Sebelum lanjut cerita kemarin, saya mau cerita sedikit sebagai pengantar. Jadi di sekolah, saya mengenal beberapa anak yang dikisahkan pihak sekolah sebagai anak ADHD. Seorang anak ini selalu mengangkat 1 issu untuk dibicarakan di kelas. Misalnya hari itu dia lagi tertarik dengan jumlah kalori pada daging dan sayuran, maka seharian itu si anak akan bertanya dan ngomongin seputar kalori makanan.
“Bu, kalau makanan yang kalorinya rendah itu hina ya bu?”
“Nggak ada makanan yang hina.” Saya menjelaskan.
“Tapi aku mengukur makanan itu hina dari jumlah kalorinya. Kalau kalorinya rendah berarti makanan itu hina Buuu!”
“Eh, kata siapa? Itu buktinya Popeye si Pelaut rajin makan bayam dia kuat banget!” Lalu dia hening tampak berpikir. (Oh iya ya pas Popeye berjaya kan dia belum lahir) “Gini deh, kalau kamu pengen kulitnya mulus kayak boyband korea, kamu harus rajin makan sayur.” Saya pun nggak ngerti kenapa saya bawa-bawa boyband korea.
Setelah saya selesai shalat, Kenanga tiba-tiba ngambil tas saya (tas kecil yang saya bawa ke masjid). “kenanga, tas ibu siniin!”
“Nggak mau ah,” Eh, dia malah lari ke lapangan. Akhirnya saya ngejar, dengan cara jalan tapi dicepetin (kan nggak asik guru lari-lari ngejar murid, udah mah saya teh suka ketuker sama murid)
“Yuk, kembaliin tasnya ya!” Saya membujuk dia pelan-pelan.
“Apaan sih, Kepo!” Dia mulai garang, wajahnya menjadi menyebalkan kayak Nobita yang minjem alat Doraemon tapi dia pake buat ngejailin terus udah itu diilangin. Sedangkan saya yang liat kelakuan dia kayak gitu malah melongo persis ketika Ultraman liat musuhnya. Wajahnya tetep lempeng walaupun si monster udah menghancurkan se-Tokyo-eun. (Kok saya yang merasa dirugikan tapi malah saya yang diteriakin ya?) batin saya berbisik. Ini seolah-olah saya minjem buku kimia ke temen, terus saya ilangin. Pas temen saya nanyain, “Wooi mana buku urang?!” terus saya jawab, “Ih, kepooo!” kan jadinya teh saya pengen ngacak-ngacak wajahnya ya?
Oke, dari berbagai pengalaman dan literatur yang sudah saya dapatkan, kalau jangan pernah marah pada anak, saya mencoba untuk bersabar dan full smile, saya ikutin dia kemanapun dia pergi.
“Kenangaaa, mana dong kembaliin tas ibu!”
“Apaan sih, ih kepo!” ulang dia, lalu lari keliling sekolah. “Buseeet! Eta budaaak!”
Saya cari Kenanga keliling sekolah, pas lagi putus asa dan akhirnya mau balik ke kelas lalu melupakan, ‘yang lalu biarlah berlalu’ tiba-tiba Kenanga ujug-ujug muncul di kelasnya.
akhirnya saya samperin,
“Nggak tau!” wajahnya super jutek sampai Toro Margen pun kalah garang.
“Eh kan tadi sama kamu dibawa!” Saya masih tetap full smile.
Saya masih tetap membujuk Kenanga di depan kelasnya, tapi jawaban dia hanya, “Nggak tau!”, “Ih apaan sih!”, “Apa sih?!”, “NGGAK TAUU!” dengan wajah antagonis yang bikin saya pengen ngebejek-bejek wajahnya (astagfirullah).
Karena kesal, akhirnya saya panggil walikelasnya Kenanga, “Pak Yogi, punten Pak saya mau minta tolong tanyain Kenanga dimana dia nyimpen tas saya.”
Setelah diinterogasi sama Pak Yogi sbeberapa menit, Kenanga masih nggak mau ngaku. Wajahnya makin jutek dan omongannya makin nyelekit, “Ih apaan sih?!” dengan mata melotot.
“Bu Sarah, punten ya. Coba sini ibu masuk aja. Sok sama ibu aja, boleh sok mau dimarahin juga.” Walikelas Kenanga pun sudah kewalahan.
“Kenanga,” Saya ngomong dengan nada yang halus. “Dimana tas ibu? Kan tadi kamu ambil.”
“Nggak tau‼” matanya nggak mau menatap saya.
“Ayo liat dulu mata Ibu sini! Mana coba tas ibu? Ibu boleh liat saku kamu gak? Tadi ibu liat dimasukkin ke saku.”
“Ih, apaan siiih, nggak tau!”
Beberapa kali dia bilang ‘nggak tau’ dan ‘apa sih’ sambil memalingkan muka.
“Kenanga pengen tas itu? Yuk kalau pengen coba bilang ke ibu. Mau, gitu! Kalau kamu bilang, nggak apa-apa buat kamu. Asal kamu bilang!” nada saya udah mulai dibikin serius walau rasa hati ingin mengunyah.
“Ih‼” dia makin menyebalkan. Membuang muka.
“Ayo, bilang dulu. Nggak apa-apa sok, asal kamu bilang.”
Akhirnya saya menyerah dan saya pergi ke kelas. Di belakang saya ada Agra sama Husein (murid saya) yang dari tadi ngikutin, “Hei, kalian ngapain ih ngikutin ibu? Sana ke kelas!”
“Nggak mau ah mau nemenin Ibu. Ayo bu laporin ke kepala yayasan!”
“Hahaha, nggak usah. Udah ah, kita ke kelas aja yuk!”
Dengan perasaan yang masih kesal dan kata-kata wali kelas Kenanga yang masih terngiang, “Bu maaf ya. Dia mah suka ambil barang orang terus suka dibuang, ke taman, ke sungai,” Tutur Pak Yogi.
Lalu batin saya menjerit dan mendapat kesimpulan mungkin dia juga seorang kleptomania. Hobi mengambil barang orang lain padahal dia sendiri nggak butuh, ini juga salah satu penyakit psikologis yang kalau dipikir-pikir, murid fenomenal di kelas saya juga awalnya begitu, ngambil barang yang bukan miliknya yang tergeletak di kelas begitu saja. (sekali lagi, ini hanya kesimpulan dhoif saya).
Setelah waktunya pulang, tiba-tiba anak kelas 5 (termasuk Kenanga) menghampiri saya ke kelas, “Bu Sarah ini tasnya ketemu! Ada di depan kelas TK.” Kata salah seorang teman Kenanga.
“Sini Kenanganya, Ibu pengennya Kenanga yang ngasihin dan minta maaf.” Saya menarik tangan Kenanga, “Ayo coba minta maaf dulu!” saya mencoba tetap senyum walaupun sebenernya udah pengen bilang, “Ai kamu kayak swiper, mencuri barang terus dibuang!”
“Wajahnya dipalingkan dan melihat ke sembarang tempat. Sama sekali nggak menatap mata saya.”
“Sini liat ibu dulu, coba senyum!”
Dan akhirnya dia pergi tanpa melihat mata saya.
Pada umumnya, banyak ABK yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Tidak pernah mau berbicara dan bersosialisasi dengan teman, tidak ada kontak mata dengan lawan bicara, dan bahkan sampai ada anak ABK yang bicara tidak jelas karena tidak tahu caranya berkomunikasi. Mereka terkadang seperti bayi yang kalau menginginkan sesuatu tinggal menjerit atau bahkan menangis.
Begitupun Kenanga, bahkan di rumah, Kenanga tidak pernah sekalipun mendengar perkataan ibunya, ia akan abai dan tak peduli apapun yang ibunya katakan.
Oleh karena itu, anak-anak seperti Kenanga harus menjalani teraphy.
Karena mereka sebenarnya bukan sedang sakit, tetapi sedang dijadikan bahan ujian untuk saya, ya untuk kita para guru.
Setiap hari saya harus selalu bersabar walaupun ketika saya masuk kelas papan tulis udah kebanting dan ada anak yang menangis, ya saya harus tetap istigfar walaupun pengen ngunyah meja belajar rasanya.