Sini hati bersepakat dengan raga, tampaknya kau tak berdaya di terjang sebegitu kerasnya realita.
occasionally subtle

#extradirty
Mike Driver
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Claire Keane
Keni

⁂
he wasn't even looking at me and he found me
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

★
I'd rather be in outer space 🛸
No title available
DEAR READER

izzy's playlists!
will byers stan first human second

Andulka
One Nice Bug Per Day
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

tannertan36
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from Germany

seen from Mexico

seen from France
seen from Malaysia

seen from Senegal
seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Canada
seen from United States

seen from New Zealand
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@ahmadbaidowi
Sini hati bersepakat dengan raga, tampaknya kau tak berdaya di terjang sebegitu kerasnya realita.
Dalam hidup kita ga di tuntut buat terus melawan ko. Kadang ada fase dimana kita harus bertahan. Sesekali sambangi diri yang sebegitunya babak belur karena keadaan.
Ya Allah.. berkahi dia dalam segala upayanya, sayangi dan hadiahi sesuatu yang baik, sesuatu yang Engkau lebih mengerti dari sepengertian aku terhadap dia.
Tersenyum adalah bentuk dari kekuatan, tidak peduli sebrapa besar masalah yang kita hadapi. Tersenyum adalah kata lain dari melawan, melawan prasangka buruk yang pada akhirnya melemahkan hati terkungkung rasa sendiri. Untukmu yang tersenyum, semangat bertumbuh yah.. dari aku bukan siapa² kmu.
Buatlah sabar kami, sabar yang tidak menuntut batas.
A : bagaimana kabarnya?
B : Ahmadulillah. Kabar yang hampir setiap orang termasuk kamu semogakan.
Kita adalah bagian yang usai, bagian yang tak sampai.
Bukankah perbedaan yang menjadikan alasan kita untuk saling menerima.
Aku iri pada orang yang sedang mempersiapkan untuk pertanggungjawaban ilmunya, hartanya atau semua yang dititipinya nanti di hadapan Allah.
Selalu ada tempat buat kamu, walau sekedar berbagi cerita dan meneteskan air mata akan ada bahu yg siap sewaktu-waktu kamu butuh melepas jeda.
Di awal tahun ini begitu banyak harapan terbaik yg melangit, mudah-mudahan salah satu diantaranya harapan terbaik kamu ada disana, harapan tentang segala hal.
Jangan pernah berharap untuk bisa diperjuangkan orang lain. sedang, memperjuangkan diri sendiri saja enggan.
Tulisan : Orang yang Tepat
Kalau kamu merasa kamu pendiam, mungkin itu hanya karena kamu belum bertemu dengan orang yang tepat untuk kamu ajak bicara. Kalau kamu sangat pemalu, mungkin itu hanya karena kamu belum menemukan lingkungan yang tepat untuk menjadi ruang yang nyaman bagimu agar kamu bisa menjadi dirimu sendiri. Kalau kamu merasa kamu kurang dalam segala hal, mungkin kamu belum bertemu dengan orang yang lebih kurang darimu, atau bisa juga orang yang mengagumimu pada hal-hal yang selama ini kamu keluhkan.
Seringkali, segala kekhawatiran kita terjadi kita hanya belum bertemu dengan orang yang tepat. Segala persepsi kita tentang diri sendiri itu hanya lahir dari pikiran kita, bukan orang lain. Sehingga, bertemu dengan orang yang tepat memang sebuah hadiah yang tak ternilai.
Orang yang tidak hanya bisa membuat kita menjadi diri sendiri, melainkan orang yang sekaligus bisa menjadi lingkungan yang kita bisa tinggali. Hidup dalam lingkungan tersebut, nyaman memang. Tapi, zona nyaman yang membuat kita terus tumbuh tentu lebih baik daripada kita harus keluar darinya kan?
Kalau kita tidak atau belum juga menemukan orang yang tepat tersebut, bukankah tidak ada salahnya kita berusaha untuk membuat diri kita menjadi orang yang tepat untuk orang lain?
:)
©kurniawangunadi | yogyakarta, 21 september 2017
Jika Kamu Ada, Apa yang Akan Berbeda?
Selalu ada yang menarik jika duduk melingkar bersama orang-orang ini, yang meski saya tidak bisa menerima dan menyetujui semua valuenya, tapi saya merasa ada banyak kebaikan yang dapat diambil dan dijadikan pelajaran. Seperti sore itu, ketika kami sesama alumni sedang duduk melingkar di sebuah cafe dalam rangka seleksi calon fasilitator untuk training yang sebelumnya pernah sama-sama kami ikuti.
Setelah cuap-cuap tentang aktivitas masing-masing, suasana mendadak menegangkan ketika senior membuka obrolan-obrolan disclosure kami dengan sebuah perintah sederhana, “Hari ini kita akan FGD. Setiap orang punya 5 pertanyaan dasar yang perlu dijawab, yaitu blablabla~ Seperti biasanya, saya tidak akan menunjuk siapapun untuk angkat bicara. Kalianlah yang take action, mengambil kesempatan untuk menjawab dan mengalahkan semua keragu-raguan di dalam kepala kalian.” Krik … krik … semua orang kemudian berkontemplasi memikirkan jawaban atas 5 pertanyaan yang disebutkan.
“Kak, gue dong duluan!” kata seorang laki-laki yang duduk di ujung, ia mengambil kesempatan pendahuluan. Lalu, silih berganti orang mengangkat tangannya hingga tibalah giliran saya. Satu demi satu pertanyaan saya jawab dengan disclosure dan jujur sesuai apa yang dirasakan, sebagaimana seperti itulah kami pernah diajarkan untuk komunikasi efektif, jujur, dan terbuka. Menariknya, ternyata saya mendapat pertanyaan tambahan,
“Terus, Nov, apa yang akan berbeda dengan adanya kamu dalam kegiatan ini? Mengapa kamu perlu ada? Mengapa kamu dan bukan orang lain sementara setiap orang di sini memiliki kesempatan yang sama?”
Deg! Sedetik pertama saya kaget dengan pertanyaan itu, dalam hati saya bergumam, “Nah kaaaan~ Suka gini kaaaan~ Tiba-tiba pertanyaannya aneh. Tapi ini pasti bermaksud mengajari sesuatu.” Tidak langsung menjawab, saya mengambil waktu untuk berpikir lebih dulu, sampai lamunan saya terhenti, “Come on! Langsung aja, Nov. Jangan kelamaan mikirnya, belasan orang disini sedang menunggu giliran, jangan sampai waktu mereka habis hanya karena kamu yang terlalu lama menyelesaikan urusan dengan dirimu sendiri.” Oke, akhirnya satu per satu kalimat muncul dari lisan saya. Lama-lama saya mengerti, bahwa ternyata pertanyaan itulah yang mengantarkan saya untuk memiliki semangat yang berbeda.
Sejak saat itu, saya jadi sering bertanya pada diri sendiri, “Jika ada kamu, apa yang akan berbeda?” Alhamdulillah. Tabarakallahu. Atas seizin-Nya, pertanyaan kontemplatif itulah yang biasanya membantu saya untuk mengubah paradigma dan mendidik diri untuk memiliki tujuan yang benar.
Hari ini, cobalah kamu juga bertanya pertanyaan yang sama pada dirimu sendiri.
“Jika saya ada, apa yang akan berbeda dengan suasana kelas hari ini? Apa kebaikan yang bisa dilakukan untuk teman-teman? Bagaimana saya bisa membuat suasana berteman dan belajar menjadi menyenangkan dan menumbuhkan?”
“Jika saya ada, apa yang akan berbeda dengan kantor hari ini? Apakah semua orang akan sama stressnya ketika menghadapi tantangan, atau sebaliknya? Bagaimana saya bisa memperlakukan deadline agar menjadi lebih menyenangkan untuk dikerjakan?”
“Jika saya ada di kehidupan orang lain, apa yang akan berbeda dengan hidupnya? Apakah ia akan lebih berdaya jika saya ada? Apakah ia bisa lebih terpacu untuk melakukan kebaikan? Apakah syurga baginya akan terasa lebih dekat jika bersama saya?”
“Jika saya ada di organisasi yang saya pimpin, apa yang akan berbeda dengan organisasi ini? Apakah atmosfernya akan begitu-begitu saja, kemajuannya biasa saja, dan kebermanfaatannya seadanya, atau apakah saya bisa membuat sebuah perubahan dalam tataran kebaikan?”
“Jika saya ada, apakah yang akan berbeda …. (selanjutnya isi sendiri)”
Hati setiap orang berharga, kebaikan setiap orang bernilai, dan keberadaan setiap orang itu istimewa. Semoga hadir kita di hati dan semesta orang lain akan memberikan dampak kebaikan, untuk dunia dan akhirat, bagi mereka dan bagi diri sendiri tentunya. Selamat menjalani Senin dengan lebih bahagia! Jangan lupa shalat Dhuha :“)
Belajar Dari Pensiunnya Bapak
Tiga bulan lagi Bapak saya akan pensiun. Selama ini,saya cukup terharu (sedih sebenarnya) karena Bapak tidak pernah menjadi pejabat mentereng seperti orang lain. Bukan karena saya ingin bangga, bukan. Tapi lebih kepada saya ingin Bapak bangga karena memiliki karir yang tinggi (tinggi seperti ekspektasi saya).
Seminggu lalu Bapak mengirim SMS, isinya sederhana, memberi tahu bahwa beliau telah dilantik menjadi perwira. O ya, Bapak saya seorang anggota POLRI, bertugas sebagai staff keuangan, satu tingkat di bawah kepala bagian. Bapak saya tidak pernah bisa menjadi kepala bagian, karena bukan perwira. Ketika dia menjadi perwira, masa pensiunnya segera datang beberapa bulan lagi. Tapi syukur juga, karena Bapak pangkatnya rendah, saya jadi bisa kuliah murah di ITB dulu.
Candaan saya dengan Bapak begini, “halah Pak, gak akan ada yang tanya Bapak berapa lama jadi perwira, yang penting Bapak pensiun sebagai perwira.”
Ketika saya bermasalah di tempat kerja beberapa tahun lalu dan akhirnya resign, Bapak menelepon saya. Beliau berpesan, “meski tinggal sebulan, apapun yang terjadi di sana, kamu harus tetap mengerjakan pekerjaanmu dengan maksimal, jangan terpengaruh. Kerjakan sebaik mungkin, tinggalkanlah kesan baik, tuntaskan.”
Sebenarnya, tanpa Bapak berpesan itupun, saya sudah melakukan itu. Bahkan pernah di tempat sebelumnya, hari terakhir bekerja saya masih lembur di pabrik dan menemani tamu hingga pukul 12 malam.
Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan adik. Saya baru sadar, bahwa sikap saya terhadap pekerjaan adalah hasil dari contoh Bapak dan Ibu. Bapak memang sekali saja berpesan pada saya untuk bekerja sebaik mungkin, namun sedari kecil kami selalu disuguhi pemandangan tentang betapa bertanggungjawabnya Bapak dan Ibu terhadap pekerjaan.
Dulu komputer belum populer, Bapak selalu bawa buku akutansi yang super besar selebar meja, dan menulisinya dengan data - data gaji polisi. Tulisan Bapak sangat rapi, dan beliau selalu lembur setiap akhir bulan hingga tengah malam di rumah. Ibu sering membantu juga. Kata Ibu, setiap akhir bulan penyakit maag Bapak selalu kumat karena stres deadline.
Lucu ceritanya ketika Ibu memberi usul agar Bapak menggunakan komputer. Komentar Bapak waktu itu, “mana bisa, data sebanyak itu dimasukkin ke komputer yang kecil begitu? Buku akutansinya aja super besar gitu.”
Bapak dan Ibu tidak pernah mengurangi kualitas pekerjaan mereka karena kecilnya gaji. Sebelum pemerintahan SBY, gaji guru teramat kecil lah. Gaji polisi masih kecil, haha. Tapi Bapak dan Ibu tidak menjadi kendor dalam bekerja. Barangkali itulah yang membuat saya dan adik punya prinsip yang sama.
Ada satu hal yang membuat saya akhirnya menyadari bahwa kesedihan saya karena Bapak tidak pernah punya jabatan mentereng itu bodoh. Yaitu ketika adik saya berkata, “Bapak menutup karirnya dengan kesan yang (teramat) baik. Di apel pagi Bapak dipuji - puji karena tidak mengurangi kualitas bekerjanya padahal menjelang pensiun. Di akhir pelantikan perwiranya, Wakapolreslah yang minta berfoto dengan Bapak.”
Suatu hari, atasan Bapak menyekolahkan anaknya dengan biaya yang sangat besar, ratusan juta. Saya berkelakar, “Pak, kok Bapak ga punya duit segitu sih Pak?” Kata Bapak, “Bapak cuma mau hidup tenang. Bapak emang ga punya duit segitu, tapi anak - anak Bapak gak pernah butuh duit segitu untuk masuk kuliah. Kamu dapat beasiswa, adikmu kuliah ya murah. Kalian bisa cari kuliah sendiri, bisa cari kerja sendiri, Bapak ga perlu cariin. Temen - temen Bapak itu, ya repot cariin kuliah anaknya, cariin kerjaan buat anaknya, Bapak gak perlu.”
Di akhir obrolan saya dengan adik, saya menyadari rasa syukur saya bahwa Bapak mengakhiri karirnya dengan cemerlang walaupun tidak berkalang jabatan dan uang. Saya meyakini bahwa integritas Bapak adalah keperwiraan yang sesungguhnya, lepas dari kesalahan - kesalahannya dalam bekerja.
Bapak hanya polisi biasa hingga akhir masa kerjanya. Tapi sebagai laki - laki, dia berhasil membesarkan kami. Alhamdulillah keluarga dalam keadaan diberkahi dalam segala kondisi. Anak dan mantu rukun, rejeki selalu ada entah bagaimana Allah menyampaikannya. Cucu pertama segera lahir. Bapak hanya lulusan SMEA, tapi kedua anaknya minimal sudah sarjana, yang alhamdulillah selalu berada di jalan yang gak melenceng - melenceng amat.
Semoga rezeki yang kami makan melalui Bapak selama ini halalan toyyiban, agar di akhirat tak jadi beban.
Bandung, 15 September 2017 Untuk Bapak yang sering saya sebelin
Memilih lelaki itu tak cukup hanya dengan bacaan Qur'an nya bagus, hafalannya ajib. Namun ada yang jauh lebih penting dari itu, yaitu bagaimana manhajnya. Lihatlah diluar sana. Betapa banyak yang hafal ini itu namun aqidahnya salah, akhlaknya nol. Kenapa? Sebab yang berilmu belum tentu diamalkan. Carilah ia yang mau belajar, dengan manhaj yang lurus tentunya, asalkan dari situ menghasilkan buah yang kelak dipanen di Surga. Insya Allah..
Novita Ummu Iyas
Bacaan Al-Qur'an itu bagus, hafalannya itu baik. Namun ada yang lebih penting dari itu semua yaitu bagaimana Manhajnya. Mencari yang demikian itu baik namun tetap utamakan manhaj dan akhlaknya. Jika sudah sejalan, Insya Allah, semuanya mudah.
Barangkali tulisan ini akan menjadi penting untuk nantinya..
Embun || 08.29
(via andromedanisa)
terjadi.. terjadi. libatkan Allah selalu.
(via bersamadenganmu)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Betapa banyak para wanita sekarang ini yang menangis penuh penyesalan ketika mereka menikah dengan orang-orang yang kelihatannya bagus dalam menjalankan agamanya, ternyata mereka mendapati para suami mereka termasuk orang yang paling buruk dalam mempergauli istri-istri mereka.” (Liqa’ Baabi Maftuh, jilid 20 hlm. 225)
Self Reminder (Ibn Syams)
Saya percaya, seorang muslimah yang selalu menjaga iffah dan izzahnya adalah perempuan yang tidak bermudah-mudahan menggila-gilai artis lelaki yang bahkan mengenal dirimu pun tidak. Ataupun hafidz mania, yang menjerit ketika melihat hafidz muda idamannya melantunkan ayat Al-Qur'an di sosial media. Rasa malu adalah perhiasan terbaik seorang muslimah. Begitupun dengan seorang muslim, dia yang selalu menjaga pandangannya dari sesuatu yang diharamkan untuk dipandang. Dan tidak ‘mempertontonkan’ diri dengan niat sekedar puja dan puji, jangan memperlakukan Al-Qur'an sebagai sarana eksploitasi diri. Al-Qur'an itu dilantunkan dan didengarkan untuk ditadabburi maknanya dan diamalkan isinya, karena ia adalah petunjuk bagi manusia. Jika sikap kita terhadap Al-Qur'an benar, tentu tidak akan ada fenomena muslimah yang “tergila-gila” pada pelantunnya di sosial media, bukan untuk memahami kandungan dan mengamalkan isinya.
Muhammad Satria Andika (via islamqna)