-Kembali Melangkah Untuk Dua Garis #3-
Kali ini, saya mendapatkan siklus haid 49 hari dari HPHT.
Seperti biasa, saya kembali ke dokter obgyn saya untuk melakukan program hamil (lagi)
Dokter menyarankan saya untuk melakukan pembesaran sel telur dengan obat dan suntikan.
Saat USG transvaginal saya bertanya kepada dokter "ada sel telurnya dok? ", dokter menjawab "ada".
Kenapa saya bertanya ada atau tidak sel telurnya? Karena, saya tahu jika biaya suntikan sangat mahal dan jika belum ada sel telurnya kemungkinan saya memutuskan untuk program di siklus selanjutnya saja.. Mengingat ada kemungkinan juga untuk saya tidak ovulasi kembali.
Semenjak saya resign, saya dan suami memutuskan untuk saya berkarir dari rumah (mengurus rumah, sebagai ibu muda rumah tangga dengan online shop kecil). That's way, saya merasa walaupun kami program hamil, saya tidak ingin terlalu membebani Eza dengan biaya program yang kami keluarkan.
Karna dokter bilang "ada sel telurnya", kami memutuskan untuk baik kita setuju untuk dilakukan pembesaran sel telur dengan obat minum dan suntikan.
Dokter memberi saya resep Clomiphene Citrate dengan dosis maksimal (150 mg) kembali, dan memberi catatan nama suntikan yang akan saya gunakan, dan untuk bertanya ke bagian farmasi mengenai stock persediaan dan harganya. (tanggal 15 Juli 2021)
Yang digunakan adalah "Gonal F".
Dan saya dijadwalkan suntik Gonal F pada tanggal 19 Juli, hari ke 6 haid. saya ditemani suami datang ke rumah sakit untuk melakukan suntik Gonal F. Akan tetapi, Qodarullah, Karena stock belum datang (kosong) maka kami batal untuk melakukan injeksi dihari tersebut dan dijadwalkan ulang setelah mendapatkan informasi dari pihak farmasi akan kesediaan injeksi tersebut.
Tanggal 22 Juli saya di beri kabar oleh bagian Farmasi rumah sakit, dan saya melakukan suntik Gonal F pada tanggal tersebut (hari ke 9 haid).
Perut saya merasa sangat mulas setelah injeksi tersebut. Tetapi bismillah.. Ucap saya.
2 hari setelah penyuntikan (tgl 24 Juli) saya datang kerumah sakit untuk pengecekan ukuran sel telur setelah melakukan pembesaran sel telur dengan obat C. Citrate 150mg (3 tablet) / hari selama 5 hari dan melakukan injeksi Gonal F.
"Tidak ditemukan sel telur" dan yang membuat saya down adalah dokter tersebut mengatakan kepada saya :
"siklus bulan depan kita obat minum dan 3x suntik. Jika masih belum bisa ya brarti ibu memang gak bisa (hamil) "
Jleeeeebbbbbb!!!!!!!!. ....
Wanita mana yang tidak terpotek hatinya, jika di judge oleh ahlinya yaitu dokter spesialis obgyn kalo "bulan depan tidak berhasil ya brarti tidak bisa hamil"....
Kalo yg berujar temen, tetangga julid mungkin masih cuek.. Ini dokter obgyn lho yg ngomong, bisa kita bilang beliau adalah ahlinya dibidang tersebut, lantas kenapa kata-katanya membuat drop.. Bukannya dokter harusnya solutif dan om lebih optimis daripada pasiennya? Apakah memang kondisiku seburuk itu?
Keluar dari ruang dokter saya menuju mushola yang letaknya di seberang jalan rumah sakit tersebut.
Saya sholat dhuhur disana dan menangis sejadi-jadinya...suami saya datang menjemput dan saya bercerita apa yang dikatakan dokter.
Kenyesekkan sebenarnya terletak di saat usg ada sel telur kenapa sekarang setelah proses pembesaran menjadi tidak ada? Hasilnya bukan "sel telur membesar tetapi besarnya belum memenuhi ATAU sel telur besarnya stagnan" tapi hasilnya "gak ada sel telurnya ini buk.. Iya ini gak ada buk" bagai disambar petir rasanya, belum lagi kata2 itu.
Saya menghubungi teman saya yang berhasil melakukan IVF. Dia mengatakan sebelum di suntik gonal F dia di cek hormon estragiol...dan menanyakan apakah saya sebelum di suntik di cek hormon tersebut.. Jawabannya TIDAK.
Ya, saya ditindak injeksi Gonal F tanpa di cek Lab satupun.. Cek AMH pun tidak...
Nangis... Setres... Anti Sosial... Selama kurang lebih dua minggu. Bahkan sampai sekarang pun saya jarang sekali melihat story instagram teman saya ataupun story WA orang orang yang membuat saya ciut hati atas kondisi diatas.
Hal ter down yang saya lakukan adalah saya meminta suami saya untuk mencari pengganti saya, karna dia pantas untuk bahagia. Karna saya terlalu insecure atas kepantasan saya untuk tetap menemaninya.
Yang suami saya katakan saat itu adalah "Tarik kata kata itu, aku bakal tetep nemenin kamu, dengan anak ataupun tanpa anak. Dokter bukan Tuhan. Kalau kamu sudah siap mental, dan sudah kuat mental.. Kita coba lagi ya....". Kata-kata itu membuat saya percaya diri kembali karna dia ternyata bersedia menemani saya dan saya sangat berterima kasih atas nikmat dan anugrah itu. Anugrah pasangan yang baik, yang sabar menemani saya di segala kondisi.