Seorang yang Rabbani, yakni Sahl bin Abdullah At-Tustar pernah ditanya, “Apakah sesuatu yang paling berat bagi jiwa?” Maka dia menjawab, “Ikhlas. Sebab ia tidak mendapatkan bagian apa-apa.” Benarlah... Jiwa-jiwa bijaksana yang meniti jalan menuju pada-Nya telah menegaskan sulitnya ikhlas dan beratnya mewujudkannya di dalam jiwa. Meredam egoisme dan ambisi terhadap apa-apa yang menjadi cita dan cinta adalah pekerjaan besar, pekerjaan berat, dan pekerjaan yang sulit untuk dilakukan apalagi diwujudkan. Karena ikhlas adalah sikap rela, walau berat menerima. Ikhlas adalah berani menyurutkan langkah, walau harus kalah. Dan ikhlas bukan berarti tak boleh menangis, tapi ialah tekad untuk tidak kalah oleh kepiluan dan kedalaman tangis. Sungguh perbedaannya amatlah tipis. Oleh karenanya iming-iming bahagia adalah bagian cerita bagi hati-hati yang mukhlis.






