‘Pagian ya dek berangkatnya’ sapa pak Dedi, ojek langganan gue yang setiap pagi nyapa atau kadang kalo emang jadwalnya dia narik, ya dia yang anter gue sampe kantor.
‘iya pak, mau ada urusan jadi pergi lebih pagi’ gue jawab sekenanya, senyum sambil naro peralatan tempur hari ini di pangkuan di atas ojek si bapak.
Berangkat jam 7.30 dari kosan yang Cuma berjarak 5 menit dari kantor udah termasuk pagi buat gue, mengingat office hour auditor itu 9.00 sampe 18.00 atau ….. sampe waktu yang tidak bisa ditentukan. Hahaha. Tapi hari ini beda, karena gue hanya akan mampir kantor bentar untuk naro beberapa dokumen dan menyelesaikan persiapan property buat ngajar nanti.
May 2, 2016. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Kelas Inpirasi Jakarta 5 akan digelar. Sebuah gerakan yang dipelopori 5 tahun lalu ini gampangnya merupakan gerakan menginspirasi adik-adik sekolah dasar mengenai beragam profesi. Siapa yang menginspirasi? Inspirator! Inspirator ini merupakan para profesiaonal yang bervolunteer, ambil cuti sehari dari kantornya untuk sharing dan menjelaskan secara singkat mengenai profesi mereka masing-masing. Ini yang gila dari KIJKT5 (kita singkat aja ya biar compact) ada 800 lebih professional yang siap untuk menginspirasi puluhan SD di sekitaran Jakarta ini, sama antusiasnya dengan kelas inspirasi sebelum-sebelumnya. Dan gue, satu dari 800an orang itu :) jadiii pagi ini badan gue dengan semangatnya bangun lebih pagi dan jalan ke kantor untuk segera menjalankan rencana hari ini.
7.40 mesin tap lantai 33 udah memunculkan nama gue, artinya pintu udah bisa gue akses. ‘eh pagi amat yas, mau duduk sini?’ Faris si anak baru ternyata datang lebih pagi lagi. ‘hei, ngga ris, gue ada urusan, mau cabut bentar lagi, dan ngga akan balik lagi seharian hahahaha. Tp harus naro ini di bawah’ sambal nunjukin map dokumen. by ‘dibawah’ I meant lantai 31, dimana sebenarnya grup gue berada. ‘ooh mau kmana?’ Faris nanya lagi. Gue senyum-senyum, dan dilanjut dengan blablabla gue jelasin faris rencana gue hari itu.
Dikarenakan ada kelonggaran kantor untuk pegawainya yang memang sering diperes lembur tapi ngga bisa ngecharge hours, di kantor gue bisa isi absent sick leave sehari tanpa pake surat sakit. Kelonggaran ini yang gue pake buat kegiatan KI ini. Karena ijin cuti di grup gue ini udah paling ribet sedunia, harus emailin manager satu-satu, director sampe partner grup. Melihat ada alternative yang lebih simple yaitu sick leave sehari, ya sudah tentu saya memilih pilihan yang kedua hahaha. Dan karena itu, saat turun ke lantai 31, sebisa mungking gue berusaha ngga terlihat, agar ngga akan ada pertanyaan ‘tyas mana ya? Tadi pagi kayaknya gue liat’ dari senior-senior atau bahkan manager.
Tapiii saat gue turun ke bawah dan melirik qubicle manager in charged untuk salah satu klien gue ……. Crap kenapa ini orang udah nongkrong aja T.T terpaksalah gue muter jalan lewat grup lain agar ngga lewatin qubicle sang manager dan mindik-mindik mendekati meja tempat gue harus meletakan dokumen.
Easy yas, jangan bergerak tiba-tiba atau menimbulkan suara yang berlebihan hati gue terus mengingatkan biar dearest manager ngga tiba2 ngelirik atau bahkan manggil. Gue taro dokumennya, mempost-it biar orng ngga bingung itu dokumen apa, dan berdiri lah gue untuk kembali ke lantai 33. Waktu sampe di mulut lorong menuju jalan balik gue ke lantai 33 mata rasanya pengen ngecek sekali lagi ke qubicle manager tadi. Hhhhh mungkin it is meant to be, disaat yang sama, mata manager tersayang juga sedang diangkat mengarah ke tempat gue berdiri sekarang. Tuhaan! But then thanks adrenaline rush, kaki langsung dikasih kekuatan untuk melesat cepat walau sedang memakai stiletto 7 cm. urusan ditegur yhaa urusan nanti.
9.50an gue sampe kompleks SDN Tanah Tinggi. Sebenarnya KBM (kegiatan Belajar Mengajar) SDN Tanah Tinggi 04 baru akan dimulai pukul 12.30 karena memang ini SD petang, SD yang karena keterbatasan sarana sekolah, maka harus berbagi gedung dengan SD lain sehingga KBM diadakan 2 shift, pagi dan petang tapi karena dengan ide-idenya gue menawarkan diri untuk jadi perwakilan memimpin senam untuk closing nanti, jadi datang lah gue lebih pagi dengan niat untuk briefing dengan MC dan pemimpin koreo lain. ‘saya turun disini aja pak’ gue bilang ke bapak taksinya untuk berhenti beberapa meter sebelum gerbang sekolah, untuk ngikutin petunjuk grup karena katanya gap ekonomi di daerah ini bisa sangat dipermasalhkan..
Gue lirik HP lagi, memastikan adakah pesan masuk lagi setelah konfirmasi terakhir dari grup yang dinamai ‘MC dan koreo’ yang ujung-ujungnya ngga jadi ketemu lebih awal untuk briefing singkat untuk acara closingnya nanti. Tau gitu ngga usah buru-buru jalan dari kantor tadi. Ooh good, kenapa ngga ganti sepatu di taksi batin gue saat sadar masih pake sepatu kantor.
Akhirnya kak Riska keliatan, sambal dadah-dadah kak Riska ngajak naik aja ketemu tim SD 06 yang juga ngajar petang dan udah pada ngumpul di lantai 2. Setelah cepika-cepiki dan curhat bentar tentng kenapa masih pake high heels, kita jalan ke ruang guru SD 06 untuk ketemu dan briefing MC dan koreo. ‘Mereka masih briefing sendiri deh kayaknya kak’ gue bilang ke kak Riska karena mereka masih sibuk discuss sendiri. ‘Aku mau nulisin name tag aja dulu deh kak’ kata ku sambal melirik sofa tunggu yang joknya ada yang sudah sobek dibeberapa bagian di depan ruang guru. ‘ Ayo aku bantu yas’ kak Riska ikut duduk.
Posisi sofa tunggu yang berdebu yang letaknya berdekatan dengan toilet membuat angin yang berhebus sedikit dikontaminasi ammonia yang mungkin kurang disiram, sedikit membuat hidung gue ngga nyaman. Kak Mira, Fasilitator grup gue, juga pernah share foto kondisi wcnya yang memang kurang layak. Ingatan gue langsung flash back ke adek gue yang pernah sakit saluran kemih dan pas ditanya ternyata suka nahan pipis karena (dia rasa) toilet sekolahnya jorok. Gimana anak-anak disini yah.
Banyak cerita yang sempet dishare ibu kepala sekolahnya saat kita survey 2 minggu sebelum hari inspirasi. Tentang beberapa prasarana sekolah yang memang kurang layak, tentang mereka yang belum punya perpustakan, berbagai cerita tentang stereotype murid SD petang yang dinilai lebih nakal, urakan dan lainnya, sampai keadaan sesungguhnya bahwa ngga semua anak SD petang kenyataannya begitu. Memang ada yang kurang lebih sama mengenai latar belakang keluarga murid-murid disana. ‘kebanyakan, sekitar 90% disini anak pakai KJP, dan memang berasal dari keluarga ekonomi menengah kebawah, bahkan ada mba yang rumahnya hanya sepetak kecil dan karena yang tinggal banyak, mereka kalo malam gantian tidurnya, dijatah gitu’ iyaa I know .. masih ada yang begini di Jakarta ‘anaknya jadi ngantuk kalo kesekolah, kadang di kelas jadi suka tidur, ya kita gurunya juga mau bangunin ngga tega. Mana kelas kadang ada yang mati lampu, atau kipasnya mati, bikin anaknya makin susah konsentrasi dan akhirnya tidur daripada dimarahin gurunya kalo sibuk kipas-kipas sendiri’ lanjut ibu Elfrida panjang lebar yang juga sekalian menggambarkan kondisi sekolahan yang belum cukup memberikan ‘kenyamanan’ untuk murid-muridnya. Iyaa.. masih ada yang begini di Jakarta.
12.00 kelompok gue memulai briefing, Kak Riska mulai run through kegiatan kita dari 12.30 sampe sekitar 16.30 nanti, kita break sholat dzuhur bentar sebelum kelas dimulai. Selesai sholat gue dan kak Isti, salah satu inspirator juga yang profesinya bidan dan bawa alat peraga yang super kece, kaget karena bel masuk udah tiba-tiba bunyi, tandanya sesi ngajar pertama harus udah dimulai.
Sesi I dan II gue ngga kebagian kelas, jadi berjalan-jalan keluyuranlah gue di selasar depan kelas-kelas yang lagi diajarin sama temen-temen inspirator yang lain. Ada kak Riska yang lagi ngajarin papatome, kak Icel yang udah mulai buka-buka potongan kertas main puzzle sama anak kelas 3, ada kak Nike yang bagi-bagi post-it bentuk <3 buat diisi anak-anak tentang tulisan cita-cita mereka, kak Isti dengan alat peraganya yang kece tadi, Kak Anjas yang ngajar papatome dengan energy yang berkali-kali lipat dari kak Riska hahhaa, dan kak Gahara di kelas 6 dengan PPT yang dipersiapkan mengenai IT, bidang kerjaannya. Oh dan ada 3 photo grapher yang senantiasa muter-muter juga kak Helin, kak Vidya dan Kak Nazella, dan tentu ada kak Mira Fasilitator yang sigap gerak kesan kesini. Gue, Kak Titan yang marketing, dan Kak Indah yang Jurnalis sementara nunggu di ruang guru. Kebetulan sekali siaran TV di ruang kepala sekolah diset di channel CNN Indonesia yang tiba-tiba menayangkan liputan yang beberapa minggu sebelumnya diambil di sekolah ini. Liputannya menceritakan seorang siswa kelas 6 disini. Namanya Mardianysah, liputan ini secara apik menceritakan kegiatan Mardiansyah yang pagi sebelum sekolah, bahkan kadang sore sepulang sekolah bekerja menjadi kondektur Metromini, bis kecil warna orange dan biru tua trayek 24, jurusan senen- Tanjung priok Kalau tidak salah. Boleh di cek disini kalua ada yang mau liat Mardiansyah https://www.youtube.com/watch?v=L1yO7NBtLnM
Dari liputan itu, satu yang paling melekat di kepala gue adalah ‘ya (saya) pribadi inginnya militer gitu, soalnya Mardi anak saya yang paling sehat lah gitu’ kata bapaknya Mardi yang seorang penjual makanan gerobak saat ditanya (mungkin) tentang keinginan atau cita-citanya untuk Mardi. Bapak menjawab sambal tersenyum dan mengelus dada, mungkin terharu sambal mengharap dan melantun doa diselipan jawabannya :”)
Sesi III gue masuk ke kelas 4, mereka keliatan ngga terlalu tertarik sama pemaparan Auditor yang gue jelaskan hahaha yaudah gue ajak ngobrol aja tentang apa cita-cita mereka dan sekilas tentang orang-orang sukses kayak Pak Habibie, Lionel Messi, Bill Gates, Cinta Laura (hahahha) dan bahkan Iko Uwais (hahahahahahha) yang foto-fotonya gue siapin di handphone sebagai contoh orang-orang yang sukses di professi mereka masing masing.
Diselingin istirahat sesi IV gue masuk kelas 5, anak-anak kelas 5 lebih terbuka lagi, ada yang mau jadi auditor disini setelah gue jelasin singkat kerjaan gue itu ngapain. Namanya Ibrahim! Hahaha semoga kamu memang beneran passion ya nak kalo beneran mau jadi auditor!
Dan jam terakhir gue masuk di kelas 2. Ini yang paling hardcore! Anak-anaknya ngga ada yang mau nurut kecuali diajak nari dan nyanyi! Suara gue abis buat neriakin yel-yel dan nyuruh mereka tertib. But kids are kids, mereka ngga nyerah minta papatome atau yel-yel sampe ujungnya pasti gue turutin :’D tapi mereka tetep sempet bikin mendali cita-cita dan kebanyakan yang cewe mau jadi guru dan yang cowo mau jadi polisi atau ABRI (akhirnya gue jelasin skrng ABRI namanya udah ganti jadi TNI, but good willing boy! Be a good soldier!) dan kelas ini diakhiri dengan gue tau bahwa anak-anak kelas kecil (satu dan dua, mungkin tiga juga) doyannya affection dalam bentuk sentuhan. Mereka suka dipeluk, diacak-acak rambutnya, dan minta gandeng :’)
Kejadian-kejaidan di kelas, anak-anak yang rebutan salim setiap liat kita di luar kelas, panggilan ‘ibu’, ambience saat ngarahin anak-anak bentuk formasi KIJ5 di lapangan sekolah, percaya atau ngga, is somehow magic for me. I still got ghostbump while write this things down. We’re having fun today, for god sake ini sesuatu yang harus gue tulis, ini hari dimana tadinya gue bergabung hanya untuk satu alasan de facto, untuk staying alive di tengah kehidupan report dan working paper dengan contact sama anak-anak haha hihi, dan sekedar take a look another perspective of life from others shoes. I got my mood boster, and I got even more! Pemikiran-pemikiran yang jauh lebih dalam tentang gimana caranya cita-cita Rafel yang mau jadi presiden, Bunga yang mau jadi guru Bahasa Inggris, Gilang yang jadi Keeper MU (walau gue lebih ingin dia ke Liverpool wkwk YNWA!), atau cita-cita Mardiansyah dan ayahnya yang sesimple ingin mardiansya masuk militer bisa tercapai. Gila deh, so here I’m 8 May 2016, merangkai kata untuk merekam apa yang terjadi senin 2, Mei kmarin. Etah kedepannya apa yang harus dilakukan, tapi at least ini akan jadi rekaman memory satu hari yang ngga akan (dan ngga boleh) gue lupa, because this is, again, my self healing therapy.
Jadi untuk sementara kita doakan yah, semoga Rafel, Bunga, Gilang, Mardiansyah, dan anak-anak SDN 04 Tanah Tinggi Petang, dan semua anak di Indonesia bisa tetep semangat buat cita-citanya biar Indonesia bisa mereka bangun dengan lebih baik dimasa depan. Doakan juga diri kita sendiri biar bisa konsisten dengan kapasitas kita as we are membantu mereka meraih cita-citanya.
Karena bukankah anak kecil hanya harus bermimpi dan kita yang dewasa yang harus bisa bantu mewujudkannya?
Memberi contoh di depan, berjalan bersama dalam usahanya mencapai mimpi, dan mendorongnya dari belakang. Sounds familiar isn’t it?
23.14 PM gue menyelesaikan tulisan ini, kalo dibaca sepintas kok agak cheesy dan clique yah. Gue Cuma senyum, salahkan gone, gone gone-nya Phillip Phillips yang keshuffle terus daritadi di playlist gue. Baby I’m not moving on :)