puisi, kembalilah pulang. Tuanmu bukan yang itu, tuanmu yang ini. Lalu, jika tidak demikian, ke mana kah perginya dirimu puisi? Apakah terbang bersama angin yang memang secara kebetulan gemar mampir saat kujahit bajumu? Ah, saya tidak yakin benarkah angin setega itu. Apakah lebur bersama isakan miris yang saya lafalkan? Perihal yang satu ini, saya kurang percaya juga sebab jari di satu tangan saya masih bersisa untuk menghitung berapa kali saya menangis ketika menulis puisi. Jadi, ke mana ya? Hancur sudah kalau tebakan pertama saya yang benar, puisi. Apakah kamu sungguh sampai pada sosok di seberang itu? Kalau iya, apa jawabannya? Maksud saya, bagaimana tanggapannya? Bagaimana pula kamu bisa sampai ke sini lagi untuk beri tahu saya jawabannya? Tidak mungkin kan, dia menulis puisi juga untuk saya terima. Tubuhmu tidak hancur, tapi dibentuk ulang dengan bahan-bahan tambahan, diksi-diksi tambahan, sekaligus kata-kata yang terpaksa dicampakkan. Tapi itu tidak mungkin. Apakah seharusnya saya memang tidak perlu pusing perihal ke mana perginya dirimu? Ke mana pun perginya puisi saya, saya harap dia abadi. Sekalipun hujan badai menggilingnya dan terik mentari membakarnya, saya harap kamu abadi. Saya harap kamu tetap abadi. Andaikan ada kesempatan untuk kembali, tangan saya selalu terbuka menyambut kehadiranmu. Dan bolehkah saya berharap kamu kembali dengan bentuk yang baru sebagai tanda bahwa dia yang di sana bersedia menulis balasannya? Saya pasti mengenalimu. Ke mana pun puisi saya pergi, bagaimana pun bentuknya kini, saya akan mengenalinya suatu hari saat dia kembali.
Senantiyasa, 2024.
Jangan membuat seniman jatuh cinta kalau enggak mau abadi dalam karyanya.
- Sastrasa
"Menulis adalah salah satu cara untuk menjadi abadi"
Dan aku percaya.
Karena lewat tulisan, kita mengenal dunia dan dunia mengenal kita. Lewat kata-kata penuh makna yang diulas sejauh mata. Lewat rangkaian kalimat terukir indah dalam sejuta bahasa. Lewat tulisan, kita tau apa arti cita, cinta, dan asa. Suka dan duka. Sedih dan bahagia.
Lewat tulisan, kita menjadi abadi dan abadi menjadi kita.
- l'eau